LOGINSepasang pengantin baru itu duduk di meja makan dalam keheningan, lalu Richard bangkit lebih dulu dengan Azalea yang ikut beranjak dan reflek menghalangi langkah sang suami dengan berdiri di hadapannya.
"Maaf, Tuan! Saya ingin minta Izin," ucap Azalea dengan wajah tertunduk. "Katakan!" Azalea tersenyum, lalu ia memberanikan diri untuk menatap sang suami. "Aku ingin bekerja, Tuan!" jawab Azalea. Richard mengerutkan kening, lalu ia mengambil dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu yang di letakkan pada telapak tangan gadis itu. "Kau tidak perlu bekerja, uang itu sudah cukup untuk membiayai hidupmu," ucap Richard seraya memasang wajah dingin. Azalea pun menggenggam kartu itu, lalu ia tersenyum sambil menatap Richard dengan penuh ketulusan. "Saat ini kartu ini memang untuk saya, Tuan! Karena Sudah menjadi kewajiban Anda menafkahi saya selama menjadi istri Anda." Syena menundukkan pandangannya karena terlalu sulit untuk menatap mata suaminya tanpa rasa takut. "Aku tidak punya banyak waktu untukmu, katakan yang jelas sebelum aku kehilangan batas kesabaran." Richard memasukkan tangannya pada saku celana. "Maksud Saya, Saya harus membiasakan diri dengan bekerja, Tuan! Karena saya tidak tahu bagaimana nasib saya setelah bercerai dengan Anda nanti!" ucap Azalea jujur. Richard pun menatap wajah Azalea lekat. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang ia nikahi ternyata benar-benar berani membuka suara dihadapannya, dimana biasanya para wanita selalu tertunduk ketakutan saat menatap wajah pria tersebut. "Terserah!" Setelah itu, Richard menatap wajah Azalea tajam karena Azalea masih menghalangi jalan pria itu, Azalea yang mengerti maksud tatapan sang suami, ia reflek menggeser tubuhnya dan memberi jalan untuk suaminya tersebut. "Sial! Apa dia tidak bisa bersikap manis meski terpaksa sepertiku?" gerutu Azalea, namun hanya dalam hati. "Apa kau mengumpatku?" Deg Azalea terkejut mendengar pertanyaan sang suami, hingga ia membulatkan matanya dan reflek menggeleng. "Tidak, Tuan! Mana berani Saya melakukan hal itu?" Karena tidak ingin berdebat dengan sang istri, Richard pun melanjutkan langkahnya dengan Azalea yang mengehembuskan nafasnya lega setelah bayangan Richard menghilang. "Dia memang tidak seburuk dengan apa yang orang-orang pikirkan, tapi tetap saja tatapannya sangat menakutkan." Azalea mengerikan bahunya, lalu kembali ke dalam rumah. * * * Richard yang sudah keluar dari kediamannya, ia tersenyum tipis, lalu melangkah menuju mobil dengan Reno yang sudah menunggunya. "Selamat pagi, Tuan!" Reno membungkukkan sedikit badannya, lalu membukakan pintu untuk sang atasan. Setelah itu, Reno pun mengemudi mobil sambil melirik spion yang menggantung di depan yang mengarah pada Richard. "Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Reno yang melihat ekpresi wajah sang CEO yang tampak berbeda. "Hemmm ... " jawabnya. Reno yang merasa ada yang berbeda dari Richard, ia memilih untuk mengabaikan agar ia tidak mendapatkan amarah dari pria tersebut. "Apa saja jadwalku hari ini?" tanya Richard yang kini memasang wajah seriusnya kembali. "Jam 10 pagi Anda mempunyai jadwal meeting dengan Ceo Adijasa Corp. Jam 2 siang Anda memiliki jad ... " Drttt ... drttt .... drttt ... Dering ponsel Richard menghentikan Reno untuk membaca jadwal selanjutnya, dan Richard pun mengangkat panggilan tersebut dengan wajah yang berbinar. "Sebentar lagi aku akan tiba di kantor, kamu