LOGINKakak, keteteran bacanya, kah? Apa 4 bab sehari kebanyak buat Kakak sekalian? Drop komentar kalian, ya. Makasih
Setelah Mila pergi.Kiran kembali ke unit apartemen ayahnya.Dia berdiri di depan pintu. Kiran menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskan pelan.Setelah tenang, Kiran lantas masuk untuk menemui sang ayah.Ketika tiba di dalam, tatapan Kiran tertuju pada Surya yang sudah memandangnya.“Mila sudah pergi?” Surya memastikan.Kiran mengangguk. Dia ikut duduk di samping sang ayah.Surya mengembuskan napas pelan.“Ibumu dipenjara, apa ada hubungannya dengan alasan kamu menanyakan soal asal-usulmu?” Surya langsung menebak.Kiran mengangguk pelan. “Tapi Ayah jangan cemas.”Sambil mengusap punggung tangan sang ayah, Kiran kembali berkata, “Ibu tidak akan ditahan lama, Yah. Dia dimasukkan ke kantor polisi, hanya untuk membuat efek jera saja. Paling tidak sampai sebulan Ibu sudah bebas.”Surya mengembuskan napas pelan.“Ayah marah karena aku membiarkan Ibu ditahan?” Kiran memastikan.Dia melihat wajah lelah sang ayah.“Tidak, Ayah tidak marah. Jika memang ibumu bersalah, memang sudah sepatutny
Kiran bergeming mendengar ayahnya marah. Sejauh dalam ingatannya, ayahnya adalah orang penyabar yang jarang sekali membentak, apalagi pada anak-anaknya.“Ayah sekarang juga membentakku demi Kiran?”Tatapan Kiran kini tertuju pada Mila yang masih saja tidak mau berhenti.Tidak ingin membuat ayahnya sakit lagi jika terlalu emosi. Kiran mencengkram lengan Mila.“Ayah di sini saja.” Kiran memperingatkan sebelum menarik paksa Mila menjauh dari ayahnya.Mila tersentak.Dia berusaha memberontak, tetapi cengkraman Kiran terlalu kuat.“Lepaskan, kamu tidak berhak menjauhkanku dari Ayah.”Begitu sampai di depan pintu lift, Kiran melepas kasar lengan Mila.“Lebih baik kamu pergi dari sini dan berhenti mengganggu Ayah.” Suara Kiran penuh dengan penekanan.“Kamu berani mengusirku?! Sekarang kamu benar-benar menjadi pembangkang!”Kiran menatap datar.“Aku memang pembangkang sejak dulu.” Setelah mendengkus kecil. Kiran kembali bicara. “Jika bukan karena Ayah yang sakit, aku tidak akan diam saja men
Sore hari.Kiran baru saja membuka sabuk pengaman saat mobil Elvano di depan lobby apartemen.“Aku keluar dulu.”Sebelum tangannya meraih pintu, Kiran kembali menoleh karena lengannya ditahan Elvano.“Ada apa lagi?” Kiran menatap pada Elvano yang masih memegang lengannya.“Besok, apa pun yang kamu lakukan dan di mana kamu berada, jangan lupa memberitahuku.”Satu sudut alis Kiran tertarik ke atas.Apa permintaan Elvano tidak terlalu berlebihan?Tetapi, Kiran juga tidak keberatan.“Iya, kamu jangan cemas.” Senyum Kiran terangkat kecil.“Kalau begitu aku keluar dulu.” Kiran kembali pamit.Namun, sebelum wajahnya teralihkan dari Elvano, Kiran dibuat terkejut saat Elvano meraih tengkuknya.Bibir mereka kini saling bersentuhan.Kiran tersentak.Mata Kiran terbuka ketika melihat Elvano memejamkan mata saat menautkan bibir mereka.Beberapa detik. Elvano akhirnya melepas Kiran.“Aku keluar dulu.” Kiran melipat bibir, setelahnya dia keluar dari mobil Elvano.Masih berdiri di depan lobby, tangan
Telunjuk Kiran mengetuk-ngetuk meja, sesekali dia menoleh ke koridor yang terhubung dengan lift.Kenapa Elvano belum kembali?Apa Elvano mendapat masalah besar karena dia?Kiran menggigit bibir bawahnya. Dia tidak bisa tenang.Sampai suara langkah yang familiar di telinganya, mengalihkan pandangan Kiran ke arah koridor.Meski tegang, tetapi masih ada senyum kecil di wajahnya ketika melihat kedatangan Elvano.“Kiran, ke ruanganku.”Mendengar suara tegas Elvano, senyum Kiran sempat memudar meskipun akhirnya kembali terangkat lembut.“Baik, Pak.” Kiran mengangguk.Kiran meninggalkan mejanya, dia bergegas menyusul Elvano yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang kerja.Kiran menutup pintu dengan rapat, sebelum langkahnya yang pasti tertuju ke meja kerja Elvano.“Bagaimana rapatnya tadi? Mereka tidak mempersulitmu, ‘kan?” Kiran menatap cemas.Tatapan Elvano berbalut rasa bersalah. “Duduklah dulu.”Kiran menyadari perbedaan sikap Elvano. Dia mengikuti instruksi Elvano dengan segera duduk d
