Se connecterDaren berdiri menatap punggung Arnie dan Wira yang semakin jauh meninggalkan nya. Ia meremas dadanya merasakan sesak yang tak bisa di jelaskan, sahabat dan wanita yang dulu mencintainya kini membenci bahkan tak ingin melihatnya lagi. Ponsel di tangannya bergetar, satu nama muncul di layar membuat dadanya mengeras.Murni.Ia menghela napas panjang sebelum menekan tombol hijau."Daren," suara mamanya terdengar tegang, bercampur cemas. "Kamu di mana? Sudah dua minggu kamu tidak pulang.""Aku masih di Batam, Mah," jawab Daren singkat dan suara tak bersemangat."Kenapa masih di sana? Waktu berangkat, kamu bilang cuma seminggu."Daren memejamkan mata sejenak, suara Murni kembali terdengar dengan nada khawatir. "Apa ada kendala disana? Kenapa tidak memberi kabar, mama khawatir!" lanjut Murni "Kerjaan di Batam itu apa belum selesai?"Daren menjawab dibuat setenang mungkin. "Urusan pekerjaan sudah selesai seminggu lalu.""Sudah selesai?" Murni terdiam sesaat. "Kalau begitu, kenapa kamu belum p
"Kau tak pernah berubah, Daren. Selalu menuduh tanpa mau mencari tahu kebenaran." jawab Wira tenang, meski matanya menyiratkan luka lama. "Kau pikir aku menyukai Arnie hingga aku sengaja menyembunyikannya darimu?"Daren melangkah lebih dekat. "Bukankah itu masuk akal? Kamu playboy, Wira. Bisa saja kau menyukainya kan!"Wira tertawa lagi, kali ini getir. "Aku memang playboy dan kamu boleh menilai aku bagaimana pun, tapi satu hal yang sudah berkali-kali aku katakan sejak dulu-aku tidak pernah, dan tidak akan pernah, merebut istri sahabatku."Arnie akhirnya angkat bicara. Suaranya bergetar, tapi jelas. "Sudahlah, Wira. Percuma menjelaskan apapun padanya, dia tidak akan mau dengar dan tidak akan pernah percaya. Sejak dulu dimata nya aku selalu salah, selalu rendah, dan selalu hina."Daren menoleh padanya. "Arnie, tidak seperti itu dengarkan aku-""Tidak," potong Arnie tegas. "Aku tidak mau dengar apapun lagi darimu. Kamu tidak berhak menuduh dan menyalahkan siapa pun, aku meninggalkanmu k
Keesokan harinya.Arga datang ke rumah orang tua kandungnya. Arnie duduk di sofa bersama kedua orang tuanya, sementara Arga berdiri di dekat jendela, seolah sedang menimbang kata-kata yang akan ia ucapkan.Arga menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berbalik."Ayah, Ibu… Arnie," ucapnya pelan namun tegas. "Ada hal penting yang ingin aku sampaikan."Arnie mengangkat wajahnya, alisnya sedikit berkerut. "Hal penting apa, Kak?" tanyanya hati-hati.Arga melangkah mendekat, lalu duduk berhadapan dengan mereka. "Orang tua angkatku—keluarga Dharma Wicaksana—akan mengadakan sebuah pesta."Ibu Arnie saling pandang dengan suaminya. "Pesta?" ulangnya bingung.Arga mengangguk. "Bukan pesta biasa. Pesta itu akan menjadi pernyataan resmi… bahwa Arnie adalah anak angkat keluarga Dharma Wicaksana."Ucapan itu jatuh seperti petir di siang bolong."Apa?" Arnie spontan berdiri. Matanya membesar, napasnya tercekat. "Kak Arga… kamu serius?"Ayah Arnie ikut terkejut. "Arga, maksudmu… bagaimana dengan ka
Natasya mengirim pesan pada Arga, memberitahu apa yang terjadi di perusahaan keluarganya tadi. Arga yang baru saja selesai rapat di perusahaan klien, langsung bergegas ke perusahaan keluarga Natasya."Sayang," ucap Arga setelah sampai perusahaan Natasya dan menemui tunangannya itu."Mas, kamu datang," ucap Natasya melihat Arga bersama Wira datang."Aku dan Wira baru selesai rapat, langsung saja kesini. Mana Arnie?" tanya Arga."Aku gak tahu, kata karyawan yang lihat dari pergi sana Frans. Aku barusan cek cctv perusahaan, kamu lihat saja!" ucap Natasya.Arga menganggukkan kepala, lalu melihat rekaman cctv. Di lobi perusahaan Natasya terekam jelas saat Daren beberapa kali menggenggam tangan Arnie dan terjadi perdebatan keduanya. Lalu Frans memukul Daren dan akhirnya Arnie bersama Frans pergi meninggalkan Daren."Untung ada Frans, kalau gak ada mungkin Arnie udah di sakiti lagi sama lelaki brengsek itu," ucap Arga."Tapi Frans gak selalu ada di samping Arnie, kadang dia harus mengurus ka
