Share

Bab 2

Author: Fiska Aimma
last update publish date: 2026-08-21 09:37:15

"Ha... hah? Sa-saya?" suaraku melengking. Rasanya pertanyaan Matin benar-benar bikin aku jantungan.

Bagaimana bisa dia menunjukku di tengah kekecauan ini? Ya iya sih, aku senang tapi ... kan?

"Ya, kamu? Ya itu juga kalau kamu mau," lanjut Matin, masih menatapku. Tak ada rasa dan kesan yang berarti dari nadanya tapi sialnya bikin bulu kudukku meremang.

"Sa-saya? Saya gak mungkin Mas. Jangan jadikan saya cadangan, saya merasa gak pantas," kataku menolak ragu karena terlalu syok si pria yang kuidamkan itu menunjukku. Rasanya jadi pengantin pengganti gak ada dalam kamus seorang fans sejati sepertiku. Aku ingin dicintai karena dia memilihku.

Aku berdiri, tergagap, mencari pintu keluar, tapi kakak iparku Sarah sudah berdiri di belakangku dengan tatapan penuh ancaman. "Dek kamu serius? Dek, Mbak tahu kamu suka sama dia. Kalau kamu nolak, kamu gak bakal dapat lagi idolamu loh, Dek."

Lah, dia tahu kalau aku suka Matin? Kok bisa?

"Iya Via, kamu mau, kan? Mas yakin Matin baik buat kamu," ulang Matin. Suaranya kali ini... lebih pelan, lebih hangat.

Aku tak bisa bicara. Bibirku membatu. Rasanya ini terlalu mengejutkan hingga membuatku tidak percaya.

Ya Allah gak sangka hidupku se-plot twist ini

"Via ... bagaimana? Apa kamu mau menggantika. Melisa?" tanya Matin kembali memanggil. Ada nada penekanan yang lembut yang berhasil membuatku seolah terbius.

Aku meremas tangan melihat sekeliling. Mungkin memang benar, bisa jadi ini salah satu jalan untuk menjadi istri Matin. Tapi, bukankah dia menikahiku karena terpaksa? Emang aku mau menerimanya?

"Dek, Mas tahu ini berat, tapi sebagai walimu, Mas sarankan terima permintaan Matin, lagi pula sekarang kamu sendirian, Mas gak bisa sering-sering jaga kamu. Kamu mau, kan, menerima permintaan Mas?" Mas Deva yang sejak tadi tampak membujuk terus menerus menatapku penuh permohonan dan itu sukses membuatku tak ada pilihan. Aku tahu. Aku hanyalah anak angkat, jadi sudah sepantasnya gak menyusahkan, apalagi ini permintaan kakak yang kuanggap bagaikan kakak kandung sendiri.

Dan pada akhirnya aku pun mengangguk dengan bermodal cinta dalam hati juga permintaan abang sendiri.

"Oke baiklah, saya mau," jawaku dengan suara yang bergetar hebat.

Bagaikan sulap, beberapa menit kemudian, aku duduk di depan penghulu, tangan gemetar, dada sesak, dan wajah Matin hanya sejengkal di sampingku.

Aku? Jadi pengantin?

Aku???

Dengan Matin? Ah, pasti ini bercanda! Bukannya aku tadi datang jadi tamu kok tiba-tiba jadi manten?

(***)

Jujur, pernikahan ini lebih mirip dengan pesugihan yang tiba-tiba muncul begitu saja, kayak keajaiban yang enggak bisa aku jelasin. Tapi, mungkin itu hanya aku yang terlalu berharap. Bukan berarti pernikahan ini adalah hal yang langsung jadi kenyataan dalam sekejap, ya. Tapi siapa yang bisa menyalahkan jika aku melihat ini sebagai harapan yang akhirnya terwujud setelah bertahun-tahun aku sembunyikan perasaan?

Dari mulai kelas lima SD sampai Matin sekarang yang udah jadi pria dewasa dengan ototnya yang kekar kayak superhero yang lagi diet, aku tetap aja jatuh cinta. Yep, perasaan itu gak berubah. Aku tetap cinta sama Rizaldi Matin Nugraha.

