Masuk“Keguguran?”
Aku membekap mulutku dan air mataku jatuh. Aku merasa kehilangan tanpa sempat memiliki. “Dan Anda hampir kehabisan darah karena tidak segera dibawah ke rumah sakit. Kalau …” “Terima kasih, Dokter.” Nick mendekatiku. “Sekarang, biarkan aku mengurus tunanganku.” Dokter Peterson meninggalkan kami dan Grace melangkah masuk. Menutup dan mengunci pintu. Aku tidak diberi kesempatan untuk menangis, Grace mengabaikan keberadaanku dan bicara pada Nick. “Itu bukan anakmu, kan?” Aku diam, sekarang tak ada lagi dinding untuk menyembunyikan pengkhianatan mereka. “Tentu saja bukan. Aku tidak pernah tidur dengan Lilith. Aku bahkan tidak pernah menciumnya tanpa ijin darimu.” Mataku terpejam. Menarik napas dan tarikan kuat di kepala mengejutkanku terlalu cepat. Mataku terbuka dan melihat wajah penuh ketegangan Nick. Tatapan pria itu membara, hingga warnanya nyaris sama seperti bara api. “Katakan itu bukan anakku, Lilith. Kau tahu aku tidak pernah menidurimu.” “Kau melakukannya. Di hari jadi kita dua bulan yang lalu. Setelah Grace memberitahu kita kehamilannya.” Wajah Nick membeku tapi Grace tertawa. “Ah, itu.” Grace mengangguk. “Jadi kau mengatakan yang sejujurnya,” ucap Grace pada Nick. “Malam itu aku memasukkan sesuatu ke minumannya dan meninggalkannya di kamar hotel.” “A-apa?” Aku tak punya tenaga lagi untuk terkejut. Sudah kehabisan emosi menghadapi pengkhianatan dua orang yang paling kupercaya dengan seluruh hidupku. Tidak ada tempat untuk merasakan sakit di sekujur tubuhku lagi. “Jadi kau sudah tahu semuanya.” Nick menarik lenganku hingga jatuh dari ranjang. Mengabaikan rintihanku. “Kita tak perlu membuang waktu untuk meluruskan kesalah pahaman ini, kan?” Grace menamparku. “Ini untuk mengkhianati Nick. Dan pembatalan pernikahan?” “Kita sudah berjalan sejauh ini, bagaimana mungkin kau akan menghancurkan rencana kami?” Nick menyentakkan kepalaku ke samping, membentur sudut meja dengan kekuatan yang tak dikira-kira. Aku mengerang, hanya untuk mendapatkan injakan di tangan kiri. “Kau pikir bisa meninggalkan kami begitu saja. Kita sahabat dan saudari selamanya. Ingat?” Aku tertawa. “Kau tertawa?” geram Nick. Mendongakkan kepalaku hingga leherku serasa akan patah. “Lakukanlah apa pun yang kalian inginkan. Agar aku tak menyesali apa pun,” lirihku. Mengabaikan perih di ujung bibirku. Tamparan Grace kembali mendarat di wajahku. Rasa panas menjalar di seluruh permukaan wajahku. Tapi aku tak akan membiarkan mereka membuatku kembali meneteskan air mata. Deringan ponsel di nakas terdengar. Nick mengambil sebelum tanganku yang lemah mampu bergerak. Lalu menjawab, “K-kakek?” Nick membekap mulutku dan Grace menahan kedua tanganku. “Lilith masih tidur. Saya tidak ingin mengganggunya.” Aku melihat raut Nick yang membeku. “Harus? Sepertinya dia sedang tidak enak badan.” Sekali lagi Nick mendengarkan dan tampak terpaksa ketika menjawab, “Baiklah, kami akan ke kantor siang ini.” Panggilan berakhir dan Nick melempar ponselku ke lantai. Melepaskan tangan dari mulut. Menangkap kepalaku dan berbisik. “Kita tidak akan membatalkan pernikahan. Aku sudah menghapus pesan singkat yang belum dibaca kakekmu.” Aku menggeram. “Atau …” Nick melemparkan pandangan ke arah Grace. Yang langsung menunjukkan gambar-gambar di ponsel. “Kau tahu apa ini?” Mataku menyipit, memastikan pandanganku dengan cermat dan tidak pernah ingat pernah berpose seliar itu di depan kamera. Secara sengaja maupun tidak. Tetapi yang ditunjukkan Grace kemudian adalah videoku dan seorang pria. Di tepi kolam renang dengan pose yang … “Kejadiannya tidak seperti itu.” “Ya, dimulai dan diakhiri di detik yang tepat untuk membuat orang salah paham.” “Kau akan memerasku dengan kebohongan? Setidaknya cari kelemahanku yang lain, Nick. Apakah sesulit itu?” Tamparan Grace mendarat di pipiku. Kepalaku berdengung. Menyentakkan tangan Nick dan