Home / Young Adult / Dekapan Hangat Papa Rivalku / 14. Sarapan Mikha (21+)

Share

14. Sarapan Mikha (21+)

Author: Miss Nonce
last update publish date: 2026-09-28 17:54:00

Esok paginya, Mikha sudah berkutat di dapur minimalis apartemen mewah Kama. Aroma harum mentega yang meleleh di atas wajan memenuhi dapur, aroma yang memubuat orang tergoda. Mikha berdiri santai mengenakan kemeja putih longgar, dengan cekatan mengocok telur dan menyiapkan roti tawar. Sarapan yang sangat sederhana—hanya scrambled eggs gurih dan roti panggang hangat—tapi cukuplah untuk memulai hari di apartemen megah berlantai tinggi tersebut.

Di tempat ini, Mikha memang tak perlu pusing memikirk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   16. Kunjungan Kenegaraan di Istana Merah Muda

    Mikha mengeratkan selimut di dadanya, usai percintaannya dengan Paizani Kama Kanigara, sugar Daddy kesayangannya. Menyunggingkan senyum menggemaskan, Mikha menggigit bibir bawahnya teringat bagaimana Kama menerjangnya dari ruang tamu menuju kamar, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.Kama yang menaiki tubuhnya, memberikan kecupan sehangat sutra. Begitu lembut hingga Mikha hanya bisa memejamkan matanya, tatapan Kama yang penuh damba padanya. Membuat Mikha tertunduk lemas, sugar daddynya ini tidak kaleng-kaleng pesonanya.Kini, sugar daddynya itu tengah berdiri dengan ponsel di tangan seraya melihat pemandangan malam di apartemen mewah mereka yang terletak di lantai 25.Kama berdiri dengan wibawa yang tak bisa dibantah, meski usianya sudah di akhir empat puluhan, tapi justru di situlah letak pesonanya. Rambut hitam pekat yang kini diselingi warna perak di sekitaran pelipis, tidak banyak. Tapi justru itu yang membuat pemilik perusahaan teknologi, FnB dan perhotelan itu terlihat se

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   15. Alasan Menjadi Sugar Baby

    Mikha melangkah masuk ke ruang kuliah dengan langkah pelan, matanya masih sembab akibat kurang tidur. Kemarin dia terpaksa bolos kuliah, karena Om nakalnya tidak berhenti mengajarnya dengan kenikmatan dunia. Tapi tidak masalah, selesainya Mikha diberi hadiah mewah. Sebuah kalung dengan liontin bunga, cantik sekali.Tiba-tiba, suara tawa cempreng memecah keheningan. Vio muncul bersama tiga gadis yang selalu menempel bak parasite, lengkap dengan senyum sok cantik mereka."Ada yang bolos nih, dua hari nggak kuliah Kerja rodi banget nih," sindir Citra, salah satu dayang-dayang Vio, sambil melirik tajam ke arah Mikha.Vio ikut tertawa, suaranya penuh ejekan, "Buat apa sih?”Priska, salah satu dari mereka tidak ketinggalan. “Tuntutan hiudp kali, Cit. Kalau nggak banting tulang begitu, mau makan apa coba?"“Kalau buat makan, kalau cuma buat gaya fashion kelas atas tapi nggak sampai atas gimana,” celetuk Citra lagi mneyindir keras.“Pengan nggak nethink, tapi kok nggak bisa!” Priska tertawa s

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   14. Sarapan Mikha (21+)

    Esok paginya, Mikha sudah berkutat di dapur minimalis apartemen mewah Kama. Aroma harum mentega yang meleleh di atas wajan memenuhi dapur, aroma yang memubuat orang tergoda. Mikha berdiri santai mengenakan kemeja putih longgar, dengan cekatan mengocok telur dan menyiapkan roti tawar. Sarapan yang sangat sederhana—hanya scrambled eggs gurih dan roti panggang hangat—tapi cukuplah untuk memulai hari di apartemen megah berlantai tinggi tersebut.Di tempat ini, Mikha memang tak perlu pusing memikirkan hal-hal rumit. Segala kebutuhan hidupnya, mulai dari bahan makanan segar yang selalu diisi ulang, tagihan bulanan, hingga fasilitas kelas atas, semuanya sudah terjamin dengan sempurna.Saat Mikha sedang membalik roti panggangnya, dua lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Kehangatan langsung menyapu punggung Mikha saat Kama menyandarkan dagunya di bahu wanita itu."Selamat pagi," bisik Kama dengan suara serak khas bangun tidur, menyapa tepat di dekat telinga Mik

