LOGINLobi penjara pusat terasa dingin dan steril. Bau disinfektan yang tajam menusuk hidung, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Alejandro duduk di balik kaca pembatas ruang kunjungan khusus, menunggu sosok wanita yang dulu pernah jadi ibunya.Pintu besi di seberang terbuka dengan derit yang memilukan. Silvia masuk dengan tangan terborgol. Meski mengenakan seragam tahanan, ia masih mencoba mempertahankan dagunya tetap tinggi. Namun, saat ia melihat siapa yang duduk menunggunya, langkahnya goyah sesaat. Silvia duduk dan meraih gagang telepon. Matanya yang tajam menatap Daniel."Kamu pikir kamu sudah menang, Daniel?" suara Silvia terdengar serak melalui speaker. "Kamu baru saja menghancurkan usaha yang aku bangun dengan darah dan air mata selama puluhan tahun demi perusahaan yang sekarat."Alejandro tersenyum tipis."Aku tidak menghancurkan usahamu, Silvia. Aku hanya memastikan semua hutang terbayar lunas. Data dari Sanz Management sudah cukup untuk membuatmu mendekam di sini seumur h
"Emiliano DeLaLuca pernah menjebakku dalam kasus penggelapan pajak sepuluh tahun lalu untuk menyingkirkan Sanz Management dari proyek pelabuhan. Aku kehilangan posisi dan hampir dipenjara. Aku ingin melihat dia membusuk di selnya, tapi aku juga ingin melihat DeLaLuca Corp bangkit kembali sebagai entitas yang bersih, karena aku punya kepentingan di sana." Andrew mengeluarkan sebuah ponsel terenkripsi dan meletakkannya di meja."Di dalam sini ada bukti aliran dana rahasia yang dikirim Silvia Ortega ke beberapa rekening luar negeri. Salah satu rekening itu digunakan untuk mendanai operasional Corvus. Jika kamu menyerahkan ini ke otoritas keuangan, perusahaanmu akan mendapatkan status saksi mahkota. Bank tidak hanya akan mencairkan lini kreditmu, tapi mereka akan memberikan perlindungan aset selama masa transisi."Di dalam keheningan The Vault Bar yang hanya diterangi lampu temaram, Alejandro menatap ponsel terenkripsi yang diletakkan Andrew di atas meja kayu ek tua itu. Ia tidak langsun
Sebuah taman terbuka di pusat kota, Alejandro duduk menunggu dengan segelas espreso pahit. Ia sengaja memilih tempat umum agar Margarita tidak bisa melakukan manuver yang terlalu intim atau rahasia. Tak lama kemudian, Margarita datang dengan gaya yang sangat kontras mengenakan setelan mewah dan diikuti oleh dua asisten yang membawa dokumen."Daniel, kamu tampak lelah," sapa Margarita, duduk di hadapannya tanpa diundang. Ia meletakkan kacamata hitamnya di meja dengan denting yang sengaja dikeraskan. "Skandal keluarga memang bisa menguras energi, tapi untungnya aku di sini untuk membantumu memulihkan semuanya."Alejandro menatapnya datar. "Mari langsung ke intinya, Margarita. Fermin bilang Sanz Management bersedia memberikan jaminan kredit."Margarita tersenyum penuh kemenangan. "Tentu. Kami akan menyuntikkan dana segar dan memberikan jaminan kepada bank agar DeLaLuca Corp bisa beroperasi kembali dalam dua puluh empat jam. Namun, ada syaratnya."Ia menyodorkan sebuah dokumen. "Aku
Di kantor pusat DeLaLuca Corp, Alejandro masih terjaga meskipun malah telah larut. Ia baru saja selesai memeriksa beberapa dokumen aset yang dibekukan oleh kepolisian. Di mejanya ada segelas kopi yang sudah mendingin menjadi teman setianya.Fermin mengetuk pintu pelan. "Tuan, ada pesan dari pihak bank. Mereka menahan lini kredit kita sampai ada kejelasan struktur organisasi yang baru. Kita butuh suntikan dana atau jaminan dari pihak ketiga dalam waktu empat puluh delapan jam atau operasional di beberapa sektor akan lumpuh."Alejandro menghela napas dam jemarinya memijat pelipisnya. Inilah sisi Daniel yang harus ia hadapi. "Siapa yang paling mungkin memberikan jaminan itu sekarang, Fermin?" tanya Alejandro tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen."Satu-satunya yang memiliki likuiditas cukup besar dan cukup berani mengambil risiko ini adalah Sanz Management, Tuan," jawab Fermin hati-hati. "Tapi kita tahu itu berarti Anda harus berhadapan kembali dengan Nyonya Margarita."Alejandr
