Se connecterSesampainya di sana seakan tahu jika mangsanya telah keluar. Orang-orang langsung mengerubungi jalannya, membuat mobilnya kesulitan lewat. “Aku takut...” Itu kesan Myli ketika melihat dari arah jendela. Terlihat arogan-arogan sekali. “Kau tidak usah keluar. Di sini saja dan... Kau bisa mengendarai mobil?” Myli menggeleng dengan penuh rasa penyesalan. Dia tahu apa maksud Keeiko. Menyuruhnya pergi dari sini ke tempat aman atau pulang saja, isolasi diri di rumah. Keeiko pun merasa kesal pada dirinya karena selama ini tidak pernah mengajari Istrinya menyetir mobil. Padahal sangat dibutuhkan di keadaan genting seperti ini. Di dalam mobil keadaan hening sesaat. “Astaga Myli!” Keeiko hampir menggeplak kepalanya sendiri. “Mobil ini memiliki kemampuan semiotonom. Bisa berjalan otomatis.” “Tapi aku tetap tidak berani. Bukan kah harus tetap diawasi dan tidak melepas setir terlalu lama?” Myli sadar ia belum mengenal lebih luas tentang mobil atau istilah-istilahnya dalam penggunaan sehari-
Setelah mendengar kabar bahwa Myli hamil. Keeiko tidak tinggal diam. Detik itu juga dirinya memaksa mengajak Istrinya keluar untuk membeli barang apapun sesukanya. Karena hingga saat ini wanita itu belum juga ada tanda-tanda mengidam. Myli sampai tidak bisa berdebat lagi. Kan bisa menunggu pas dirinya ngidam, kalau begini kan dirinya bingung harus memilih barang apa untuk dibeli. Memang tidak sabaran pria itu. “Tidak harus menunggu ngidam dulu kan? kau bisa memilih barang yang dulunya belum bisa kau beli. Pasti ada kan? Ayolah! Ingat-ingat lagi, apa yang kau inginkan namun belum kesampaian?” Itu jawaban Keeiko yang selalu keluar ketika Myli berkata tidak ada atau belum ingin satupun. “Meskipun barang receh kau mau membelikannya?” Tanya Myli. Keeiko mengangguk. “Ya, tentu saja. Aku bisa memberi apapun untukmu.” Anggapan receh bagi Myli belum tentu sama dengan Keeiko. Receh versinya sangat lah berbeda. “Aku ingin sandal harga 300ribu dan anting mainan bentuk mutiara yang mungkin s
“Hello, astaga Myli... Akhirnya kau menjawab telepon ku ini. Aku kepikiran denganmu. Sungguh! Sudah beberapa hari kita tidak saling berkabar kan... Pak Keeiko juga berkali-kali tidak hadir. Mau menanyakan langsung tidak bisa. Menelepon terus-terusan bisa-bisa dicurigai ada hubungan.” Kata Olive begitu panggilan langsung tersambung. Kekhawatirkan menggambarkan perasaan Olive saat ini. “Omong-omong bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja setelah difitnah Sereya?” Myli terharu, ternyata masih ada yang mengkhawatirkannya. Walau itu bukan keluarga. “Terima kasih Olive. Aku baik-baik saja, kau tahu kan aku tidak peduli dengan berita bodoh tidak berbobot itu. Hanya saja...” Myli terdiam menatap Keeiko yang tidur sembari menempelkan terasi di hidungnya yang harga 500an itu loh. Apakah ini hobi baru suaminya? Mencium bau-bauan tidak sedap nan bangkai. “Hanya saja...?” Olive mengulanginya. Myli menghembuskan napasnya lalu keluar dari kamar. Lebih tepatnya menjauh dari Keeiko. Laki-laki
“Olla!”“Sudah merasa bisa hidup sendiri?! Ditelepon tidak di angkat, disms tidak dibaca sama sekali.” Pintu apartementnya terbuka secara tiba-tiba. Waktu tidurnya jadi terganggu. Ia kaget, benar-benar kaget. Olla menyesal telah memberitahu wanita itu tentang pinnya. “PADAHAL AKU SUDAH MENYIAPKAN RENCANA LAGI UNTUK KAU LAKSANAKAN!” Ujar Sereya kesal. Dia sangat butuh Olla. Tapi perempuan itu seakan menghindarinya terus menerus. “Gagal lagi. Kau memang tidak bisa diharapkan.” “Ck, sudahlah. Mending kau pergi saja dari sini.” Usir Olla yang terlihat sangat setres. “Apa katamu?!” Sereya mendelik tidak percaya mendengar kalimat buruk itu. “Kau sudah merasa tidak butuh aku lagi, makanya bersikap angkuh seperti ini. Dasar mata duitan!” Olla terpancing oleh kata-kata itu. Dia pun berteriak. “SEENAKNYA SAJA KAU! AKU KENA TIPU SEBESAR 450JUTA. BISA KAU MEMBANTU MENGEMBALIKANNYA?!” Itu bukan uang yang sedikit. Mustahil bisa dapat sebesar itu dalam waktu dekat kecuali melakukan pencur
