MasukDi luar lobi hotel mewah milik keluarganya, Novia hanya bisa pasrah setengah mati saat tangan dingin Matin tiba-tiba menarik pergelangannya untuk check-out secara terburu-buru. Kejadian di meja makan saat sarapan tadi pagi masih berputar hebat di kepalanya—bagaimana tidak, Bunda Nisya dengan tanpa dosanya mendadak menodong mereka berdua untuk langsung berangkat bulan madu malam itu juga, sementara Matin langsung ngeles mati-matian dengan alasan setumpuk pekerjaan penting di kantor.
"M-Mas Matin, pelan-pelan..." cicit Novia gugup, berusaha menyeimbangi langkah lebar suaminya yang juga berstatus sebagai bos tempatnya bekerja. Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat. Bukan cuma karena insiden subuh tadi yang membuat mukanya nyaris merah padam karena malu, tapi juga karena status baru mereka yang masih terasa begitu asing. Apalagi, Novia adalah sekretaris yang sejak dulu diam-diam sudah lama menyimpan rasa pada pria kaku di depannya itu. Berada dekat dengan Matin sebagai seorang istri, alih-alih hanya sebagai bawahan, membuatnya sering mendadak salah tingkah sendiri. Matin menoleh sekilas, memasang ekspresi datar andalannya. "Kalau kita nggak buru-buru kabur dari meja makan tadi, Bunda bisa beneran nyeret kita naik pesawat privat sekarang juga. Kamu mau hadapin Bunda?" Novia langsung menggeleng cepat, menciut seketika. "N-nggak mau, Mas... Eh, maksudnya, iya, benar kata Mas..." cicitnya salah tingkah, merutuki lidahnya sendiri yang mendadak kelu karena panik. Mobil yang mereka tumpangi langsung melaju membelah jalanan ibu kota menuju gedung pencakar langit tempat kantor Matin berada. Setibanya di basement, Matin kembali berjalan dengan langkah tegas, nyaris membuat Novia tertinggal di belakang jika ia tidak setengah berlari mengejarnya. Begitu masuk ke dalam lift privat CEO dan pintu tertutup rapat, suasana mendadak terasa jauh lebih intim. Ruang sempit itu seolah mengunci mereka berdua. Matin berbalik, menatap Novia lekat-lekat lalu memojokkannya secara perlahan ke dinding lift. Jarak yang terlalu dekat itu membuat Novia serta-merta menahan napas, bulu kuduknya meremang hebat. "Dengar, Novia," bisik Matin dengan suara baritonnya yang tenang namun mengintimidasi, tepat di dekat telinganya. "Saya tahu kita baru nikah, tapi seperti kata saya, kita harus tetap profesional. Apalagi kita punya misi penting. Di luar sana ada klien yang harus kita hadapi. Jadi, enyahkan pikiran bulan madu, simpan semua kecanggungan kamu, pasang ekspresi profesional," titah Matin tegas. Kalimat itu membuat dada Novia mencelos seketika. Kini ia paham, Matin memang tidak mau ada hubungan romantis di kantor. Diam-diam rasanya percuma menikah dengan crush masa lalu kalau pada akhirnya ia tetap harus cinta sendirian. Novia menelan ludah dengan susah payah, maniknya menunduk menatap kancing kemeja Matin karena tidak sanggup menatap sorot mata tajam pria itu. Pipinya sudah merona merah padam menahan grogi. "I-iya, Mas... Saya paham," jawabnya lirih, terdengar jauh lebih gugup dari yang ia inginkan. Melihat kecanggungan luar biasa di wajah istrinya, sudut bibir Matin sedikit tertarik membentuk seringai tipis—pemandangan langka yang sukses membuat jantung Novia nyaris copot dari tempatnya. "Bagus," bisik Matin rendah. "Dan ingat, kalau sampai kamu salah ngomong atau bikin kesalahan di depan klien..." Pria itu sengaja menggantung kalimatnya, membuat Novia semakin ciut. "...hukuman kamu bakal lanjut di rumah." Heh, maksudnya apa, sih? Rumah? Rumah siapa? batin Novia protes dalam hati, namun belum sempat ia mendebat, lift sudah terbuka lebar. Matin sudah melangkah mendahuluinya. Sebagai salah satu perusahaan terbesar, Armada Insan Corp memang menuntut standar kerja yang tinggi. Setelah lulus, Novia langsung diminta menjadi sekretaris pribadi Matin karena dikenal cekatan dan telaten. Terlebih lagi, statusnya sebagai adik Deva membuat Matin merasa lebih percaya. Namun, di tengah kesibukan melangkah di koridor lantai eksekutif, rasa penasaran Novia akhirnya meledak juga. Ia mempercepat langkahnya agar sejajar dengan sang bos. "Mas, sebentar," bisik Novia hati-hati. "Emang bener ya hari ini kita jadinya ketemu Pak Aryo? Bukannya di jadwal, beliau