Honestly, aku nggak pernah kebayang kalau Matin yang selalu cuek sama perempuan akhirnya melamarku untuk menggantikan Melisa yang kabarnya kabur dengan selingkuhannya. Aku kira dia bakal memilih jadi bujangan sejati seumur hidup, tapi ternyata dia malah ngelamar aku di depan Mas Deva dan Mbak Sarah.

Gila sih, 'my dream come true' banget kan?

Aku masih inget pertama kali ketemu Matin, waktu itu dia baru lulus SMA dan jatuh dari pohon gara-gara dia nekat ngambil celana dalamku yang nyangkut di pohon jambu. Ya, saat itu dahi Matin berdarah, dan aku panik pengen ngubatin dia. Tapi dia malah bilang itu bukan masalah besar dan terus balik ke kamar Deva. Itu adalah momen pertama kali aku merasakan kupu-kupu di perut. Sejak saat itu, aku mikir kalau Matin itu tipe pria yang bisa bikin aku jadi penggemar beratnya seumur hidup.

Dan tahu apa yang bikin aku setia? Jawabannya karena Matin itu misterius. Dia orang kaya tapi anehnya suka sekali berkelahi dan gaul sama teman teman premannya. Walau dalam segi akademik dan kepatuhan dia juga pintar dan baik, hanya omongannya saja nyelekit. Tapi, terlepas dari itu, dia itu tipe aku banget.

Ya ... semacam badboy-badboy soleh. Idih! apaan sih? wkwkwk.

Mungkin kalian mikir aku ini bodoh, kan? Yaudah lah ya, gak masalah! Aku emang udah terlanjur suka sama Matin yang terlalu tampan dan nyaris sempurna buat dilewatkan. Sikapnya yang dingin ke perempuan malah bikin aku makin nyaman, meskipun rasa ini gak pernah bisa aku ungkapin. Selama ini aku tahu Matin cuma nganggap aku adik Deva.

Nasib emang gak pernah bisa ditebak!

Dan setelah bertahun-tahun memendam perasaan dan menahan diri supaya nggak jatuh terjerembab, di sini aku, di kamar pengantin yang ternyata ditinggalin Sarah.

Bahagia? Duh, tentu saja, Baby! Aku sangat bahagia, kok.

Walau Matin mungkin belum mencintaiku, buat aku itu nggak masalah. Aku akan tetap bertindak seolah-olah aku nggak cinta sama dia karena dia cuma nganggap aku adiknya. Nanti, kalau Matin udah jatuh cinta, baru deh aku ngomong.

"Pokoknya, prinsipku itu rahasiakan terus sampai mampus! Via, kamu pasti bisa!"

Aku bilang itu sambil nyemangatin diri sendiri di depan cermin. Setelah cukup puas melamunkan hidupku, aku mulai ngelepas semua pernak-pernik di wajah dan rambut. Ternyata resepsi pernikahan itu gak enak banget, sih, karena aku yang biasanya pakai kaos dan celana kulot, sekarang harus pakai kebaya ketat.

Aku udah lepas sanggul yang nyiksa kepala, dan dengan pelan aku bergerak ke sisi ranjang. Aku terbaring di atas ranjang king size yang dihias seperti taman bunga di kuburan. Wangi banget sih, tapi tetap aja, rasanya aneh.

Awalnya aku pengen ngelakuin sesuatu, tapi aku sadar kalau ini adalah hari pertama aku jadi istri Matin.

Tahan dulu deh, jangan brutal! Masih ada waktu lain buat ngacak-acak semuanya.

Aku nyoba tenangin diri sambil memejamkan mata. Baru aja aku terlelap sebentar, suara Matin terdengar dengan lantang, bikin jantungku kayak mau copot.

"Kamu mau tidur dengan baju itu?"

Mataku otomatis kebuka karena aku tahu itu suara Matin. Dengan mode Princess desperate aku langsung duduk tegak dan ngeliat ke samping. Bener aja, Matin duduk di sofa sambil pegang cangkir kopi.

"Eh, Mas, Matin? Udah dateng aja, aku kira masih di luar," ujarku sambil nyengir lebar. "Oh, iya, Mas udah mandi atau mau dimandiin?" tanyaku, sambil pura-pura polos.

Entah kenapa, otakku suka konslet kalau ngeliat Matin. Wajahnya itu kan enak banget dipandang, jadi siapa sih yang bisa tahan?

