LOGINMobil yang dikendarai Ariyan memasuki halaman rumah. Sedangkan di dalam rumah sana Zelena dan Jeandra sudah menunggu. Pintu terbuka. Sosok Aira melangkah masuk dengan aura yang benar-benar berbeda. Zelena sedikit terpaku. Putrinya bukan lagi gadis remaja yang ia kirim ke Brazil empat belas tahun yang lalu. Aira kini adalah wanita dewasa yang memesona, dengan tatapan mata yang seolah bisa membaca setiap pikiran mereka. "Kakak..." Zelena memberi senyum lalu memeluk sang putri, merasakan parfum mahal yang asing dari tubuh wanita itu. "Selamat datang di rumah, Sayang. Mama sama Papa kangen kamu,” ucapnya tulus. "Makasih, Ma. Aku juga kangen sama semua orang di sini," jawab Aira singkat. Ia membalas pelukan Zelena, lalu pindah pada Jeandra. "Papa, apa kabar?" Jeandra membalas pelukan Aira sekenanya karena ia tahu anak gadisnya itu sudah dewasa. “Kabar baik. Gimana penerbangannya?” “Lancar, Pa. Nggak ada masalah.” “Syukurlah.” Zelena merasa ada yang kurang. Ia tidak melihat cal
Sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata betapa hancurnya hati Zivanya menyaksikan adegan mesra laki-laki yang dicintainya dengan perempuan lain di depan matanya sendiri.Ia mengusap matanya yang bertelaga sebelum bulir-bulir bening itu jatuh menuruni pipinya.“Ariyan,” panggilnya sambil menyentuh punggung lelaki itu, yang membuat Ariyan segera tersadar dan mengurai pagutan bibirnya dari Aira.“Eh, ada Zivanya.” Aira yang merespons. “Maaf ya, Ziva. Habisnya Ariyan terlalu kangen sama kakaknya,” lanjut Aira dengan nada bicara yang ringan, seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah candaan hangat antar keluarga. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.Ariyan memutar tubuh. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Ia malah menatap Zivana dengan pandangan yang asing, seolah perempuan di depannya hanyalah orang asing yang kebetulan lewat, bukan tunangannya.“Aku nggak bisa ngantar kamu pulang. Aku panggilin taksi,” ucapnya pada Zivanya.Zivanya menggeleng. Ia butuh penj
Pasca kejadian hari itu, Ariyan tidak pernah bertingkah lagi. Ia menjadi anak yang sangat penurut dan tekun dalam studinya.Setelah tamat SMU, Ariyan melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Padahal tadinya Jeandra dan Zelena tidak keberatan jika anak itu ingin kuliah di luar negeri. Zelena tidak ingin mengekang, apalagi untuk pendidikan Ariyan. Tapi entah mengapa sang putra satu-satunya memilih Indonesia. Sangat berbeda dengan teman-teman seangkatannya.Tanpa ada yang mengarahkan, Ariyan mengambil jurusan teknik sipil, sama seperti Jeandra. Di sela-sela jadwal kuliahnya, Ariyan mulai belajar dari Jeandra cara mengelola perusahaan. Kalau ada waktu luang ia akan ikut dengan Jeandra ke lokasi proyek, bertemu klien, atau sekadar ikut mendampingi Jeandra dalam rapat-rapat strategis di kantor pusat. Bagi Jeandra, melihat Ariyan yang begitu bersemangat mendalami dunia konstruksi adalah kebanggaan luar biasa. Ia melihat replika dirinya yang lebih muda, namun d
Ariyan menyambar ponsel Zelena dengan cepat. Ia segera menekan nomor Aira dan menghubungi melalui panggilan video. Wajahnya masih merah karena amarah yang tersisa. Cukup lama baru Aira menjawab dengan muka mengantuk karena di sana masih dini hari.“Ariyan? Kenapa nelpon jam segini?”"Kak, Mama udah di sini. Ini lagi sama aku. Sekarang batalkan kuliah S3-nya. Pulang ke Indonesia sekarang. Mama udah setuju. Nggak ada yang bisa maksa-maksa Kakak lagi!" ucap Ariyan dengan nada mendesak. Zelena hanya bisa mendengarkan dengan perasaan sedih. Kata-kata tajam Ariyan, tuduhan anak itu tentang kopi dan tangannya yang menggebrak meja masih terngiang dengan jelas di telinga Zelena. Ia menunggu kalimat kepulangan dari Aira yang akan semakin menghancurkan hatinya.Namun, di layar ponsel, ekspresi Aira tidak tampak bahagia. Ia malah terlihat tenang, bahkan sedikit menyesal."Ari... tunggu dulu," suara Aira terdengar lembut, sangat kontras dengan teriakan Ariyan sebelumnya."Tunggu apa lagi, Ka