baru dijadwalkan datang minggu depan? Ada perubahan mendadak kah?" Matin melirik sekilas tanpa menghentikan langkahnya. "Sudahlah, kamu ikut saya saja. Jadwal bisa berubah sewaktu-waktu." Novia mengerucutkan bibirnya kesal. Sifat bos es batunya benar-benar tidak pernah libur! "Baik, Mas," jawabnya patuh di luar, meski dalam hati ia menggerutu bingung menghadapi jalan pikiran pria kaya itu. Tak berapa lama, mereka tiba di area depan ruang rapat utama. Di sana, seorang pria berpenampilan rapi sudah berdiri menunggu. Don, asisten kepercayaan sekaligus staf andalan di divisi lain, langsung melempar senyum lebar begitu melihat kedatangan mereka. "Pagi, Pak. Halo, Novia..." sapa Don ramah, matanya menatap Novia dengan binar usil. "Eh, makin cantik aja kamu pagi ini, Via. Bikin salah fokus." Mendengar godaan itu, rahang Matin langsung mengeras. Aura dingin yang tadinya sempat mereda mendadak menguar pekat memenuhi koridor. Matin menatap tajam ke arah Don, membuat asisten itu sedikit salah tingkah. "Don, di mana Pak Aryo? Katanya sudah datang," potong Matin dengan suara dingin yang menusuk. Don berdehem pelan, merasa suhu di sekitarnya mendadak drastis turun. "Ah, iya, Pak... Beliau sudah menunggu di dalam ruang meeting." Don kembali melirik Novia sekilas, berniat melanjutkan kalimatnya, "Mari Pak, saya antar—" "Tidak perlu. Kamu urus saja urusanmu yang lain. Kami bisa masuk sendiri," potong Matin cepat tanpa memberi kesempatan Don bernapas, lalu mengibaskan tangan menyuruh Don pergi lebih dulu. Begitu Don bergegas meninggalkan mereka karena ciut dengan sorot mata sang CEO, Matin tiba-tiba berbalik. Pria itu menghentikan langkah Novia dengan tatapan tajam dan serius. "Via," panggil Matin rendah. "Ingat baik-baik. Di kantor saya memang tidak bisa mengaku kalau kita suami istri. Tapi, secara agama dan hukum, kamu tetap istri saya." Novia terpaku, napasnya tertahan mendengar pengakuan blak-blakan itu. "Jadi, kalau ada yang menggoda kamu seperti Don tadi, jangan pernah membalas dengan senyuman ramah berlebihan seperti itu. Ingat itu." Setelah melontarkan titah mutlak tersebut, Matin langsung berbalik dan berjalan masuk ke ruang rapat, meninggalkan Novia yang berdiri mematung di tempatnya. Hah? Novia mengerjap-ngerjapkan matanya, otaknya mendadak konslet. Lah... kok bos es batu itu mendadak kelihatan cemburu?"Mas.""Hm?""Aku tahu pernikahan kita bukan sesuatu yang Mas rencanakan."Jari-jarinya yang semula santai perlahan menegang.Aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang."Aku juga tahu Mas menikahiku karena keadaan. Awalnya, aku pikir setelah semuanya berlalu, kita bisa menjalani kehidupan seperti pasangan suami istri pada umumnya."Aku tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegugupan."Ternyata, tinggal serumah dengan Mas lebih sulit daripada mengerjakan soal ujian.""Memangnya kamu sering mengerjakan ujian?"Aku mendongak.Astaga.Dari sekian banyak kalimat yang bisa keluar dari mulutnya, kenapa justru itu yang ia pilih?"Mas, aku sedang serius.""Saya juga.""Bagian mana yang serius?""Bagian kamu mengeluh."Aku memejamkan mata sebentar.Ya Allah, berikan aku kesabaran seluas samudra untuk menghadapi suami sendiri.Namun, ketika kembali menatapnya, aku tidak lagi menemukan keinginan untuk bercanda di wajahnya."Aku tidak meminta Mas mencintaiku," lanjutku. "Aku juga tidak memaks
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi istri Mas Matin, aku merasa benar-benar tidak mengenal pria yang tidur satu ranjang denganku.Bukan karena aku tidak tahu namanya, pekerjaannya, atau kebiasaannya yang selalu memasang wajah dingin. Aku tahu semua itu. Namun, ada bagian dari dirinya yang terasa begitu jauh, seolah-olah selama ini aku hanya mengenal seseorang yang sengaja ia ciptakan untuk menutupi siapa dirinya sebenarnya.Dan yang paling menggangguku adalah kenyataan bahwa pria itu sepertinya tidak pernah benar-benar menginginkan pernikahan kami.Aku teringat bagaimana pernikahan ini bermula.Melisa. Perempuan yang sebelumnya menjadi calon istri Mas Matin. Perselingkuhan perempuan itu terbongkar ketika persiapan pernikahan mereka sudah berjalan cukup jauh. Aku masih ingat bagaimana sahabat kakakku itu datang dengan wajah dingin, lalu mengatakan bahwa pernikahan harus tetap dilaksanakan.Aku pikir ia sedang bercanda.Siapa yang mau menikahi perempuan yang bahkan tidak dici