Matin dehem, ngeliat aku dengan tatapan bingung. "Mas gak mandi dulu karena kayaknya ada yang harus saya bicarakan sama kamu," katanya sambil bersandar di sofa. Aku mulai penasaran.

"Emang mau bahas apa, Pak? Bahas tentang malam pertama atau gimana? Tenang aja, aku siap dengerin kok," jawabku, sok dramatis.

Matin menarik napas panjang, lalu dia fokus banget ngeliatin aku. "Via, sebelumnya saya minta maaf ya karena harus meminta kamu menggantikan Sarah dan menyelamatkan harga diri saya."

Aku langsung mendecak. "Ah, itu mah santai aja, Pak. Saya gak apa-apa kok," jawabku sambil senyum lebar. Tapi sejurus kemudian aku teringat sesuatu. "Eh, tapi, Pak, boleh nanya gak? Kenapa Mas tiba-tiba pilih saya? Kenapa saya?" tanyaku, penasaran banget.

Matin memijat pelipisnya yang kayaknya udah pusing banget. "Ya, boleh sih. Itu hak kamu. Tapi ada yang perlu kamu tahu, saya nggak mau nyakitin kamu. Saya bersyukur kamu mau menggantikan Sarah. Tapi saya mohon maaf, saya harap kamu gak terlalu berharap banyak dari pernikahan ini."

"Ma-maksudnya gimana, Pak?" tanyaku, bingung setengah mati.

Matin menyatukan jarinya, dan dia kelihatan agak cemas. "Via, jujur, saya juga berat memutuskan buat nikah. Kamu tahu sendiri kan, saya nggak pernah pacaran sama wanita. Tapi, karena saya percaya sama kamu, saya akhirnya nekat. Terutama karena Ibu yang nyarankan ini. Dia bilang saya harus nikah buat menyelamatkan harga diri keluarga."

"Jadi, Bapak pilih aku karena Ibu?" tanyaku, ngerasa aneh.

Matin ngangguk pelan. "Iya, salah satunya itu. Tapi saya juga setuju karena saya yakin kamu nggak akan jatuh cinta sama saya. Kamu cuma anggap saya kakak, dan saya pun nganggap kamu adik. Jadi..."

"Jadi apa?" aku nanya buru-buru.

"Gimana kalau kita sepakat, kita tinggal bareng selama enam bulan, terus kita cerai setelah itu?"

"WHAT?!" Aku hampir jatuh dari tempat tidur saking kagetnya. "Mas serius? Jadi gitu aja?"

Matin meluruskan badannya, lalu ngomong dengan tenang. "Via, saya itu nggak bisa bergairah sama wanita. Saya trauma dan dokter bilang saya bisa aja impoten. Jadi saya nggak mau nyakitin kamu lebih lama. Saya berharap kita bisa sepakat ini, dan setelah enam bulan, kita bisa berpisah dengan baik-baik."

"WHAT?!"

Matin ngelirik aku dan mulai ngejelasin, "Via, pasti kamu kaget. Tapi ini kenyataannya. Saya minta maaf baru sekarang bilangnya. Saya nggak punya pilihan lain. Jadi, bagaimana kalau kita jalani enam bulan ini? Kalau saya gak sembuh, kita bisa cerai."

Aku terdiam. Ini gila banget.

Tapi di saat aku merasa hancur, muncul pertanyaan dalam pikiranku. Apa yang harus aku lakuin? Haruskah aku membantu Matin atau malah pergi?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 7

    Di luar lobi hotel mewah milik keluarganya, Novia hanya bisa pasrah setengah mati saat tangan dingin Matin tiba-tiba menarik pergelangannya untuk check-out secara terburu-buru. Kejadian di meja makan saat sarapan tadi pagi masih berputar hebat di kepalanya—bagaimana tidak, Bunda Nisya dengan tanpa dosanya mendadak menodong mereka berdua untuk langsung berangkat bulan madu malam ini juga, sementara Matin langsung ngeles mati-matian dengan alasan setumpuk pekerjaan di kantor.​"M-Mas Matin, pelan-pelan..." cicit Novia gugup, berusaha menyeimbangi langkah lebar suaminya yang juga berstatus sebagai bos tempatnya bekerja.​Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat. Bukan cuma karena insiden subuh tadi yang membuat mukanya nyaris merah padam karena malu, tapi juga karena status baru mereka yang masih terasa begitu asing. Apalagi, Novia adalah sekretaris yang sejak dulu diam-diam sudah lama menyimpan rasa pada pria kaku di depannya itu. Berada dekat dengan Matin sebagai seorang istri, a

