LOGINMata Widuri tak lekang sedikitpun dari sosok Minah yang benar-benar sudah berubah seratus persen. Ia yang dulu kurus, dekil, dan tak bisa bergaya, kini berubah menjadi gadis dengan paras cantik, tubuh yang bersih terawat, serta penampilan menawan yang seksi. Sekilas Widuri merasa iri melihat hal itu. Apalagi Minah juga kian terlihat sempurna dengan barang-barang modern yang tak pernah terjamah sedikitpun oleh Widuri, ponsel pintar, tak cuma satu Minah bahkan punya tiga unit.
"Duduk Wid!" Ajak Minah dengan ramah. Widuri celingukan, ia hanya bingung sambil melihat sofa empuk yang seolah sedang mengejek dirinya. "Ayo duduk, kok malu gitu sih?" Ledek Minah. "I-ya!" Jawab Widuri gugup, dengan perlahan ia menempelkan ujung panta*nya ke atas sofa, dan seketika ia merasa sebuah kenyamanan yang selama ini tak pernah ia rasakan. Duduk di kursi mahal memang berada, ada sensasi tersendiri yang sulit untuk digambarkan. "Lu mau minum apa?" Tanya Minah sambil tetap tersenyum ramah. "Em, nggak usah, aku udah sarapan tadi di rumah!" Tolak Widuri, tak ingin merepoti. "Nggak apa, santai aja! Em, gimana sekarang kabar Elu?" Tanya Minah sambil menatap serius wajah Widuri yang kaku. "Ya begini Nah, masih kayak dulu" jawab Widuri tersipu. Minah manggut-manggut. "Lu udah merid?!" Tanya Minah. "Merid?! Maksudnya..?!" Widuri bingung. "Kawin Wid!" Minah menjawab sambil menempelkan kedua jari telunjuknya membentuk hati. Wajah Widuri yang polos memerah, kata nikah adalah kata yang sakral bagi widuri. ia bahkan nyaris tak pernah mengucapkan, membayangkan saja ia tak berani. Widuri menggeleng malu. "Terus sekarang Lu ngapain di kampung ini?" Tanya Minah, ia beranjak dari tempat duduknya menuju ke sebuah lemari pendingin yang terletak di sudut ruangan. Tak berapa lama ia kembali lagi dengan membawa dua kaleng minuman kopi instan. "Nih, minum dulu!" Ucapnya sambil meletakkan minuman itu di atas meja, Widuri mengikuti dua kaleng minuman itu dengan ekor matanya. "Jadi sekarang Lu ngapain? Em, maksud gue Elu sekarang kerja atau.." "Buruh nyuci piring!" Jawab Widuri jujur dan ada sebuah niat tersembunyi dibalik jawabannya itu. "Apa itu cukup?!" Minah mengerutkan keningnya. "Yah, sebenarnya nggak juga sih, tapi mau gimana lagi Minah, aku, kan cuma tamat SMP, jadi aku nggak tau harus kerja apa" Widuri tampek sedih mengingat nasib yang kini menimpa dirinya. "Eh, nggak boleh putus asa gitu dong, Lu harus semangat!" Ucap Minah sambil membuka kaleng minuman dan dengan perlahan ia mulai meneguk minuman itu. "Ayo minum dulu!" Ajaknya pada Widuri. Widuri manggut-manggut, tapi ia bingung sebab ia tak terbiasa meminum minuman semacam itu, apalagi saat pagi hari. Ia memang membuka kaleng itu, tapi ia hanya menempelkan ujung mulut kaleng dibibirnya, ia tak sungguh-sungguh menegak isi dari kaleng itu. Ia tak sanggup, mulutnya tak biasa dengan sesuatu semacam itu. "Em, Lu mau nggak kerja?" Tanya Minah sambil meletakkan kaleng di atas meja kembali. "Iya aku mau!" Jawab Widuri spontan, ia tak dapat menutupi perasaan senangnya, dan memang itulah tujuan ia datang ke rumah Wak Ijah. "Wow! Lu semangat sekali!" Minah melongo melihat reaksi girang Widuri. "Maaf!" Seloroh Widuri, malu. "Oke, kalo Elu mau, Lu ikut ama gue!" Ucap Minah serius. "Sungguh?!" "Iya!" "Ikut kamu ke kota, begitu?!" Widuri tak percaya. "He eh!" Ucap Minah yakin. "Elu ikut gue, kerja di kota biar hidup Lu bisa berubah. Nih, liat gue, gue udah bisa membantu kehidupan keluarga gue disini semenjak gue kerja di kota!" Ucap