Semua tatapan kini tertuju pada Malik.Bukti transfer, nomor yang menghubungi Widya, dan kesaksian Widya yang direkam oleh Elvano, membuka dengan jelas kasus kegaduhan kemarin.Malik tertunduk. Jemarinya saling meremas di atas meja. “Apa ada yang mau Anda jelaskan soal bukti-bukti ini, Pak Malik?”Suara tegas Arlo sukses mengangkat pandangan Malik ke arah Arlo.Malik melirik pada Elvano yang seperti mengejeknya. Rahangnya mengeras.“Anda jangan bilang kalau semua bukti ini sudah dimanipulasi, Pak. Saya akan meminta petugas bank mengecek sumber dana itu, jika Anda mengelak.” Elvano menyeringai setelah berhasil menyudutkan Malik. Malik gelagapan. “Sepertinya perbuatan Anda sudah tidak bisa ditolerir lagi, Pak Malik.”Suara Arlo menarik semua atensi tertuju pada pria ini.“Sesuai peraturan perusahaan, mulai detik ini Anda dipecat secara tidak hormat dari RDJ Group. Dan, tanpa tunjangan juga uang pensiun.”Keputusan final Arlo membuat semua orang tertunduk.Sedang Malik menggeleng tak p
Keesokan harinya.Elvano duduk di belakang kemudi siap untuk pergi menjemput Kiran, saat ponsel yang ada di saku bagian dalam jasnya berdering.Elvano lebih dulu melihat siapa yang menghubunginya, begitu melihat nama Arlo terpampang di layar, jempolnya segera menggeser tombol hijau.“Ada apa sepagi ini menghubungiku?” Satu tangan Elvano memutar setir ketika tangan satunya memegang ponsel yang menyentuh lantai.Tiba-tiba kaki Elvano menginjak rem dalam-dalam, menghentikan mobilnya yang baru saja akan melaju, ketika mendengar apa yang baru saja Arlo sampaikan di seberang panggilan.“Baik, aku mengerti.”Setelah mengakhiri panggilan. Jemari Elvano mencengkram setir dengan erat, matanya menyorot tajam, dengkusan meluncur dari bibirnya.Elvano menyimpan kembali ponsel ke dalam saku jas, sebelum mengemudikan mobil meninggalkan rumah.Elvano lebih dulu menjemput Kiran di asrama, setelahnya mereka menuju perusahaan.“Siang ini ada rapat membahas soal kegaduhan kemarin di perusahaan.”Kiran te
Kiran diam dengan tatapan tertuju ke pesan yang dikirimnya pada Elvano.Sudah dibaca, dan sekarang Kiran menunggu balasan.[Kamu belum baca kartunya? Itu hadiah buatmu.]Kiran mengembuskan napas pelan. Dia kembali mengetik pesan.[Aku tahu, tapi apa harus mengirim bunga ke kantor? Buket mawar merah
“Kerendahan hati?” Suara Elvano bernada dingin. “Apa keponakanmu memiliki kerendahan hati itu? Anda meminta orang lain untuk memberikan kerendahan hati mereka untuk keponakan Anda, tapi sayangnya tidak ada imbal balik atas apa yang tak pernah dia berikan. Harusnya Anda paham itu.”“Pak Malik. Selai
Kening Kiran berkerut dalam.“Apa? Aku tidak lupa apa-apa lagi.” Kiran menggeleng.Senyum Elvano tampak aneh di mata Kiran, sampai pria ini memiringkan kepala, mendekatkan pipi ke depan Kiran.Mata Kiran melebar. “Mau apa kamu?”Kiran hanya melihat senyum Elvano tanpa penjelasan, wajah Kiran panik
Kiran turun dari mobil yang berhenti di depan lobby perusahaan membawa satu kantong paper bag di tangan kirinya.Meskipun Kiran sudah menolak, tetapi Alina memaksa agar sopir mengantar Kiran kembali ke perusahaan.Kiran mengembuskan napas kasar sambil memandang paper bag berisi banyak kue itu. Dia







