MasukSandrina Ayudia memergoki suaminya berselingkuh dengan wanita yang mengaku telah hamil. Tindakan itu Michael lakukan karena Sandrina sulit mengandung. Merasa kecewa dan sakit hati, Sandrina langsung meminta cerai. Awalnya Michael menolak, tapi keluarga dan selingkuhannya memprovokasi. Akhirnya Michael pun menceraikan Sandrina. Setelah Michael resmi mengucapkan kata ‘talak’, Sandrina mengeluarkan secarik kertas yang tak lain adalah surat keterangan dokter bahwa Michael lah yang mengalami kemandulan. Michael menyesal karena melepaskan Sandrina demi wanita licik yang telah menipunya. Sementara Sandrina, berusaha bangkit dan menata kembali kariernya. Sandrina menjadi sekretaris seorang CEO tampan, Hurraim Arkhaziyad yang ternyata jatuh cinta pada Sandrina. Merasa cemburu, Michael terus mendekati Sandrina dan meminta maaf. Michael meminta Sandrina untuk kembali padanya dan telah menyesali perbuatannya. Akankah Michael mendapatkan Sandrina kembali? Atau Sandrina justru memilih menikah dengan Hurraim? Baca kisah selanjutnya.
Lihat lebih banyak"Pak, tolong berhenti!"
Vina mencoba melepaskan diri. Mendorong dada bidang Rangga dengan tangan mungilnya, meskipun usahanya berakhir sia-sia. Pria itu terlalu kuat baginya. Rangga semakin erat merapatkan tubuhnya.Rangga pun mulai menyapu leher Vina dengan kecupan-kecupan ganas. Sang CEO yang biasanya bersikap kaku, berubah drastis karena gairah yang membara."S-saya bisa membantu Anda, tapi ... tidak sampai seperti ini," lirih Vina sambil meronta-ronta.Rangga tak menggubris ucapannya dan mulai menanggalkan kemeja. Kesempatan Vina untuk pergi menjauh.Vina berlari ke arah pintu setelah berhasil menyambar ponselnya yang terjatuh. Tapi, Vina kalah cepat. Rangga dapat dengan mudah menangkap Vina lagi.Kali ini, Rangga menyeret tangan Vina dengan kasar. Kemudian, melemparkan Vina ke ranjang."Pak! Sadarlah!" pekik Vina.Rangga membungkam Vina dengan bibirnya. Vina spontan menampar wajah Rangga. Tak terima oleh tindakan atasannya itu."Cukup, Pak! Bapak sudah sangat keterlaluan!"Perbuatan dan ucapan Vina justru membuat Rangga murka. Dalam sekejap saja, Rangga telah berada di atas tubuh Vina. Menguncinya rapat-rapat. Vina pun tak dapat lagi mengelak.Butiran air bening mulai mengalir deras melalui ekor matanya. Tubuh Vina serasa hancur luluh lantak.Rasa sakit yang mendera tubuhnya tak sebanding dengan rasa nyeri di hati. Hilang sudah kesucian yang selama ini Vina lindungi.***Getaran ponsel membangunkan Vina. Tangannya meraba-raba nakas, sementara matanya masih terpejam erat."Vin, kenapa belum sampai kantor?" tanya pria di balik telepon."Ya? Ini siapa?" jawab Vina dengan suara parau."Kamu masih tidur? Astaga! Ini sudah jam berapa? Kamu tidak berangkat kerja? Bagaimana dengan Pak Rangga semalam? Dia baik-baik saja, bukan?"Rentetan pertanyaan Dion mengusik telinga Vina. Tetapi, hanya ada satu kalimat tanya yang Vina dengarkan."Vina!! Kenapa diam saja?"Kesadaran Vina mulai kembali. Vina lantas mematikan ponselnya begitu saja.Dadanya bergemuruh hebat seketika. Rasa sedih, marah, dan bersalah bercampur aduk menjadi satu.Mata nanarnya memandangi tubuh polos pria yang berbaring di sampingnya. Rangga masih tampak begitu tenang di alam mimpi.Wajah tampan Rangga terlihat tanpa dosa. Dan pemandangan itu berhasil