LOGIN"Bu, Wid mau ke rumah Wak Ijah!" Ucap Widuri di pagi hari saat sang ibu sedang memasak di dapur.
"Ngapain pagi-pagi mau kesana?" Tanya Juriah sambil fokus pada kuali kecil yang berisi dua ekor ikan mujair, pemberian tetangga sebelah rumah yang baru panen ikan dari tambak kecil di belakang rumahnya. "Tadi pas Wid pergi ke warung, Wid dengar dari Bu Yuli yang lagi ngobrol sama orang, katanya anaknya Wak Ijah pulang dari kota" ujar Widuri antusias. "Anaknya Wak Ijah?, siapa?" Tanya Juriah sambil membalik ikan goreng dikuali, dan seketika aroma gurih langsung menyeruak memenuhi ruangan dapur yang sempit dan agak pengap itu. "Itu, yang sekelas sama Wid pas SD" "Siapa ya?" "Si Sumina!" jawab Widuri. "Oh, Minah!" Juriah ingat dengan nama itu, itu adalah salah satu teman Widuri. Rumah keduanya berjarak tak jauh, sejak kecil Widuri sering bermain dengan Minah, mereka juga sekolah satu angkatan di sekolah yang sama. Hanya saja saat lulus SD, Minah melanjutkan sekolah ke SMP di kecamatan, sedang Widuri sekolah di SMP yang ada di kampungnya. Semenjak itu mereka jarang bersama meski masih sering bertemu. Dan setelah tamat SMP, Widuri yang tak melanjutkan sekolah karena tak punya biaya, sedang Minah tak tahu bagaimana nasibnya. Hanya saja Widuri pernah mendengar kabar kalau Minah melanjutkan sekolah di kota ikut kerabatnya disana. Dan setelah itu, komunikasi antara mereka terputus, Widuri tak pernah lagi berjumpa dengan Minah. Ia hanya mendengar cerita warga kampung yang mengatakan kalau sekarang Minah sudah hidup enak di kota. "Wid mau kesana, mau ketemu Minah" "Ya udah sana, tapi jangan lama-lama ya, nanti kamu terlambat ke kedai!" Juriah sudah selesai menggoreng ikan. Setelah mendapat izin dari sang ibu, Widuri bergegas pergi ke rumah Wak Ijah, ia berjalan kaki menyusuri jalan kampung yang mulai ramai oleh warga yang lalu lalang hendak ke tempat tujuan masing-masing. Udara pagi yang sejuk mengantarkan langkah kecil Widuri. Gunung Ratu yang menjadi landscape desa Sidarejo berdiri dengan angkuh, seolah tak perduli sedikitpun pada penderitaan orang-orang yang hidup dibawah naungannya itu. Widuri terus berjalan hingga ia sampai di depan sebuah rumah permanen yang berdiri kokoh. Rumah bercat biru muda dengan halaman yang asri penuh bunga dan sebuah pohon mangga yang tumbuh di bagian sudutnya. Rumah itu nampak sepi, tak terlihat ada aktivitas manusia. Dengan langkah agak ragu Widuri mulai memasuki area rumah itu. Semenjak ia dan Minah tak satu sekolah lagi, ia nyaris tak pernah berkunjung ke rumah itu. Ada rasa segan datang menghampiri gadis ayu itu. Sesampainya di depan pintu rumah, Widuri terdiam, ia merasa malu karena sebenarnya ia punya maksud lain datang ke rumah itu. Ia bukan hanya sekedar ingin menemui teman masa kecilnya saja, tapi sebenarnya ada tujuan utama yang ingin ia capai. "Krekkk!!" Tiba-tiba pintu terbuka. Widuri kaget, tergagap ia saat menyadari sudah ada orang yang berdiri di ambang pintu. "Loh kok, ada orang toh?!" Orang yang membuka pintu juga sama kagetnya. Widuri jadi salah tingkah, wajahnya memerah menahan malu. Ia mundur beberapa langkah ke belakang. "Widuri?!" Orang itu rupanya