Se connecterKakak, pagi ini 1 bab dulu. Bab lainnya aku update siang ya, makasih banyak.
Di rumah sakit.Langit mulai menggelap.Kiran terus memandang ke luar jendela. Kerutan wajahnya memperlihatkan kegelisahan yang dirasakannya.Apakah Surya baik-baik saja?Pikirannya penuh dengan bayang-bayang wajah ketakutan ayahnya.“Makanlah dulu, Kiran.”Suara Alina mengalihkan tatapan Kiran. Kiran memandang Alina yang sudah ada di sisi ranjangnya.Tatapan Kiran begitu sendu, matanya menyorot putus asa.“Apa dia memberi makan Ayah?” Ayahnya ditahan sejak siang tadi. Apakah Yessica peduli pada ayahnya meski benci pada Kiran?“Kiran, kamu tidak boleh berpikir seperti itu. Yang perlu kamu lakukan sekarang, kamu harus siapkan mental dan tenagamu. Jangan sampai saat berhadapan dengan Yessica, kamu lemah dan bahkan tak mampu melindungi dirimu sendiri.”Kiran terdiam mendengar ucapan Alina. Matanya merembes dan merah.“Sekarang makan dulu, kamu harus mengisi tenagamu.” Alina mengambil nampan di atas meja.Kiran hanya diam menatap pada Alina, sampai ibu dari kekasihnya ini mulai menyuapi
Panggilan itu berakhir.Menciptakan ketegangan yang merasuk dalam tubuh Kiran.Tatapan Kiran begitu sendu saat kembali tertuju pada Elvano.“Dia benar-benar ba ….” Kiran ingin sekali mengumpat, tetapi lirikan matanya lebih dulu tertuju pada Alina di sampingnya yang membuatnya menahan diri.“Luapkan saja, apa yang mau kamu katakan. Kata-kata apa yang ingin kamu sampaikan, tidak usah ditahan. Itu akan menyakiti dirimu sendiri.” Alina bicara sambil mengusap-usap punggung Kiran.Kiran canggung. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan pelan, mencoba tenang agar bisa mengontrol dirinya sendiri.“Sekarang bagaimana? Yessica memberiku waktu sampai tengah malam untuk datang.” Tatapan Kiran tertuju pada Theo.“Untuk meyakinkannya kalau kamu kabur dari El, datanglah dengan tetap memakai pakaian rumah sakit. Aku akan mempelajari lokasi rumahmu, dan menyusun rencana untuk bisa menyusupkan orang-orang di sekitar rumahmu, sebelum kamu datang ke sana.”Kiran mengangguk-angguk mendengar penjel
Kiran kembali duduk dengan benar setelah sedikit tenang.Luka jahitan di perut Kiran kembali berdarah, membuat dokter harus mengecek dan mengobati kembali perut Kiran.Kiran kini diam membaca pesan di ponsel Alina.Pesan dari nomor ayahnya yang ternyata dikirim oleh Yessica.Yang lebih menyakitkan untuknya, Kiran harus melihat ayahnya diikat dan ditutup mulutnya.Kenapa harus ayahnya yang Yessica jadikan sasaran?“Jadi, apa rencana kalian? Yessica menginginkanku, maka aku akan menemuinya.” Tatapan Kiran kini tertuju pada semua orang, secara bergantian.“Apa kamu kira, hanya kamu yang Yessica inginkan? Apa kamu mengira, dengan kedatanganmu, Yessica akan membiarkanmu pergi? Tidak akan sesimpel itu.” Elvano menatap cemas.Kedua pundak Kiran merosot, matanya menyorot sendu penuh kesedihan.“Lalu bagaimana? Kamu bilang akan menyelamatkan Ayah?” Bibir Kiran bergetar.Elvano mengembuskan napas pelan. Dia menoleh pada Theo.“Kami tidak akan mencegahmu menyelamatkan ayahmu. Tapi, melihat permi