membuat Vina semakin gusar.Vina tak menyangkal jika dia memiliki kekaguman besar pada Rangga. Dan wanita mana yang tidak tertarik oleh sosok pria berwibawa, CEO sukses nan tampan?Akan tetapi, semua perasaan itu hilang dalam semalam. Ketika pria yang telah lama dikaguminya menorehkan luka yang mendalam."Awww!" rintih Vina.Kedua kaki Vina gemetaran dan susah beranjak dari tempatnya. Vina mengayunkan langkah kaki sedikit memaksa. Menahan rasa sakit di tubuh bagian bawahnya.Vina tidak ingin Rangga melihatnya masih ada di kamar ketika bosnya itu terbangun. Diambilnya pakaian yang berserakan di beberapa tempat. Lalu, Vina masuk kamar mandi dan menutup pintu rapat-rapat.Di bawah pancuran air dingin, adegan-adegan panas menyakitkan dan berulang-ulang terus berputar layaknya video panjang. Vina menelusuri awal mula terjadinya kesalahan itu.Ingatan Vina kembali saat Dion, asisten pribadi Rangga tiba-tiba saja menghubungi dirinya saat hampir tengah malam. Dion memohon pada Vina agar mau menggantikannya untuk mendampingi Rangga bertemu dengan salah satu investor di sebuah bar.Sesampainya di bar, Rangga ternyata tidak sendiri. Bukan bersama investor yang disebutkan Dion, Rangga justru sedang bersama seorang wanita berpakaian mini.Wanita itu melingkarkan lengan Rangga ke bahunya. Lalu, menarik Rangga keluar dari bar. Vina lantas membuntuti mereka. Dalam elevator yang sama, Vina segera tahu jika wanita itu terus menggoda dan merayu.Rangga beberapa kali menolak bisikan manja si wanita. Tapi, wanita itu gigih memaksa dan berhasil menyeret Rangga masuk ke dalam kamar. Raut wajah Rangga pun terlihat aneh. Bukan seperti orang mabuk pada umumnya.Merasa ada kejanggalan, Vina bergegas menghentikan pintu yang hampir tertutup sempurna. Wanita itu tampak terkejut oleh kehadiran Vina.Setelah pertengkaran kecil, Vina berhasil mengusir wanita itu. Vina buru-buru merogoh ponsel untuk menghubungi dokter perusahaan. Namun, Rangga tiba-tiba menarik Vina ke dalam kamar sebelum Vina berhasil melakukannya. Dan terjadilah kesalahan besar yang tak semestinya Vina lakukan.'Mungkinkah Pak Rangga memang sengaja menyewa perempuan itu? Aku seharusnya membiarkan mereka melakukan apa saja yang mereka mau. Kalau tidak, aku seharusnya lebih gigih memanggilkan dokter malam tadi! Kenapa aku bodoh sekali?!'Vina memejamkan mata dan mendongak ke arah pancuran. Berharap dia dapat menghapus kenangan pahit itu seiring aliran air yang melewati tubuhnya.Vina menangis tanpa suara, menarik-narik rambutnya sendiri, dan terkadang memukuli dadanya yang sesak. Badannya terasa sangat kotor meskipun telah menggosoknya berulang kali.Hingga setengah jam berlalu, buku-buku jarinya sampai terasa membeku. Tapi, Vina justru memutar keran agar air semakin deras membasahinya.Dia tak peduli lagi jika hidupnya berakhir sekarang juga. Untuk apa terus bertahan jika kebanggaannya sebagai seorang wanita telah dirampas paksa oleh atasannya sendiri!Namun, Vina segera tersadar ketika wajah ibunya muncul dalam benak. Dia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri. Dia bekerja keras selama ini karena menjadi tulang punggung keluarga. Tanpa Vina, orang tuanya juga pasti kesulitan bertahan hidup.'Aku tidak boleh menyerah! Aku harus bangkit dan melupakan ini semua. Biarpun mungkin tidak akan