로그인Butuh tiga minggu dan empat kali percakapan panjang yang penuh perdebatan juga suara meninggi, sebelum Bhaga akhirnya setuju.Iya, setuju. Meski Binar tahu, saat kata itu terlontar, hati Bhaga masih juga tak rela.Bukan karena Bhaga tiba-tiba percaya pada Celia, atau karena iba. Bukan juga karena tekanan dari pengacara atau ancaman sidang yang berkepanjangan. Tapi karena satu pertanyaan Ardan yang membuatnya tak bisa tidur hingga berhari-hari.Malam itu mereka sedang makan malam bersama. Saat Binar membawa piring ke dapur, Ardan dan Bhaga mengobrol santai, tapi tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar."Pah, Mama kapan sembuhnya ya?"Bhaga tersedak, dia berhenti mengunyah.Ardan masih sibuk dengan makanannya, tak memperhatikan perubahan pada wajah Bhaga. Dengan santai, dia kembali bertanya, “Kalau mama sudah sembuh, mama akan telpon aku enggak, ya?”Suara sendok yang menyentuh piring dengan sedikit kencang membuat Ardan menoleh. Dia melongo bingung saat Bhaga menatapnya dengan muka yan
Binar masih membaca ulang pelajaran yang sempat tertinggal siang tadi. Dia beberapa kali kehilangan fokus karena terus terbayang kejadian di tempat pesta kemarin.Matanya melirik jam di dinding. Pukul sebelas malam, rumah sudah sunyi. Lampu-lampu sebagian besar sudah dipadamkan, berganti lampu temaram, menerangi beberapa ruangan yang tak ditempati.Ardan sudah tidur sejak jam setengah sembilan, bergelung dengan selimut dinosaurus biru kesayangannya. Bhaga juga sudah berbaring di ranjang, meskipun Binar tidak yakin kalau pria itu benar-benar tidur.Binar berdiri, meregangkan tubuhnya sesaat dan menyimpan bukunya sebelum melangkah ke kamar mandi. Air keran dinyalakan, dingin, dia membersihkan sisa-sisa riasan tipis yang masih menempel dan menyegarkan dirinya. Di atas wastafel marmer putih, ponselnya bergetar. Tapi dia tak langsung melihatnya. Sekali lagi, tangannya mengarahkan air dalam tampungan telapaknya untuk membasuh wajah, lalu dia mengeringkan dengan handuk kecil baru mengambil
Mobil meluncur pelan di jalan sepi selepas kawasan SCBD. Lampu-lampu kota berpendar buram di balik kaca film gelap, meninggalkan garis-garis kuning dan merah yang terus bergerak. Di dalam, keheningan terasa begitu berat. Binar terus menatap ponsel di tangannya. Layar masih menyala, menyorot satu foto yang diambil dari jarak cukup jauh. Bhaga berdiri gagah di tengah, dengan jas hitam berkerah satin, ekspresi datar. Di samping kirinya, Binar berdiri anggun mengenakan gaun hijau navy, tersenyum tipis yang tidak sampai ke mata. Sedangkan, beberapa langkah di belakang mereka, Celia dengan gaun merah tua menyala, rambut tersanggul sempurna, menatap punggung keduanya dengan senyum sinis yang kental. Foto itu tertangkap kamera dengan angle yang sangat pas untuk jadi bahan omongan semua orang. Masing-masing tidak saling memandang. Tapi ketiganya ada di satu ruangan yang sama, dan memperlihatkan ekspresi yang bisa membuat semua orang melontarkan pernyataan pribadi tanpa perlu susah payah
"Mas, aku mau bicara soal Celia."Binar yang baru keluar dari dapur langsung menghampiri dan duduk di seberang pria itu dengan wajah yang serius. Tangannya saling meremat di atas meja makan dan menatap penuh harap.Bhaga mengangkat wajah dari cangkir kopinya. Melirik sekilas pada Binar dan kembali fokus pada pekerjaannya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan.""Ada." Binar berpindah, dia duduk di kursi samping Bhaga, tanpa menunggu dipersilakan. "Ardan sudah mulai mengerti, Mas. Entah kapan, dia akan mulai mencari tahu sendiri. Dan kalau kita tidak menyiapkan jawabannya, dia akan dapat jawaban yang besar kemungkinannya salah."Bhaga diam. Cangkir kopi di tangannya terus dipegangnya.Binar melanjutkan, "Aku tidak bilang kamu harus percaya Celia seratus persen. Tapi melarang mereka tidak bertemu sama sekali itu bukan untuk melindungi Ardan. Itu menghilangkan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya."Dia berhenti sejenak."Bagian yang suatu saat akan dia pertanyakan. Dan kita ti
