LOGIN"Gerah, sayang. Panas banget tiba-tiba padahal kamar ini Ac'nya udah nyala," seru Aston tubuhnya yang sudah mulai resah.
Alena menggigit bibir bawanya melihat dari layar ponsel, tubuh kekar Aston yang membuatnya candu. Alena merunduk, mendekatkan wajahnya pada layar ponsel, membuat belahan dadanya terbuka jelas, apalagi malam itu Alena tak mengenakan bra ketika tidur. "Sayang, jangan dekat-dekat dong! Ada yang bergerak nih di bawah," bisik Aston menahan gejolak gAlena sudah akan beranjak keluar, tapi dari depan sebuah mobil Alphard masuk dan berhenti tepat di depan teras rumah. Dengan wajah bahagia dan binar mata terang, Alena berjalan cepat - tahu siapa penghuni dibalik mobil mewah tadi. Papa Gino keluar. Sopirnya menurunkan koper besar, dan langsung di bawa masuk ke dalam. "Papa...." Alena langsung menghambur dalam tubuh Papanya. Bagi Papa Gino, Alena tak lebih dari bocah 5 tahun yang selalu ia gendong kemana-mana. "Hai, little princess Papa," kekeh Papa Gino mengusap punggung Alena dengan lembut. Mike yang berjalan dari dalam pun ikut tersentak. "Papa... Kok pulang nggak kasih kabar Mike? Kan bisa Mike jemput," kesalnya. Mike pun menarik lengan Alena menyingkir, lalu berganti memeluk tubuh Papanya. Papa Gino hanya terkekeh puas. Ia berhasil membuat anak-anaknya kesal. Papa Gino juga membalas pelukan Mike sekilas yang sekarang ti
Alena menggigit bibir bawanya. Ia memajukan wajahnya tampak membisiki Aston dengan sebuah kalimat cinta. Entah seberapa menarik kalimat Alena hingga membuat tatapan Aston semakin liar. Emosionalnya dipaksa bangkit dengan tekanan rendah. Aston merasa pusing harus melampiaskan deritanya selama 9 bulan nantinya. Malam itu, saking bersemangatnya cerita, sampai-sampai Alena terlelap. Tengah malam, ia mengerjabkan mata tersadar jika sudah tertidur lebih dulu. Alena menatap lembut Aston di sebrang yang sudah terlelap juga. Lalu ia matikan panggilan video call itu. Pagi harinya, Alena sudah bersiap turun dari lantai dua dengan penampilan rapinya. Ia beranjak menuju meja makan, di sana Mike yang sudah rapi dengan balutan setelan jasnya tampak duduk dengan murung menatap piring di depanya begitu fokus. Ide tengil melintas di kepalanya. Alena memelankan langkahnya, hingga tiba-tiba.... Dorrrr!!! Mike ters
"Gerah, sayang. Panas banget tiba-tiba padahal kamar ini Ac'nya udah nyala," seru Aston tubuhnya yang sudah mulai resah. Alena menggigit bibir bawanya melihat dari layar ponsel, tubuh kekar Aston yang membuatnya candu. Alena merunduk, mendekatkan wajahnya pada layar ponsel, membuat belahan dadanya terbuka jelas, apalagi malam itu Alena tak mengenakan bra ketika tidur. "Sayang, jangan dekat-dekat dong! Ada yang bergerak nih di bawah," bisik Aston menahan gejolak gairah yang menjebak. Alena tertawa nyaring. Ia menyingkirkan bantal tidurnya, lalu menggapai lotion di atas nakas. Dengan gerakan lembut cukup teratur, seolah model cantik itu ingin memancing hasrat sang Dokter. Alena menuangkan lotion tadi pada telapak tangannya. Ia ratakan pada betis kakinya turun, dan naik lagi sampai pahanya. Aston meneguk ludah kasar. Jantungnya berpacu kuat. Keringat panas mulai membasahi kepalanya. "Sayang, ngilu banget! Jangan
"Oh, maaf sebelumnya. Saya mendengar kabar dari satpam depan, katanya di rumah Pak Gino sedang mencari pelayan baru ya?" titah Wanita tadi.Alena mengangguk. 1 minggu yang lalu, Mama Lusy memang sudah membicarakan perihal resign Bi Inah yang kurang beberapa hari itu. Dan memang di pos depan Mama Lusy sudah membuat poster pencarian pelayan baru."Benar. Kenapa ya?""Boleh saya masuk, saya sudah menghubungi nomor yang tertera tapi belum ada balasan. Rencananya saya mau melamar menjadi pelayan disini." jelas Wanita tadi.Alena sampai melupakan tata krama yang berlalu. Ia lantas mempersilahkan wanita tadi masuk ke dalam."Maaf, ya... Tadi saya kirain kamu sales yang mau tawarin obat-obatan herbal," ucap Alena menahan malunya.Wanita tadi mengangguk sembari tersenyum hangat. "Tidak apa-apa.""Oh ya, apa syarat yang harus saya penuhi agar bisa jadi pelayan disini? Saya hanya lulusan SMA, itupun kejar paket dulunya," jelas Wani
Hampir pukul 8 malam, Aston baru tiba di Bandara Incheon Korea Selatan yang terletak di pulau Yeongjong, Incheon. Namun karena apartement yang Aston tempati berada di kota Seoul, jadi memerlukan waktu hampir 1 jam untuk menuju ke sana.Sebuah mobil dari staff rumah sakit yang merekrut pertukaran Dokter sudah berhenti menunggu Dokter Sp.OG itu."Kami perwakilan staff dari Rumah Sakit, mengucapkan selamat datang kepada anda, Dokter Aston," ucap seorang pria di atas usia Aston dengan bahasa asingnya. Namun beberapa detik itu dirinya seolah tengah mencari ke beradaan seseorang. "Dokter Liana?"Aston tersenyum menerima jabatan tangan pria tadi. "Terimakasih atas sambutan anda, Pak."Ia agak mengernyit sambil menoleh belakang sekilas.Tiba-tiba Liana datang menyusul dengan tergesa. Aston tak begitu mempedulikan, entah ia lupa jika wanita itu akan bertujuan yang sama dengan dirinya. Satu profesi di rumah sakit yang sama."Maaf, saya ter
Wanita bernama Liana tadi mengangguk. Orangnya humble, sangat bica mencari topik pembicaraan dengan speak Aston yang modelan kulkas dua pintu. Apalagi keduanya sama-sama Dokter, jadi sedikit banyaknya, Aston bisa nyambung meskipun sikapnya masih sedingin es. Tak lama dari obrolan keduanya, sebuah "Pengumuman Boarding" sudah menggema di seluruh penjuru Bandara. Nama Maskapai yang akan mereka tumpangi juga sudah di sebutkan oleh petugas. Aston langsung bangkit, mengambil handbagnya lalu segera keluar dari Resto tanpa menunggu Liana. Sikap dingin Aston membuat Dokter cantik itu merasa terabaikan, bahkan sangat sulit membuka obrolan lebih dulu jika Aston dalam mode acuh. Aston berjalan tenang menuju pesawat dan bersiap duduk. Sementara Liana yang baru datang sedikit terengah karena mengejarnya, kini membuat Aston cukup menghela napas karen memaksakan dirinya bangkit lagi. "Maaf jika mengganggu anda, Dok," ucap se
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah







