تسجيل الدخولBab 217: Ramalan LullabyValerian masih memegangi tubuh Lullaby yang terlihat pucat."Lulla...""Ayo duduk dulu."Ia membawanya menjauh dari lantai dansa menuju sebuah sofa di sisi aula.Valerian mengambil segelas air dari meja terdekat."Minum dulu."Lullaby meneguk air. Namun tangannya masih gemetar hingga gelas itu bergetar pelan. Suara musik terasa sangat jauh. Seperti ada lapisan kaca antara dirinya dan dunia. Dan di balik lapisan itu... ia masih mendengar ledakan.Ia meneguk beberapa kali.Valerian duduk di sampingnya."Napas pelan."Lullaby menarik napas panjang.Beberapa detik kemudian, wajahnya sedikit membaik.Valerian menatapnya serius."Sekarang...""Ceritakan apa yang barusan kau lihat."Lullaby menundukkan kepala."Aku melihat aula ini.""Awalnya semuanya seperti sekarang.""Para bangsawan berdansa.""Musik masih terdengar.""Kemudian..."Matanya kembali bergetar."Tiba-tiba...""BOOM!""Ledakan besar menghancurkan aula.""Pilar-pilar runtuh.""Kaca jendela pecah.""Api
Bab 216: Tarian yang Salah OrangMusik dansa masih mengalun di aula.Para bangsawan bergerak berpasangan di atas lantai marmer.Namun perhatian Seraphina justru tertuju pada satu pasangan.Bima dan Elena.Mereka sedang berdansa di tengah aula.Bima tersenyum.Elena juga tersenyum kecil.Seraphina menggenggam kipas kecilnya lebih erat.Dadanya terasa sesak.Kenapa aku masih memikirkan mereka...?Ia mencoba mengalihkan pandangan.Namun matanya kembali tertuju kepada Bima.Dan ingatan lama kembali muncul.Beberapa waktu sebelumnya...Di Colosseum.Seraphina berdiri di balik pilar.Matanya terpaku pada Bima.Di hadapannya, Elena baru saja menyerahkan sesuatu kepada Bima.Sapu tangan rajutan.Bima menerimanya dengan senyum bahagia.Kemudian menyimpannya di dekat dadanya.Seraphina membeku."..."Dadanya terasa sakit.Ia menggigit bibir.Air mata mulai memenuhi matanya.Jadi... selama ini...Bima telah memilih Elena.Seraphina tidak sanggup melihat lebih lama.Ia berbalik.Air mata langsung
Bab 215: Gadis yang DinantiPesta kembali berlangsung.Musik memenuhi aula. Para bangsawan mulai berbincang dan menikmati hidangan seolah kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi.Namun di salah satu sisi aula...Kael masih berdiri sendirian.Tatapannya terus tertuju ke arah pintu masuk.Tangannya menggenggam sesuatu erat.Sapu tangan kecil yang terbuat dari benang rajutan.Sapu tangan milik Seraphina.Atau setidaknya...begitulah yang selama ini Kael yakini.Ia menatapnya sambil tersenyum kecil."Dia pasti datang."Kael merapikan kerah bajunya."Dia tidak mungkin melewatkan pesta ulang tahun Putri Amanda."Sapu tangan yang menurutnya diberikan Seraphina sebelum turnamen.Padahal kenyataannya...benda itu hanya jatuh ketika Seraphina tidak sengaja menabraknya.Namun Kael tidak pernah tahu hal itu.Baginya, sapu tan
Bab 214: KeenakanSuasana aula yang sebelumnya meriah mendadak berubah kacau.Musik berhenti.Para bangsawan berdiri dari kursi mereka.Beberapa pelayan berlari menuju seorang pria yang tadi berteriak keras."Ada apa?!""Apakah dia keracunan?!""Jangan sentuh makanannya!""Segera panggil petugas kerajaan!"Kabar tentang seorang bangsawan yang tiba-tiba berteriak mulai menyebar ke seluruh aula.Amanda yang masih berada di dekat lantai dansa langsung menoleh."Apa yang terjadi?"Jack ikut melihat ke arah kerumunan."Jangan-jangan..."Raka yang berdiri tidak jauh dari sana juga langsung memasang wajah serius.Tatapannya tertuju kepada pria tersebut.Tubuhnya terlihat gemetar.Wajahnya memerah.Tangannya memegangi leher.Raka langsung teringat kejadian di dapur.Jangan-jangan ada racun lain?Di sisi lain aula...Helios justru terlihat tenang.Sudut bibirnya perlahan terangkat.Ia mengangkat satu tangan sedikit.Sebuah kode.Beberapa petugas kerajaan yang berjaga di sekitar aula langsung m
