ANMELDEN“Dasar wanita murahan!” teriak Ilham sembari melepaskan pakaian Annisa dengan kasar.Annisa memberontak. “Mas, hentikan!”Ilham terdiam mendengar Annisa yang kini sudah berani berteriak padanya. Selama ini, Annisa tidak pernah mengeluarkan suaranya setinggi ini.“Kau menuduhku sembarangan, Mas! Kau yang telah berselingkuh, mengapa kau menuduhku!” sambung Annisa kembali berteriak.Annisa mendorong tubuh Ilham dan segera merapikan kembali bajunya. “Kamu lupa, Mas. Malam sebelumnya kamu memaksaku melayanimu dengan kasar! Dan apa yang kamu lihat ini adalah hasil perbuatanmu!”Bahkan, kini Annisa tidak memberikan kesempatan kepada Ilham untuk menjawab. Karena sampai sekarang, Ilham masih terdiam, masih tidak percaya kalau Annisa begitu berani padanya.“Sepertinya, hubungan kita ini sudah tidak bisa lagi diselamatkan, Mas. Dan aku lelah, aku sudah capek berjuang sendiri. Sedangkan kamu? Kamu sibuk dengan selingkuhanmu, Mas.”Ilham tersentak. “Aku tidak selingkuh,” jawabnya cepat.“Apa kamu
Vita marah, ia melemparkan semua bantal yang ada di atas kasur sambil berteriak. “Apa? Kau berani mengatakan cerai di depanku?!”Begitulah Vita, disaat semuanya tidak sesuai dengan keinginannya ia akan mengamuk dan merusak semua barang yang ada di dekatnya.“Kenapa? Tidak ada yang salah, kan?” tanya Salman menatap Vita lekat.Salman sudah benar-benar lelah menghadapi Vita yang begitu temperament, semaunya sendiri dan selalu mau menang. Bahkan, ia tidak pernah mau mendengarkan orang lain.Vita sangat keras kepala, apalagi ia merasa kalau status keluarganya lebih tinggi daripada keluarga Salman. Pernikahan mereka juga terjadi karena waktu itu sebenarnya keluarga Salman membutuhkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan keluarga, dan kebetulan saat itu Vita yang usianya lebih tua lima tahun dari Salman belum menikah.Sehingga perjodohan itu terjadi, bahkan seperti perkawinan dua konglomerat. Dan memang, setelah mereka menikah kesulitan keluarga Salman teratasi. Tapi, tidak dengan h
“Begitu takutnya kau kalau aku mengganggu modelmu itu?” tanya Vita kepada Salman ketika mereka dalam perjalanan pulang ke rumah setelah menghadiri undangan makan malam dengan keluarga besar Vita di sebuah hotel.Salman tidak menoleh, ia fokus dengan jalanan di depannya.“Jangan mengusikku, kalau tidak mau terusik,” jawab Salman santai.Vita tersenyum. “Siapa dia?”Dua orang yang terikat janji pernikahan, tapi hingga setahun pernikahan hubungan keduanya tidak pernah damai, bahkan semakin lama keduanya terlihat seperti dua orang rival.“Untuk apa kamu bertanya hal yang sudah kamu ketahui?”“Maksudku model darimana? Kenapa tiba-tiba sekali ada model baru dan semuanya di handle sendiri olehmu. Bahkan, kau rela jadi fotografer untuknya. Padahal, selama ini kau tidak pernah seperti itu, biasanya siapapun modelnya selalu kau serahkan pada Bian.”Salman tidak menjawab.“Ditambah lagi, wanita itu hanya namanya saja tertulis bagian model di agensi. Tapi, tidak ada yang pernah melihat dia datang
“Apa yang kau inginkan, Vita?” tanya Salman. Nada suaranya berat, terdengar jelas kalau ia sedang menahan emosi.“Aku ingin kau pulang.”“Aku kerja.”“Aku sudah datang ke kantormu. Ada satu model yang kau handle sendiri, tanpa melibatkan tim, kebetulan model itu sekarang sedang naik daun karena kau mendongkraknya dengan sekuat tenaga. Apa kau pikir aku tidak tahu siapa? Namanya Annisa.”Salman menatap Annisa yang sedang berada di pelukannya. Tentu saja ia tidak terima kalau Vita mengusik Annisa.“Hanya makan malam, kan?”“Iya. Sesuai dengan perjanjian kita, saat berada di tanah air, harus akting yang baik. Apa susahnya?”“Baiklah, tunggu aku di rumah. Jam enam aku kesana.”Setelah mendengar jawaban dari Salman, Vita langsung mematikan sambungan telepon itu. Wanita itu benar-benar keras kepala dan semaunya.Sementara itu, Salman menghela napas berat dan kembali mengeratkan pelukannya pada Annisa. Tanpa kata-kata, keduanya seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk menenangkan pik
“Paman, apa gak sebaiknya kita pulang?” tanya Annisa.“Kenapa?” Salman tidak menoleh, matanya masih menatap gambar Annisa yang benar-benar membuatnya tergila-gila.“Aku gak enak sama Tante Vita.”Salman kali ini menoleh dan mematikan kameranya. “Dia bahkan tidak kenal dengan kamu. Jangan memikirkan orang yang bahkan tidak memikirkan kamu sedikitpun, Annisa.”“Tapi, apa yang kita lakukan ini salah.”“Aku tahu, tapi apa salahnya kita menemukan kebahagiaan diluar? Dan kita akan sama-sama menyelesaikan rumah tangga kita.”Annisa masih diam, tatapan matanya menerawang menatap ke bawah, embun pagi masih turun dan suasana disana terasa begitu sejuk.“Apakah ini di panen setiap hari, Paman?” tanya Annisa akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka.“Iya, tapi diatur aja tempatnya. Kamu mau lihat?”“Memangnya boleh?”“Boleh. Nanti aku bawa kamu ke bawah untuk melihat mereka panen secara langsung.”Annisa mengangguk pelan, rasanya disini benar-benar tenang. Ia membayangkan seandainya hidupnya bisa
“Aku akan memuaskanmu, Sayang,” bisik Salman yang kembali mencumbu setiap inci kulit Annisa seolah tidak ingin melewatkan sejengkalpun.Annisa memejamkan matanya, tangannya mengelus rambut Salman. Dan seketika, semua perlakuan kasar dan ucapan Ilham yang menyakitkan itu seolah menari di kepalanya.Rasa sakit dan kecewa melebur menjadi satu, dan kini ia merasa mungkin memang seharusnya ia mencari kebahagiaan diluar. Apa salahnya kalau ia menerima apa yang diberikan Salman, karena ia tidak mendapatkannya dari Ilham.Annisa membuka lebar kedua kakinya, memberikan akses kepada Salman untuk memberikan kenikmatan yang tidak pernah ia dapatkan dari Ilham.“Sayang, aku akan mulai ya,” ujar Salman sembari menyatukan kedua tubuh mereka.Gerakan lembut Salman perlahan kecepatannya bertambah dan hentakan demi hentakan itu membuat Annisa berkali-kali mendesah, tangannya mencengkram bahu Salman dengan erat, napasnya turun naik.Peluh membasahi tubuh keduanya, sekalipun kamar ini dilengkapi dengan p







