로그인Sebuah taman terbuka di pusat kota, Alejandro duduk menunggu dengan segelas espreso pahit. Ia sengaja memilih tempat umum agar Margarita tidak bisa melakukan manuver yang terlalu intim atau rahasia. Tak lama kemudian, Margarita datang dengan gaya yang sangat kontras mengenakan setelan mewah dan diikuti oleh dua asisten yang membawa dokumen."Daniel, kamu tampak lelah," sapa Margarita, duduk di hadapannya tanpa diundang. Ia meletakkan kacamata hitamnya di meja dengan denting yang sengaja dikeraskan. "Skandal keluarga memang bisa menguras energi, tapi untungnya aku di sini untuk membantumu memulihkan semuanya."Alejandro menatapnya datar. "Mari langsung ke intinya, Margarita. Fermin bilang Sanz Management bersedia memberikan jaminan kredit."Margarita tersenyum penuh kemenangan. "Tentu. Kami akan menyuntikkan dana segar dan memberikan jaminan kepada bank agar DeLaLuca Corp bisa beroperasi kembali dalam dua puluh empat jam. Namun, ada syaratnya."Ia menyodorkan sebuah dokumen. "Aku
Di kantor pusat DeLaLuca Corp, Alejandro masih terjaga meskipun malah telah larut. Ia baru saja selesai memeriksa beberapa dokumen aset yang dibekukan oleh kepolisian. Di mejanya ada segelas kopi yang sudah mendingin menjadi teman setianya.Fermin mengetuk pintu pelan. "Tuan, ada pesan dari pihak bank. Mereka menahan lini kredit kita sampai ada kejelasan struktur organisasi yang baru. Kita butuh suntikan dana atau jaminan dari pihak ketiga dalam waktu empat puluh delapan jam atau operasional di beberapa sektor akan lumpuh."Alejandro menghela napas dam jemarinya memijat pelipisnya. Inilah sisi Daniel yang harus ia hadapi. "Siapa yang paling mungkin memberikan jaminan itu sekarang, Fermin?" tanya Alejandro tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen."Satu-satunya yang memiliki likuiditas cukup besar dan cukup berani mengambil risiko ini adalah Sanz Management, Tuan," jawab Fermin hati-hati. "Tapi kita tahu itu berarti Anda harus berhadapan kembali dengan Nyonya Margarita."Alejandr
Valeria melangkah keluar dari gedung DeLaLuca Corp dengan kaki yang terasa ringan namun kepalanya dipenuhi banyak pikiran. Setibanya di butik, Valeria langsung masuk ke ruang pribadinya. Lucia yang sejak tadi menunggu dengan kecemasan yang memuncak langsung menyambar lengannya."Val! Syukurlah kamu kembali. Bagaimana? Apa kata Daniel? Apakah dia mengancammu? Wajahmu, kamu habis menangis?" Lucia mencecar dengan rentetan pertanyaan dan tangannya memegang segelas air untuk sahabatnya.Valeria duduk di sofa beludru merahnya dan mencoba menenangkan napas. Ia menatap Lucia lekat-lekat, ragu apakah sahabatnya ini akan menganggapnya gila."Lucia, Daniel, dia bukan Daniel."Lucia mengerutkan kening. "Maksudmu? Dia jadi gila karena kasus ayahnya? Atau dia melakukan sesuatu padamu?""Bukan itu," Valeria menggeleng cepat, air mata kembali menggenang. "Pria itu, jiwa di dalam tubuh Daniel adalah Alejandro. Alejandro kembali, Lucia. Dia tidak benar-benar mati malam itu, jiwanya berpindah ke tu
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Valeria menatap pria di depannya dengan tatapan kosong selama beberapa detik, kemudian sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya, tawa yang terdengar hambar dan penuh ketidakpercayaan."Hahaha, kamu adalah Alejandro?" Valeria tertawa semakin keras dan tawanya berujung pada isakan yang tertahan. "Daniel, ini tidak lucu. Kamu ingin aku percaya pada cerita fantasi seperti itu?"Valeria menggelengkan kepalanya dan matanya berkaca-kaca karena amarah. "Kamu benar, kamu gila sampai kamu kehilangan akal sehat."Namun, tawa Valeria perlahan memudar saat ia melihat Daniel tidak bergeming. Pria itu tidak tampak tersinggung, ia justru menatap Valeria dengan tatapan penuh luka."Tanya aku, Val," bisik Alejandro. "Tanya aku tentang apa saja. Tentang hal-hal yang hanya kita yang tahu. Tanya aku dan kamu akan tahu bahwa aku tidak sedang kehilangan akal sehat."Valeria melangkah mundur, jemarinya meremas tali tasnya dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih. M