Binar sedang membaca buku di kamar dengan jendela yang terbuka, mengantarkan semilir angin malam yang membawa udara dingin tipis. Dia begitu fokus hingga sedikit tersentak saat pintu terbuka dengan sedikit kasar.Dia mengernyit.Bhaga masuk dengan langkah sedikit cepat, meletakkan tas asal, dan gegas masuk ke kamar mandi. Dia bahkan tak menyapa Binar yang membuat semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi.Binar menunggu. Selang beberapa menit, Bhaga keluar dengan handuk melilit di pinggang, dan lagi … dia tak menoleh ke Binar tapi langsung masuk ke ruang ganti. Melihat itu, Binar menghela napas pelan dan berdiri, berjalan menghampiri.Tangannya memasangkan kancing piyama, mengantikan tangan Bhaga. "Ada apa?" tanyanya pelan. Dia mengelus dada Bhaga pelan dan memberikan waktu.Bhaga menatap Binar, lalu mengandengnya keluar dari ruang ganti dan mengajak duduk di tepi kasur. Tapi dia tak langsung bicara. Matanya menatap Binar dengan dalam, dan jemarinya mengelus pipi Binar dengan sanga
“Aku kira dia masih membutuhkan waktu,” ucap Bhaga. Dia melirik ke arah Rudi sekilas, lalu ke amplop coklat yang baru saja diletakkan di mejanya.“Sepertinya Bu Celia sudah tidak sabar.”Bhaga memijat pangkal hidungnya. “Kita harus satu langkah di depannya. Persiapkan segalanya, Rud.”Dia mengangkat kepala dan mengangguk saat Rudi undur diri dari sana.Matahari bahkan baru saja naik, tapi kepalanya sudah seperti kepanasan. Amplop itu masih tergeletak di sana, Bhaga enggan menyentuhnya, terlebih nama firma hukum tertera di pojok kiri atas. Tanpa membukanya, dia sudah bisa mengira apa yang ada di dalam sana.Decakan kecil keluar dari bibir Bhaga. “Wanita licik itu bahkan menggunakan pengacara mahal.” Dalam benaknya, Bhaga terus bertanya, dari mana Celia mendapatkan uang sebanyak itu. Tinggal di apartemen yang lumayan mewah, tak kembali ke rumah, bahkan kini menggunakan jasa pengacara mahal.“Apa sebenarnya rencanamu, Celia?”Tangan Bhaga mengulur, mengambil amplop dan membukanya dengan
Suasana kamar di paviliun terasa begitu hangat, terutama karena Binar dan Bhaga sedang sama-sama terbuai dalam dunia sendiri.Sejak semalam, pelukan mereka tak lepas dan pagi ini keintiman itu semakin lekat dengan cumbuan-cumbuan yang saling menggoda.Ciuman juga kecupan terus berlabuh di wajah dan
Binar berdiri di ambang pembatas pintu ruang keluarga, dia mematung. Di depan sana ada pemandangan yang bagi Binar terasa seperti mimpi buruk.Bhaga dengan sangat hati-hati sedang membenarkan bantal di kursi makan untuk Celia yang duduk dengan tubuh lemas dan tatapan kosong. Wajah Bhaga terlihat pe
Bhaga tadinya hanya ingin menunjukkan kepemilikan akan dirinya pada Binar, ciuman itu hanya sebagai upaya meyakinkan Binar akan cintanya. Tapi dia salah. Gairahnya malah dengan cepat tersulut.Dia memang tak pernah bisa lepas dari pesona Binar. Wanita yang selalu pasrah bila dia melakukan apapun,
Minggu bergulir dengan drama yang melelahkan dan terus berulang. Rumah yang dulu terasa tenang, kini berubah menjadi penuh kecemasan, dengan Celia sebagai pusat perhatian yang tak kunjung stabil.Bhaga terpaksa membatalkan semua agenda kantor. Rapat-rapat penting dialihkan menjadi konferensi video