Minah dengan bangga. Widuri manggut-manggut sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan itu. Minah memang benar, rumah itu adalah bukti nyata kesuksesan Minah di perantauan. Widuri sungguh ingin memiliki kehidupan seperti Minah, ia bisa membayar hutang pada juragan Sarmo, ia juga bisa menanggung biaya hidup sang ibu agar ibunya tak lagi harus bekerja keras demi sesuap nasi. Widuri ingin kehidupan yang lebih baik untuk ia dan juga sang ibu. "Jadi gimana, Elu mau?" Tanya Minah, memastikan. "I-ya, aku mau. Tapi..maaf Nah, kira-kira itu kerja apa ya? Maaf, soalnya seperti yang aku bilang tadi, ijazahku cuma SMP!" Ucap Widuri cemas. Minah menyeringai mendengar keluhan Widuri. "Elu nggak usah takut, kerjaan ini nggak perlu ijazah, yang penting Elu mau kerja. Itu udah cukup!" Jawab Minah santai. "Serius?!" Widuri senang tapi tak percaya. "Iya, kerjanya santai, dan yang terpenting.. fulusnya mulus Wid!" Seloroh Minah sambil tersenyum lebar. Widuri ikut tersenyum, senang sekali ia karena akhirnya ia akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Dan ia berharap agar kiranya dengan pekerjaan barunya nanti ia bisa membayar semua hutang pada juragan Sarmo. "Kok murung gitu?!" Tanya Minah yang menyadari perubahan mendadak pada wajah Widuri. "Maaf Nah, sebenarnya aku bingung" "Bingung kenapa?" Minah penasaran. "Aduh, gimana ngomongnya ya?" Widuri garuk-garuk kepala yang tak gatal. "Ngomong aja, nggak usah sungkan! Kalo gue bisa, gue akan bantu!" "Tapi aku nggak enak" ucap Widuri. "Ah Elu, santai aja, lagipula entar kita juga bakal sering ketemu di kota!" Minah meyakinkan temannya itu. Setelah terus diyakinkan oleh Minah, Widuri akhirnya jujur juga. "Em, sebenarnya saat ini kami sedang terlilit hutang" ucapnya dengan bibir gemetar membayangkan besarnya hutang pada juragan Sarmo dengan jaminan rumah mereka. "Oh, sorry!" Minah jadi tak enak. "Sekali lagi maaf, bukan aku bermaksud untuk merepoti, tapi..apa bisa setelah aku diterima bekerja aku cash bon ke bos? Soalnya juragan Sarmo cuma memberi kami waktu seminggu, kalo tidak bisa membayar maka rumah kami akan disita" ujar Widuri dengan wajah lesu. "Oh baguslah..." "Apa?!" Widuri kaget mendengar celetukan Minah. "Upss! Maaf, Lu jangan salah sangka!" Minah buru-buru mengklarifikasi ucapan spontan nya itu setelah ia melihat reaksi tak suka dari Widuri. "Maksud gue, bagus kalo Elu berniat mau lunasi utang sama juragan itu" ralat Minah. Widuri tersenyum kecut. "Jadi, Elu mau minta gaji duluan, gitu?" Tebak Minah. "Iya!" Jawab Widuri malu. "Bisa nggak?" Widuri berharap. "Gue nggak tau sih, tapi yang jelas gue akan bantu, dan semoga aja Lu bisa dapet uang itu sebelum seminggu!" Minah menyemangati Widuri. "Yang jelas, Elu ikut gue dulu, itu semua ntar kita atur, oke?!" "Em, tapi, kalo boleh aku tau, itu kerja apa? Maaf bukannya aku bawel, tapi aku bingung kalo nanti ibu tanya" "Oh, Lu bilang aja sama ibu Elu kalo Elu ikut gue ke kota kerja jadi asisten pribadi di rumah orang kaya!" Seloroh Minah enteng. Widuri manggut-manggut, percaya begitu saja pada Sumina. Ia tak ingin bertanya lagi tentang pekerjaan sebagai asisten pribadi itu, karena saat ini itu tak penting baginya, sebab yang terpenting saat ini adalah ia akan segera berangkat ke kota untuk bekerja dan ia akan segera bisa membayar hutang pada juragan Sarmo. Itu saja. ###"Hei! mana gadis tadi?!" tanya Zeka dengan nada suara tinggi, tatapan yang tajam dan raut wajah yang dingin. "Maaf tuan, dia bersama nyonya besar" jawab seorang wanita