berdiri. Aku bisa berdiri, bernapas dan sudah memutuskan tidak akan meratapi kebusukan Nick dan Grace lebih banyak lagi. Tanganku menyentuh ujung bibirku. Bersumpah akan membuat mereka membayar setiap tetes darahku. Wajah Nick dan Grace campuran antara pucat dan merah padam. Entah bagaimana bisa terlihat seperti itu. Tetapi kali ini aku yang salah bicara. Mereka jelas sangat tahu kelemahanku. Setelah berteman sepuluh tahun, kami saling mengenal luar dan dalam. “Kakekmu?” seringai Nick kembali. Aku melihat wajah asli mereka untuk pertama kalinya. Penuh keserakahan dan kebencian yang tak lagi terbungkus rapi di depanku. “Panggil dokter,” perintah Nick pada Grace. “Dia harus pulang sekarang juga.” *** “Tuan Nick sudah menunggu di depan. Dan …” Aku menoleh, menatap keraguan Haida saat memasang anting terakhirku. Menatap polesan make upku yang sempurna. Menutupi luka di kening dan lecet di bibir. “Apa lagi?” “Nona Grace baru saja menghubungi arsitek dan desain interior untuk merombak …” “Tak perlu dilanjutkan.” Aku mengambil tas dan berjalan keluar. Jadi sekarang mereka terang-terangan akan menempati rumahku? Aku menyeberangi lorong dengan pintu-pintu kamar pelayan. Satu-satunya tempat yang tak mungkin dijadikan tempat untuk memadu kasih Grace dan Nick. “Aku tidak suka semua warna yang ada di rumah ini. Vas, lukisan, lampu hias dan semua perabotnya. Tidak boleh ada satu pun jejaknya di sini. Bahkan di gelas ataupun sendok.” “Kau bebas melakukan apa pun, Grace.” “Tapi apa kau harus menikah dengannya?” Tangan Grace bergelayut di leher Nick, memberikan bibir untuk lumatan yang lama. Nick menoleh, menatap kedatanganku. Tepat sebelum aku ingin muntah. Nick bahkan tak pernah menciumku sepanas itu. Demi menjaga kehormatanku, katanya. Kehormatan yang sudah dihancurkan oleh Grace. Dan anakku? Tanganku menyentuh perut. Aku menelan pahit yang menambah lubang di hatiku. “Baiklah, kau boleh menikahinya tetapi tidak ada ciuman.” Nick mengangguk. “Apa pun, sayangku.” “Dan aku yang akan memilih tempat, gaun, dan cincinnya.” “Kau sudah melakukannya.” Aku tidak menunjukkan reaksi apa pun yang ditunggu Grace. *** “Kau yang memaksa kami bertindak sekasar ini, Lilith. Untuk kebaikan yang kau berikan pada kami, kami sangat tahu berbalas budi.” “Dengan menusukku dari belakang.” “Sebelum bertemu denganmu, Grace adalah kekasihku. Jadi kaulah orang ketiga dalam hubungan kami dan kami sudah sangat baik hati membiarkanmu menjadi istri sahku.” “Kalau aku tidak mendengar pembicaraan kalian tadi malam, apakah kau akan membiarkanku merawat anakmu dan Grace untuk menjadi penerusku.” “Darah Blackwood adalah investasi jangka panjang yang tidak akan merugi. Jangan tersinggung.” Aku hanya tersenyum tipis. “Atau setidaknya sampai aku berhasil membangun namaku sendiri.” Aku melirik ke samping, pada jemari Nick yang memain-mainkan cincin pertunangan kami. Pilihan Grace. Hanya perlu berpikir jernih dan tanpa kecerdasan tinggi untuk menebak apa yang akan dilakukan Nick. Menghancurkan Blackwood dan membangun kerajaan bisnis atas nama pria itu sendiri? Sekarang aku tahu apa yang kuhadapi. “Menurutmu, kalau aku berhasil menghancurkan Blackwood. Berapa banyak Blackstone akan membayarku?” Blackstone Group. Tak hanya menjadi saingan bisnis di pasar global. Secara pribadi, Blackstone Group dan Blackwood Group adalah musuh bebuyutan. Permusuhan kedua keturunan mengalir di nadi kami. Turun temurun, berlangsung lama dan tanpa sebab yang jelas. “Membayar kepalamu?” Aku tersenyum tipis. “Melampaui segala harga.” Senyum Nick membeku, tatapannya menajam. “Kita sudah sampai.” Aku membuka pintu dan menolak sentuhan apa pun yang ditawarkan oleh Nick. Sampai di ruang pertemuan, para direksi sudah mengelilingi meja besar dan kami datang di saat yang tepat. Kakek sudah berdiri di podium. “Anda datang di saat yang tepat, Nona.” Asisten kepercayaan