로그인Enam tahun telah berlalu sejak badai besar itu mereda. Sore itu, suasana di pondok kayu tepi danau terasa begitu sunyi hanya diiringi suara desau angin yang mempermainkan permukaan air. Daniel duduk di beranda, fokusnya tertuju pada sebuah buku sketsa di pangkuannya. Tangannya bergerak lincah, menggoreskan pensil dengan teknik arsir yang sangat detail, sebuah bakat menggambar yang dulu ia kubur dalam-dalam demi ambisi ayahnya.Valeria keluar dari dalam pondok, membawa dua cangkir teh. Ia berhenti sejenak dan memperhatikan Daniel. Senyumnya mengembang melihat Daniel begitu tenang dengan dunianya sendiri. Ini adalah Daniel yang asli, pria artistik yang lembut, bukan lagi bayangan Daniel yang penuh amarah dan galak.Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di halaman. Camila, Marisela, ibu Daniel, turun bersama orang tua Valeria, Don Esteban dan Veronika. Pertemuan ini adalah simbol perdamaian yang dulu mustahil terjadi.Marisela menghampiri putranya dan memeluknya erat. "Ibu tidak p
Satu bulan berlalu, dibalik kemegahan kantor Sanz Management, Margarita Sanz sedang membusuk dalam amarah. Ia telah kehilangan segalanya, posisi di DeLaLuca Corp, pengaruhnya di bursa saham, dan yang paling menyakitkan, ia merasa dipermainkan oleh seorang pria yang ia anggap sebagai pion.Baginya, Daniel hanyalah pria licik yang berpura-pura jatuh cinta padanya hanya untuk mencuri informasi dan kemudian mencampukkannya.Sore itu, Valeria sedang menutup butiknya lebih awal. Langit tampak mendung dan membawa firasat yang tidak enak. Saat ia melangkah menuju mobilnya di area parkir yang sepi, sebuah mobil van hitam berhenti mendadak di depannya. Dua pria berbadan besar dengan masker hitam turun dengan cepat.Valeria mencoba berteriak, namun sebuah saputangan beraroma kloroform yang menyengat segera membungkam mulutnya. Dunianya berputar menjadi gelap dan hal terakhir yang ia ingat adalah aroma parfum mawar yang sangat kuat, parfum khas Margarita Sanz.Daniel sedang berada di ruang ke
Keesokan harinya, langit berwarna jingga keunguan menyelimuti Mansion DeLaLuca. Valeria datang dengan langkah yang berat. Baginya setiap sudut mansion ini sekarang terasa menyakitkan, setiap sudutnya mengingatkannya pada Alejandro yang sempat hidup kembali di sana. Namun, saat ia melihat sosok pria yang berdiri membelakanginya di dekat air mancur, ia tahu itu bukan Alejandro. Bahu itu tidak setegak kemarin dan auranya lebih dipenuhi oleh kesedihan daripada kekuatan.Daniel berbalik. Wajah mereka bertemu dan untuk sesaat, keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka."Valeria, terima kasih sudah datang."Daniel memulai pembicaraan. Ia melangkah mendekat, namun berhenti pada jarak yang sopan. "Aku sudah membaca suratnya. Alejandro meninggalkan pesan untukku di meja kerja."Mata Valeria membelalak. "Dia meninggalkan surat?"Daniel mengangguk lemah. "Dia menceritakan semuanya. Tentang bagaimana dia meminjam ragaku, tentang kejahatan ayahku, dan tentang hari kecelakaan itu." Danie
Beberapa hari kemudian, suasana di Mansion DeLaLuca terasa mencekam, meskipun Daniel telah diizinkan pulang oleh dokter, kehadiran sang tuan muda tidak membawa kehangatan di rumah besar itu. Daniel lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya dan menatap kosong ke arah jendela dan mencoba menyusun kepingan memori yang tercerai-berai.Suara ketukan pintu yang lembut memecah kesunyian. Camila melangkah masuk dengan ragu. Ia menatap kakaknya yang duduk di tepi ranjang dengan raut wajah yang asing."Kak Danny?" panggil Camila lirih. "Aku membawakan teh hangat. Kamu belum makan malam sejak tadi."Daniel menoleh perlahan. Sorot matanya kosong, tidak ada lagi ketajaman dan otoritas yang ia tunjukkan selama beberapa bulan terakhir. "Camila, aku masih mencoba memahami semuanya. Rumah ini rasanya aneh. Pelayan menatapku seolah aku adalah hantu dan Fermin terus membicarakan tentang keputusan-keputusan bisnis yang tidak pernah aku ingat pernah kubuat."Camila meletakkan nampan di meja kecil,
