ANMELDEN"Nggak masalah. Bunuh aku saja jika perkataanku tadi nggak benar," gumam Cakrawala lirih sambil bangkit dan berlalu dari kamar pengantin, tapi masih dapat didengar sangat jelas oleh telinga Aisha."Apa?! Bunuh?" Aisha merasa ini sangat tak masuk akal. Tanggapan Cakrawala terhadap tuntutan Aisha barusan memanglah berlebihan dan terasa agak bualan. Jika pun benar, itu adalah respon dari seorang pria yang benar-benar jatuh cinta terhadap wanitanya. Aisha merasa hal itu tidaklah mungkin, karena pernikahan kilat dan rahasia ini memang murni untuk kepentingan bisnis yang dapat dibayarkan dengan uang. Sedangkan dia tahu betul, jika cinta tak pernah bisa diukur dengan apa pun, apalagi jika hanya dengan sejumlah uang.Lalu, apakah perkataan Cakrawala harus dia percayai?....Ketika Cakrawala telah merampungkan pekerjaannya, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia teringat pada Aisha yang kemungkinan besar telah tertidur lelap, jadi pria itu berusaha untuk tak membuat suara saat mema
"Pak, bolehkah saya memakan Anda sekarang?!" teriak Aisha yang sedang memancarkan rasa kesalnya sampai puas. Dia menonjok bantal di genggamannya hingga bulu-bulu putih pun terhambur dan terbang.Sebelum itu, kepalanya benar-benar terasa nyaris meledak. Barulah ketika dia berteriak dengan leluasa, rasa menyiksa di kepala gadis itu perlahan-lahan redam.Di dekat kapstok dinding, Cakrawala sontak menghentikan gerakannya, sambil menikmati taburan bulu-bulu putih yang menghujaninya begitu saja."Memakan? Apa kamu mampu?" Cakrawala tersenyum dengan dingin. Dia segera memutar badan dan menghadap Aisha dengan sorot mata menantang."Pak, aku cuma nggak menyangka kalau tujuan Anda mengharuskan saya tidur sekamar dengan Anda hanyalah untuk menyenangkan Nenek Lilly," ujar Aisha sambil menahan kepalanya untuk tetap tegak dan tidak sampai menunduk.Gadis itu juga menajamkan matanya, persis seperti apa yang dilakukan oleh Cakrawala sekarang. Aisha berpikir, jika lelaki dan perempuan harus setara. D
"Tentu saja, Nek. Lihatlah, aku sudah berhasil membujuk cucu menantumu itu untuk tidur di kamarku. Dan malam ini, kami berdua akan memulai untuk tidur bersama," sahut Cakrawala dengan senyum merekah yang tak kalah terlihat hangat.Pada saat ini, Aisha masih bertahan di tempatnya, sambil melebarkan mata dan menutupi mulut dengan kedua telapak tangannya. Gadis itu benar-benar tak tahu harus percaya atau tidak dengan pemandangan nyata di depannya. Yang pasti, dirinya merasa bersalah terhadap Cakrawala karena selalu berprasangka buruk pada suami sahnya sendiri.'Jadi, Pak Cakra membujuk aku itu karena keinginan nenek? Dan dia nggak mau buat neneknya kecewa?' pikir Aisha di dalam hati."Ya Tuhan, kenapa Pak Cakra sangat aneh dan misterius? Aku benaran nggak bisa menebak sikap dia yang sebenarnya," gumam Aisha yang kini telah menutup pintu kamarnya. Gadis itu berjalan menuju ranjang kamar dengan perasaan yang rumit.Ketika Aisha telah merebahkan tubuh dengan segudang misteri, obrolan antar
"Akhirnya, kamu menepati janjimu juga!" ujar Cakrawala datar kala melirik sosok wanita muda yang baru saja masuk ke kamarnya. Aisha menghela napas, lalu menyahut, "Tentu saja, Pak. Aku bukan wanita yang suka menye-menye.""Apa benar begitu?" Tanpa disadari, Cakrawala malah menantang Aisha. Hal itu membuat adrenalin Aisha terpacu secara signifikan.Aisha mengencangkan kedua tangan yang tergantung di sisi tubuhnya. Kilat kebencian mulai muncul di kerling mata gadis muda itu."Apa pernyataanku tadi belum cukup meyakinkan?" Aisha mengukuhkan kakinya dengan kekuatan penuh. Dia mulai berani bersikap dingin di hadapan sang suami.Dia benar-benar ingin menjadi wanita yang tangguh, dan tak pernah sudi membiarkan seorang pria menjatuhkan harga dirinya.Menjadi istri rahasia Cakrawala selama hampir dua minggu membuat Aisha mulai beradaptasi dan memahami pola yang berlaku. Gadis itu telah mengerti, suami sahnya selalu memandangnya rendah karena adanya banyak ketimpangan yang jauh di antara merek
"Hanya maaf katamu?" Cakrawala merasa tak terima. Dia benar-benar merasa sangat terhina. Di hadapan seorang gadis kecil, niat baiknya justru membuat dirinya celaka dan malu."Ya, aku memang salah, Pak," aku Aisha dengan pasrah. Air matanya tumpah begitu saja, tanpa dia tahu apa sebabnya."Dan aku ... benar-benar minta maaf." Aisha hanya menunduk. Sebenarnya, dia ingin menatap mata Cakrawala, tapi ada tangis tak biasa yang menuntut untuk disembunyikan olehnya."Sudahlah. Maaf dari kamu itu nggak berguna. Nggak bisa memperbaiki keadaan bahwa kamu sudah membuat aku malu dan terjatuh ke lantai," gerutu Cakrawala dengan dingin. Dia memutar badan membelakangi Aisha."Baiklah. Aku akan menebus kesalahan itu, Pak. Aku bersedia melakukan apa pun yang Anda minta," kata Aisha dengan seketika.Gadis itu memang tak sengaja, tapi tak bisa membuatnya terlepas dari diri yang memang bersalah. Jadi, dia harus bertanggung jawab dan menebusnya."Bagus," sahut Cakrawala, suaranya lirih. Senyum liciknya t
"Lilly, istriku sayang, apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Julian segera, ketika memastikan Cakrawala telah pergi dari kamarnya."Hihihi." Lilly tersenyum dengan puas. "Juju, coba tebak. Apa yang baru saja aku lakukan?" Wanita itu malah dengan percaya diri menantang sang suami dengan lirikan nakal dari mata tuanya."Apa?!" Bahu Julian langsung merosot tajam. Dia benar-benar tak punya waktu dan tenaga lagi untuk bermain-main. "Lilly-ku sayang, aku tahu kamu suka bermain-main. Tapi suamimu ini sudah terlalu tua untuk mengikuti permainanmu itu," keluh Julian dengan ekspresi malas. "Hahaha!" Tawa Lilly semakin menjadi-jadi. Dia menutupi sebagian mulutnya yang terbuka karena mulai merasa malu.Julian hanya menggeleng tak habis pikir, sambil menanti sang istri bercerita dengan suka rela."Baiklah, Juju. Aku akan menceritakan hal yang begitu seru." Lilly segera menyudahi tawanya. Dia juga tak lagi bertele-tele atau pun bermain-main.Di luar, suasana siang semakin terik dengan sinar me