kakek, Kael membukakan pintu untukku dan Nick. Aku masuk, sekali lagi mengabaikan uluran tangan Nick. “Lilith Elysia Blackwood.” Tangan Zack terulur, menyambut kedatanganku bersama tepuk tangan riuh yang bergema di setiap sudut. “Dan calon cucu menantuku, kalian semua sudah mengenalnya. Nick Vance.” Tepuk tangan terdengar lebih bersemangat. “Tidak lagi.” Suaraku menciptakan keheningan yang tiba-tiba. Dan aku sadar semua orang langsung memberikan perhatian penuhnya padaku. “Aku membatalkan pernikahan kami.”Aku menurunkan ponselku dan menekan tombol merah. Mempertahankan pandangan kami yang saling mengunci.“Aku tak ingin mengakuinya, tapi sepertinya …”“Jangan katakan apa pun.” Kata-kata itu meluncur begitu saja. Penuh keyakinan dan memang itulah yang harus kuucapkan. Untuk apa pun yang akan dikatakan Lucien.Lucien mendengkus. Berjalan masuk dan berhenti di belakang sofa panjang. Menyandarkan tubuhnya di sana dengan kedua lengan tersilang di depan dada. Posisinya menghadapku, sehingga jarak di antara kami membuatku bisa melihat dengan jelas seluruh permukaan wajahnya.Aku hampir tidak pernah bisa membaca dengan baik ekspresi Lucien. Bahkan beberapa saat yang lalu. Tidak pernah, sampai saat ini. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum mencemooh karena aku punya keberanian untuk memerintahnya. “Kau bilang apa?”“Aku tahu apa yang akan kau katakan, tapi aku tidak akan mendengarnya.”“Kau pikir itu akan menghentikanku untuk mengatakannya?”“Dan kau pikir aku akan mendengarnya meskipun k
“Lepaskan dia.” Kedua tangan Lucien mengepal di sisi tubuhnya. Napasku tercekik oleh tekanan lengan Emmit yang semakin mengencang. Menyeret tubuhku mundur.“Atau apa anak sialan?” Emmit menjambak rambutku hingga wajahku terdongak. “Blackwood. Blackstone. River. Lucien.” Pria itu tertawa, kali ini lebih menyeramkan. “Dan sekarang kau membawa anak itu ke dunia seolah semua ini layak diwariskan? Anak ini sama sialannya denganmu.”“Sekali kau menyentuhnya, aku akan membuatmu membayar mahal …” Ada jeda sejenak. Bibir Lucien tak bergerak saat menyebut Emmit dengan panggilan. “Kakak?”“Lepaskan aku!” Aku berusaha meronta. Tetapi Emmit jelas lebih kuat dan badannya lebih besar dariku. Menarikku ke arah balkon kecil di sisi ruang rawat. Lucien sudah akan menerjang ke arah kami, tetapi seketika terhenti saat Emmit berhasil memungut pisau di lantai dan menempelkannya di leherku.Tubuhnya yang tampak menegang, berhenti diujung ranjang River. Emmit membuka pintu kaca dan jantungku terasa akan mel
“Emmit bicara dengan Daniel?” Aku mengulang pertanyaanku dan kali ini dengan nada yang sedikit mendesak.“Kalaupun ayahku bicara dengan Daniel, apa urusannya denganmu, Blackwood?”Kepalaku menggeleng pelan. Ponsel dalam genggamanku berdering, bersamaan dengan dering ponsel di tangan Sophia. Sophia langsung menjawab panggilan tersebut.Aku mengamati perubahan wajah Sophia, yang kini sepucat Amy. “Apa maksudmu suamiku kabur?”“Apa?” Amy membelalak.Sophia turun dari tepi ranjang. “Jangan berbohong. Bagaimana mungkin orang bisa memalsukan serangan jantungnya? Suamiku memang …” Kalimat Sophia terhenti dan aku melihat tangannya yang gemetar. “Aku tidak tahu apa pun tentang rencana ini, Freya.”Sophia kembali mendengarkan sejenak. Lalu mengakhiri panggilan. “Aku akan ke sana sekarang dan bicara dengan petugas yang menjaganya.”“Ada apa?” Amy turun dari ranjang pasien. Setengah terhuyung dan berpegangan pada tiang infus. “Ayah kabur?”Sophia mengangguk. Memegang pundak Amy. “Kembali ke tempa
