共有

Bab 080

last update 公開日: 2026-05-22 20:58:08

“Ara, kamu akhir pekan nanti kamu ada waktu, kan?” Arga melemparkan pertanyaannya sekali lagi.

“Dia—”

“Kakak!” Kiara membentak sampai Hanson terkejut.

Hening sepersekian detik.

Kiara menunjuk Hanson dengan kesal. “Kalau Kakak yang menjawab lagi, aku lempar ini sendok!”

Seketika Arga tertawa keras. Hanson justru terlihat tidak bersalah sama sekali.

“Oke. Silakan jawab sendiri.” Hanson tampak kesal.

Kiara mendengus kesal lalu menoleh ke Arga. “Kenapa?”

“Aku mau ngajak kamu jalan,” ujar Arga.

“Ara
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 081

    Mata Kiara membulat saat menyadari siapa yang berdiri tepat di depan pintu. Ia segera sadar, lalu dengan panik menutup bagian tubuhnya yang polos dengan kedua tangannya.“Kakak!” seru Kiara panik. Kiara segera memutar tubuhnya menghadap dinding.Meski begitu Hanson sendiri semakin terlihat seperti kehilangan kemampuan berpikir. Selama beberapa waktu, ia tercengang. Wajahnya memerah.Tatapannya buru-buru beralih ke arah lain, tetapi kepanikan tadi membuatnya terlambat menyadari apa yang baru saja dilihatnya.“Apa … apa yang terjadi?” Hanson bertanya sambil sesekali melirik Kiara. Napasnya memburu perlahan.“K-kecoa …” Terdengar suara kecil Kiara sambil menunjuk pojok lantai.Gadis itu segera meraih handuk yang ada di dekatnya. Ia membungkus tubuh polosnya dengan lembar handuk putih itu dan melangkah keluar. Hanson menelan ludahnya pelan. Baru beberapa saat kemudian dia melihat seekor kecoa kecil di dekat saluran air.

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 080

    “Ara, kamu akhir pekan nanti kamu ada waktu, kan?” Arga melemparkan pertanyaannya sekali lagi.“Dia—”“Kakak!” Kiara membentak sampai Hanson terkejut.Hening sepersekian detik.Kiara menunjuk Hanson dengan kesal. “Kalau Kakak yang menjawab lagi, aku lempar ini sendok!”Seketika Arga tertawa keras. Hanson justru terlihat tidak bersalah sama sekali.“Oke. Silakan jawab sendiri.” Hanson tampak kesal.Kiara mendengus kesal lalu menoleh ke Arga. “Kenapa?”“Aku mau ngajak kamu jalan,” ujar Arga.“Ara nggak suka keluar kalau cuaca panas.” Hanson menyela lagi sambil mengambil udang goreng dan memindahkannya ke piring Kiara.Kiara menatap udang itu. Lalu pandangannya tertuju pada Hanson. Ia menatap piringnya sendiri yang sekarang hampir penuh.Arga rupanya tidak mau kalah.“Oh iya?” Lelaki itu mengambil salad buah dan meletakkannya di sisi piring Kiara. “Kalau begitu kita bisa cari tempat dingin.”Hanson ikut menambahkan potongan ayam ke piring Kiara. “Dia masih sakit. Jadi harus makan banyak.

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 079

    Pagi itu Kiara bergegas keluar dari kamarnya. Ia segera menuruni tangga menuju ruang makan.Namun langkahnya berhenti tepat di anak tangga terakhir saat matanya melihat sesuatu yang tak biasanya. Ia melihat seorang lelaki duduk berhadapan dengan Nenek Melati. Lelaki itu tersenyum santai. Kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku membuat penampilannya terlihat rapi dan maskulin. Rambut hitamnya tertata rapi dan wajahnya terlalu familiar untuk dilupakan.Arga Hutama. Kiara membeku di tempatnya. “Arga sekarang makin ganteng ya.” Nenek Melati terlihat tersenyum bangga sambil menuangkan teh.Arga terkekeh. “Nenek masih aja suka lebay.”Kiara pelan-pelan mundur satu langkah. Bahkan Kiara menahan napas agar tidak ketahuan. Kakinya baru saja menapak di anak tangga yang lebih tinggi ketika seseorang memanggilnya. “Ara!”Kiara memejamkan mata sesaat. Sudah ketahuan. Ia menegakkan tubuhnya dan menoleh. Nenek Melati melambaikan tangan dengan senyuman lebar di bibirnya. “Ara! Ngapain be

