Mag-log inMatin gak bisa bergairah sama wanita? Hah? Gak salah? Cowok badboy yang kusukai ini gak bisa bergairah? Astaga! Why? Apa dia hom**reng? atau ... ah, nggak! Tunggu dulu!
Aku nggak bisa langsung nge-judge dia. Matin pasti punya alasan dan juga butuh bantuan. Aku bisa jadi solusi, tapi kalau aku menyerah, dia juga bakal kesulitan. "Via," suara Matin memecah kebingunganku. Aku menarik napas dalam, lalu dengan penuh keyakinan, aku jawab. "Kalau Mas mau sembuh, kenapa nggak coba sama aku? Aku bisa bantu, asal Mas janji nggak cerai setelah enam bulan." Matin berpikir sejenak, lalu tersenyum miring. "Oke, kita coba. Tapi, kalau saya tetap nggak sembuh dalam enam bulan, kita harus cerai dengan baik-baik." "Deal!" jawabku dengan tegas. "Tapi, ada syarat lagi. Mas kan tahu kan saya ini anak yang dibuang. Saya bukan adik Mas Deva sebenarnya. Sebelum enam bulan, tolong temukan orang tua saya, ya? Maka saya anggap perjanjian kita impas. Bagaimana?" tanyaku mencoba mencari celah keberuntungan. Meski dengan menikah dengan Matin saja sudah membuat batinku kegirangan. Ya iyalah, menikah sama crush gitu, loh! Siapa yang gak mau? Matin mengangguk sambil tersenyum. "Oke, saya janji. Dan soal gaji, saya juga bisa bayar lebih, jadi tenang aja." Aku hanya bisa menghela napas panjang. Ini bakal jadi perjalanan yang panjang, dan aku tahu, pernikahan ini nggak akan mudah. Apalagi setelah tahu kalau dia gak bisa bergairah dengan wanita. (***) Suara gemercik air di dalam kamar mandi mengiringi lamunanku yang masih mengudara. Rasanya kepalaku mau pecah kalau harus memikirkan semua ini secara logis. Bagaimana mungkin wanita sepertiku—yang dulunya hanya bisa memandang punggung Mas Matin dari kejauhan. Dan siapa sangka, sekarang aku udah sah menjadi istri pria itu? Pria yang sudah belasan tahun bertahta di dalam hatiku? Wow! Daebak! Namun, sebentar! Di balik kebahagiaan yang membuncah ini, bayang-bayang masa lalu Mas Matin tetap menjadi misteri yang mengganjal. Konon, latar belakangnya tidak jauh berbeda dariku; kami sama-sama anak angkat. Ada sisi kelam dalam hidup pria itu yang sengaja ditutup rapat-rapat. Bekas-bekas luka lebam yang dulu sempat tak sengaja kulihat di tubuhnya semasa remaja, alasan kenapa pria kaya raya itu gemar berkelahi, hingga lingkaran pertemanannya yang keras—semuanya terasa begitu abu-abu. Mas Deva, kakakku, selalu bungkam setiap kali aku mencoba mencari tahu. Anehnya, alih-alih merasa takut, sisi misterius dan tangguh itu justru membuatku semakin terpesona. Mas Matin benar-benar laki seutuhnya—pria dominan yang jago taekwondo, lihai boxing, dan memancarkan aura bahaya yang begitu magnetis. Ck, mikirin apa sih, Via? Malah ngelamun di kamar mandi! batinku merutuki diri sendiri sambil melanjutkan membersihkan badan. Namun, sedetik kemudian, lamunanku buyar seketika saat aku merasakan sensasi geli merayap di pergelangan kakiku. Aku menunduk, dan... Ya Tuhan! Seekor kecoa terbang berukuran cukup besar bersiap merayap naik ke betis. "Waaaaaaa!" Tanpa pikir panjang, jeritan histeris meluncur deras dari bibirku. Lupa daratan, lupa status, aku langsung berlari terbirit-birit keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan sehelai handuk tipis seadanya di tubuhku. Pintu kamar terbuka dengan kasar, memperlihatkan Mas Matin yang langsung tersentak dari duduknya akibat suara teriakan tersebut. Pria itu bangkit