Aku masih berdiri mematung dalam dekapan Mas Matin ketika pria itu akhirnya melepaskan pelukannya. Ia melipat kertas ancaman tadi, lalu memasukkannya ke saku celana dengan gerakan cepat."Mas, kita harus lapor polisi, kan?" tanyaku hati-hati."Nanti."Jawabannya singkat. Ia kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas dan menghubungi seseorang."Raka, gue butuh bantuan lo."Aku mengamati wajahnya yang berubah serius. Tidak ada lagi sisa kecanggungan akibat kejadian di pesawat tadi. Pria yang berdiri di hadapanku sekarang terlihat seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa menghadapi situasi berbahaya."Cek CCTV kompleks dari satu jam terakhir. Ada mobil hitam masuk tanpa menyalakan lampu. Cari tahu siapa pemiliknya."Ia berhenti sejenak, mendengarkan jawaban dari seberang sana."Jangan bergerak sendiri. Kalau ada yang mencurigakan, hubungi gue. Jangan ambil tindakan sebelum gue datang."Setelah menutup telepon, Mas Matin memeriksa kunci jendela, kemudian berjalan menuju p
Suara pramugari yang terdengar lewat pengeras suara kabin sukses membuyarkan lamunan romantis kami. Sontak, aku menarik diri perlahan, merapikan letak kerudungku yang sedikit miring, sementara Mas Matin menegakkan kembali punggungnya. Meski wajahnya kembali memasang topeng dingin andalannya, aku sempat menangkap rona merah tipis di ujung telinganya.Perjalanan darat dari bandara menuju rumah terasa begitu senyap. Hujan telah reda, menyisakan jejak basah di sepanjang aspal kota. Namun, di dalam mobil, pikiranku sama sekali tidak tertuju pada jalanan yang lengang.“Dia tidak bohong, Via memang istri saya.”Kalimat itu, ditambah pelukan protektifnya saat turbulensi tadi, terus berputar di kepalaku bagaikan kaset rusak. Pria yang mengaku punya trauma dan tidak bisa menyentuh wanita itu justru dua kali melanggar batasnya sendiri—demi aku.Begitu tiba di rumah, suasana hening langsung menyambut. Mas Matin langsung pamit menuju ruang kerjanya dengan alasan ada urusan kantor yang belum selesa
Wanita bernama Helen itu seketika gelagapan. Wajahnya yang tadi berhias senyum genit nan percaya diri kini pias, merah padam menahan malu. Tanpa berani menatap kami lagi, ia buru-buru membuang muka, pura-pura sibuk membenarkan selimutnya dan menyandarkan kepala ke arah jendela. Syukurin! Makanya, jangan suka menilai buku dari sampulnya, apalagi berani menggoda suami orang.Namun, kemenanganku atas Helen menguap begitu saja, tergantikan oleh sensasi luar biasa yang kini memonopoli seluruh sarafku.Tangan Mas Matin masih menangkup sisi wajahku. Ibu jarinya yang sedikit kasar—jejak masa lalunya yang keras—tanpa sadar mengusap lembut tulang pipiku sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali, perlahan, seolah ada keengganan di sana.Aku menelan ludah, tubuhku kaku tak bisa digerakkan. Suhu pendingin kabin pesawat yang sedari tadi menusuk tulang mendadak tak terasa lagi, kalah telak oleh hawa panas yang menjalar cepat dari leher hingga ke kedua telingaku."Dia tidak bohong, Via memang
Bulan madu dengan crush. Mungkin itulah judul perjalananku kali ini. Sesudah pertemuan singkat kami dengan Pak Ando dan Bu Rini di rumah sederhana tadi, entah mengapa Mas Matin tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Lelaki itu seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri, merenungkan banyak hal—terutama setelah bayang-bayang masa lalunya sebagai seorang mantan gangster kembali berkelebat di kepalanya.Tak terasa setengah jam sudah pesawat kami mengudara, membelah langit pagi yang tampak kelabu dan tidak bersahabat. Hujan lebat mengguyur badan pesawat, membuat suasana di kabin terasa semakin sendu, semendung wajah Mas Matin yang duduk persis di sampingku. Sejak pertemuan tadi, ia hanya melemparkan pandang ke arah jendela yang tak menampilkan pemandangan indah apa pun.Aku melirik pergelangan tangan, mendapati sisa penerbangan yang masih cukup panjang. Rasanya amat menyiksa jika harus terjebak dalam keheningan canggung seperti ini. Mau mengajak bicara duluan pun rasanya agak ciut, seba







