登入Usul Dimas, sesat!
98Acara makan malam yang semula kaku, perlahan mencair. Zhou Yongrui dan Dimas bergantian menanyakan berbagai hal, yang dijawab Zhou Ming Hao dengan antusias. Zhou Serena sempat ragu-ragu sesaat, sebelum memberanikan diri untuk bertanya pada kedua pria itu, yang menjawabnya dengan lugas. Zhou Serena langsung setuju, ketika Koko tertuanya menawarkan posisi sebagai pengawas keuangan semua pabrik, milik keluarga mereka.Perempuan berusia 28 tahun tampak gembira, karena itu artinya dia tidak menganggur dan bertahan dengan uang jajan dari papanya. Tidak seperti Zhou Dingbang, Zhou Serena senang bekerja dan hasilnya cukup bagus."Kalau kinerjamu oke, nanti kupertimbangkan lagi untuk menduduki jabatan yang dulu, di Zhou Company," tutur Dimas."Tidak, Bang. Aku akui, dulu hasil kerjaku kurang rapi. Sekarang, setelah dipegang Asmiratih, hasilnya rapi dan detail sekali," papar Zhou Serena. "Asmi nggak bisa lama kerja di sana. Bulan depan posisinya digantikan Liu Leony, kakaknya Mamados." Zh
97Rapat internal diadakan di kantor Zhou Company. Dimas yang memimpin rapat, menjelaskan proyek terbaru yang digagas HWZ dan BHARATHAYA, yang pengelolaannya dilimpahkan pada PDP serta Zhou Company. Zhou Ming Hao tampak antusias mendengar kabar itu. Dia bertambah senang, karena Dimas mengatakan akan sering bolak-balik ke Guangzhou, tentu saja bersama istrinya. Sebagai wakil Dimas, Bian Jeremy akan menangani proyek itu secara penuh. Mantan wakil ketua pasukan pengawal PBK area China, terlihat bersemangat guna melaksanakan tugasnya. Terutama karena proyek itu menjadi tantangan dari Wirya, yang akan menentukan karier Bian Jeremy selanjutnya. "Kapan kamu siap pindah ke sini, Jer?" tanya Dimas. "Awal bulan depan, Bang. Aku mau menyelesaikan tugasku di proyek Zhujiajiao," jelas Bian Jeremy. Dimas mengalihkan pandangan pada Tang Jason. "Masih ada flat yang kosong?" tanyanya. "Ada. Di lantai 5," sahut Tang Jason. "Tugaskan orang buat membersihkan tempat itu." "Tidak mau. Jeremy harus
96Zheung To Mu memerhatikan sekeliling seraya mengulum senyuman. Dia menikmati berbagai ekspresi yang ditampilkan orang-orang di sana. Terutama tatapan penuh tanya yang diperlihatkan kedua orang tuanya, yang menempati meja sisi kanan. "Tenang, yang mau kusampaikan ini adalah kabar baik. Jangan tegang," kelakar Zheung To Mu. "Ada yang bisa menebak?" tanyanya sembari jalan ke meja ujung kiri, lalu melenggang ke ujung kanan dengan tenang. "Seperti yang kemarin disampaikan Nenek, jika beliau akan menghapus namaku, bila tidak segera menikah. Maka aku akan menerangkan pada kalian. Kalau aku sudah menemukan belahan jiwa," ungkap Zheung To Mu sembari terus jalan dari meja satu ke meja lain."Nek, aku akan segera menikah," tutur Zheung To Mu, sebelum merunduk untuk mengecup pipi kiri Cheung Daisy yang seketika tersenyum. "Dengan siapa?" tanya perempuan tua tersebut. "Nenek kenal orangnya." "Jangan buat Nenek penasaran, To Mu. Cepat sebutkan orangnya." Senyuman Zheung To Mu melebar. Dia
95Zhou Ming Hao mengamati sekeliling kamar putri bungsunya, yang telah dibersihkan asisten rumah tangga. Zhou Ming Hao juga telah mengganti kasur, bantal dan guling dengan yang baru. Dia ingin Zhou Yiran senang menginap di kamar itu, meskipun hanya semalam.Zhou Ming Hao mengulum senyuman. Dia sangat senang, karena hati Zhou Yiran mulai melunak. Gadis kecilnya yang telah berubah dewasa itu akhirnya mau memulai perdamaian dengannya. Zhao Ming Hao manggut-manggut, sebelum berbalik dan berpindah ke kamar samping kiri. Zhou Yongrui juga telah berjanji akan ikut menginap nanti. Sebab itu Zhou Ming Hao menyuruh semua asistennya untuk mengemasi kamar itu, supaya sang putra sulung tersebut senang.Zhou Ming Hao menghela napas lega. Dia bahagia, karena bisa berdamai dengan kedua anaknya, setelah sekian tahun mereka bermusuhan. Belasan menit berlalu. Zhou Ming Hao telah berada di gazebo ujung kanan halaman belakang. Dia memanjatkan doa, supaya hubungannya dengan kedua anaknya, bisa kian memb
94Zhou Yiran terjaga ketika badannya dipeluk tangan kecil. Dia memaksa membuka mata untuk melihat siapa yang memeluknya. Sudut bibir Zhou Yiran merekahkan senyuman, kemudian dia balas mendekap Cheung Bey Suan. "Bibi, bangun," ucap Cheung Bey Suan."Hu um," balas Zhou Yiran. "Bibi ditunggu di ruang makan." Zhou Yiran terhenyak. Dia memandangi jam dinding, sebelum mengeluh dalam hati, karena kesiangan. "Bibi mau mandi dulu," cakapnya sembari bangkit duduk. "Kamu mau nunggu di sini?" tanyanya. Cheung Bey Suan menggeleng, lalu dia beringsut ke tepi kasur dan menjejakkan kaki ke sandal rumah. Gadis kecil bergaun hijau muda itu berdiri dan jalan keluar kamar, dengan diiringi tatapan sang bibi.Zhou Yiran bangkit perlahan sembari meringis. Seluruh tubuhnya pegal-pegal, dan membuatnya kesulitan untuk jalan cepat ke toilet. Puluhan menit terlewati. Zhou Yiran telah berada di ruang makan. Dia mengambil ransum dari meja prasmanan, lalu berpindah duduk ke dekat Laura. Zhou Yiran mengusap ra
93Empat pria berkostum Power Rangers berbagai warna, muncul dari pintu utama sembari mengayuh sepeda ontel. Tawa hadirin terdengar seusai melihat beragam bawaan di keranjang, yang diikat di belakang sepeda. Setibanya di dekat panggung, mereka mengangkat sepeda masing-masing. Namun, akibat kepayahan, akhirnya para ajudan CJC yang bertugas di ring dua, membantu mendorong keempat sepeda hingga bisa naik dengan selamat. Setelah memarkirkan sepeda masing-masing, keempat lelaki tersebut membuka masker, lalu melambaikan tangan kanan mereka yang disambut penonton dengan tepuk tangan meriah, serta suitan sambung- menyambung."Bentar. Padre, dagang balon?" tanya Zikria sembari mendekati pria blasteran bertubuh tinggi tersebut. "Iya. Aku alih profesi. Maybe bisa jadi konglomerat kalau dagang ini," jawab Alvaro dalam bahasa Inggris."Pakai Mandarin, Var," sela Zulfi, sambil menghampiri rekan-rekannya."No way! Nanti mereka tertawa dengar Mandarin-ku yang kacau," tolak Alvaro. "Ayah, jualan a