Di sebuah sel tahanan sementara yang dingin dan berbau karbol, Silvia Ortega duduk dengan punggung tegak. Meski mengenakan seragam tahanan, keangkuhannya belum luntur. Namun, ketenangannya goyah saat pintu besi terbuka dan sosok pria yang paling ia kenal melangkah masuk, Stefan, suaminya.Pria itu tidak datang dengan simpati. Wajah Stefan merah padam dan rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol. Ia berdiri di balik jeruji besi, menatap wanita yang telah mendampinginya selama puluhan tahun itu dengan tatapan yang bisa membunuh."Stefan," panggil Silvia pelan, mencoba mencari sisa-sisa otoritas di suaranya."Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu!" bentak Stefan. Suaranya menggelegar, membuat sipir yang berjaga di ujung lorong menoleh. "Selama ini aku hidup dengan seorang iblis? Corvus? Jadi itu pekerjaan aslimu di balik semua perjalanan bisnis yang kamu banggakan itu?"Silvia memalingkan wajah. "Aku melakukan semuanya demi keluarga ini, Stefan. Demi masa depan Al
Setelah kepergian polisi yang membawa Emiliano dan Silvia, Alejandro tidak memberikan ruang bagi dirinya untuk beristirahat. Ia segera menuju kantor pusat DeLaLuca Corp. Setibanya di sana, suasana sangat kacau, para jurnalis mengepung lobi dan para karyawan tampak lesu serta ketakutan.Alejandro melangkah masuk dengan aura yang begitu kuat, membuat orang-orang secara tidak sadar membukakan jalan. Ia langsung menuju ruang rapat utama di lantai paling atas, di mana para dewan direksi dan pemegang saham mayoritas sudah menunggu dengan wajah merah padam karena amarah."Pertemuan ini tidak sah jika tidak ada pimpinan!" teriak salah satu direktur saat Alejandro masuk."Pimpinannya ada di sini," ujar Alejandro dingin sambil menarik kursi utama. Ia meletakkan sebuah map hitam dan flash disk di atas meja. "Saya Daniel DeLaLuca, dan mulai detik ini, saya mengambil alih kendali penuh atas perusahaan ini melalui hak suara darurat yang telah disetujui oleh otoritas bursa."Ruangan itu mendadak
Menjelang malam, butik mulai lengang. Cahaya lampu gantung menyinari kain-kain yang tergantung rapi seolah ikut beristirahat setelah hari yang panjang. Valeria berdiri di depan kasir sedang menghitung ulang laporan penjualan dan sementara Lucia mematikan lampu di beberapa sudut ruangan. "Aku tutu
Alejandro terdiam beberapa detik sebelum menjawab. Tatapannya tetap tenang, meski rahangnya sedikit mengeras."Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Valeria."Margarita mengangkat alis seolah menimbang jawaban itu, lalu ia tersenyum kecil, senyum yang terlalu terlatih untuk sekadar sopan."Oh?" k
Butik kembali hidup seperti biasa. Musik lembut mengalun, mesin jahit berdengung halus di sudut ruangan, dan Valeria memaksa dirinya fokus memeriksa pesanan pelanggan. Ia menyetrika gaun satin sambil menghela napas pelan dan berusaha mengusir sisa pusing dan rasa malu. Lucia sibuk di meja kasir ses
Valeria terbangun dengan kepala terasa dipukul dari dalam. Pelipisnya berdenyut, mulutnya kering, dan cahaya yang menyelinap dari sela tirai terasa terlalu terang untuk mata yang masih berat."Ugh," gumamnya sambil memijat dahi.Ia berguling pelan, lalu berhenti mendadak, menyadari ini bukan kamarn