berdiri dengan refleks cepat seorang petarung, matanya menatap tajam penuh siaga. "Via, kenapa? Kenapa?" kejar Mas Matin dengan nada panik, menghampiriku yang langsung mencengkeram lengan kekarnya erat-erat. "Itu... di dalam ada kecoa, Mas! Gede banget!" teriakku setengah menangis, napasku memburu di dada bidang pria itu. Mas Matin mengerjap beberapa detik, mencoba mencerna situasi sebelum helaan napas lega sekaligus geli terdengar dari bibirnya. "Oh iya. Tenang, kamu jangan panik, biar kecoanya sama saya kasih pelajaran." Mas Matin melangkah santai hendak menuju kamar mandi, tetapi sebelum langkahnya melewati diriku, tatapan pria itu mendadak turun, menyusuri penampilanku dari ujung kepala hingga kaki yang basah kuyup dengan lilitan handuk yang nyaris melorot. Mas Matin berdehem pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang khas. "Tapi sebelum itu...." ucapnya dengan suara serak yang sukses membuat bulu kudukku merinding, "...kayaknya kamu dulu deh yang mesti diberesin." Hah? Diberesin? Apa maksudnya? Seketika itu juga, otakku seperti tersadar dari sambaran petir. Mataku melebar sempurna saat aku menunduk dan menyadari betapa minimnya kain yang membalut tubuhku di hadapan lelaki yang selama ini paling kuinginkan di dunia. Wajahku seketika berubah merah padam menyerupai kepiting rebus. Sial! Kenapa otakku bisa konslet separah itu hanya karena seekor kecoa terbang? "Huwaa maaf, M-Mas..." cicitku terbata-bata, refleks menarik ujung handuk yang terancam melorot, sementara tanganku yang lain sibuk menutupi dada. Mas Matin terkekeh rendah—suara bariton khas yang selalu sukses membuat perutku mendadak dipenuhi ribuan kupu-kupu liar. Pria itu melipat kedua tangannya di dada bidangnya, menikmati pemandangan di depanku dengan tatapan yang sulit diartikan. Di balik sorot mata tenang itu, siapa sangka ada badai kecil yang mulai bergolak? Mengingat kondisinya yang selama ini disebut-sebut bermasalah dan sulit bergairah pada wanita, kemunculanku dalam balutan handuk basah tipis justru menciptakan efek kejut yang luar biasa pada sarafnya. "Mau terus-terusan berdiri di situ sambil pamer, ya? Kamu sengaja ngegoda Mas, hm?" bisik Mas Matin dengan nada menggoda, melangkah maju satu langkah pelan hingga mataku membola. Dan .... Jantungku seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Ya ampun, ini beneran suami sendiri atau ujian iman tingkat dewa?! "Mas.""Hm?""Aku tahu pernikahan kita bukan sesuatu yang Mas rencanakan."Jari-jarinya yang semula santai perlahan menegang.Aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang."Aku juga tahu Mas menikahiku karena keadaan. Awalnya, aku pikir setelah semuanya berlalu, kita bisa menjalani kehidupan seperti pasangan suami istri pada umumnya."Aku tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegugupan."Ternyata, tinggal serumah dengan Mas lebih sulit daripada mengerjakan soal ujian.""Memangnya kamu sering mengerjakan ujian?"Aku mendongak.Astaga.Dari sekian banyak kalimat yang bisa keluar dari mulutnya, kenapa justru itu yang ia pilih?"Mas, aku sedang serius.""Saya juga.""Bagian mana yang serius?""Bagian kamu mengeluh."Aku memejamkan mata sebentar.Ya Allah, berikan aku kesabaran seluas samudra untuk menghadapi suami sendiri.Namun, ketika kembali menatapnya, aku tidak lagi menemukan keinginan untuk bercanda di wajahnya."Aku tidak meminta Mas mencintaiku," lanjutku. "Aku juga tidak memaks