Valeria melangkah keluar dari gedung DeLaLuca Corp dengan kaki yang terasa ringan namun kepalanya dipenuhi banyak pikiran. Setibanya di butik, Valeria langsung masuk ke ruang pribadinya. Lucia yang sejak tadi menunggu dengan kecemasan yang memuncak langsung menyambar lengannya."Val! Syukurlah kamu kembali. Bagaimana? Apa kata Daniel? Apakah dia mengancammu? Wajahmu, kamu habis menangis?" Lucia mencecar dengan rentetan pertanyaan dan tangannya memegang segelas air untuk sahabatnya.Valeria duduk di sofa beludru merahnya dan mencoba menenangkan napas. Ia menatap Lucia lekat-lekat, ragu apakah sahabatnya ini akan menganggapnya gila."Lucia, Daniel, dia bukan Daniel."Lucia mengerutkan kening. "Maksudmu? Dia jadi gila karena kasus ayahnya? Atau dia melakukan sesuatu padamu?""Bukan itu," Valeria menggeleng cepat, air mata kembali menggenang. "Pria itu, jiwa di dalam tubuh Daniel adalah Alejandro. Alejandro kembali, Lucia. Dia tidak benar-benar mati malam itu, jiwanya berpindah ke tu
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Valeria menatap pria di depannya dengan tatapan kosong selama beberapa detik, kemudian sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya, tawa yang terdengar hambar dan penuh ketidakpercayaan."Hahaha, kamu adalah Alejandro?" Valeria tertawa semakin keras dan tawanya berujung pada isakan yang tertahan. "Daniel, ini tidak lucu. Kamu ingin aku percaya pada cerita fantasi seperti itu?"Valeria menggelengkan kepalanya dan matanya berkaca-kaca karena amarah. "Kamu benar, kamu gila sampai kamu kehilangan akal sehat."Namun, tawa Valeria perlahan memudar saat ia melihat Daniel tidak bergeming. Pria itu tidak tampak tersinggung, ia justru menatap Valeria dengan tatapan penuh luka."Tanya aku, Val," bisik Alejandro. "Tanya aku tentang apa saja. Tentang hal-hal yang hanya kita yang tahu. Tanya aku dan kamu akan tahu bahwa aku tidak sedang kehilangan akal sehat."Valeria melangkah mundur, jemarinya meremas tali tasnya dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih. M
Emiliano berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang begitu tenang hingga terasa lebih mengancam daripada teriakan. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya datar. Camila langsung berdiri tegak. “Aku yang membawanya.” “Keluar!" ucap Emiliano singkat. Valeria tidak bergerak. “Aku hanya ingin me
Keesokan paginya, matahari menyelinap lembut melalui jendela kaca besar butik milik Valeria. Gaun-gaun rancangan terbarunya tergantung rapi di rak-rak dan berkilau dalam cahaya pagi. Aroma kopi memenuhi ruangan ketika Lucia masuk sambil membawa dua gelas. “Kamu datang lebih pagi dari biasanya,” ka
“Sejak itu ayahku melihat Virginia sebagai ancaman,” potong Alejandro. “Ia mencoba membungkamnya. Kecelakaan mobil itu bukan kebetulan. Semuanya sudah diatur rapi, tapi Virginia selamat. Tubuhnya lumpuh, tapi dia masih hidup dan masih bisa bicara.” Valeria membuka mata, air mata mengalir tanpa ia
Malam turun perlahan di Madrid ketika Valeria melangkah masuk ke sebuah restoran kecil bergaya klasik di Calle Serrano. Lampu-lampu temaram memantul di meja kayu gelap dan alunan musik piano mengalun pelan untuk jantungnya yang berdegup keras. Ia melihat Daniel sudah duduk di sudut ruangan, jasny







