LOGINSudut pandang Alverio.Aku berdiri di bahu jembatan, sementara petugas pemadam kebakaran berusaha turun untuk mengevakuasi sisa-sisa jasad Liana. Samuel berdiri agak jauh di depanku sambil berbicara di telepon. Kurasa, dia sedang menelepon Itha dan menyuruhnya kembali ke Lembara Estate.Saat melihat pemandangan itu dan bangkai mobil Liana yang sudah ringsek, aku teringat hari ketika aku membelikannya mobil itu.Liana memang selalu suka mobil-mobil mewah dan sering berkata bahwa memiliki mobil seperti itu adalah impian terbesarnya. Jadi tepat di hari ulang tahunnya, aku memberinya kejutan dengan menghadiahkan mobil tersebut. Hari itu, wajahnya benar-benar bersinar karena bahagia. Saat itu, aku begitu tergila-gila padanya sampai senyumnya saja bisa membuatku lupa diri. Aku selalu memanjakannya, memberikan apa pun yang dia inginkan, dan menuruti setiap keinginannya. Aku memang bodoh, tetapi saat itu yang kupedulikan hanyalah dirinya dan bagaimana membuatnya bahagia.Aku merasa sangat kasi
"Tadi pagi telah terjadi kecelakaan lalu lintas serius di jalan raya yang menuju salah satu kawasan rumah terbesar dalam negeri. Pihak berwenang telah mengonfirmasi bahwa kecelakaan tersebut menewaskan satu orang. Liana, wanita berusia 26 tahun, mengendarai sebuah Ferrari dengan kecepatan tinggi, lalu dia kehilangan kendali atas kendaraannya hingga mobil itu terjun dari sebuah jembatan. Tubuhnya mengalami luka bakar yang sangat parah dan dia dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Seluruh kecelakaan tersebut terekam oleh kamera dari kendaraan lain yang sedang melintas di jalan yang sama. Rekaman itu memperlihatkan Ferrari tersebut melaju dengan kecepatan tinggi beberapa saat sebelum kecelakaan terjadi. Liana belum menikah dan meninggalkan seorang anak yang usianya masih di bawah satu tahun. Informasi selengkapnya akan kami sampaikan berikutnya."Televisi yang tergantung di ruang tunggu klinik sedang menayangkan berita terbaru mengenai kecelakaan tragis itu."Pagi, Desi!" sapaku sambil
Setelah mengatakan itu, aku keluar dari kamar dan mengunci pintunya dari luar.Liana langsung menggedor-gedor pintu dari dalam sambil berteriak untuk menyuruhku membukanya."Menurutmu, apa dia akan menemukan cara untuk kabur?" tanya Samuel sambil berjalan di sampingku."Pintu itu terbuat dari kayu ek yang sangat kokoh. Bakal lebih gampang baginya untuk merobohkan tembok daripada membuka pintu itu."Sebelum masuk ke dalam mobil, aku memberi instruksi pada para petugas keamanan yang berjaga di gerbang depan.Aku memerintahkan mereka untuk terus mengawasi rumah itu tanpa henti dan menempatkan salah satu dari mereka di depan pintu kamar Liana.Kalau Liana sampai berhasil lolos, meski seharusnya itu mustahil, mereka harus segera menangkapnya dan mengurungnya di ruangan lain sampai polisi tiba."Kenapa kita nggak membawa dia pergi saja?" tanya Samuel."Karena aku mau dia menderita. Aku ingin dia menghabiskan setiap menit dengan dihantui rasa takut dan bertanya-tanya kapan kebebasannya akan d
Sudut pandang Alverio."Alverio, tenang dulu. Apa yang mau kamu lakukan?"Aku mondar-mandir di dalam kantor, sementara Samuel berdiri di ambang pintu. Dia khawatir aku akan keluar dan langsung menghajar Liana sampai babak belur."Aku mau kamu bawa Naren dan Itha pergi dari sini sekarang juga!" ucapku sambil berusaha mengendalikan diri yang sudah berada di ambang batas."Aku nggak akan meninggalkanmu sendirian di sini.""Aku nggak akan menyentuhnya. Tenang saja.""Walau begitu, suruh Johan saja yang bawa Itha dan Naren pergi jauh dari sini. Ambil semua rekaman itu, lalu kita langsung ke kantor polisi.""Samuel, dia membunuh ayahku!" Aku menelan ludah dengan susah payah saat kata-kata itu keluar dari mulutku. "Ayahku dibunuh!""Alverio, kecilkan suaramu. Nggak ada gunanya melakukan hal bodoh sekarang. Aku bersumpah, aku sama marahnya denganmu. Aku juga mau cekik lehernya. Tapi, tadi kamu sendiri yang bilang. Coba pikirkan Naren. Bayangkan kalau dia tumbuh besar tanpa ayah karena kamu ber
