INICIAR SESIÓNPagi itu Kiara bergegas keluar dari kamarnya. Ia segera menuruni tangga menuju ruang makan.Namun langkahnya berhenti tepat di anak tangga terakhir saat matanya melihat sesuatu yang tak biasanya. Ia melihat seorang lelaki duduk berhadapan dengan Nenek Melati. Lelaki itu tersenyum santai. Kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku membuat penampilannya terlihat rapi dan maskulin. Rambut hitamnya tertata rapi dan wajahnya terlalu familiar untuk dilupakan.Arga Hutama. Kiara membeku di tempatnya. “Arga sekarang makin ganteng ya.” Nenek Melati terlihat tersenyum bangga sambil menuangkan teh.Arga terkekeh. “Nenek masih aja suka lebay.”Kiara pelan-pelan mundur satu langkah. Bahkan Kiara menahan napas agar tidak ketahuan. Kakinya baru saja menapak di anak tangga yang lebih tinggi ketika seseorang memanggilnya. “Ara!”Kiara memejamkan mata sesaat. Sudah ketahuan. Ia menegakkan tubuhnya dan menoleh. Nenek Melati melambaikan tangan dengan senyuman lebar di bibirnya. “Ara! Ngapain be
“Kak …” Kiara hampir kehabisan napas. Karena ciuman Hanson semakin menuntut. “Aku … nggak … napas …” lirih Kiara dengan napas terengah. Ciuman Hanson beralih ke lehernya. Kiara secepat mungkin menarik napas, mengisi paru-parunya kembali dengan udara. Kiara hendak protes, tetapi kalimat itu terkunci di tenggorokannya saat ia merasakan sentuhan tangan lelaki itu membelai tubuhnya. Deru napasnya memburu. Panas menjalar di sekujur tubuhnya saat tangan Hanson menyentuh tepat di bagian paling sensitif di tubuhnya. “Kak—” “Bagaimana, Hans? Apa Kiara mau makan?” Terdengar suara Nenek Melati dari balik pintu. “Nenek!” Kiara berbisik terkejut. Ia mendorong tubuh Hanson yang masih kuat bertahan. Seketika kakinya reflek menendang saat suara Nenek Melati terdengar. “Ugh!” Hanson terkejut ketika kaki Kiara menendang perutnya. Hanson terguling dari tepi ranjang ke lantai. Suara gedebuknya cukup keras. Kiara segera menarik selimutnya ke atas dan memperbaiki baju piyamanya dalam
Carlos masih menaik-turunkan alisnya dengan antusias. Seketika itu juga Hanson mengambil bola kertas kedua dari keranjang sampah dan menimbang-nimbangnya di tangan.“Aku serius, Bro!” Carlos memundurkan tubuhnya. “Dengarkan dulu logikanya.”“Logika apa?” Hanson menaruh bola kertas itu kembali. Bukan karena tidak ingin melempar. Tapi karena penasaran. “Nggak ada logika yang bisa membenarkan ide seperti itu. Itu ide buruk!”“Ada.” Carlos menarik kursinya lebih dekat. “Dengar. Keluarganya tahu kamu?”“Tahu dong.”“Keluarganya merestuimu?”“Tentu saja.”“Apa yang membuat hubunganmu rumit kalau gitu?”“Restu.”Carlos mengerutkan kening. “Kalau begitu … maksudmu, Nenek Melati belum tahu siapa pacarmu? Dan kamu takut nggak direstui?”Hanson diam.Carlos mengetuk meja sekali. “Nah. Jadi, solusinya simpel. Kamu perlu situasi yang membuat Nenek Melati tidak punya pilihan lain selain merestui.”“Dan situasi itu adalah—”“Yang aku bilang tadi!” Carlos mengangkat kedua tangannya. “Sebelum kamu lem
“Hans!” Suara itu membuat Hanson terkejut. Ia langsung melepaskan diri dari cekalan Kiara. Ia langsung menoleh. Matanya menatap sosok yang berdiri tepat di depan pintu. “Nenek—” Hanson segera bangkit dari sisi ranjang. “Ngapain Nenek datang sepagi ini?”Nenek Melati menatap kedua cucu di depannya dengan curiga. Terutama karena reaksi gugup Hanson yang sangat kentara.“Sejak kapan nenek harus minta ijin ke kamu buat datang?” sahut Nenek Melati cepat. “Jeffrey bilang, kamu sakit,” lanjut perempuan tua itu sembari mengalihkan tatapannya kepada Kiara. Kiara menegakkan tubuhnya, sementara tangannya sibuk merapikan gaun tidurnya yang sedikit berantakan. “Nggak papa Nek, Ara cuman capek—”Melati kembali mengarahkan pandangannya pada Hanson. Tatapan tajam yang justru terlihat marah “Hans, kalau kamu nggak becus urus adikmu, biar nenek yang urus,” ketus nenek Melati, “pasti kamu terlalu sibuk sama kerjaanm
“Dia Beckie,” sahut Kiara. Gadis itu mengernyitkan keningnya karena melihat wajah gusar Hanson. “Beckie?” Kali ini Kiara menganggukkan kepalanya. “Kenapa? Jangan bilang kalau Kakak … cemburu sama Beckie.” “Tapi ….” Hanson menunjuk sosok berjaket kulit di layarnya. “Dia … bukan cowok?” Kiara menahan tawanya. Beckie memang selalu berpenampilan seperti lelaki. Bukan hanya caranya berpakaian, tapi juga gaya rambut dan juga caranya melangkah. Mungkin itu semua adalah insting alaminya sebagai anak sulung yang harus bertahan hidup tanpa sosok ayah sebagai pelindung. “Beckie … Rebecca Sukiawan,” papar Kiara. Ia masih menatap wajah Hanson dengan mengulum senyumnya. “Manajerku.” Hanson menghela napas lega. Kini semua kegundahan dalam hatinya sudah terjawab. Bahkan Alex yang sudah dimintanya untuk menyelidiki pria yang dekat dengan Kiara, sejak beberapa minggu yang lalu saja, belum mendapatkan jawaban. Dan … mungkin tak akan pernah menemukan jawabannya.“Astaga … jadi selama ini … aku—” K
“Kiara nggak butuh rasa kasihan siapapun.” Hanson seperti tercekik. Kalimat itu seperti pisau yang dihujamkan ke ulu hatinya.“Ara, Kakak—” Kiara beringsut dari ranjangnya. Ia menegakkan tubuhnya dengan susah payah, lalu menyandarkan tubuhnya. “Aku sudah dewasa, Kak. Sudah waktunya aku menentukan masa depanku,” ucap Kiara, jelas tak ingin mendengar kalimat apapun dari kakaknya.Hanson menelan salivanya. Ia masih tak mengerti dengan jalan pikiran Kiara. Semua yang dilakukannya semalam adalah karena ia menghargainya. Ia bahkan berkali-kali harus tersiksa karena harus menahan hasratnya sebagai laki-laki. Ia tidak ingin Kiara menyesal karena kehilangan kesuciannya apalagi saat ia tidak sadar.“Ara … bisakah kamu melihatku sebagai … masa depan?” Kiara tersenyum sinis dan menggeleng pelan. “Sekarang … aku nggak bisa melihatnya. Aku nggak mau mengharapkan sesuatu yang mustahil.”“Ara, kenapa mustahil?”