Setelah konferensi pers, tentu saja pekerjaan baru saja dimulai. Lucien dan Lukas membicarakan tentang mengalihkan perhatian dengan pengumuman proyek baru dan inovasi perusahaan. Ditambah dengan keberhasilan proyekku, semua tindakan tersebut cukup untuk mengembalikan kepercayaan pasar.Namun itu hanya masalah pekerjaan yang akan kami tangani. Lucien dengan Blackstone, sementara aku dan Lukas kembali fokus pada Blackwood Group. Masalah lainnya tentu saja masih ada.Mobil Lucien berhenti saat lampu depan menyorot mobil merah muda yang terparkir di depan pintu gerbang kediaman kakek. Sementara Amy sedang berhadapan dengan dua petugas yang berjaga, memaksa untuk masuk. Keributan tersebut terhenti, Amy berbalik dan menghampiri pintu depan mobil. Kemarahan di wajahnya semakin pekat saat kepalan tangannya menggedor kaca jendela.“Kau benar-benar keterlaluan, Lucien. Apa maksudnya kau seorang Blackwood?!” sembur suara Amy begitu Lucien menurunkan kaca jendelanya.“Bagaimana mungkin kau memboh
Setelah Lukas menutup pintu, hanya ada aku dan Lucien, yang masih berdiri di depan meja kerjaku. Kedua tangannya memegang sisi meja, punggung tampak menegang dan aku menghampirinya dengan langkah perlahan.“Ada hal lainnya yang kau cemaskan?” Kepala Lucien menoleh, aku menatapnya selama beberapa detik dan mencoba membaca kecemasan yang disembunyikan dengan baik. Tetapi bukan berarti aku tidak bisa merasakannya badai di dalamnya.Lucien berpaling, menegakkan punggungnya dan menatap dinding kaca di belakang kursiku. Pemandangan seluruh kota di bawah langit biru yang cerah.“Apa yang terjadi dengan Daniel?”“Sudah ditangani.”Aku menggigit bibir bagian dalamku. Seharusnya itu menjadi jawaban yang memuaskanku juga, tetapi aku merasa ini bukan sekedar ditangani dengan baik. “Apakah dia bicara?”Lucien tak langsung menjawab. Pria itu menarik napas panjang dan dalam sebelum kemudian menatapku lagi. Tangannya terulur, merangkum sisi wajahku. Ibu jarinya mengelus pipiku dengan lembut. Sekilas
Lucien berjalan masuk seolah tidak ada yang terjadi. Penuh kepercayaan diri dan tak tersentuh seperti biasanya. Jas hitamnya tampak rapi. Serapi rambutnya yang sedikit panjang dan disisir ke belakang. Wajahnya tenang. Terlalu tenang seperti biasa. Aku berdiri dan berputar menyambut kedatangannya. Baru mnenyadari buket bunga yang ada di tangan kanannya. Bunga mawar merah dan hitam, tergenggam rapi membuatku terpanah. Kedua wanira itu berpadu dengan indah.“Sepertinya,” katanya pelan, “aku datang di waktu yang sangat tepat.”Tanganku mengambil buket tersebut dan tersenyum lebar ketika membaca kertas kecil yang ditulis tangan oleh Lucien sendiri. ‘Selamat untuk langkah barumu. Suamimu.’Hidungku tidak bisa menolah keinginan untuk sedikit menunduk dan mencium aroma bunga tersebut. Harumnya lembut dan kuat di saat bersamaan. Mawar hitam? Keningku mengernyit, bertanya apa artinya. Namun aku tetap mengucapkan, “Terima kasih.”Lucien membalas dengan senyum tipis dan tatapan hangatnya. Barula
“Wanita gila!” teriak Nick yang ditahan kedua anak buah Lucien.Aku melangkah mundur, menatap kobaran api yang mulai meninggi. Melahap apa pun yang tersentuh.“Tasku, bajuku, sepatuku, perhiasanku,” ratap Grace. Air matanya jatuh berhamburan di wajahnya. Rambut berantakan wanita itu menempel di pip
Aku tidak bisa menemukan foto ibu kandung Lucien di mana pun. Di rumah utama Blackstone maupun di rumah Lucien. Bahkan tidak mendapatkan namanya.“Mungkinkah beliau anak dari kakak Emmit Blackstone yang sudah meninggal.”“Emmit punya seorang kakak?”Kael mengangguk. “Meninggal dalam kecelakaan pesa
Emmit Blackstone tak punya pilihan untuk mengakui keberadaanku. Meja makan besar sudah dipenuhi semua anggota keluarga Blackstone. “Dia tidak seharusnya ada di sini.” River langsung menemukan keberadaanku di samping Lucien. “Ayah sudah memberi persetujuan.” Lucien melirik Emmit yang duduk di sebe
“Aku yang akan menangani proyeknya.”“Ayahmu cukup berpengaruh di antara para elit, Lucien. Kau tidak bisa …”“Mereka hanya memikirkan keuntungan dan aku akan memberikan mereka lebih dari yang didapatkan darinya.”Aku menutup pintu dan suara perdebatan yang diselimuti ketegangan tersebut menyambutk







