Se connecter"Apa yang kau inginkan?!" tanya Zeka, ia masih berdiri menghadap pintu yang hanya tinggal sejengkal Saha jaraknya dari tempat ia berada. "Tap! tap! tap!" langkah kaki yang dialasi sandal kulit bermerek terdengar mendekat dengan ketukan irama yang teratur namun terdengar jengah. "puffff!!" hembusan nafas yang berat menjadi penanda terhentinya nada irama dari langkah itu. "Kau bisa bawa gadis ini pergi jika kau mau, tapi sebagai gantinya, kau harus kembalikan uang yang sudah aku keluarkan untuk dia" ujar direktur Willi, pelan, tanpa suara lantang, tanpa teriakan, tapi cukup mampu membuat nyali Zeka sedikit ciut. Bukan takut pada direktur Willi, tapi lebih kepada makna yang tersirat dari negoisasi yang sedang ditawarkan. Ini bukan saja tentang uang tebusan, tapi ada hal rumit yang sedang menanti jika Zeka enggan memenuhi tuntutan kakak iparnya itu. "Kenapa aku harus menebus sesuatu yang tidak akan aku gunakan?" protes Zeka. "Heh, kau pikir kau bisa ikut campur semua urusanku karena
"Tuan tolong saya!" Widuri menangkupkan tangannya, memohon belas kasihan Zeka, orang asing yang sama sekali tak ia kenal. "Hei jalang! kau pikir dengan siapa kau sedang bicara, hah?! apa kau pikir dia akan sudi mendengar perkataan konyol mu itu?! sudahlah, kau lebih baik diam! setelah urusan kita selesai kau akan terima uangmu!" oceh direktur Willi yang terlihat kian panik. "Ti-dak tuan! saya mohon tolong saya!" Widuri menggeleng, ia terus meratap sambil berharap Zeka akan peka terhadap ucapannya, bahwa sungguh saat ini ia sedang butuh bantuan. Nasibnya sedang di ujung tanduk, dan tak tahu lagi apakah akan ada kesempatan lagi setelah Zeka, sepertinya tidak. "Dasar kau..!" direktur Willi mengangkat tangan, hendak memukul Widuri yang duduk bersimpuh sambil terus memohon pada Zeka. "Kakak!!" suasana Zeka lantang menggema, membuat direktur Willi urung mengayunkan tangannya. Wajahnya tegang menahan amarah yang begitu besar, amarah yang tak bisa sepenuhnya ia lampiaskan pada Widuri.
"Sial!" umpat Zeka, tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Willi yang licik itu selalu menggunakan Stela sebagai katu As untuk membuat Zeka tak berkutik hingga akan selalu menuruti kemauannya.Zeka diam, dengan raut wajah marah yang tertahan, ia memutar badannya, menghadap ke arah pintu, sepertinya hendak pergi.Widuri terhenyak, panik. Sedari tadi rupanya ia diam-diam memperhatikan perdebatan kedua pria itu. Ia tak mengenal mereka sama sekali, tapi jika dilihat sekilas, Zeka sepertinya orang baik, itu menurut pendapat pribadi Widuri. Entahlah, mungkin karena beberapa hari ini ia hanya bertemu dengan orang-orang yang jahat, sehingga mungkin kini ia mulai berhalusinasi dan menganggap ada orang baik yang akan perduli pada dirinya pada nasibnya."Tu-an! tunggu..!!" suasana Widuri yang serak terdengar lirih, ia sebenarnya sudah berteriak cukup kencang, hanya saja akibat terlalu sering menangis, teriakan itu lebih terdengar seperti ratapan, lirih dan menyayat.Langkah Zeka terhenti, sedang Wi
"Mau mat* ni orang! sialan! berani-beraninya ganggu gue!!" umpat direktur Willi sambil membuka pintu."Krekkkk!!" daun pintu berderit lirih."Lu dah bosen hid..??!!" kalimat yang terlontar dari mulut direktur Willi seketika terhenti. Seperti mobil yang nyaris menabrak sesuatu di jalan, langsung di rem dengan cepat dan dalam.Jantung pria itu seketika berhenti berdetak dan seolah raga dan nyawanya tak lagi menyatu, ia terlalu kaget hingga untuk sejurus tak ada yang bisa ia perbuat selain hanya bengong dengan mata melotot dan mulut menganga.Di depan pintu yang terbuka sebagian itu nampak berdiri seorang pria, masih muda, usianya baru dua puluh tujuh tahun. Perawakannya tinggi dengan kulit bersih dan tubuh yang cukup kekar. Wajah pria itu tampan, sangat tampan mungkin. Proporsi fitur wajahnya begitu tepat, nyaris sempurna. Bibir merah, hidung mancung, dan kedua mata yang menyorot tajam seperti selalu mengintimidasi lawan bicaranya.Dengan setelan jas hitam yang rapi pria itu menatap dir
Widuri terdiam, terlalu banyak fakta mengejutkan sekaligus menakutkan yang ia dapatkan hanya dalam hitungan hari saja. Pertama, fakta bahwa kesuksesan yang selama ini Minah raih, ternyata semua itu bukan dari hasil kerja kerasnya, bukan karena ia sukses besar dengan pekerjaannya di kota, maksudnya, pekerjaan sungguhan seperti yang selayaknya orang lakukan. Minah berdusta tentang itu. Apapun yang saat ini ia miliki semua itu ternyata ia dapatkan melalui jalan kotor, Minah menghalalkan segala cara agar bisa meraih pundi uang sebanyak-banyaknya, demi menuruti nafsunya semata. Fakta kedua, Widuri sudah ditipu mentah-mentah oleh Minah. Tak ada pekerjaan sebagai asisten pribadi dengan gaji yang besar dan bahkan bisa di minta di awal, tak ada.Tak ada pekerjaan apapun untuk Widuri, semua itu hanyalah tipu muslihat Minah semata. Minah menjebak Widuri agar masuk ke dalam permainannya yang menjijikkan. Dan bodohnya, Widuri yang polos itu dengan begitu mudahnya mempercayai kata-kata manis d
"Bawa dia ke dalam!" suara direktur Willi terdengar tegas.Bos Reno tersenyum tipis tapi dalam."E, ada apa i-ni?!!" Widuri bingung dan takut saat kedua orang pria kekar itu menarik tangannya."Diam!!" hardik mereka sinis."Lepaskan aku!!" pekik Widuri yang tahu jika ia sedang dalam masalah."Hai cantik, bukankah kau ingin cari pekerjaan, disinilah tempat kerjamu yang baru, aku yakin kau akan suka" seloroh bos Reno saat Widuri melintas dihadapannya."Tolong saya tuan! saya nggak mau berada disini, saya ingin kembali ke kampung saja" rengek Widuri dengan air mata yang terurai, memohon belas kasihan pada orang-orang yang sebenarnya ia tahu tak ada satupun yang akan perduli. "Urusan kita saat ini sudah selesai Reno, ksi cepat pergi! dan ingat, kompensasi yang kau beri ini hanya bersifat sementara, jika waktunya tiba, aku tetap akan menagih janji mu itu!""Baik direktur, aku berjanji aku pasti akan penuhi kewajiban ku secepatnya" "Dan terima kasih atas kebijaksanaan direktur" pungkas bo