Malam itu Aira tidak bisa tidur. Pikirannya tidak jauh-jauh dari Ariyan. Keesokan harinya setelah membeli handphone baru ia langsung menghubungi adiknya itu.Ariyan awalnya tidak mau menjawab karena masih kecewa. Tapi setelah Aira mengirim pesan permohonan maaf yang menjelaskan kondisinya, barulah Ariyan mau menerima panggilan darinya.“Kangen kamu, Ariyan,” ucap Aira dengan suara dan ekspresi penuh kerinduan. Ariyan hanya diam memandangi Aira di layar.“Masih marah ya sama aku?”Ariyan tetap belum membuka mulut.“Maaf deh, maaf. Aku rencananya, kan, mau kasih surprise. Mana kutahu kalau itu handphone bakalan rusak.”“Kapan kamu pulang?” Mendengar pertanyaan dingin nan menusuk dari Ariyan, Aira menarik napas panjang. Wajahnya berubah sedih."Itu dia masalahnya. Mama ngelarang aku pulang."Dahi Ariyan berkerut dalam. "Maksudnya? Bukannya kamu udah wisuda?”“Udah, tapi Mama maksa aku lanjut S3 di sini.”“Apa? Maksa? Mama udah gila ya?” kaget Ariyan tidak percaya.“Mungkin.” Aira men
“Ariyan mana, Ma?” Itu yang pertama kali ditanyakan Aira saat berjumpa dengan Zelena dan Jeandra, bukan kabar orang tuanya.“Ari nggak bisa ikut, Kak. Paspornya rusak kena kopi. Lagian Zivanya juga lagi sakit.”Aira merasa sangat kecewa setelah mengetahui Ariyan tidak ikut. Padahal ia sangat merindukan adiknya itu. Terlebih lagi beberapa hari belakangan mereka putus komunikasi akibat ponselnya yang rusak.Namun, yang membuatnya sakit hati adalah karena alasan Zivanya sakit. Ia memang sudah tahu tentang perjodohan keduanya dari Ariyan. Dan bagi Aira, perjodohan itu hanya perjodohan ecek-ecek akibat euforia Jeandra dan Abi yang bersahabat dekat. Tapi tetap saja Aira merasa cemburu.Dulu, rasa sayang Aira pada Ariyan murni sebagai rasa sayang kakak pada adiknya. Namun, saat mereka bertemu setelah empat tahun berpisah, dan melihat Ariyan tumbuh menjadi pemuda gagah dan tinggi, Aira tidak sanggup lagi mengendalikan perasaannya. Ia tidak bisa melihat Ariyan sebagai adiknya yang baru berumur
Zelena membeku sesaat. Walau masih baru, tapi ia mengenali mereka bahkan tanpa harus menatap terlalu lama.Sandra bersandar di pintu toilet dengan kedua tangan terlipat di dada, ekspresinya dingin dan sakit hati. Di dekat wastafel berdiri Dania, tubuhnya tegak, sorot matanya tajam dan penuh rasa ti
Nayaka sudah menunggu di ruang tamu apartemen Zelena. Mereka akan berangkat kerja bersama pagi ini. Padahal sebelumnya Zelena sudah mengatakan pada pria itu agar pergi duluan. Zelena bisa berangkat sendiri menggunakan taksi."Kenapa harus pakai taksi kalau ada aku?" Itu yang dikatakan Nayaka tadi.
Nayaka menutup pintu apartemen Zelena lalu melepas sepatu. Zelena akhirnya bisa bernapas lega. Mereka pulang lebih awal sebelum makan siang selesai. Nayaka langsung menarik Zelena ke wastafel dan membuka kran.Air mengalir mengenai kulit Zelena. Rasa perih berubah sedikit lega.Nayaka tidak menjau
Mobil yang dikendarai Marcel berhenti di depan rumah berarsitektur Mediterania. Rumah Jeandra. Rumah yang selama tiga tahun ini menjadi tempat tinggal Zelena. Rumah tempat cintanya yang bertepuk sebelah tangan tumbuh semakin dalam.Zelena melayangkan pandangannya keluar. Halaman rumah tampak kosong