mengenal Widuri. Widuri tersenyum tipis dengan raut wajah tegang. "Tumben?" Tanya orang itu lagi. "I-ya Wak!" Ucap Widuri sambil bergegas menyalami orang itu, Wak Ijah, si empunya rumah. Wak Ijah menatap Widuri dengan tatapan yang agak aneh, seperti orang yang curiga. Maklum saja, semenjak ayahnya sakit dan kemudian meninggal, keluarga kecil Widuri memang dikenal warga sebagai orang yang sangat kesusahan. Hutang mereka banyak, dan mereka sudah tak punya apa-apa, jadi setiap kali Widuri atau ibunya datang ke rumah orang, mereka kebanyakan mengira jika Widuri atau ibunya hendak meminjam uang pada mereka. Itulah sebabnya Wak Ijah menatap Widuri dengan tatapan yang aneh itu. Widuri juga sepertinya sudah paham dengan cara orang-orang menatap dirinya, itulah sebabnya ia harus segera mengklarifikasi agar Wak Ijah tak salah paham. "Maaf Wak, saya dengar Minah pulang?" Ujar Widuri. "Oh, itu, iya, dia pulang dua hari yang lalu " Wak Ijah merasa sedikit lega setelah mengetahui maksud kedatangan Widuri. "Em, apa kira-kira saya boleh ketemu dia?" Tanya Widuri penuh harap. "Oh..em, boleh!" Widuri senang bukan main mendengar izin dari Wak Ijah. Ia bergegas hendak mengayunkan kakinya, tapi tiba-tiba Wak Ijah menghentikan dirinya. "Tapi..ada apa kamu ingin ketemu dia?" Tanya Wak Ijah yang seolah belum hilang rasa curiganya pada Widuri. "Em, saya, saya hanya ingin tahu kabar Minah, saya, kan sudah lama sekali nggak ketemu dia" ucap Widuri polos. Wak Ijah manggut-manggut. "Ya sudah, ayo!" Wak Ijah yang akhirnya mengizinkan Widuri untuk bertemu Minah. ### Widuri berdecak kagum di dalam hati saat ia sudah masuk kedalam rumah Wak Ijah. Isi rumah itu sungguh diluar dugaan Widuri. Rumah itu sangat indah, lantainya terbuat dari keramik yang nampaknya mahal, di ruang tamu mata Widuri langsung disambut dengan satu set sofa kayu jati berwarna cokelat tua yang terlihat mewah, ada juga lemari kaca dengan berbagai hiasan keramik yang cantik. Ruang tamu itu juga sudah dilengkapi dengan pendingin udara, sehingga saat Widuri masuk ia langsung disambut dengan hawa yang sejuk dan nyaman. Nampaknya Minah benar-benar sudah jadi orang yang sukses di kota. Buktinya kini keluarganya sudah bisa membangun rumah mereka jadi bak istana. Padahal Widuri ingat pada zaman dahulu kondisi rumah Wak Ijah tak jauh berbeda dari rumahnya. Mereka juga tak memiliki kebun dan hanya hidup dengan menjadi buruh serabutan di kebun milik orang. "Widuri?!" Lamunan Widuri buyar seketika saat tiba-tiba terdengar suara seorang wanita menegur dirinya. Mata Widuri yang sejak tadi terus beredar mengelilingi seisi ruang tamu itu, kini langsung meloncat pada sosok yang menegur dirinya. Mata Widuri melotot, ia terperangah saat melihat pada orang yang menegur dirinya. Nampak seorang wanita muda dengan tubuh semok, kulit putih, rambut berwarna pirang, dan riasan wajah yang tebal. Tak lupa pakaian seksi yang hanya menutupi sedikit saja bagian dari tubuhnya itu. Wanita itu tersenyum tipis menyambut Widuri yang bengong, tak percaya menyaksikan apa yang ada di hadapan matanya itu. "Mi-nah?!" Seloroh Widuri, tak percaya jika wanita bahenol yang ada tak jauh darinya itu adalah