tunggu saja!" ucap Richard. Melihat ekspresi sang atasan, Reno dapat menebak siapa yang menghubungi atasannya tersebut. Ia mengepalkan tangannya, karena ia tahu betul bahwa Richard hanya dimanfaatkan, dan meskipun Richard mengetahui hal itu, Richard tidak keberatan asalkan apa yang ia inginkan bisa ia dapatkan. "Apakah Nona Wulan yang menghubungi Anda, Tuan?" Reno menatap lurus ke depan tanpa menatap wajah atasannya tersebut. "Iya, sekarang dia sudah di ruanganku! Lebih baik kamu lajukan mobilnya lebih cepat lagi. Aku tidak ingin dia menungguku lebih lama." Tanpa menjawab sang atasan, Reno melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Richard menyadari bahwa sekretarisnya itu sedang marah. "Lebih pelan atau aku akan memecat kamu saat ini!" ancam Richard hingga membuat Reno menghentikan mobilnya dadakan. "Kau cari mati!" Richard menatap Reno tajam.Richard Perlahan mendekati sang istri, sementara Azalea menatap suaminya yang mendekati dengan wajah datar. Keduanya berdiri hadap-hadapan dan saling tatap dengan begitu dalam. "Richard?" Dilan tersenyum saat melihat sang sahabat suda berdiri dihadapannya. "Lea ... Kenalkan! Dia sahabatku. Namanya Richard." Dilan sengaja pura-pura tidak tahu apa-apa tentang mereka. Selain itu, Dilan juga sengaja mengenalkan Azalea pada Richard, karena ia ingin melihat reaksi Richard setelah melihat perubahan Azalea. Ia juga ingin tahu, apakah pria itu akan mengenalkan istrinya pada semua orang, atau sebaliknya? Richard hanya diam, ia terus memperhatikan sang istri dengan Azalea yang juga menatap suamiku lekat. "Dia? Kenapa dia di sini?" Azalea hanya bisa berbicara dalam hati tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. “Jadi dia bekerja di perusahaan Dilan?" Richard membatin. "Penampilannya sungguh berubah? Apa karena itu semua orang tidak ada yang mengenalnya?"Richard terlihat bingung saat se
Dilan menunggu Azalea di mobil sambil membicarakan pekerja dengan Rimba karena pria itu adalah seseorang yang gila kerja dan tidak pernah memiliki kekasih. Dilan berpikir bahwa cinta hanya akan mengganggu kefokusannya, dan ia tidak ingin jatuh cinta pada siapapun jika cinta menghambat pekerjaannya. Setelah mengantar Azalea ke dalam dan meminta pegawai salon untuk mengubah penampilan Azalea, Richard Kemabli ke mobil dan membicarakan pekerjaan kembali di mobil tersebut. 30 Menit menunggu tidak terasa karena di dalam mobil, Dilan terus bekerja dan bekerja hingga akhirnya pria itu menghentikan kerjaannya saat Rimba mengalihkan tatapannya dan mengatakan bahwa Azalea sudah keluar dari salon. Seketika Dilan mengangkat kepalanya, lalu beralih menatap Azalea dengan tatapan yang dipenuhi dengan ketakjuban. "Itu benar Azalea?" "Sepertinya iya, Tuan! Lihat saja, dia melangkah ke sini di antar pegawai salon 'kan? terus siapa lagi kalau dia bukan Nona Azalea?" Rimba bertanya balik. Dilan te
Setelah mendapatkan Izin dari Richard Azalea pun menyetujui untuk ikut dengan Dilan ke pesta, dan wanita itu pun di bawa ke salon untuk mengubah penampilannya. Azalea ingin menolak, tapi setelah ia berpikir bahwa acara tersebut adalah acara orang-orang besar, akhirnya ia mau mengikuti perintah Dilan untuk mengubah penampilannya yang sedikit kolot. "Rimba, kamu tunggu di mobil saja, aku akan mengantar sahabatku ini ke dalam!" Dilan merangkul pundak Azalea hingga membuat wanita itu reflek mendorong tubuh sang CEO hingga hampir jatuh jika saja ia tidak berpegangan pada pintu mobil. "Ingat ya, Tuan! Saya sudah miliki suami." Azalea memperingatkan. Dilan tersenyum, lalu ia menyandarkan tubuhnya pada mobil dengan tangan yang ia lipat di depan dada. "Kau benar-benar profesional, tidak salah aku memilihmu!" Rimba yang melihat kelakuan atasannya menahan tawa, ia tahu sangat mengetahui karakter atasannya, dia tidak suka di goda tapi suka menggoda. Azalea yang tidak ingin meladeni atasa
