Mag-log inAroma parfum mahal dan pendingin udara toko barang mewah di pusat perbelanjaan kelas atas siang itu tak mampu meredakan rasa heran Rara. Di depannya, Mikha santai menunjuk dua tas kulit edisi terbatas dan tiga pasang sepatu hak tinggi tanpa sekali pun melihat label harga.“Wangi nggak?” tanyanya pada Rara yang lihat kanan kiri, bingung mau beli apa. Karena harganya tidak ngotak, kalau menurut Rara.“Wangilah, semerbak. Parfum mahal,” celetuk Rara polos.Mikha tersenyum, lalu memanggil pelayan di dekatnya. "Mbak, tolong dibungkus semua ya," ujar Mikha pada pelayan toko sambil menyodorkan kartu kredit berwarna hitam mengilap.“Eh gila Mikha, definisi kaya mendadak ini mah.” Rara sampai geleng kepala.Rara menatap tumpukan kantong belanjaan berlogo desainer dunia itu dengan mata membelalak. "Mikha, kamu kesurupan apa gimana, sih? Ini kalau ditotal bisa buat bayar uang muka rumah! Sayang tahu,” desis Rara.“Santai sih,” ujar Mikha tertawa pelan sambil merapikan gaun sutranya.“Sumpah ya s
Mikha semakin menegang, usai jari Kama masuk ke dalam inti tubuhnya. Kama, pria itu hanya tersenyum manis dan menggoda.“Kamu sudah basah,” bisik Kama, masih sempat menggigit telinga Mikha.“Om..” Mikha menahan seluruh gairah yang kini menyelimutinya.“Kau menyukainya, Mikha.” Kama semakin gencar menggoda, satu jari ia gerakkan maju mundur, berhasil membuat menekan lengan Kama dengan kuat.“Om-uhh..”Malu Mikha mendengar suaranya sendiri. Terdengar seperti putus asa, ingin semuanya berakhir dengan nikmat.Ketika tangan Kama bermain di bawah sana, mulutnya sibuk menyesap dua gunung dengan pucuk berwarna pink itu. Kama menggila, dia menyukai ini. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.“Mikha..”Mikha menggelinjang, dia disiksa atas bawah. Sapuan lidah Kama sangat hangat di dadanya, tangan Mikha meremaskan rambut Kama, kuat.“Om-“ teriakan Mikha terputus ketika Kama mengeluarkan jarinya.“Mau apa Mikha.. katakan padaku,” bisik Kama menggoda.“Om Mikha nggak kuat.”“Tidak kuat apa?” ta
Malam itu, di dalam apartemen mewah dengan pemandangan gemerlap kota, Mikha berdiri kaku di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara jarum jam yang seolah mengejek keraguannya. Di sudut matanya, tumpukan tagihan rumah sakit ibunya dan biaya terbayang dengan sangat jelas. Mikha butuh uang—bukan dalam hitungan minggu, melainkan besok pagi.Dan Kama, pria matang dengan setelan jas mahal dan wangi kayu cendana yang tenang, adalah satu-satunya pelariannya.Sebagai sugar baby, Mikha tahu betul konsekuensi dari perjanjian tak tertulis ini. Kama telah mentransfer sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah finansialnya sore tadi. Jadi, ketika Kama melangkah mendekat setelah melepas jasnya, Mikha memejamkan mata. Ia sudah bersiap menyerahkan kepemilikan tubuhnya sebagai bentuk pambayaran yang pantas."Mikha," panggil Kama, suaranya dalam dan pelan, memecah hening.Mikha memaksakan senyum, jarinya yang gemetar mulai meraih kancing kemejanya
Setengah jam kemudian, motor berhenti di depan rumah sakit. Mikha segera turun. Begitu memasuki lobi, aroma khas antiseptik langsung menyambutnya. Tempat yang kini terasa seperti rumah keduanya. Langkahnya otomatis menuju lift, lalu ke lantai tujuh.Ruang perawatan penyakit dalam. Di depan kamar nomor 712, Mikha berhenti sejenak.Menghapus sisa emosi di wajahnya, menarik senyum. Lalu membuka pintu."Mama..."Seorang wanita paruh baya yang terbaring di ranjang langsung menoleh.Wajahnya pucat.Tubuhnya kurus.Namun senyumnya selalu hangat."Mikha."Seketika hati Mikha mencair. Semua kemarahan yang dibawanya dari kampus perlahan menghilang. Mikha menghampiri ranjang dan mencium tangan ibunya."Gimana hari ini?" tanya Mikha berusaha ceria seperti biasanya."Mama baik, nak.""Itu jawaban setiap hari."Ibunya tertawa kecil. "Karena memang Mama lebih baik."Mikha menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan sang ibu.Hangat.Rapuh.Dan menjadi alasan terbesar Mik
Mikhayla Bintari berlari menuruni tangga gedung fakultas begitu dosen menutup kelas sore itu. Tas ranselnya bergoyang di punggung, sementara jemarinya sibuk mengecek waktu di ponsel.Setengah jam lagi jam besuk ibunya di rumah sakit berakhir.Dan malam ini, sebelum pukul tujuh, ia juga harus sudah berada di apartemen Kama.Pria yang menjadi sugar daddy-nya itu sudah mengirim pesan sejak siang."Dinner di apartemen. Jangan telat."Singkat. Dingin. Khas Kama.Tidak mau telat, ini ATM berjalan Mikha. Nanti merajuk, dia yang repot.Mikha mengembuskan napas panjang. Hidupnya terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Kuliah, rumah sakit, lalu apartemen Kama. Begitu terus setiap hari.“Begini banget sih hidup sugar baby,” gumam Mikha sedikit mengeluh.Saat berjalan cepat melintasi koridor kampus yang mulai sepi, tiba-tiba seorang mahasiswa laki-laki menubrak punggungnya cukup keras.Bruk!"Aduh!"Mikha hampir kehilangan keseimbangan ketika seorang mahasiswa laki-laki buru-buru mundur."Ma
Keheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya."Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya."Hah?""Menginap."Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta seorang wanita menginap.Mikha langsung memasang ekspresi pebisnis."Om." Suara manjanya mulai terdengar manis di telinga Kama."Hm.""Itu layanan premium."Kama menatapnya, tatapan datar. Tatapan yang biasanya membuat bawahan perusahaan berkeringat. Sayangnya Mikha kebal, yang penting rekeningnya gemuk."Premium?""Iya."Kama tertawa sinis, "Kau sedang menjual paket?""Tentu."Mikha berdiri lalu menghitung dengan jari. "Temenin makan, satu paket. Temenin ngobrol, paket regular-""Kalau mengina
Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata me
Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah set
Masih di Beach Club, Seminyak-Bali.“Kesana saja yuk,” ajak Mikha, lebih baik mereka cari angin dulu.Toh mereka sampai minggu depan di Bali, jadi aman kalau hari ini mereka tidak dapat mangsa.Mikha berdiri tegap di tepi pantai, angin laut menerbangkan helai rambut keritingnya yang terurai panjang
“Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, ma







