로그인"Kenapa kamu harus merasa malu, Nak? Umi malah sangat bersyukur akhirnya kamu punya pacar perempuan beneran dari keluarga baik-baik. Umi sempat takut kamu tidak normal gara-gara teman mainmu laki-laki semua di kampus," lanjut ibunya semakin menjadi-jadi meledek anak bungsunya."Sudah, Umi, kasihan Arka mukanya sudah mirip seperti kepiting rebus begitu," tegur Tuan Faisal terkekeh pelan melihat putranya menjadi bahan bulan-bulanan di meja makan.Wajah pemuda tampan keturunan Arab itu seketika berubah merah padam secara menyeluruh.Arka hanya bisa pasrah dijadikan target lelucon utama oleh ibu kandungnya sendiri di depan seluruh petinggi keluarga Hermawan.Obrolan hangat bernuansa kekeluargaan itu terus berlanjut selama hampir satu jam penuh di meja makan. Mereka membahas masa lalu Tuan Faisal bersama mendiang ayah, termasuk saling bertukar cerita lucu mengenai kerasnya persaingan bisnis kargo laut di era sembilan puluhan yang belum tersentuh teknologi digital.Menjelang pukul sepuluh m
Interaksi kecil kami berdua ini murni terjadi secara natural layaknya pasangan yang sedang dimabuk asmara. Pak Haji Kosim yang duduk di seberang meja hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku menggelitik kami barusan.Shella segera memperbaiki postur duduknya menjadi sangat anggun dan tegap. Calon Nyonya Hermawan ini mengambil alih kendali percakapan dengan ketenangan yang luar biasa memukau."Mengenai pertanyaan Nyonya barusan, kami dari pihak keluarga tentu merasa sangat terhormat mendengarnya," buka Shella merangkai kata dengan nada suara yang amat lembut."Alhamdulillah kalau pihak keluarga kalian menyambut baik niat saya. Arka ini memang butuh sosok perempuan cerdas untuk mengimbangi sifat keras kepalanya di rumah," sahut istri Tuan Faisal terlihat sangat antusias memajukan badannya."Namun, perihal masa depan hubungan Sora dan Arka, biarlah waktu yang perlahan menjawabnya nanti, Nyonya," jelas Shella memberikan batasan yang amat tegas."Maksud Nak Shella, mereka berdua masih te
"Tenang saja, Tuan Faisal. Saya sendiri yang akan membantu mengawasi pergaulan Arka di Jakarta selama dia menjalin hubungan dengan adik saya," ujarku memberikan jaminan keamanan kepada kolega bisnis ayahku tersebut."Kalau Tuan Muda Rafli yang memberikan jaminan, saya sedikit merasa lega. Tapi tetap saja, pendidikan harus tetap menjadi prioritas utama bagi kamu, Arka," ucap Tuan Faisal akhirnya mulai melunak.Istri Tuan Faisal tiba-tiba memperbaiki posisi duduknya dan menatap Shella dengan penuh minat. Sebagai seorang sosialita, dia sepertinya mulai menghitung potensi hubungan kekeluargaan yang mungkin terjadi di masa depan antara dua dinasti logistik besar ini."Adik bungsumu itu seperti apa kepribadiannya, Nak Shella? Apakah dia juga secantik dan secerdas dirimu?" tanya istri Tuan Faisal mulai mencairkan suasana dengan pertanyaan khas ibu-ibu."Adik kami, Sora, adalah mahasiswi yang sangat cerdas di bidang teknologi informasi, Nyonya. Dia memiliki karakter yang kuat namun tetap memi
Tepat sebelum aku sempat merespons fakta unik tersebut, kenop pintu kayu ruang VIP ini diputar paksa dari arah luar. Daun pintu terbuka lebar menghasilkan bunyi decit engsel yang lumayan kencang.Seorang pemuda melangkah masuk ke dalam ruangan dengan napas sedikit terburu-buru. Pemuda itu terlihat baru saja selesai membersihkan sisa oli di tangan dan mengganti pakaiannya dengan kemeja rapi yang sangat bersih.Aku dan Shella sontak menolehkan kepala kami secara bersamaan ke arah pintu masuk VIP tersebut.Pemuda itu adalah Arka. Mahasiswa teknik mesin sekaligus pacar dari Sora itu berdiri membeku di ambang pintu ruangan.Tatapan mata Arka langsung terkunci lurus membalas tatapan amat tajam dariku dan Shella secara bersamaan. Kami bertiga hanya terdiam kaku dan saling bertatapan intens di tengah ruangan megah tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.Aku bisa melihat jelas keringat dingin mulai membasahi pelipis mahasiswa teknik mesin tersebut saat menyadari siapa saja yang sedang du