ada lagi pria yang menerima perempuan kotor dan hina sepertiku.''Brak! Brak! Brak!'Terdengar suara pintu kamar mandi dipukul-pukul dengan kasar. Seseorang di balik pintu sepertinya tak bisa menahan sabar."Keluar!!"Vina menjerit dalam hati ketika mendengar teriakan kemarahan Rangga. Jantung Vina berpacu sangat cepat karena terlalu takut menghadapi pria itu.Vina menarik napas panjang, kemudian mengembuskan perlahan. Berulang kali Vina melakukannya sambil meyakinkan diri sendiri jika semua akan baik-baik saja.Gebrakan kedua pada pintu membuat Vina melompat ke belakang. Dia bergegas memakai pakaian dan mengeringkan rambut ala kadarnya.Langkah Vina tertahan di depan pintu. Sekali lagi, Vina menyemangati diri sendiri. Kemudian, Vina memutar kenop walaupun masih membawa rasa ragu."P-pak ..."Ketika Vina keluar dari kamar mandi, sedikit keberanian yang susah payah dikumpulkan bermenit-menit lalu menguap begitu saja. Sorot mata hitam pekat Rangga mengingatkan Vina akan kejadian semalam.Vina spontan menunduk untuk menghindari tatapan Rangga. Tubuh Vina bergetar hebat. Tanpa sadar, Vina perlahan memundurkan kaki.“Kenapa …” Ekspresi wajah Rangga mengeras. “kamu ada di sini?” Rangga menghampiri Vina dan memojokkan wanita itu ke tembok. "Apa yang kamu lakukan di sini?! Apa yang telah terjadi?!"Kabar kehamilan Sandrina sudah sampai ke telinga kedua orang tuanya. Mendengar kabar itu, mereka berdua sangat bahagia dan bersyukur. Sejak putri mereka menikah dengan Michael, sejujurnya keduanya sangat menantikan sosok seorang cucu, tapi mereka tidak berani mendesak atau memaksa putri mereka untuk segera memberikan cucu pada mereka. Sekarang, tanpa diminta pun Sandrina sudah dipercayai oleh Tuhan untuk mengandung anaknya. "Alhamdulillah, anak kita benar-benar sehat dan subur, Yah. Berarti memang rezeki dia bersama Hurraim. Tuhan memang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya," ucap Marlinda penuh syukur. Sang suami mengangguk pelan diiringi senyuman kemenangan. Mereka juga sudah tahu kalau nanti malam di kediaman Pristilla akan mengadakan acara syukuran atas kehamilan Sandrina. Jadi, keduanya akan hadir untuk ikut mendoakan, serta memberikan ucapan selamat dan support terhadap Sandrina juga Hurraim. "Semoga Tuhan selalu menjaga mereka. Menjaga Sandrina dari hal buruk. Menjaga calon
Hurraim berlari ke loteng. Mendengar hal yang mengkhawatirkan tentang istrinya, dia langsung menemui Sandrina di sana. Jantungnya berdetak kencang. Hurraim takut Sandrina kenapa-kenapa. Saat ini, Sandrina tengah duduk sembari memegangi perutnya. Ekspresinya membuat Hurraim semakin panik. Tentu saja Sandrina mulai berakting. Perempuan cantik itu seolah sedang merasakan sakit di bagian perutnya. "Arrgggh!!" pekik Sandrina."Sayang, apa yang terjadi padamu?" tanya Hurraim dengan kekhawatiran yang semakin mendalam. Ditangkapnya tubuh sang istri. Kemudian dia mengelus perut rata Sandrina yang tanpa disadari tengah mengandung sang buah hati. Sandrina meringis seperti kesakitan. Pristilla dan Fery hanya menonton saja. Begitu juga dengan Eleanor. Mereka diam-diam sedang menunggu waktu untuk memberikan surprise pada Hurraim."Perutku, sayang...." Sandrina mengeluh. "Ayo kita ke rumah sakit! Ini tidak bisa dibiarkan," ucap Hurraim tampak panik. Hampir saja dia menggendong tubuh Sandrina, ta