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 6

    Setelah ritual cuci muka dan menetralisir rasa malu tingkat akut, Via keluar kamar menuju ruang makan privat di lantai dasar hotel mewah milik keluarga Matin. Di sana, seorang wanita paruh baya berpenampilan super elegan telah menanti. ​Bunda Nisya. ​Begitu melihat Via, mata wanita itu langsung berbinar. Tanpa aba-aba, ia bangkit dan merentangkan tangan, memeluk Via erat-erat dengan hangat. ​"Ya ampun, ini pasti Novia ya? Maaf ya, kemarin Bunda gak sempat ngecek kamu dan kondisi kamu habis pesta. Soalnya Bunda juga kecapean karena shock... emm, apa namanya, kejadian yang sebelumnya itu loh. Yang si Melissa, ya kan?" Bunda Nisya tersenyum lebar. "Tapi intinya, sekarang Bunda jadi ngerti kenapa Matin sampai milih kamu buat jadi pengganti si Melissa. Kamu emang manis dan baik banget, Nak." ​Via yang tadinya ciut langsung melunak. Ia tersenyum canggung sambil berucap lirih, "Eh, iya, Bun... aku Novia. Gak apa-apa kok, Bun, Via ngerti, pasti kaget banget tahu-tahu kejadian kemarin m

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 5

    Kamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan. Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 4

    Kamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan. Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 3

    Tunggu dulu! Aku nggak bisa langsung nge-judge dia. Matin pasti juga butuh bantuan. Aku bisa jadi solusi, tapi kalau aku menyerah, dia juga bakal kesulitan. "Via," suara Matin memecah kebingunganku. Aku menarik napas dalam, lalu dengan penuh keyakinan, aku jawab. "Kalau Mas mau sembuh, kenapa nggak coba sama aku? Aku bisa bantu, asal Mas janji nggak cerai setelah enam bulan." Matin berpikir sejenak, lalu tersenyum miring. "Oke, kita coba. Tapi, kalau saya tetap nggak sembuh dalam enam bulan, kita harus cerai dengan baik-baik." "Deal!" jawabku dengan tegas. "Tapi, ada syarat lagi. Mas kan tahu kan saya ini anak yang dibuang. Saya bukan adik Mas Deva sebenarnya. Sebelum enam bulan, tolong temukan orang tua saya, ya? Maka saya anggap perjanjian kita impas. Bagaimana?" tanyaku mencoba mencari celah keberuntungan. Meski dengan menikah dengan Matin saja sudah membuat batinku kegirangan. Ya iyalah, menikah sama crush gitu, loh! Siapa yang gak mau? Matin mengangguk sambil tersenyu

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 2

    "Ha... hah? Sa-saya?" suaraku melengking. Rasanya pertanyaan Matin benar-benar bikin aku jantungan. Bagaimana bisa dia menunjukku di tengah kekecauan ini? Ya iya sih, aku senang tapi ... kan? "Ya, kamu? Ya itu juga kalau kamu mau," lanjut Matin, masih menatapku. Tak ada rasa dan kesan yang berarti dari nadanya tapi sialnya bikin bulu kudukku meremang. "Sa-saya? Saya gak mungkin Mas. Jangan jadikan saya cadangan, saya merasa gak pantas," kataku menolak ragu karena terlalu syok si pria yang kuidamkan itu menunjukku. Rasanya jadi pengantin pengganti gak ada dalam kamus seorang fans sejati sepertiku. Aku ingin dicintai karena dia memilihku. Aku berdiri, tergagap, mencari pintu keluar, tapi kakak iparku Sarah sudah berdiri di belakangku dengan tatapan penuh ancaman. "Dek kamu serius? Dek, Mbak tahu kamu suka sama dia. Kalau kamu nolak, kamu gak bakal dapat lagi idolamu loh, Dek." Lah, dia tahu kalau aku suka Matin? Kok bisa? "Iya Via, kamu mau, kan? Mas yakin Matin baik buat ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status