"Benar sekali perkataan Pak Haji itu. Makanya saya sangat terpukul saat mendengar kabar kecelakaan yang menimpa beliau dulu. Saya sampai menyempatkan terbang ke Jakarta hanya untuk menghadiri acara pemakamannya," tambah Tuan Faisal menggelengkan kepala pelan dengan raut sedih.Aku dan Shella saling berpandangan sejenak mendengarkan pujian tulus tersebut. Reputasi emas mendiang ayahku nyatanya menembus batas negara hingga diakui oleh kolega bisnis internasional kelas atas."Saya berjanji akan menjaga nama baik dan prinsip jujur ayah saya itu selamanya, Tuan Faisal. Hermawan Group akan tetap menjadi mitra bisnis kargo laut paling tepercaya untuk perusahaan Anda," ucapku dengan nada suara yang sangat mantap dan penuh wibawa."Saya sangat memegang teguh janjimu itu, Rafli. Nanti kita harus menjadwalkan pertemuan khusus untuk membahas pembaruan kontrak logistik rute Timur Tengah," tawar Tuan Faisal menepuk punggung tanganku."Bicara soal janji, saya dengar dari Sanjaya kalau kalian berdua
Interior restoran ini didominasi oleh karpet tebal bermotif khas Arab dan lampu kristal kuning gantung yang memancarkan cahaya hangat.Kami berlima langsung mengambil posisi duduk mengelilingi meja kayu bundar tersebut. Shella duduk tepat di sebelah kananku sambil merapikan letak gaun biru dongkernya."Restoran ini nuansanya sangat nyaman dan tenang ya, Raf. Pilihan Pak Sanjaya memang selalu memiliki standar kelas atas," puji Shella membuka buku menu berlapis kulit asli."Beliau memang ahlinya mencari tempat makan enak yang jauh dari jangkauan awak media, Shell. Kamu mau pesan makanan apa malam ini?" tanyaku menunjuk deretan menu daging andalan."Aku mau pesan nasi briyani daging domba satu porsi saja. Perutku masih lumayan kenyang sehabis minum teh kamomil di kafe tadi sore," jawab Shella menutup buku menunya."Biar gue yang pesankan porsi raksasa untuk kita semua di meja ini. Kalian duduk manis saja menikmati hidangan spesial dari koki utamanya," potong Ko Ahiong melambaikan tangan
"Dengerin gue baik-baik, Rafli. Urusan kita malem ini belum selesai sama sekali. Gue masih mau nagih utang lo yang belum lunas!"Gadis itu melangkah maju mendekatiku lagi, mencengkeram kerah kaosku yang basah, dan menarik wajahku mendekat hingga hidung kami bersentuhan. "Besok malem, pas gue pulang
"Kenapa kamu liatin aku kayak gitu? Ada yang salah sama mukaku? Eh, apa bedakku luntur, ya?"Aku tersenyum tipis, senyum yang lebih berani dari biasanya. "Nggak ada yang salah, Non. Justru sempurna. Cuma mau mastiin aja kalau Nona nggak capek abis kerja seharian."Nona Shella tertegun sejenak mende
Sensasi gesekan tubuh Nona Claudia yang basah dan dingin di atas pangkuanku benar-benar menguji pertahanan akal sehatku hingga ke titik nadir.Kain bikini merah marun yang tipis dan basah itu seolah tidak ada gunanya sama sekali karena aku bisa merasakan tekstur dagingnya yang kenyal dan hangat men
Sesudah memutus sambungan telepon itu, kuletakkan kembali perangkat ponsel tersebut ke atas permukaan rata dasbor mobil. Rasa cemas mengenai hitungan kemungkinan terjadinya perampokan di tengah jalan layang ini benar-benar mengisi penuh isi kepalaku.Rombongan konvoi dua kendaraan kami memang sedan