Keeiko mengajaknya pulang ke rumah. Myli pun setuju, lama-lama di hotel juga tidak merasa bebas. “Kau rese sekali, tunggu saja di kasur. Kalau menempeli ku seperti ini, aku merasa gerah dan sesak.” Ini mau maju dua langkah rasanya berat. Sudah tubuh Keeiko besar mirip kingkong. Tidak biasanya seperti ini. Wajar sih sedang sakit, kelakuannya mirip toddler. “Aku merasa tidak baik-baik saja saat kau menjauhi ku.” “Setidaknya aku bergerak masih di dalam sini... Dan kau bisa memantauku langsung dengan mata terbuka. Apa yang kau resahkan...” Myli sedang memikirkan secara logika, cara membuka koper tanpa duduk tanpa jongkok. Lah ini sela-sela jari jempolnya sudah dilatih untuk membuka resleting koper itu, tapi rasanya bikin emosi karena meleset terus. Kesabarannya tidak lah setebal emas antam 1000gram. Dirinya lagi-lagi harus bersikap alay untuk membujuk laki-laki itu. Merasa malu sih. Dia itu kalau sedang sibuk tanpa diganggu, selesainya malah lebih cepat. Kalau ditempeli begini bawaa
“Aku... Aku tidak ingin terpisah denganmu. Tapi kalau takdir sudah menjemput, aku terpaksa akan mengikhlaskanmu.” “Kau tahu kan Myli...? Bahwa aku benar-benar dan sangat mencintaimu. Dari awal dan akhir hayatku.” Bibirnya bergetar hebat. Myli mengangguk sekaligus menatapnya seksama. Mata pria itu terpejam. Meringkuk dan menggigil secara bersamaan. Dia tidak tahu harus bagaimana selain mendengarkan terlebih dahulu hingga selesai. “Jika diambil sekarang, aku tidak ingin sama sekali. Karena masih ingin memiliki anak bersamamu dan hidup mendampingi mereka. Aku harap aku masih sempat berada di posisi itu.” Matanya berkaca-kaca saat terbuka. “Sadar lah, umurmu masih sangat panjang. Apa yang kau khawatirkan...?” Ucap Myli. “Hentikan omongan itu, Keeiko. Kau hanya tinggal Istirahat dan meminum obat.” Lanjutnya berusaha melepaskan tangannya yang dicekal erat. Kalau begini mana bisa membantu menyembuhkannya. “Kenapa tidak dari dulu-dulu saja kau ku nikahi. Andai dari dulu, pasti sekarang
Sebenarnya bukan hanya sekedar bosan dan mengantuk. Tapi matanya memanas dan kepalanya mendidih jika menatap perempuan itu. Dirinya tidak akan pernah lupa sampai kapanpun. Jadi… penglihatannya tidak salah. Wanita itu yang bersama Hexa kapan lalu. Sekarang ia sedang menunggu Olive. Perempuan yang
Myli menggosok hidungnya brutal ditatap tajam oleh pria itu. Sebenarnya hanya tatapan biasa. Namun menurut Myli yang dipancarkan di mata Keeiko mirip mata elang dan macan. “Kapan?” “Apanya?” Hehe, basa-basi dulu itu adalah hal yang penting di kala situasi canggung seperti ini. “Menurut Anda?” B
Kayye ke sini bukan untuk melihat keromantisan mereka. Itu sangat mengganggu. “Hentikan! Dengarkan aku baik-baik!” Interupsi Kayye. Hingga keduanya terpaksa memandangnya. Tidak ada angin maupun badai, Kayye menunjuk-nunjuk Myli. “Kau tahu Myli kan Keeiko? Ingat-ingat apa yang pertama kali membua
Myli melepaskan blazernya dengan cepat. Tidak tahan dengan panasnya luar ruangan yang mencapai 30°. Bercucuran sudah keringat-keringatnya. Dirinya baru pulang dari rumah Ibunya. Tahu gitu ke sananya sore hari, yang mana panasnya sudah tidak seberapa. Sedangkan Keeiko memilih melepas baju atasnya.