Sudut Pandang Aura."Ayo. Dengan perut sebesar itu, kamu bahkan sudah hampir nggak bisa membungkuk.""Makasih, Desi!"Kami sedang berjalan bersama di pusat kota."Aura, kalau aku jadi kamu, aku akan mengajukan cuti medis. Usia kehamilanmu baru enam bulan, tapi kamu sudah terlihat seperti akan melahirkan!""Um, itu karena ada dua anak laki-laki kecil di dalam sini."Aku sudah mengetahui bahwa anak kembarku berjenis kelamin laki-laki."Kamu seharusnya sudah memilih nama untuk mereka sekarang.""Aku tahu, tapi aku ingin menunggu sedikit lebih lama.""Dengar, Eriko sudah mempekerjakan seseorang untuk mengurus kebersihan. Kamu cuma perlu mengurus dapur.""Dia kembali menunjukkan kebaikannya." Aku tersenyum. "Desi, kurasa sudah waktunya kamu mengatakan padanya gimana perasaanmu.""Mana mungkin aku melakukan itu sekarang? Apalagi aku tahu dia menyukaimu.""Desi." Aku menatapnya dengan ekspresi tidak setuju. "Aku sudah bilang padamu bahwa nggak akan pernah terjadi apa-apa di antara kami, sekal
Sudut pandang Alverio.Dua bulan kemudian ...."Sobat, kamu harus ingat bahwa aku ini pengacara, bukan pengelola kawasan rumah."Samuel sedang berada di ruang kerjaku dan bersikap persis seperti biasanya. Sindiran dan selera humornya tidak pernah berubah, tidak peduli seburuk apa pun keadaan yang sedang kami hadapi."Berhenti mengeluh. Aku tahu kamu menikmatinya.""Memang, aku nggak akan menyangkalnya. Tapi, kamu menyerahkan pengelolaan kawasan rumahmu padaku. Apa kamu tahu sebesar apa tanggung jawabnya?""Justru karena itulah aku memilihmu. Aku memercayaimu. Selain itu, jangan khawatir. Sebentar lagi kamu akan kembali menjalani kehidupanmu yang biasa dan membosankan."Aku sengaja memancingnya sambil menyeringai."Hei! Hidupku nggak membosankan." Samuel berpura-pura tersinggung."Baiklah kalau kamu merasa begitu.""Alverio, selama dua bulan terakhir kamu hampir mengurung diri di ruang kerja ini. Apa kamu belum mengumpulkan cukup bukti untuk merebut Naren dari Liana?""Aku sedang mengum
"Aura, bangun!" teriak Ibu dari ambang pintu kamarku."Ini baru jam lima pagi. Hari ini bukan giliranku keluar," jawabku kaget sambil melirik jam di ponsel."Kamu tidak pergi hari ini. Alisa demam, jadi kamu harus menemaninya. Rendi tidak bisa mengurusnya sendirian saat dia sakit.""Tapi aku sudah b
Sudah lewat pukul enam sore ketika ibuku muncul di depan pintu sambil berteriak, "Aura! Aura!"Aku segera bergegas keluar. Di tangannya ada beberapa kantong belanja."Cepat kemari, gadis bodoh! Kamu tidak lihat ini berat, ya?"Ibu seperti biasanya sedang dalam suasana hati yang buruk. Pasti Rendi Sa
Pukul enam pagi, aku bangun dan mengenakan pakaian. Aku sedang merapikan beberapa laci ketika seseorang mengetuk pintu kamar. Aku langsung membukanya. Ternyata itu pria yang menurunkan barang-barang dari mobil kemarin saat aku tiba dari ibu kota bersama bayi dan Alverio."Selamat pagi, Nona Aura. Na
"Tuan Alverio, berapa hari usia bayi ini?""Dua hari.""Apa dia sudah menjalani tes tusuk tumit?" tanyaku penasaran."Apa?" jawabnya seolah-olah dia sama sekali tidak paham apa yang kubicarakan."Ini tes penting yang dilakukan beberapa hari setelah bayi lahir. Tes ini membantu mendeteksi beberapa pe







