MasukPrang!"Siapa?" Alina terkejut saya mendengar suara gaduh di luar.Suara kaca jendela kamar yang pecah mengejutkan Alina. Belum sempat ia berteriak, dua pria bertopeng hitam melompat masuk lewat balkon, langsung menerjang dan membekap mulut Alina rapat-rapat."Siapa kalian?" tanya Alina dengan wajah panik."Jangan teriak atau leher mu terlepas dari badan mu!" ancam salah satu penyusup seraya menempelkan pisau ke leher Alina.Alina meronta histeris di dalam cengkeraman mereka. Satu penyusup lainnya dengan cepat mengikat tangan Alina dan menggeretnya menuju pintu balkon tempat mereka naik."Cepat bawa dia!" perintah salah satu orang di sana.Alina lalu diseret keluar dengan kasar. Namun, belum sempat mereka membawa Alina melompati pembatas balkon, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar menggelegar dari dalam lorong, disusul suara tembakan yang memecah keheningan rumah.Duar!"Lepaskan dia! Atau aku tembak kepala kalian!" teriak Leo yang langsung mendobrak pintu kamar bersama belasan
"Bagus, kau lakukan apa yang aku perintahkan," desis Marvin dengan nada dingin. "Satu hal lagi, Leo. Periksa seluruh ponsel dan akses komunikasi di rumah ini. Putuskan sambungan internet jika perlu. Jangan biarkan ada celah sedikit pun bagi Daniar untuk menghubungi Alina, begitu juga dengan Alina. Jangan sampai dia menghubungi Daniar.""Siap, Tuan Vance. Saya akan segera melaksanakan nya," jawab Leo tegas sebelum menunduk hormat dan berbalik pergi.Marvin masih berdiri terpaku di depan pintu kamar yang terkunci. Tangan kekarnya memegang kenop pintu dengan erat, seolah menyalurkan rasa sakit dan keputusasaan yang menggerogoti dadanya.'Maafkan aku, Alina. Maafkan aku sudah berlaku kasar kepadamu. Aku tidak berniat untuk melakukan itu, semuanya untuk kebaikan mu,' batin Alina dalam hati.Dari balik pintu kayu tebal itu, samar-samar terdengar suara isak tangis Alina yang begitu memilukan.Ia memejamkan mata rapat-rapat. "Tuhan... kenapa terasa sesakit ini?" bisik Marvin parau, menempelka
"Kenapa kau diam, Alina? Jawab aku!" sentak Marvin dengan suara bergetar, menatap sendu wajah istrinya yang enggan menatapnya. "Bicara padaku, Alina! Jangan bersikap seperti ini. Kau membuatku tersiksa."Alina tetap memejamkan mata, memalingkan wajahnya rapat-rapat ke arah jendela. "Sudah tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan dengan mu, Marvin. Kau boleh mengunci tubuhku, tapi hatiku sudah mati untukmu. Kau membuatku muak.""Aku tidak peduli! Kau boleh marah denganku, meluapkan kesal mu kepadaku, tapi tolong jangan acuhkan aku, Alina!" raung Marvin frustrasi, memukul sandaran kursi di depannya hingga Leo yang menyetir tersentak kaget. "Walaupun hatimu mati, tubuh mu dan hidup mu tetap milikku! Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku! Aku peduli dengan mu, Alina. Aku mencintai mu," ucap Marvin dengan wajah frustasi."Jangan katakan itu cinta, Marvin. Aku sudah muak dengan semua itu. Selama ini kau tidak benar-benar mencintai aku.""Bagaimana caranya aku membuktikan kepadamu, Alina?"
Brak!Marvin memukul kaca mobil dengan telapak tangannya dari luar, menatap Alina yang masih terisak di dalam sebelum berbalik menghadapi Daniar yang ditahan dua pengawalnya."Tuan Vance! Tindakan mu ini sudah masuk pidana penculikan! Kau akan menghadapi tindakan hukum!" teriak Daniar murka, mencoba melepaskan cengkeraman para pengawal.Marvin berjalan santai mendekati Daniar, melipat kedua tangannya di dada dengan senyum sinis."Penculikan? Apa kau sudah tidak waras?" Marvin terkekeh dingin. "Aku membawa istri sah ku pulang ke rumah. Polisi mana yang mau mengurus urusan rumah tangga orang lain, Daniar? Sebaiknya kau jangan pernah ikut campur dengan urusan rumah tanggaku!""Dia sudah mengajukan gugatan cerai, Tuan Vance! Kau tidak berhak untuk memaksanya!" gertak Daniar tajam."Gugatan yang tidak akan pernah sampai ke meja hakim, kau pikir akan aku biarkan hal itu terjadi?" potong Marvin cepat. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Daniar. "Ingat, kau hanya peng
"Tuan, mobil sudah siap di depan!" lapor Leo sigap.Marvin melangkah lebar keluar dari ruang rapat tanpa mengindahkan para pengacara yang masih ketakutan. Wajahnya mengeras, tatapan matanya dipenuhi ambisi gelap untuk mempertahankan Alina bagaimana pun caranya.Sementara itu, di depan gedung Pengadilan, terlihat mobil Daniar baru saja berhenti di area parkir. Alina menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang berdebar kencang seraya memegangi map dokumen gugatan di pangkuannya."Kau sudah siap, Alina?" tanya Daniar seraya mematikan mesin mobil, menatap wajah Alina yang sedikit tegang.Alina menoleh dan mengangguk pelan. "Aku siap, Daniar. Ayo kita masuk dan selesaikan perceraianku."Namun, baru saja Alina dan Daniar melangkah keluar dari mobil, sebuah mobil sport hitam melaju kencang dan berhenti mendadak tepat memblokir jalan mereka. Suara decitan ban terdengar begitu memekakkan telinga.Pintu mobil terbuka kasar. Marvin melangkah keluar dengan aura intimidasi yan
"Baik, Tuan Vance! Saya akan mencari tahu tentang Tuan Daniar sekarang juga!" sahut Leo dengan tubuh gemetar, berbalik dan berlari cepat menuju mobilnya.Marvin masih berdiri kaku di tengah halaman. Wajahnya menggelap, dikuasai rasa cemburu dan kecemasan yang membakar dada. Ia tidak akan membiarkan wanita yang sangat di cintainya lepas begitu saja dari genggamannya.Sementara itu, di dalam mobil Daniar.Suasana hening menyelimuti perjalanan. Alina menatap nanar ke luar jendela, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya menetes satu per satu."Kau yakin dengan keputusan mu ini, Alina? Bukankah kau sangat mencintai nya? Apa kau tidak mencoba untuk berpikir kembali tentang keputusan mu, Alina?" tanya Daniar memecah keheningan, melirik lirih melalui kaca spion tengah.Alina mengusap pipinya yang basah dengan ujung jemarinya. "Aku sudah sangat mantap, Daniar. Tidak ada alasan lagi untukku bertahan di samping pria yang sudah menghancurkan hatiku. Cintaku sudah mati untuk dirinya.""Ma
"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di
Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr
"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan."Aku tidak akan