"Nanti malam ada sebuah undangan acara ulang tahun perusahaan, kamu ikut denganku jika kamu tidak pergi dengan Richard. Kita pergi bertiga dengan asisten pribadiku." "Baik, Tuan!" Jawab Azalea. "Kau masih memanggilku Tuan, Nyonya Pranata?" Dilan menatap Azalea dengan bibir yang terangkat sebelah. "Anda pemilik perusahaan ini, jadi wajar saja jika saya memanggil Anda 'Tuan,' tapi saya harap, Anda tidak memanggil saya dengan panggilan Nyonya Pranata kembali, saya tidak ingin orang lain mengetahui status saya sebagai istri Tuan Richard." Azalea memasang wajah datar. Dilan menautkan alisnya karena merasa bingung mendengar Azalea tidak ingin diketahui sebagai Richard, yang kebanyakan para wanita menginginkan panggilan tersebut. "Kenapa? Bukankah seharusnya kamu senang menjadi istri seorang Richard? Pemuda sukses dan ditakuti semua orang di kota ini?" tanya Richard. "Tidak. Saya tidak ingin semua orang takut pada saya. Saya ingin menjadi diri saya sendiri tanpa ada yang menjauh kar
Sesampainya di kantor, Richard langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO, sementara para karyawan membungkukkan kepala saat Richard melewati mereka. Richard berjalan penuh wibawa dengan tatapan yang berhasil membuat semua orang begitu takut padanya. Begitu tiba di depan ruangannya ia membuka pintu perlahan, lalu ia langsung disambut seorang wanita yang sudah ia ketahui kedatangannya. "Hai," sapa Richard dengan bibirnya yang melengkung. "I Miss you," ucap gadis tersebut. "Tumben kamu ada waktu untuk datang ke kantorku?" Richard melangkah mendekati wanita yang sangat ia cintai. Wanita itu adalah Wulan, kekasih Richard yang sangat Richard cintai, namun wanita itu menolak untuk menikah dengan Richard, karena ia ingin meneruskan karirnya sebagai publik figur. Richard selalu di desak oleh orang tuanya agar segera menikah, hingga akhirnya ia memilih untuk menikahi wanita lain agar orang tuanya tidak terus menerus mencarikan pria itu jodoh. Richard memilih Azalea, karena
Sepasang pengantin baru itu duduk di meja makan dalam keheningan, lalu Richard bangkit lebih dulu dengan Azalea yang ikut beranjak dan reflek menghalangi langkah sang suami dengan berdiri di hadapannya. "Maaf, Tuan! Saya ingin minta Izin," ucap Azalea dengan wajah tertunduk. "Katakan!" Azalea tersenyum, lalu ia memberanikan diri untuk menatap sang suami. "Aku ingin bekerja, Tuan!" jawab Azalea. Richard mengerutkan kening, lalu ia mengambil dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu yang di letakkan pada telapak tangan gadis itu. "Kau tidak perlu bekerja, uang itu sudah cukup untuk membiayai hidupmu," ucap Richard seraya memasang wajah dingin. Azalea pun menggenggam kartu itu, lalu ia tersenyum sambil menatap Richard dengan penuh ketulusan. "Saat ini kartu ini memang untuk saya, Tuan! Karena Sudah menjadi kewajiban Anda menafkahi saya selama menjadi istri Anda." Syena menundukkan pandangannya karena terlalu sulit untuk menatap mata suaminya tanpa rasa takut. "Aku tidak punya ban