paruh baya yang sedang merapikan meja makan. "Kemana mereka?" "Saya tidak tau tuan, tapi tadi setelah sarapan nyonya turun ke lantai bawah" ucap si wanita dengan kepala tertunduk tak berani untuk menatap Zeka. "Pufff!" Zeka membuang nafas, terlihat kecewa dia dan membuat si wanita menjadi serba meski sebenarnya itu tak ada kolerasinya dengan dirinya. Dengan terburu-buru Zeka bergegas turun ke lantai bawah. "Kakkkk!!!???!!!!" teriak Zeka dengan suara lantang yang menggema di ruangan luas yang merupakan ruang tamu itu, dua orang pegawai yang sedang bersih-bersih seketika menghentikan pekerjaannya dan berdiri dengan sikap tegap. "Hei! apa kalian melihat nyonya?!" tanya Zeka pada dua orang itu. "Ta-di nyonya besar keluar" jawab salah satu dari mereka dengan suara yang hati-hati takut salah. "Apa dia bersam
"Nona, ayo perkenalkan dirimu pada nyonya besar!" pinta si wanita berseragam. Widuri tampak takut dan malu. "Ayo!" desak si wanita. Widuri maju perlahan, kini posisinya sejajar dengan wanita berseragam yang tadi membawa dirinya ke tempat itu. "Sa-ya..." suara Widuri terdengar lirih dan terbata. "Dia hendak melamar pekerjaan disini!" celetuk pria yang duduk di hadapan si wanita. Wanita itu langsung melihat pada si pria yang tetap tenang dan asyik menikmati makanannya. Begitu juga Widuri, ia sama tersentak nya dengan wanita itu hanya saja ekspresinya jelas berbeda dengan wanita itu. Jika wanita itu langsung menatap aneh pada si pria secara langsung, Widuri hanya berani menggerutu tak jelas di dalam hati dengan kepala yang masih tertunduk, takut dan malu. "Oh, begitu rupanya, jadi, siapa namamu?" tanya si wanita lagi yang kini kembali mengalihkan tatapan pada Widuri yang masih tetap membenamkan wajahnya. "E..." "Aku menolaknya!" serobot si pria, entah mengapa ia seolah
Sepeninggal pria itu, Widuri masih duduk di atas tempat tidur dengan tubuh yang belum jua kembali terbalut pakaian sepenuhnya. Ia masih terguncang dengan peristiwa tak terduga yang baru saja terjadi. Seperti mimpi, ia terbangun dari tidur dengan perasaan bingung dan berharap semua yang sempat terjadi itu sungguh hangat sebuah ilusi. Bagaimana bisa ia dengan sengaja memamerkan tubuhnya di hadapan pria asing dan tanpa sedikitpun rasa malu, ia secara terang-terangan rela menukar tubuh polosnya itu dengan sejumlah uang. "Krekk!" pintu berderit pelan, Widuri gugup, ia yang belum sempat mengenakan kembali pakaiannya buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang nyaris bug*l itu, kedua matanya menyorot tajam ke arah pintu, memastikan siapa yang datang. "Maaf nona, sebaiknya nona segera bersiap" seorang wanita berseragam yang datang. "Pufff!" Widuri membuang nafas, agak lega, sebab semula ia pikir jika itu adalah pria tadi. Selesai bicara, wanita berseragam itu bergegas pergi
"Tuan, saya rela melakukan apapun, ya, apapun asal anda mau membantu saya" ujar Widuri tiba-tiba sambil beranjak menuju ke tempat tidur, pikirnya semua pria di kota itu sama, sebab dari dua pria yang ia temui sebelumnya, mereka semua menginginkan hal yang sama dari Widuri. Dan mungkin saja pria yang ini juga demikian. Widuri sudah tak perduli pada apapun saat ini, bahkan satu-satunya harta yang ia miliki juga akan ia berikan pada pria itu yang penting ia bisa segera mendapatkan uang demi membayar hutang pada juragan Sarmo. Waktu Widuri tak banyak saat ini. Widuri duduk di atas tempat tidur dengan posisi tubuh yang ia atur sedemikian rupa agar terlihat sensual, dan seolah benar-benar sedang berpacu dengan waktu, gadis itu mulai menurunkan secara perlahan bagian atas dari bajunya yang kusut itu. Pemandangan yang cukup miris, beberapa waktu yang lalu ia mati-matian mempertahankan mahkota yang hanya akan ia serahkan suatu hari nanti pada pria yang benar-benar ia cintai, tapi kini tidak
