LOGIN“Gavin.”Nayara menyebutkan satu nama itu dengan suara yang masih agak sengau, tapi matanya berbinar cerah. Ia menatap Devanka yang sedang duduk di sisi ranjangnya, memandangi selembar kertas putih berisi coretan nama yang sejak subuh tadi mereka perdebatkan.“Gavin Xavier Aryasatya,” ulang Nayara, senyumnya mengembang sempurna. “Gavin itu artinya elang putih, simbol kekuatan dan kejayaan. Xavier artinya cahaya atau masa depan yang cerah. Dan tentu saja, ada nama belakang Papanya yang hebat.”Devanka tertegun sesaat, lalu senyum bangga terukir di wajahnya yang kini tampak jauh lebih segar. Ia mengecup punggung tangan Nayara dengan lembut. “Gavin Xavier Aryasatya. Keren. Kedengarannya gagah dan punya wibawa yang besar. Aku suka, Sayang. Makasih, ya.”“Lalu, untuk si cantik?” Nayara menaikkan kedua alisnya, menagih janji. “Kamu bilang mau kasih nama yang berarti keajaiban atau cahaya.”Devanka merengkuh pundak istrinya, menariknya lembut ke dalam pelukan hangat. “Kalea. Kalea Aurora Ar
“Mas, jawab! Anak kita mana?”Suara Nayara yang semula hanya bisikan lirih, tiba-tiba naik satu oktaf. Ada nada panik yang tajam, kepanikan seorang ibu yang merasa kehilangan bagian dari jiwanya. Matanya yang sayu kini membelalak, bergerak liar dari wajah Devanka ke perutnya sendiri yang sudah rata di balik selimut rumah sakit.Devanka tersentak. Ia maju selangkah, mencoba meraih bahu Nayara yang gemetar. “Nay, tenang dulu. Tarik napas, Sayang. Jangan bangun dulu, badan kamu masih lemah banget.”“Gimana aku bisa tenang, Mas?!” Nayara menepis tangan Devanka dengan tenaga sisa-sisanya. Napasnya tersengal, memburu, membuat monitor jantung di samping ranjang berbunyi tit-tit-tit lebih cepat. “Aku ingat ... aku ingat ada darah. Aku ingat kecelakaan itu. Terus sekarang perutku kempes. Mas, bayiku mana? Kamu jangan diam aja! Apa mereka ... apa mereka nggak selamat?”Air mata Nayara tumpah seketika. Isak tangisnya terdengar menyayat hati, sebuah suara yang sangat ditakuti Devanka selama ber
Lampu di atas ranjang Nayara sedikit diredupkan, Dokter menoleh pada Devanka. “Pak Devanka, kami perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh. Mohon Bapak keluar dulu, ya.”Devanka sontak menggeleng. “Saya di sini aja, Dok. Saya nggak ganggu, janji.”Dokter menatapnya sebentar, lalu menghela napas tipis. “Bukan soal mengganggu. Kami butuh ruang, dan Bapak juga butuh waktu sejenak agar tidak tertekan. Percayakan sebentar pada kami.”Devanka menatap Nayara. Wajah itu masih pucat, mata masih terpejam, tapi jari-jarinya tadi bergerak.Tangannya enggan melepaskan.“Nay,” bisiknya lirih. “Aku keluar sebentar. Jangan takut, ya. Aku nanti balik lagi.”Tak ada jawaban, tapi entah kenapa, Devanka merasa Nayara mendengarnya. Ia melangkah mundur, setiap langkah terasa berat, seperti ada tali tak kasatmata yang menarik dadanya kembali ke ranjang itu.Pintu ICU tertutup perlahan.Klik.Devanka berdiri kaku beberapa detik di depan pintu, lalu lututnya melemas. Ia duduk di kursi lorong dengan tubuh memb
Rumah sakit kembali diselimuti hiruk-pikuk yang sama, tapi bagi Devanka, dunia tetap terasa mengecil, hanya sebatas ranjang ICU dan tubuh istrinya yang terbaring tak berdaya.Ia kembali duduk di kursi kecil di samping ranjang Nayara, satu tangan menggenggam tangan istrinya, tangan lain memegang kain hangat.Ia mengelap lengan Nayara dari pergelangan ke siku, lalu naik ke bahu. Setiap usapan penuh kehati-hatian, seolah ia takut sentuhan yang terlalu kuat bisa membuat Nayara sakit.“Kaki kamu dingin lagi,” gumamnya lirih. “Aku pijitin, ya.”Ia membuka selimut sedikit, cukup untuk menjangkau betis dan telapak kaki Nayara. Ibu jarinya menekan perlahan titik-titik yang dulu sering Nayara keluhkan saat hamil.“Kamu inget nggak?” tanyanya sambil tersenyum samar. “Waktu kamu bangunin aku jam tiga pagi cuma gara-gara kaki kamu kram?”Ia tertawa kecil, suara yang patah di ujungnya.“Aku ngedumel setengah mati, tapi tetap bangun dan pijitin. Terus kamu malah ketiduran sambil pegang tangan aku.”
