Share

10. Desahan

Author: NARA
last update publish date: 2026-09-12 21:29:23

Mendengar pertanyaan dari Mattias, Belle segera beranjak dari tempatnya. Lalu menatap pada Mattias yang masih terus menatapnya.

Belle menganggukkan kepala. "Ya, tapi tenang saja. Aku tahu cara bagaimana memuaskan anda, Om."

Belle mengukir senyum paksa, lalu menarik tangan Mattias untuk beranjak dari sofa.

Mattias mengikuti Belle yang menarik tangannya menuju ranjang, senyum tipis terukir dari bibir Mattias Ketika Belle melepas sendiri gaun yang masih menempel di tubuhnya, memperlihatkan tubuhn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    10. Desahan

    Mendengar pertanyaan dari Mattias, Belle segera beranjak dari tempatnya. Lalu menatap pada Mattias yang masih terus menatapnya.Belle menganggukkan kepala. "Ya, tapi tenang saja. Aku tahu cara bagaimana memuaskan anda, Om."Belle mengukir senyum paksa, lalu menarik tangan Mattias untuk beranjak dari sofa. Mattias mengikuti Belle yang menarik tangannya menuju ranjang, senyum tipis terukir dari bibir Mattias Ketika Belle melepas sendiri gaun yang masih menempel di tubuhnya, memperlihatkan tubuhnya yang indah tanpa setitikpun noda.Ingin rasanya Belle menangis, saat melepas gaun di tubuhnya, ia benar-benar seperti pelacur yang tidak ada harga dirinya. Tapi sebisa mungkin Belle menahan air untuk tidak jatuh.Belle mendekati Mattias, melepas ikat pinggang pria itu dengan tangan gemetar. Tapi saat ingin melepas pengait celana yang Mattias kenakan, tangan Belle di tahan oleh pria itu."Kenapa buru-buru sekali sayang." Kata Mattias sambil mengelus pipi Belle dengan lembut. "Buru-buru itu ti

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    9. Apa Kamu Masih Perawan?

    Dada Belle berdebar tidak karuan ketika Mattias kini sudah bertelanjang dada dan duduk santai di sofa. Kedua tangannya berada di atas sandaran, sementara tatapan pria itu tidak pernah lepas sedikit pun dari Belle.Tatapan itu membuat Belle semakin gugup, Apalagi sejak tadi Mattias hanya diam memperhatikan Belle menyantap makanan di atas meja. Seolah-olah pria itu sedang menunggu sesuatu.Begitu Belle selesai menyantap makanannya, suara Mattias akhirnya terdengar."Apa kamu sudah selesai menyantap makananmu?"Belle langsung menganggukkan kepala. "Sudah, Om."Mattias mengangkat sudut bibirnya. "Kalau begitu, mendekatlah. Giliran aku yang akan menyantap kamu."Belle langsung merinding. Entah kenapa kalimat sederhana itu terdengar begitu menakutkan untuknya.Namun, Belle segera mengingat alasan dirinya berada di kamar hotel tersebut. Akhirnya Belle memaksa kedua kakinya untuk beranjak dari duduknya, dan perlahan ia melangkah menghampiri Mattias.Hingga akhirnya Belle kini berhenti tepat

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    8. Puaskan Aku Malam Ini

    "Bagaimana, apa kamu mau tidur denganku?" tanya Mattias tanpa ekspresi.Belle terdiam, tatapannya terpaku pada wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Pertanyaan itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya, membuat jantung Belle berdetak lebih cepat.Belle teringat jelas pada perkataan Natt, sang sahabat. Natt mengatakan bahwa pria yang sedang berada di hadapannya itu tidak menyukai perempuan. Namun, jika memang demikian, mengapa Mattias justru mengajaknya tidur?"Tenang, berapa pun uang yang kamu inginkan, aku bisa memberikan," lanjut Mattias dengan suara datar.Belle menelan ludah, saat berada di klub tersebut, semua pria yang Natt kenalkan kepadanya adalah pria-pria yang sudah cukup tua. Berbeda dengan Mattias, pria itu memang terlihat dewasa, tetapi wajahnya tampan, tubuhnya tegap, dan penampilannya begitu berwibawa. Siapapun akan tertarik pada Mattias. Hanya saja Mattias tidak menyukai perempuan.Jika Belle menerima tawarannya, mungkin saja ia mendapatkan keuntungan. Bisa jadi

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    7. Tidur Denganku

    Natt yang melihat Belle tampak terintimidasi setelah tidak sengaja menabrak seorang pria, segera menghampiri sahabatnya itu."Maaf, Om-om tampan," kata Natt dengan cepat kepada kedua pria yang berdiri di hadapan Belle. "Kami pergi dulu."Tanpa menunggu jawaban, Natt langsung menarik tangan Belle dan mengajaknya pergi meninggalkan pria yang tadi ditabraknya.Belle hanya bisa mengikuti langkah Natt. Jantungnya berdebar karena tatapan pria yang ditabraknya terasa begitu tajam dan membuatnya gugup.Sementara itu, Mattias menoleh ke arah Belle yang kini berjalan mengikuti Natt menuju salah satu sofa di sudut klub malam tersebut.Jackson yang berdiri di samping Mattias ikut memperhatikan gadis itu, sampai Belle duduk."Aku kira gadis itu milik kamu, Matt." ujar Jackson sambil menyeringai. "Cantik juga gadis itu. Hidung belang mana yang beruntung mendapatkannya?"Mattias sama sekali tidak menanggapi ucapan Jackson. Pria itu justru berjalan menuju salah satu sofa yang berada tidak jauh dari t

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    6. Yakin

    "Kamu yakin?" tanya Natt, karena ia pikir Belle tidak akan mengikuti sarannya, untuk mendapatkan uang dengan cepat dari om-om kaya raya. Belle tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergetar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Natt dan memeluk sahabatnya itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Natt." kata Belle di sela isak tangisnya. Natt menghela napas panjang. Ia mengusap punggung Belle, berusaha menenangkannya sebelum akhirnya membawa sang sahabat masuk ke dalam kamar kosnya. Natt kemudian mendudukkan Belle di pinggir tempat tidur. "Jangan menangis," ujar Natt lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Belle. "Natt, bawa aku ke tempat om-om yang kamu bilang. Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Belle menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya. "Nenek harus segera dioperasi. Dan uang yang aku butuhkan ternyata lebih banyak dari sebelumnya." Natt menatap dalam pada Belle. "Kamu yakin, Bell

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    5. Pilihan

    Tentu saja Belle mengenali Zayn. Zayn adalah teman satu kampusnya, pria yang beberapa kali hadir dalam hari-harinya tanpa pernah benar-benar bisa Belle abaikan. Karena Belle diam-diam menyimpan perasaan pada Zayn.Apalagi Zayn juga pernah beberapa kali mencoba mengungkapkan perasaannya pada Belle. Namun, Belle selalu memilih diam. Bukan karena ia tidak memiliki perasaan yang sama, melainkan karena hidupnya sendiri masih terlalu berantakan. Ia tidak ingin memikirkan cinta ketika hidupnya dipenuhi begitu banyak masalah.Terlebih sekarang, ia harus memikirkan neneknya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.Sementara itu, Zayn beberapa saat hanya menatap Belle. Sebelum menatap pada tiga pria yang masih memegangi tangan Belle. "Pecundang, beraninya cuma sama perempuan. Kalian banci?" tanya Zayn. "Kalau berani, maju kalian bertiga, atau kalian ingin mamakai rok?"Pak Anton, Ferry dan Dani tentu saja terpancing dengan ucapan Zayn. Membuat ketiganya langsung melepas Belle,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status