Alejandro mengangkat tangannya yang gemetar dan menyentuh pipi Valeria dengan sisa tenaga terakhirnya. Sorot matanya yang penuh cinta perlahan mulai meredup, tertutup oleh kabut kehampaan. "Valeria, kekasihku," bisik Alejandro dan suaranya nyaris hilang ditelan oleh kesunyian malam. "Terima kasih, karena telah menemukanku lagi. Di tubuh mana pun aku berada, jiwaku akan selalu mengenalmu. Jangan tangisi kepergianku, tangisilah keberuntunganku karena pernah dicintai olehmu." "Tidak! Alejandro!" Alejandro menarik Valeria mendekat. Dengan sisa kesadaran yang hampir habis, ia mengecup bibir Valeria, sebuah ciuman perpisahan yang terasa sangat manis namun dipenuhi rasa pahit yang menghancurkan hati. Dalam ciuman itu, Valeria merasakan getaran hebat menjalar dari tubuh pria itu, seolah ada sesuatu yang besar sedang dicabut paksa dari dalamnya. Valeria memeluknya begitu erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alejandro dan menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba tubuh yang tadiny
"Daniel DeLaLuca akan mengundurkan diri dengan alasan kesehatan mental akibat trauma keluarga yang beruntun," lanjut Alejandro dan matanya menatap tajam ke arah danau yang tenang. "Aku akan melakukan operasi wajah di luar negeri, mengubah identitas, dan kita akan memulai hidup baru di tempat yang tidak mengenal nama DeLaLuca. Aku tidak butuh kekayaan berdarah itu. Aku hanya butuh kamu." Valeria tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Alejandro. Harapan itu terasa begitu nyata, seolah mereka hanya tinggal melangkah menuju pintu kebebasan. Namun, takdir memiliki cara yang kejam untuk mengingatkan manusia bahwa mereka hanyalah tamu dalam raga yang bukan miliknya. Satu minggu berlalu sejak malam di pondok itu. Kehidupan Alejandro sebagai CEO DeLaLuca Corp berjalan sangat sibuk, namun ada sesuatu yang mulai berubah. Awalnya hanya sakit kepala ringan, namun lama-kelamaan, Alejandro mulai merasakan distorsi. Saat sedang meninjau dokumen, tangannya tiba-tiba gemetar, karena ia me
Telepon di tangan Valeria hampir terlepas. "Apa maksud Anda?" tanyanya dengan suara bergetar. "Dan siapa Anda?" Namun sebelum pria itu menjawab, sambungan telepon tiba-tiba terputus. Valeria masih memegang gagang teleponnya dengan tangan gemetar dan wajahnya pucat pasi. Lucia yang melihat per
Margarita sedang berada di kantornya ketika asistennya masuk dengan tergesa-gesa. "Nona Margarita, ada sesuatu yang mungkin perlu Anda lihat." "Apa lagi?" tanya Margarita. Asisten itu menunjukkan layar ponselnya. Sebuah foto Daniel dan Valeria sedang duduk bersama di sebuah kafe. Daniel terlihat
Beberapa hari kemudian, Alejandro sedang duduk di ruang kerjanya ketika Lukas masuk dengan sebuah map tipis di tangan. "Tuan DeLaLuca ada sesuatu yang harus Anda lihat," kata Lukas dengan nada hati-hati. Alejandro mengangkat wajahnya dari laptopnya. "Apa lagi sekarang?" Lukas meletakkan map itu
Mobil Valeria berhenti di depan butik menjelang siang hari. Cahaya matahari menyusup di antara gedung-gedung dan memantul di kaca etalase yang bersih dan berkilau. Begitu ia melangkah masuk, bel kecil di pintu berdenting pelan. Belum sempat Valeria meletakkan tasnya, Lucia sudah muncul dari balik