Tiga minggu berlalu, hari-hari terasa seperti satu garis panjang tanpa tanggal bagi Devanka. Lorong rumah sakit sudah seperti bagian dari hidupnya, ia hafal bunyi pintu otomatis ICU, hafal suara monitor yang sering berubah ritme, hafal bau antiseptik yang menusuk seperti pengingat bahwa istrinya belum kembali padanya.Meski kedua bayi sudah diperbolehkan pulang seminggu lalu, Devanka tetap tinggal di rumah sakit. Dian dan Seno membawa pulang cucu-cucu mereka, merawatnya dengan perhatian penuh. Setiap hari video call masuk ke ponsel Devanka, Dian menunjukkan si kecil yang baru selesai mandi, atau Seno menimang si bayi perempuan yang suka menguap kecil. Namun, Devanka tak sanggup memberi nama pada mereka tanpa persetujuan sang istri.“Aku tunggu Nayara bangun dulu, Ma,” jawaban itu selalu keluar dengan suara seraknya, dan Dian tak pernah memaksa lagi.Pagi itu, jam tujuh lewat sedikit, Devanka masuk ke ruang ICU. Udara dinginnya membuat kulitnya merinding, tapi ia tidak pernah lupa m
Lorong rumah sakit seperti menelan suara Devanka. Kata 'koma' bergema berkali-kali dalam kepalanya, memantul di rongga dada, menghantam keras seperti batu. Ia berdiri mematung, tak tahu harus memegangi bagian mana dari dirinya yang terasa paling hancur.Tangannya gemetar, napasnya seperti tersangkut di kerongkongan.Ucapannya tercekat, pecah di sela-sela isaknya, “Nayara nggak mungkin ninggalin aku kayak gini.”Namun tubuhnya tak mampu bergerak.Dokter Melati memberi isyarat pada perawat.“Pindahkan Ibu Nayara ke ICU. Siapkan ventilator dan monitor lengkap.”Perawat langsung masuk kembali ke ruang operasi, menyiapkan brankar. Ketika pintu kembali terbuka, Nayara dibawa keluar.Bukan lagi Nayara yang tadi menggeliat kesakitan sambil memanggil nama suaminya dengan manja, kini tubuh pucat itu tak bergerak, wajahnya tertutup masker oksigen, rambutnya tergerai acak menempel pada kening berkeringat dingin. Infus menjuntai di kiri kanan, selang-selang kecil menempel di dada, dan monitor berg
Pagi Hari – Aryasatya CorporationLobi gedung sudah ramai ketika Devanka turun dari lift eksekutif. Wajahnya datar, dingin, ada bara kecil yang tersimpan rapi di balik sorot matanya.Aska sudah berdiri di depan pintu ruang kerja sambil memeluk map tebal.“Selamat pagi, Pak Devanka,” sapa Aska sambi
“Om, kita bicara di luar saja,” ucap Devanka datar, nadanya tegas.Suryo mengangkat dagu, sinis. “Kau pikir bisa mengusirku seperti anjing?”“Lebih baik keluar, daripada Om bikin ribut di depan istriku yang lagi sakit.”Mata elang itu menatap tajam, menahan sabar. Ia berjalan mendekat, lalu menggi
Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan ketika Devanka membuka pintu ruang kerjanya di mansion megah itu. Di ujung meja panjang, Seno sudah duduk dengan kacamata baca di hidung, ditemani Pak Adinata, pengacara senior keluarga mereka yang kini tampak sibuk membolak-balik dokumen dengan kaca pemb
Malam sudah larut kala sedan hitam itu memasuki pekarangan rumah utama keluarga Aryasatya. Devanka membuka pintu utama dengan langkah pelan. Ia langsung naik ke lantai tiga tanpa menyalakan lampu, sudah terbiasa menghafal tiap anak tangga rumah itu. Pintu kamar sedikit terbuka. Dari dalam, cah