"Awas, hati-hati. Jangan sampai jatuh," ucap Pristilla dengan sangat antusias. Begitu tahu bahwa menantunya sedang mengandung, Pristilla sangat menjaga ketat Sandrina. Tentu saja dia takut Sandrina dan juga calon bayi dalam perutnya kenapa-kenapa. Sandrina digandeng oleh dua asisten rumah tangga. Ini terlalu berlebihan, tapi Sandrina tidak bisa menolak. Sebenarnya dia juga bisa berjalan sendiri sampai kamarnya. Namun, kekhawatiran sang mertua telah membuatnya seperti seorang ratu. "Kita akan mempunyai cucu!" seru Pristilla pada Fery. Sontak hal itu membuat Fery melebarkan kedua mata dan menatap setengah tidak percaya. "Hah, yang benar? Maksudnya Sandrina hamil?" Fery bertanya dengan raut wajah kaget serta penasaran. Pristilla mengangguk cepat. "Iya! Kita harus merayakan ini. Secepatnya kita atur acara perayaan kehamilan Sandrina.""Bun, itu terlalu berlebihan," protes Sandrina sedikit tidak setuju. "Apanya yang berlebihan? Kita akan mengadakan syukuran atas kehamilan kamu, Sandri
Hari demi hari terus berlalu. Sandrina dan Hurraim sudah menjalani rumah tangga selama satu bulan. Hari demi hari mereka lalui dengan penuh kebahagiaan. Tidak ada satu pun orang yang berani mengganggu kebahagiaan mereka. Dalam satu bulan ini, Sandrina masih tinggal bersama mertuanya. Hal itu dikarenakan keinginan Pristilla yang merasa masih belum siap berpisah jauh dengan Hurraim. Hurraim sendiri sudah ingin pindah rumah. Bahkan sebelum menikah pun, Hurraim sudah membeli rumah untuk dihuni dengan istrinya. Namun, saat ini dia belum bisa meninggalkan rumah orang tuanya itu. Padahal Hurraim sudah membujuk Pristilla berulang kali. Namun, Pristilla tetap kekeuh belum siap dan tidak mengizinkan Hurraim untuk pindah rumah. Pagi ini, Sandrina terbangun dalam keadaan lemas. Dia yang sudah tidak menjadi sekretaris Hurraim, hanya melakukan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus owner San Kitchen. Selain itu, Sandrina juga mulai menekuni bisnis perhiasan media online. Hal ini sengaja dia lak
“Bunda walaupun belum pernah jadi mertua, tapi bunda pastikan bakal jadi mertua yang baik. Kamu jangan asal kalau bicara, Hurraim! Jangan bikin Sandrina takut dan berasumsi buruk tentang Bunda!” Pristilla mengomeli dengan kekesalan yang mendalam. Bagaimana tidak kesal, putranya sendiri membicarakan
Clara tersenyum miring. Kini dia bersedekap dan menatap remeh. Gundukan kesal seakan terlihat di atas kepalanya saat ini. Mengingat Michael sempat drop, dia seperti tidak percaya jika Michael bisa menjebloskan Clara ke dalam penjara. “Kamu tidak punya kuasa atau kekuatan sedikit pun, Michael sayan
"Yang ini juga kayaknya bagus, sayang. Kamu pasti makin cantik pakai yang ini," ucap Hurraim saat memilih perhiasan untuk dijadikan mahar.Ya, hari ini Hurraim sedang berada di toko perhiasan bersama calon istrinya. Hari demi hari terus berlalu, sudah satu minggu lagi menuju hari yang ditunggu oleh
Sandrina menatap intens. Dia tidak termaksud membuat calon suaminya itu kesal atau marah. Namun, sekarang sepertinya Hurraim benar-benar sudah terpancing. Sandrina juga tidak begitu mempermasalahkan. Dia sedikit maklum dengan perasaan Hurraim. Akan tetapi, masalahnya sekarang Hurraim tampak tidak m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.