Bab 213: Pesta BerlanjutMusik biola dan cello kembali memenuhi aula.Setelah tarian pertama Raka dan Veronika berakhir, suasana pesta justru semakin meriah.Para bangsawan mulai memenuhi lantai dansa.Beberapa pasangan bergerak anggun mengikuti irama musik.Sementara yang lainnya memilih duduk sambil menikmati hidangan dari Momo Cafe.Raka kembali ke sisi aula.Ia baru saja mengambil segelas Sunlight Lemonade ketika—"Raka."Raka menoleh.Bima berdiri di hadapannya.Namun bukan Raka yang diajaknya.Bima justru berjalan melewati Raka menuju Elena.Ia mengulurkan tangannya."Elena."Elena berkedip."Ya?""Mau berdansa?"Wajah Elena langsung memerah."Di sini?"Bima tersenyum."Memangnya di mana lagi?"Elena menatap tangan Bima beberapa detik.Kemudian perlahan menyambutnya."Baik."Bima langsung tersenyum lebar.Mereka melangkah ke lantai dansa.Bima menggenggam tangan Elena.Ia tersenyum puas."Akhirnya aku bisa memegang tanganmu setelah kita jadian."Elena langsung menatapnya tajam.
Bab 212: Satu TarianMusik biola dan cello mengalun memenuhi aula.Para bangsawan mulai melangkah ke lantai dansa bersama pasangan masing-masing.Raka menghela napas lega."Akhirnya selesai juga bagian formalnya."Ia hendak mundur ke sisi aula—Namun seseorang berhenti tepat di hadapannya."Tuan Raka."Raka mengangkat wajah.Veronika berdiri di sana.Gaun hitamnya menjuntai hingga lantai marmer. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini terurai sebagian di bahu kirinya.Ia tersenyum."Bolehkah aku meminta satu tarian?"Raka membeku."......""Aku tidak bisa berdansa."Veronika berkedip."Tidak bisa?"Raka menggaruk belakang kepalanya."Sama sekali."Veronika tertawa kecil."Tuan Raka bisa memasak hidangan dari bahan Rank S.""Tapi tidak bisa berdansa?"Raka menghela napas.
Bab 7: playpen Cahaya keemasan dan biru safir meledak dari tubuh Bima dan Elena saat partikel cahaya Nightmare Behemoth yang hancur terserap ke dalam inti mana mereka. Di dunia Aethelgard, mengalahkan monster Rank S bukan sekadar kemenangan, melainkan lonjakan evolusi yang masif bagi para pe
Bab 6: dungeonSuasana di Akademi Aethelgard yang biasanya tenang mendadak pecah oleh raungan memekakkan telinga yang seolah merobek langit. Di tengah lapangan upacara, sebuah retakan dimensi berwarna hitam pekat muncul, memuntahkan hawa dingin yang mencekam Dungeon Break Rank S."Se
Bab 9: disiplin Sambil lanjut menyapu dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang akademi, Raka merasakan saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda lembut. Jendela sistem muncul secara otomatis, memuntahkan rentetan notifikasi yang mem
Bab 8: keadilanDebu pertempuran telah mengendap, namun atmosfer di Aula Utama Akademi Aethelgard justru memuncak hingga ke titik didih. Di tengah ruangan yang megah itu, Raka berdiri dengan tenang meskipun kedua tangannya terborgol sihir penekan mana yang berpendar ungu gelap. Di sampingnya,