"2 tahun kau dan keluargamu menghina dan menyiksaku, aku hampir mati di tangan kalian, bahkan anak dalam kandungan ku yang tak berdosa pun menjadi korban, aku pergi dan memberikan bukti jika aku tak memiliki salah apapun padamu. Sekarang kau datang lagi dihadapan ku, apa kau belum puas menghina dan merendahkan ku?!" ucap Arnie dengan nada tinggi dan suara bergetar.Daren menelan salivanya, dadanya terasa sakit mendengar ucapan Arnie. Ia tak bermaksud menghina dan merendahkan mantan istrinya itu, justru ia datang untuk meminta maaf dan meminta Arnie kembali padanya. Akan tetapi ketika melihat Arnie dekat dengan pria lain Daren tak mampu menahan emosinya sehingga mengeluarkan kata-kata yang membuat Arnie kembali terluka."Arnie ... Aku tidak bermaksud menghina dan merendahkan mu, aku hanya-""Cukup!" Arnie memotong ucapan Daren, "aku tidak mau mendengar apapun lagi darimu. Semua bukti sudah ku serahkan, aku tak punya salah apapun padamu, aku tak berhutang apapun padamu. Jadi jangan pern
(Pulang kerja aku akan ke rumah mu, kita bahas ini langsung. Kamu cerita semua nya ke aku ya!) balas Arga.Sore itu langit menggantungkan warna jingga pucat ketika mobil Arga berhenti di halaman rumah Natasya. Rumah bergaya modern itu tampak tenang dari luar, tapi perasaan Arga justru sebaliknya. Ada sesuatu dalam nada suara Natasya saat meneleponnya tadi yang membuat dadanya terasa berat.Begitu pintu dibuka, Natasya menyambutnya dengan senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke mata."Kamu dari kantor langsung kesini? Pasti capek ya!" ucap Natasya sambil mempersilakan Arga masuk."Capek udah biasa, tapi kalau lihat kamu capeknya hilang," jawab Arga singkat. Ia menatap wajah tunangannya lekat-lekat. "Dasar gombal!" ucap Natasya seraya memukul pelan dada Arga.Arga tersenyum, masih memperhatikan wajah cantik tunangannya. "Tapi sepertinya bukan aku saja yang capek hari ini."Natasya terdiam sejenak. Ia mengambil dua gelas air, meletakkannya di atas meja, lalu duduk berhadapan dengan Arga
"Kakak tenang aja, aku tahu apa yang harus aku lakukan," ucap Arnie mengakhiri panggilan telepon nya dengan Arga.Setelah itu Arnie pamit kepada kedua orang tuanya untuk pulang ke rumah Daren, meskipun tidak rela akhirnya kedua orang tua Arnie pun melepaskannya."Kalau Daren berbuat yang keterlalua
Setelah selesai sarapan, kedua orang tua Arnie pergi kerja seperti biasa. Meski usia mereka sudah tak muda lagi, Supriadi masih menjalani aktivitas menjadi karyawan di salah satu perusahaan swasta, sementara Aminah masih mengajar di sekolah SMP swasta tak jauh dari rumah."Ayah sama ibu berangkat
"Assalamualaikum," ucap Arnie saat sampai di depan pintu rumah orang tuanya."Waalaikumsalam," Aminah menjawab salam tersebut, seraya berjalan untuk membuka pintu. Wanita paruh baya itu sedikit terkejut karena anaknya datang, sebab Arnie tak pernah mendatangi rumah orang tuanya ketika menjelang mal
"Dena, aku janji akan ungkap semua kebenaran yang selama ini tertutupi. Orang yang membunuh kamu dan kak Dimas harus dihukum!" gumam Arnie.Setelah selesai membuat bubur, ia pun membawanya ke kamar untuk di berikan pada suaminya.Arnie menghela nafas saat melihat Daren memejamkan mata dan terlihat







