LOGIN"Tembak!" teriak Marvin.BANG! BANG!Suara letusan senjata saling bersahutan di dalam gedung tua yang gelap. Marvin bergerak lincah, berguling ke balik pilar beton tebal saat timah panas berhamburan menerjang dinding di belakangnya."Leo! Tahan mereka di bawah! Aku akan mengejar Suli!" teriak Marvin seraya melepaskan dua tembakan balasan yang menembus dada anak buah Suli."Baik, Tuan! Serahkan yang di bawah pada kami! Kalian berdua, ikut Tuan Marvin!" sahut Leo yang mendobrak pintu bersama pasukan Vance. Suara dentuman baku tembak kian pekat memecah keheningan malam.Marvin tak membuang waktu. Dengan pistol tergenggam erat, ia berlari menaiki tangga besi menuju lantai mezanin, mengejar siluet Suli yang menghilang ke arah lorong atas."Suli! Berhenti kau, brengsek! Aku tak akan biarkan kau lolos begitu saga!" jerit Marvin bergema.Suli menoleh kaget, tak menyangka Marvin bisa menembus kepungan anak buahnya begitu cepat. Pria berjaket kulit itu panik, menyambar pistol di pinggangnya da
"Kita harus mencari keberadaan Suli. Jangan sampai dia datang kembali dan mencelakai Alina."Marvin menyapu pandangannya ke sekeliling lorong rumah sakit yang sepi. Rahangnya mengeras, mengepal erat jemarinya hingga memutih. Amarah di dalam dadanya sudah berada di puncaknya."Tuan! Saya sudah berhasil melacak lokasi terakhir sinyal telepon Suli!" seru Leo yang berlari mendekat dengan napas memburu."Di mana bajingan itu berada?!" tembak Marvin dingin."Sinyalnya terdeteksi di area pabrik tekstil tua di pinggiran kota sebelah selatan, Tuan. Apa tuan mau ke sana?" jawab Leo seraya menunjukkan titik lokasi pada layar ponselnya. "Pasukan keamanan kita sudah bersiap di luar, tinggal butuh perintah dari Tuan.""Bagus. Bawa separuh pasukan untuk mengepung area luar pabrik dari jarak aman, hancurkan mereka hingga tidak bersisa!" perintah Marvin penuh penekanan. "Jangan ada yang bertindak konyol sebelum aku memberi aba-aba, apa kau mengerti?!""Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan Nyonya Alina? T
"Ini tidak bisa dibiarkan!" Marvin memutar tubuhnya dengan cepat, menatap Leo yang berdiri kaku di dekat pintu dengan wajah pucat."Leo! Periksa seluruh CCTV koridor rumah sakit dalam satu jam terakhir! Pastikan siapa pun yang mencoba melukai Alina, tidak akan bisa lolos dariku!" perintah Marvin dengan suara berat dan tajam, mata merahnya memancarkan kemurkaan murni. "Temukan siapa saja yang mendekati kamar Alina! Aku ingin kau segera menangkapnya!""Baik, Tuan Vance! Saya akan langsung ke ruang keamanan!" jawab Leo tegap, lalu berbalik cepat dan berlari menelusuri koridor.Dokter dan dua perawat sibuk mendorong brankar Alina keluar dari kamar menuju ruang ICU. Marvin melangkah cepat di samping brankar, menggenggam erat jemari dingin istrinya tanpa berniat melepaskannya sedikit pun."Alina... dengarkan aku, Sayang. Jangan menyerah, kau kuat, kau pasti bisa," bisik Marvin emosional di telinga Alina. "Aku akan membalas semua orang yang menyakiti mu. Kau harus tetap hidup untukku!""Tua
Sialan! Beraninya dia mengirim ancaman ini ke nomerku,' gumam Marvin, wajahnya tak bisa menyembunyikan perasaan marahnya. Ponsel di tangan Marvin seketika bergetar hebat bersamaan dengan jemarinya yang mendadak dingin kaku. Pria itu menyipitkan mata, membaca deretan kalimat berikutnya dari nomor tak dikenal itu dengan napas yang memburu. [Bagaimana, Tuan Vance yang terhormat? Kejutanku sangat manis, bukan? Nikmati detik-detik terakhir ketenangan mu sebelum kau menyadari apa yang sudah kuhilangkan dari hidupmu.] "Bangsat!" umpat Marvin rendah, ia menggenggam erat ponsel miliknya. Dengan wajah pucat pasi, Marvin melempar ponselnya ke sofa dan berlari kencang mendekati ranjang tempat Alina terbaring. "Alina! Alina, bangun, Sayang! Buka matamu, jangan menakutiku, Alina!" panggil Marvin panik. Tangan besarnya menepuk-nepuk pelan pipi halus istrinya. Namun, Alina sama sekali tak bergeming. Deru napas wanita itu terasa begitu berat dan teratur, terlalu lelap untuk ukuran seseorang
"Melvin...."Alina membuka matanya. Jemarinya yang dingin perlahan merasakan kelembutan dalam genggaman Marvin, meski air mata hangatnya terus mengalir membasahi bantal."Alina... Kau mendengar apa yang aku katakan? Aku sudah membereskan masalah ini satu persatu," bisik Marvin parau, menempelkan dahi pucatnya pada punggung tangan Alina."Kau sudah kembali, Marvin..." suara Alina terdengar sangat dingin, hampir tak berbisik. "Kau sudah menyelesaikan urusan mu dengan Lenika? Jangan berada di sini sebelum kau benar-benar bisa menyelesaikan urusan mu dengan Lenika.""Tenang saja, aku sudah menyelesaikan semuanya, Alina!" tegas Marvin, matanya menatap lekat-lekat pada raut wajah istrinya yang tampak lelah dan sedih. "Kau sudah menyelesaikan semuanya? Kau sudah memberikan nama belakang mu untuk anak Lenika?""Aku akan memberikan nama belakang ku tanpa menikahinya, Alina. Ini karena aku mencintaimu! Aku tak akan pernah meninggalkanmu, apa pun yang terjadi, aku tidak akan memberikan tempat u
"Istirahat lah. Aku tidak akan menggangu mu, Alina."Pintu kamar rawat perlahan tertutup rapat. Begitu sosok Marvin menghilang, pertahanan Alina seketika runtuh. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya pecah, meremas kuat sprei rumah sakit yang dingin.Di luar ruangan, Marvin menyandarkan punggungnya pada dinding. Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Leo yang berdiri tak jauh darinya."Tuan Marvin... Apa kau baik-baik saja?" panggil Leo ragu, melangkah mendekat."Aku baik-baik saja, Leo," jawabnya berbohong."Dokter sudah menyiapkan resep obat untuk Nyonya Alina. Ini resepnya," ucap Leo memberikan secarik kertas surat resep kepada Marvin."Tinggalkan di meja," potong Marvin dingin dengan suara parau. "Leo, hubungi pengacara pribadi keluarga Vance sekarang juga."Leo tertegun. "Pengacara? Untuk apa, Tuan?""Aku akan mengurus surat pengakuan anak dan pemberian nama belakang untuk bayi Lenika," jawab Marvin tegas, matanya memerah menatap pintu kamar istrinya. "Tuan... Apa kau y
Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me
Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b
Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr







