แชร์

38. Tabur Tuai

ผู้เขียน: Stary Dream
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-19 06:43:43

Pontang panting tubuh Alvin dibuat oleh dua orang wanitanya saat ini. Belum selesai drama keterkejutannya karena penyakit ganas yang menimpa istrinya. Sekarang dia makin terkejut setelah mendapat kabar dari sel penjara.

Nurlela pingsan di bawah ke rumah sakit. Astaga!

Bergegas Alvin meninggalkan Raisa di rumah. Walau wanita itu tak menjawab dan hanya menekuk wajahnya yang tak sedap dipandang itu.

Sesampainya di rumah sakit, Alvin bak di sambar petir. Kalau bisa dia
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Diceraikan Usai Hajatan   39. Bertemu Kembali

    Keesokan harinya, jagoan Arumi sudah diperbolehkan pulang. Bayi kecil ini sudah ditutup dengan topi lucu dan selimut berwarna biru. Melihat itu, Lesti menjadi gemas. "Apa boleh ibu menggendongnya?" Tanya Lesti ragu. "Boleh, bu." Arumi menyerahkan bayinya ke dalam pelukan Lesti. Terlihat sekali jika Lesti sangat menyayangi anak ini. Nalurinya sebagai seorang nenek benar terlihat. Andai saja yang digendong itu adalah cucunya, maka pasti Lesti bahagia sekali. "Mas Paris dimana, bu?" "Sedang ngurus administrasi." Jawab Lesti tanpa menoleh. Ia masih sibuk bersenandung. Arumi sejenak berpikir. Kenapa Paris yang mengurus administrasinya? Tak lama Paris muncul dan menemui sang jagoan yang digendong oleh Lesti. Keduanya tampak tertawa bersama ketika bayi kecil itu menggeliat. "Kita pulang sekarang, Arumi." Ajak Paris. "Pulang kemana?" Tanya Arumi tersendat.

  • Diceraikan Usai Hajatan   38. Tabur Tuai

    Pontang panting tubuh Alvin dibuat oleh dua orang wanitanya saat ini. Belum selesai drama keterkejutannya karena penyakit ganas yang menimpa istrinya. Sekarang dia makin terkejut setelah mendapat kabar dari sel penjara.Nurlela pingsan di bawah ke rumah sakit. Astaga!Bergegas Alvin meninggalkan Raisa di rumah. Walau wanita itu tak menjawab dan hanya menekuk wajahnya yang tak sedap dipandang itu.Sesampainya di rumah sakit, Alvin bak di sambar petir. Kalau bisa dia ingin mati saja sekarang! Darah tinggi ibunya kumat lagi. Malah sudah mengarah ke stroke. Bibir itu tampak miring ke kiri. Nurlela juga mengeluh tak bisa menggerakan anggota tubuhnya. Dan saran dokter, wanita ini harus dirawat untuk mengobati darah tinggi serta strokenya.Sudah beberapa hari ini, Alvin bolak balik rumah sakit dan rumah untuk menjaga Nurlela dan juga Raisa.Raisa sendiri merasa dunianya berhenti setelah terdiagnosis kanker. Tak hanya itu, karena penyak

  • Diceraikan Usai Hajatan   37. Ketegasan Arumi

    "Aduh! Tolong!" Teriak Raisa begitu kuat.Dua orang pria masuk begitu saja ketika mendengar teriakan wanita dari kamar rawat VIP ini."Raisa!" Alvin terkejut ketika melihat istrinya tergeletak di lantai dengan memegang perut.Sementara pria satunya berjalan santai ke arah Arumi."Mas.. dia mendorongku.." Raisa menangis tersedu-sedu."Kenapa kamu mendorongnya, Arumi? Istriku baru saja dioperasi." Tatap Alvin tak senang."Sebelum kamu bertanya itu, harusnya kamu tanyakan dulu tujuan istrimu ke kamar ini." Sela Paris.Ucapan Paris barusan membuat Alvin tersentak. Dia lalu beralih memandang wajah istrinya yang kesakitan."Sedang apa kamu disini?"Raisa tertunduk mendengar pertanyaan Alvin. Untuk masalah ini, dia akan bungkam seribu bahasa."Untuk menyumpahi anakku.""Apa?" Kini Alvin terkejut."Dia datang kemari untuk memberiku pelajaran. Dia ingin aku tidak kembali lagi padamu, m