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 078

    “Kak …” Kiara hampir kehabisan napas. Karena ciuman Hanson semakin menuntut. “Aku … nggak … napas …” lirih Kiara dengan napas terengah. Ciuman Hanson beralih ke lehernya. Kiara secepat mungkin menarik napas, mengisi paru-parunya kembali dengan udara. Kiara hendak protes, tetapi kalimat itu terkunci di tenggorokannya saat ia merasakan sentuhan tangan lelaki itu membelai tubuhnya. Deru napasnya memburu. Panas menjalar di sekujur tubuhnya saat tangan Hanson menyentuh tepat di bagian paling sensitif di tubuhnya. “Kak—” “Bagaimana, Hans? Apa Kiara mau makan?” Terdengar suara Nenek Melati dari balik pintu. “Nenek!” Kiara berbisik terkejut. Ia mendorong tubuh Hanson yang masih kuat bertahan. Seketika kakinya reflek menendang saat suara Nenek Melati terdengar. “Ugh!” Hanson terkejut ketika kaki Kiara menendang perutnya. Hanson terguling dari tepi ranjang ke lantai. Suara gedebuknya cukup keras. Kiara segera menarik selimutnya ke atas dan memperbaiki baju piyamanya dalam

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 077

    Carlos masih menaik-turunkan alisnya dengan antusias. Seketika itu juga Hanson mengambil bola kertas kedua dari keranjang sampah dan menimbang-nimbangnya di tangan.“Aku serius, Bro!” Carlos memundurkan tubuhnya. “Dengarkan dulu logikanya.”“Logika apa?” Hanson menaruh bola kertas itu kembali. Bukan karena tidak ingin melempar. Tapi karena penasaran. “Nggak ada logika yang bisa membenarkan ide seperti itu. Itu ide buruk!”“Ada.” Carlos menarik kursinya lebih dekat. “Dengar. Keluarganya tahu kamu?”“Tahu dong.”“Keluarganya merestuimu?”“Tentu saja.”“Apa yang membuat hubunganmu rumit kalau gitu?”“Restu.”Carlos mengerutkan kening. “Kalau begitu … maksudmu, Nenek Melati belum tahu siapa pacarmu? Dan kamu takut nggak direstui?”Hanson diam.Carlos mengetuk meja sekali. “Nah. Jadi, solusinya simpel. Kamu perlu situasi yang membuat Nenek Melati tidak punya pilihan lain selain merestui.”“Dan situasi itu adalah—”“Yang aku bilang tadi!” Carlos mengangkat kedua tangannya. “Sebelum kamu lem

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 076

    “Hans!” Suara itu membuat Hanson terkejut. Ia langsung melepaskan diri dari cekalan Kiara. Ia langsung menoleh. Matanya menatap sosok yang berdiri tepat di depan pintu. “Nenek—” Hanson segera bangkit dari sisi ranjang. “Ngapain Nenek datang sepagi ini?”Nenek Melati menatap kedua cucu di depannya dengan curiga. Terutama karena reaksi gugup Hanson yang sangat kentara.“Sejak kapan nenek harus minta ijin ke kamu buat datang?” sahut Nenek Melati cepat. “Jeffrey bilang, kamu sakit,” lanjut perempuan tua itu sembari mengalihkan tatapannya kepada Kiara. Kiara menegakkan tubuhnya, sementara tangannya sibuk merapikan gaun tidurnya yang sedikit berantakan. “Nggak papa Nek, Ara cuman capek—”Melati kembali mengarahkan pandangannya pada Hanson. Tatapan tajam yang justru terlihat marah “Hans, kalau kamu nggak becus urus adikmu, biar nenek yang urus,” ketus nenek Melati, “pasti kamu terlalu sibuk sama kerjaanm

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status