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   13. Sugar Baby dan Sugar Daddy

    Aroma parfum mahal dan pendingin udara toko barang mewah di pusat perbelanjaan kelas atas siang itu tak mampu meredakan rasa heran Rara. Di depannya, Mikha santai menunjuk dua tas kulit edisi terbatas dan tiga pasang sepatu hak tinggi tanpa sekali pun melihat label harga.“Wangi nggak?” tanyanya pada Rara yang lihat kanan kiri, bingung mau beli apa. Karena harganya tidak ngotak, kalau menurut Rara.“Wangilah, semerbak. Parfum mahal,” celetuk Rara polos.Mikha tersenyum, lalu memanggil pelayan di dekatnya. "Mbak, tolong dibungkus semua ya," ujar Mikha pada pelayan toko sambil menyodorkan kartu kredit berwarna hitam mengilap.“Eh gila Mikha, definisi kaya mendadak ini mah.” Rara sampai geleng kepala.Rara menatap tumpukan kantong belanjaan berlogo desainer dunia itu dengan mata membelalak. "Mikha, kamu kesurupan apa gimana, sih? Ini kalau ditotal bisa buat bayar uang muka rumah! Sayang tahu,” desis Rara.“Santai sih,” ujar Mikha tertawa pelan sambil merapikan gaun sutranya.“Sumpah ya s

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   12. Menuntaskan Hasrat (21+)

    Mikha semakin menegang, usai jari Kama masuk ke dalam inti tubuhnya. Kama, pria itu hanya tersenyum manis dan menggoda.“Kamu sudah basah,” bisik Kama, masih sempat menggigit telinga Mikha.“Om..” Mikha menahan seluruh gairah yang kini menyelimutinya.“Kau menyukainya, Mikha.” Kama semakin gencar menggoda, satu jari ia gerakkan maju mundur, berhasil membuat menekan lengan Kama dengan kuat.“Om-uhh..”Malu Mikha mendengar suaranya sendiri. Terdengar seperti putus asa, ingin semuanya berakhir dengan nikmat.Ketika tangan Kama bermain di bawah sana, mulutnya sibuk menyesap dua gunung dengan pucuk berwarna pink itu. Kama menggila, dia menyukai ini. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.“Mikha..”Mikha menggelinjang, dia disiksa atas bawah. Sapuan lidah Kama sangat hangat di dadanya, tangan Mikha meremaskan rambut Kama, kuat.“Om-“ teriakan Mikha terputus ketika Kama mengeluarkan jarinya.“Mau apa Mikha.. katakan padaku,” bisik Kama menggoda.“Om Mikha nggak kuat.”“Tidak kuat apa?” ta

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   11. Sentuhan Pertama Kama (21+)

    Malam itu, di dalam apartemen mewah dengan pemandangan gemerlap kota, Mikha berdiri kaku di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara jarum jam yang seolah mengejek keraguannya. Di sudut matanya, tumpukan tagihan rumah sakit ibunya dan biaya terbayang dengan sangat jelas. Mikha butuh uang—bukan dalam hitungan minggu, melainkan besok pagi.Dan Kama, pria matang dengan setelan jas mahal dan wangi kayu cendana yang tenang, adalah satu-satunya pelariannya.Sebagai sugar baby, Mikha tahu betul konsekuensi dari perjanjian tak tertulis ini. Kama telah mentransfer sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah finansialnya sore tadi. Jadi, ketika Kama melangkah mendekat setelah melepas jasnya, Mikha memejamkan mata. Ia sudah bersiap menyerahkan kepemilikan tubuhnya sebagai bentuk pambayaran yang pantas."Mikha," panggil Kama, suaranya dalam dan pelan, memecah hening.Mikha memaksakan senyum, jarinya yang gemetar mulai meraih kancing kemejanya

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar Daddy

    Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata me

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   6. Gadis Bayaran Om Kama

    Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberap

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   5. Temani Saya Selama di Bali!

    Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini mauny

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   4. Menyentil Harga Diri Mikha

    Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status