  • Diceraikan Usai Hajatan   36. Wanita Iblis

    "Pak Paris. Aku minta maaf soal ibuku." ujar Alvin dengan wajah tertunduk. "Dan jangan berharap aku akan menarik tuntutanku." Sahut Paris dingin. Alvin mengangguk. Dia pun menyadarinya. Jikapun Alvin ada di posisi Paris, dia mungkin akan melakukan hal yang sama. "Aku hanya ingin meminta satu hal." "Apa itu?" "Biaya rumah sakit anakku, biar aku saja yang menanggungnya. Aku ingin dia tahu jika dia masih memiliki ayah." Paris menatapnya dengan teliti. Seolah mempertanyakan keseriusan pria ini. Tapi apa Paris bisa menolak? Jelas Alvin punya hak atas anaknya. "Silahkan saja." Ucap Paris akhirnya. "Tapi dengan satu syarat.. kalau kamu berani menggugat Arumi karena hak asuh, maka kamu akan berhadapan denganku." "Tenang saja.. aku sadar jika anak itu hanya pantas diasuh oleh Arumi." Alvin harus sadar diri. Pria yang plin plan dan egois serta mudah terpengaruh sepertinya memang belum bisa dipercayakan untuk mengasuh anak. Biarlah Arumi yang mengurus putranya sendiri. Lepas

  • Diceraikan Usai Hajatan   35. Penolakan Arumi

    Bergegas Alvin pergi ke ruang NICU yang berada di lantai 2 rumah sakit ini. Sesampainya disana, ia hanya bisa melihat bayi-bayi yang tertidur di inkubator. Alvin pun sampai mencari yang mana buah hatinya. "Orang tua dari siapa, pak?" Tanya perawat yang hendak masuk ke ruangan. "Anak saya. Namanya..." Ah, Alvin harusnya menanyakan pada Arumi siapa nama anak mereka. "Sebutkan nama ibunya saja." "Arumi." Perawat lalu menunjuk sebuah inkubator yang berada di tengah. "Itu dia, pak. Bayi Nyonya Arumi yang memakai gelang biru." Mata Alvin tertuju pada inkubator yang ada disana. Bayi mungil yang memakai gelang biru tampak tertidur pulas. Hatinya terenyuh tapi juga nyeri. Selang dan alat-alat tampak menempel pada tubuh bayi kecilnya. Melihat itu, Alvin jadi tak tega. "Anak saya kecil sekali, sus.." "Iya.

  • Diceraikan Usai Hajatan   34. Pengakuan Nurlela

    "Apa?" Alvin melepas pelukannya dari Nurlela. Wanita ini pun sampai mundur selangkah. "Arumi terjatuh??? Bagaimana keadaannya?" Wajah yang tadi cemas karena keadaan Nurlela kini berganti pucat pasih. Dia khawatir terjadi sesuatu pada calon anaknya. "Arumi dioperasi darurat kemarin." "Astaga.." Alvin sampai lemas. "Lalu anakku.. bagaimana?" Paris tersenyum sinis. "Anakmu?" Enak saja! Setelah begini baru dia ingin mengakui anak Arumi sebagai anaknya, kemarin-kemarin kemana saja pria ini? Nurlela kembali mundur selangkah mendengar ucapan Paris. Ia pun sama terkejutnya. Ternyata kejadian kemarin berimbas dengan kehamilan Arumi. "Ibu!" Alvin memanggil ketika menyadari ibunya menjauh. "Sebenarnya apa yang terjadi?? Jelaskan!" "Ibu.. ibu nggak tahu apa-apa.." jawab Nurlela gemetaran. "Jawab bu!" Bentak Alvin. "Iya!" Seru Nurlel

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status