Minah, sahabatnya waktu kecil. "Iya, ini gue, Minah!" Ujar wanita itu sambil menghambur kearah Widuri dan tanpa bicara lagi, ia langsung mendekap erat tubuh Widuri. Widuri terdiam, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya merasa senang, karena ternyata Minah masih seperti yang dulu, ia tetap ramah dan juga bersahaja. ###"Bawa dia ke dalam!" suara direktur Willi terdengar tegas.Bos Reno tersenyum tipis tapi dalam."E, ada apa i-ni?!!" Widuri bingung dan takut saat kedua orang pria kekar itu menarik tangannya."Diam!!" hardik mereka sinis."Lepaskan aku!!" pekik Widuri yang tahu jika ia sedang dalam masalah."Hai cantik, bukankah kau ingin cari pekerjaan, disinilah tempat kerjamu yang baru, aku yakin kau akan suka" seloroh bos Reno saat Widuri melintas dihadapannya."Tolong saya tuan! saya nggak mau berada disini, saya ingin kembali ke kampung saja" rengek Widuri dengan air mata yang terurai, memohon belas kasihan pada orang-orang yang sebenarnya ia tahu tak ada satupun yang akan perduli. "Urusan kita saat ini sudah selesai Reno, ksi cepat pergi! dan ingat, kompensasi yang kau beri ini hanya bersifat sementara, jika waktunya tiba, aku tetap akan menagih janji mu itu!""Baik direktur, aku berjanji aku pasti akan penuhi kewajiban ku secepatnya" "Dan terima kasih atas kebijaksanaan direktur" pungkas bo
"Gimana Direktur? apa anda tertarik dengan tawaran saya?" tanya bos Reno setengah berbisik.Direktur Willi diam, ia hanya menarik nafas lirih namun begitu dalam.Suasana hening sejenak, direktur Willi masih terus menelanjangi diri Widuri dengan kedua bola matanya yang memicing. Sedang Widuri merasa begitu gusar, jantungnya berdegup kencang, keringat dingin membasahi tubuh yang dingin diterpa udara dari AC yang terus menyala di dalam ruangan itu. Kaki jenjangnya yang mulai lunglai menopang tubuhnya, kini perlahan mundur, tidak teratur, tapi cukup pasti, ia mencoba untuk menjauh, menghindari marabahaya yang kini sedang mengintai."Tahan dia!!" tiba-tiba direktur Willi berteriak, dan seketika itu juga dua orang bodyguard yang sejak tadi berdiri siaga di tempat itu langsung bereaksi. Dengan sigap mereka segera menangkap Widuri, mereka memegangi tangan Widuri.Widuri tergagap, panik dan takut.Bos Reno tersenyum puas melihat apa yang terjadi. Rencana liciknya berjalan dengan sukses."Lepas
Mata bos Reno liar menapaki setiap kata yang tertulis di atas beberapa lembar kertas putih. Tangannya mulai basah oleh keringat, Widuri yang berdiri di sampingnya miruk dengan ekor matanya, ia dapat melihat ada ketakutan di wajah pria itu. Ia tak tahu apa gerangan yang membuat bos Reno begitu gusar, Widuri tak paham, tapi apapun itu yang jelas itu sudah sanggup membuat nyali bos Reno ciut. "Direktur, i-ni nggak serius, kan?" tanya bos Reno setelah selesai membaca semua isi dari tulisan itu. Direktur Willi menyeringai sambil menghembuskan lagi rokok elektriknya sehingga asap yang duet dengan aroma tajam segera menjadi penguasa di ruangan itu. "Kau pikir aku ini bocah ingusan yang masih suka main-main, hah?! dasar konyol!" umpat direktur Willi. "Bu-kan begitu Direktur, maksudku adalah, semua ini bukankah masih bisa kita bicarakan baik-baik?" rayu bos Reno dengan senyum palsu, berusaha untuk menjilat kebaikan dari direktur Willi. "Apa lagi yang harus dibicarakan Reno?! kesabaran ku
