LOGINSelama perjalanan menuju Universitas Indonesia, Yusallia terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak kembali ragu. Tangannya menggenggam setir sedikit lebih erat dari biasanya, sementara matanya tetap fokus pada jalanan yang tampak buram oleh hujan. Wiper mobil bergerak ke kanan dan ke kiri secara teratur, menyapu air yang turun tanpa henti dari kaca depan. Namun, meski pandangannya lurus ke depan, pikirannya terus dipenuhi oleh satu hal yang sama.
Ia harus bertemu RionegroHari Minggu itu datang dengan cara yang terlalu tenang untuk hati Yusallia yang sudah terlalu penuh.Pagi turun perlahan ke apartemen mereka lewat cahaya lembut yang menyelinap dari sela tirai ruang tengah, jatuh di lantai, di tepian sofa, dan di wajah seorang pria yang tertidur di sana dengan kepala sedikit miring ke satu sisi. Televisi mati. Laptop di meja masih terbuka setengah. Satu gelas air tinggal separuh. Dan di ruang yang begitu sunyi itu, Yusallia berdiri diam di ambang lorong sambil memandang Rionegro lebih lama dari yang seharusnya.Semalam pria itu tertidur di sofa.Bukan karena ada masalah besar. Bukan pula karena mereka bertengkar. Beberapa hari terakhir justru tidak ada pertengkaran sama sekali. Hanya ada sunyi yang panjang, hati-hati, dan dingin. Rionegro tetap menjalankan semuanya seperti biasa-makanan, jadwal, obat, pengingat kecil, dan segala bentuk perhatian yang bisa ia ukur. Sementara Yusallia, pelan-pelan, belajar hidup di dalam per
Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau. Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bisa ia lewati, apartemen itu tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada piring dibanting, tidak ada kalimat kasar yang sengaja dilempar untuk melukai. Semuanya tetap rapi. Tetap tenang. Tetap tertata dengan cara yang dari luar mungkin terlihat dewasa dan wajar. Namun justru karena itulah, suasananya terasa jauh lebih dingin. Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu tetap menyala hangat saat malam datang. Dapur kecil tetap bersih. Meja makan tetap tertata. Kamar Yusallia tetap nyaman, begitu juga ruang kerja kecil Rionegro yang hampir selalu ditempati pria itu saat ada dokumen yang harus dib
Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau.Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bisa ia lewati, apartemen itu tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada piring dibanting, tidak ada kalimat kasar yang sengaja dilempar untuk melukai. Semuanya tetap rapi. Tetap tenang. Tetap tertata dengan cara yang dari luar mungkin terlihat dewasa dan wajar.Namun justru karena itulah, suasananya terasa jauh lebih dingin.Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu tetap menyala hangat saat malam datang. Dapur kecil tetap bersih. Meja makan tetap tertata. Kamar Yusallia tetap nyaman, begitu juga ruang kerja kecil Rionegro yang hampir selalu ditempati pria itu saat ada dokumen yang harus dibaca. Kota di luar
Malam Senin itu datang dengan kelelahan yang menempel tipis di tubuh mereka berdua. Jakarta di luar jendela apartemen masih menyala seperti biasa, dengan lampu-lampu kendaraan yang bergerak panjang di kejauhan dan gedung-gedung tinggi yang tetap hidup bahkan ketika jam kerja orang-orang seharusnya sudah selesai. Di dalam apartemen, suasananya jauh lebih tenang. Lampu ruang tengah dinyalakan seperlunya. Televisi mati. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dan aroma makan malam sederhana yang baru saja selesai mereka santap masih tertinggal tipis di udara. Yusallia baru pulang dari rumah sakit satu jam sebelumnya. Hari itu cukup melelahkan. Bukan hari terburuknya, tetapi cukup padat untuk membuat bahunya terasa berat sejak sore. Sementara Rionegro juga baru kembali dari kampus dengan wajah yang tampak sama tenangnya seperti biasa, hanya sedikit lebih lelah di sekitar mata. Mereka sempat makan malam bersama, berbicara seperlunya tentang hal-hal kecil, jam pu
Siang di awal pekan selalu punya suasana yang khas di lingkungan kampus.Tidak benar-benar tenang, tapi juga tidak sechaotic jam-jam pagi ketika mahasiswa masih berlarian mengejar kelas pertama mereka. Matahari siang jatuh terang di pelataran fakultas, memantul di kaca-kaca gedung dan trotoar yang mulai dipenuhi bayangan pohon. Dari arah jalan utama kampus, suara motor, langkah kaki, dan percakapan mahasiswa terdengar bercampur jadi latar yang terlalu akrab untuk diperhatikan lagi.Di kafe kecil dekat gedung dosen, suasananya tidak jauh berbeda.Beberapa meja terisi dosen yang sedang makan siang cepat sambil membuka laptop, sebagian lain ditempati mahasiswa yang masih mengerjakan tugas meski jam istirahat sudah berjalan. Mesin kopi sesekali mendesis. Sendok beradu pelan dengan cangkir. Dan di salah satu meja dekat jendela, Savira sudah duduk lebih dulu dengan segelas kopi dingin di tangannya.Ia melirik jam di pergelangan tangan, lalu mendecak kec
Hari Sabtu datang dengan ritme yang lebih pelan dari biasanya.Jakarta di luar apartemen tetap hidup seperti biasa, tapi dari lantai setinggi itu semuanya tampak lebih tenang. Langit pagi cenderung cerah, meski masih ada sisa warna pucat yang membuat cahaya matahari terasa lembut saat jatuh di kaca-kaca gedung dan jalanan yang mulai padat. Di dalam apartemen Rionegro, suasana juga berjalan lambat. Tidak ada kampus. Tidak ada rumah sakit. Tidak ada jadwal yang menuntut mereka keluar sejak pagi.Yusallia sempat berpikir hari itu akan menjadi hari yang sangat tenang.Ia bangun sedikit lebih siang, sarapan bersama Rionegro, lalu menghabiskan waktu di ruang tengah sambil membaca buku yang belum selesai ia sentuh sejak tiga hari lalu. Rionegro juga ada di rumah, seperti biasa, duduk di salah satu sisi sofa dengan laptop di pangkuan, beberapa file terbuka di hadapannya, wajahnya setenang biasa. Mereka tidak banyak bicara, tetapi keheningan di antara mereka kini t
Bryan mengembuskan napas panjang, lalu menatap ke luar jendela. “Gue sempat berharap itu cuman rumor,” katanya.Yusallia tidak bergerak.“Pas pertama kali dengar, gue pikir cuma gosip keluarga. Terus gue dengar lagi, dan gue masih berharap orang-orang cuma salah nangke
Senin sore datang dengan lelah yang menempel pelan di tubuh Yusallia.Sejak pagi, rumah sakit seperti tidak benar-benar memberinya ruang untuk berhenti. Pasien datang silih berganti, masing-masing membawa cerita, kecemasan, dan luka yang harus ia dengarkan dengan kepala jernih. Di sela-s
Pelayan datang membawa makanan mereka, meletakkannya di meja, lalu pergi lagi. Savira tidak menyentuh makanannya. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada pria di depannya. Rionegro juga tidak langsung makan. Jari-jarinya bergerak pelan di sisi cangkir kopi, lalu berhenti.
Siang hari di kampus selalu punya suasana yang khas. Tidak pernah benar-benar tenang, tetapi juga tidak sampai terasa sesak. Di sekitar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, mahasiswa berlalu-lalang dengan ritme yang nyaris sama setiap awal minggu. Ada yang berjalan cepat sambil menatap jam