Setelah perdebatan panjang dengan Alina dan Theo. Elvano masuk ke dalam kamar.Tatapan Elvano tertuju pada Kiran. Kekasihnya ini sedang menyantap hidangan yang Alina bawakan.“El.” Senyum Kiran diangkat lebar saat tatapannya tertuju pada sang kekasih. “Kemarilah, mamamu membawakan banyak makanan untukku, aku sampai bingung harus menghabiskan yang mana dulu.” Tatapan Kiran kembali tertuju ke makanan yang ada di atas overbed table.Senyum Elvano begitu kaku. Dia melangkah mendekat pada Kiran.“Makanlah, Mama khusus memasak itu untukmu.” Elvano duduk di tepian ranjang, tatapannya tak teralihkan dari Kiran.Senyum Kiran begitu lebar. Dia kembali memasukkan suapan ke mulutnya, memenuhi perutnya dengan makanan lezat yang Alina berikan.Elvano diam memperhatikan Kiran. Dia tidak ingin menghancurkan selera makan Kiran. Elvano memilih menunggu sampai kekasihnya ini menyelesaikan makan siangnya.Beberapa menit berlalu.Kiran berhasil menghabiskan beberapa masakan Alina.“Rasanya aku tak perlu l
Kening Elvano berkerut dalam. Ponsel di tangan sang mama kini dia ambil. Elvano memperhatikan apa yang ingin Alina sampaikan.Elvano membaca pesan teratas, pesan yang Kiran ketik untuk ayahnya.Sampai pandangannya turun ke deretan kalimat yang dikirim dari nomor Ayah Kiran.[Pantas aku sulit menghubungimu, ternyata kamu mengganti nomormu.][Bagaimana? Apa kamu baik-baik saja?][Aku ingin memberitahumu, aku sedang bersama Ayah tersayangmu.]Elvano tersentak.Dia menoleh pada Theo yang ada di sampingnya.Ternyata benar, tempat persembunyian yang aman untuk Yessica, adalah tempat yang tak pernah Elvano dan yang lain curigai.“Dia menyandera ayah Kiran.” Rahang Elvano mengetat melihat foto yang Yessica kirimkan.Surya diikat di kursi, mulutnya ditutup kain.Elvano kembali membaca pesan di bawahnya lagi.[Jika kamu menginginkan ayahmu. Pulanglah sendiri. Kalau aku melihatmu datang bersama orang lain, akan kupastikan hanya mayatnya yang bisa kamu lihat.]Elvano langsung menatap pada Alina s
Di rumah sakit.Alina menunggu perawat mengganti perban. Dia terus memperhatikan, memastikan jika Kiran mendapatkan pelayanan terbaik.“Sudah selesai, jahitannya masih basah, jadi usahakan agar jangan terlalu banyak bergerak.” Perawat memberi nasihat.Kiran mengangguk pelan. “Terima kasih, Sus.”Setelah perawat pergi.Alina mendekat ke ranjang Kiran.Perlahan Alina menurunkan satu persatu rantang dari susunannya.“Aku memasak sup iga, jadi kamu harus makan banyak agar bisa lekas sembuh.” Alina menoleh pada Kiran, Senyumnya sangat tulus untuk kekasih putranya ini.“Bibi harusnya tak perlu repot-repot.”“Apanya yang repot?” Alina menyambar ucapan Kiran dengan cepat. Sambil memberikan rantang berisi sup pada Kiran, Alina kembali berkata, “Sebentar lagi, kamu dan El juga mau nikah, kita akan jadi satu keluarga, jadi tidak ada yang namanya merepotkan.”Senyum Kiran terangkat canggung, walau senang mendapatkan calon mertua sebaik Alina.“Sudah, makan dulu supnya. Nanti keburu dingin.” Alina
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta
Keesokan harinya.Elvano memperhatikan Kiran yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.Elvano memperhatikan wajah Kiran yang lesu. “Ada apa, Ki? Apa ada masalah?”
Elvano tersentak mendengar semua omelan sang mama, apalagi kini Aksa juga melotot ke arahnya.Dia menarik napas dalam-dalam dan siap menjelaskan ke sang mama, tetapi sebelum bibirnya sukses bergerak, Elvano kembali mend