"Ingat, jangan bicara apapun!""Jika kau berani melawan, aku tak akan segan untuk menghabisi mu detik ini juga!" ancam bos Reno pada Widuri, Widuri bergidik, ngeri, tak sanggup membayangkan derita apalagi gang sedang menanti dirinya.Ia hanya diam dengan jantung yang terus berdetak kencang, sangat kencang bahkan. Rasanya ia ingin sekali berteriak dan meminta tolong tapi sepertinya ucapan bos Reno bukanlah isapan jempol belaka. Widuri sudah membuktikan betapa pria tua itu adalah seorang monster, ia sanggup melakukan apapun demi mencapai tujuannya. Widuri harusnya merasa sedikit lega, ia bisa lolos dari cengkeraman bos Reno beberapa saat lalu, meski sekali lagi, ini mungkin hanyalah kebebasan yang sesaat, sementara saja."Tap!tap!tap!!" terdengar suara langkah yang begitu teratur hingga nyaris terdengar seperti ketukan irama nada yang mengalun lembut tapi dingin.Mara Widuri bergegas menyambut derap suara itu, penasaran ia untuk segera tahu siapa gerangan pemilik langkah nan tegas tapi
Widuri tak tahu hendak dibawa kemana lagi kali ini, ia sudah lelah untuk terus menerka dan mengira pada takdir apa yang sedang menguasai ia saat ini. Kedua kakinya yang sedikit pincang karena melepuh akibat tak terbiasa memakai sepatu, membuat ia tak bisa leluasa melangkah. Ia sejujurnya merasa begitu letih, ia ingin istirahat, berbaring di tempat tidur dengan selimut hangat dan cahaya lampu temaram. Tapi, di malam-malam yang gelap dan dingin ini ia malah masih berseliweran tak tentu arah dan tujuan, hanya mengikuti seseorang yang tak ia kenal yang entah akan kemana membawa tubuhnya yang tak berdaya itu Bos Reno membawa serta Widuri naik mobil yang dikemudikan oleh anak buah direktur Willi. Hari kian malam, hawa dingin dan suasana gelap saling berlomba menguasai setiap jengkal jalan yang Widuri lalui. Dari tempat yang sepi, kini sudah berpindah ke tempat yang ramai, suara bising dari kenalpot kendaraan saling bersahutan satu sama lain, seperti kicauan burung-burung di kala pagi, riuh
"Kampret! siapa yang berani menggangu gue!! sepertinya jalang itu udah bosen hidup!!" "Cihh!!" umpat bos Reno sambil melepaskan cengkraman tangannya dari tubuh Widuri, ia beranjak cepat dengan langkah pongah dan mulut yang tak berhenti melontarkan kata-kata kotor dan kasar. Widuri membuang nafas, ia merasa sedikit lega, setidaknya ia tak lagi berada dalam Kungkungan pria kasar itu, dan dengan buru-buru ia segera berlari menuju pada tasnya yang masih tergeletak di sudut ruangan, tangan Widuri yang masih gemetar berusaha membuka tas itu, dan dengan cepat ia meraih sesuatu dari dalam tas itu. "Srett!!" sehelai dress berwarna putih dengan motif bunga-bunga yang ia dapatkan. Dan tanpa berpikir panjang, ketika ia menyadari bahwa saat ini bos Reno sedang lengah, Widuri bergegas mengenakan baju tersebut. Ia sungguh merasa jijik dengan penampilannya sejak pergi dari apartemen Minah tadi. Ia juga langsung meraih lagi tasnya, berjaga-jaga jika saja ada kesempatan baik untuk dirinya bisa