Widuri tertegun, saat pria itu melangkah perlahan, seketika ia kembali teringat akan satu hal penting, ibunya. Wanita tua nan malang itu tak tahu seperti apa kini nasibnya. Seumur hidup tak pernah barang sedetikpun mereka berpisah apalagi tanpa ada kabar dan juga kejelasan. Bahkan disaat-saat yang paling sulit paska meninggalnya sang ayah, Widuri tetap setia berada di samping sang ibu, memberikan dukungan luar biasa agar wanita itu tetap mau berjuang agar tetap hidup, meski dengan segala keterbatasan. Dan kini, sudah beberapa hari, jangankan uang delapan juta, kabar lun tak kunjung Widuri berikan pada ibunya yang entah apa masih sehat atau justru sudah terbaring sakit akibat tak sanggup menahan rasa takut dan sedih yang teramat karena tak kunjung mendapat kabar tentang sang anak. Dan juragan Sarmo, tinggal menghitung hari, pria arogan itu akan datang untuk menyita rumah milik orang tua Widuri, Widuri tak sanggup membayangkan ketakutan yang akan menyerang sang ibu, seorang diri mengh
Wanita itu tak menjawab pertanyaan Widuri, ia sekali lagi hanya tersenyum dan kemudian berpamitan pergi, meninggalkan Widuri yang takut dan bingung bukan main. Widuri celingukan, ia mencoba untuk mengingat-ingat kejadian yang terakhir kali sebelum pada akhirnya ia berada di tempat asing itu. "Aku semalam ada di mobil bersama pria aneh itu, dan sekarang aku ada disini...apa jangan-jangan pria itu.." "Ya Tuhan, apa ini terjadi lagi padaku?" Widuri bergidik, takut, sepertinya kali ini hidupnya benar-benar akan hancur. Pria itu ternyata tak jauh beda dengan beberapa manusia yang ia temui di kota ini, semuanya tak ada yang baik, mereka semua jahat dan menginginkan kesengsaraan pada diri Widuri. Widuri terduduk lemas di lantai yang terasa sangat dingin, air mata yang hangat mulai menetes membasahi wajahnya yang lelah itu. Hidupnya sudah berakhir, begitulah ia menyimpulkan apa yang terjadi saat ini, tak akan ada harapan untuk bisa kembali pulang ke kampung halaman bertemu dengan sa
Widuri sudah berada di dalam mobil, hasa dingin dari pendingin udara langsung menyergap tubuhnya yang lelah. Ia duduk persis di sebelah Zeka, hidungnya yang mungil itu mampu mencium aroma wangi yang entah aroma apa itu, ia tak paham, tapi yang jelas aroma itu sungguh hangat dan segar. Rasa takut da
"Apa yang kau inginkan?!" tanya Zeka, ia masih berdiri menghadap pintu yang hanya tinggal sejengkal Saha jaraknya dari tempat ia berada. "Tap! tap! tap!" langkah kaki yang dialasi sandal kulit bermerek terdengar mendekat dengan ketukan irama yang teratur namun terdengar jengah. "puffff!!" hembusa
"Tuan tolong saya!" Widuri menangkupkan tangannya, memohon belas kasihan Zeka, orang asing yang sama sekali tak ia kenal. "Hei jalang! kau pikir dengan siapa kau sedang bicara, hah?! apa kau pikir dia akan sudi mendengar perkataan konyol mu itu?! sudahlah, kau lebih baik diam! setelah urusan kita
"Sial!" umpat Zeka, tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Willi yang licik itu selalu menggunakan Stela sebagai katu As untuk membuat Zeka tak berkutik hingga akan selalu menuruti kemauannya.Zeka diam, dengan raut wajah marah yang tertahan, ia memutar badannya, menghadap ke arah pintu, sepertinya hen