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi istri Mas Matin, aku merasa benar-benar tidak mengenal pria yang tidur satu ranjang denganku.Bukan karena aku tidak tahu namanya, pekerjaannya, atau kebiasaannya yang selalu memasang wajah dingin. Aku tahu semua itu. Namun, ada bagian dari dirinya yang terasa begitu jauh, seolah-olah selama ini aku hanya mengenal seseorang yang sengaja ia ciptakan untuk menutupi siapa dirinya sebenarnya.Dan yang paling menggangguku adalah kenyataan bahwa pria itu sepertinya tidak pernah benar-benar menginginkan pernikahan kami.Aku teringat bagaimana pernikahan ini bermula.Melisa. Perempuan yang sebelumnya menjadi calon istri Mas Matin. Perselingkuhan perempuan itu terbongkar ketika persiapan pernikahan mereka sudah berjalan cukup jauh. Aku masih ingat bagaimana sahabat kakakku itu datang dengan wajah dingin, lalu mengatakan bahwa pernikahan harus tetap dilaksanakan.Aku pikir ia sedang bercanda.Siapa yang mau menikahi perempuan yang bahkan tidak dici
Aku masih berdiri mematung dalam dekapan Mas Matin ketika pria itu akhirnya melepaskan pelukannya. Ia melipat kertas ancaman tadi, lalu memasukkannya ke saku celana dengan gerakan cepat."Mas, kita harus lapor polisi, kan?" tanyaku hati-hati."Nanti."Jawabannya singkat. Ia kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas dan menghubungi seseorang."Raka, gue butuh bantuan lo."Aku mengamati wajahnya yang berubah serius. Tidak ada lagi sisa kecanggungan akibat kejadian di pesawat tadi. Pria yang berdiri di hadapanku sekarang terlihat seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa menghadapi situasi berbahaya."Cek CCTV kompleks dari satu jam terakhir. Ada mobil hitam masuk tanpa menyalakan lampu. Cari tahu siapa pemiliknya."Ia berhenti sejenak, mendengarkan jawaban dari seberang sana."Jangan bergerak sendiri. Kalau ada yang mencurigakan, hubungi gue. Jangan ambil tindakan sebelum gue datang."Setelah menutup telepon, Mas Matin memeriksa kunci jendela, kemudian berjalan menuju p
Suara pramugari yang terdengar lewat pengeras suara kabin sukses membuyarkan lamunan romantis kami. Sontak, aku menarik diri perlahan, merapikan letak kerudungku yang sedikit miring, sementara Mas Matin menegakkan kembali punggungnya. Meski wajahnya kembali memasang topeng dingin andalannya, aku sempat menangkap rona merah tipis di ujung telinganya.Perjalanan darat dari bandara menuju rumah terasa begitu senyap. Hujan telah reda, menyisakan jejak basah di sepanjang aspal kota. Namun, di dalam mobil, pikiranku sama sekali tidak tertuju pada jalanan yang lengang.“Dia tidak bohong, Via memang istri saya.”Kalimat itu, ditambah pelukan protektifnya saat turbulensi tadi, terus berputar di kepalaku bagaikan kaset rusak. Pria yang mengaku punya trauma dan tidak bisa menyentuh wanita itu justru dua kali melanggar batasnya sendiri—demi aku.Begitu tiba di rumah, suasana hening langsung menyambut. Mas Matin langsung pamit menuju ruang kerjanya dengan alasan ada urusan kantor yang belum selesa
Wanita bernama Helen itu seketika gelagapan. Wajahnya yang tadi berhias senyum genit nan percaya diri kini pias, merah padam menahan malu. Tanpa berani menatap kami lagi, ia buru-buru membuang muka, pura-pura sibuk membenarkan selimutnya dan menyandarkan kepala ke arah jendela. Syukurin! Makanya, jangan suka menilai buku dari sampulnya, apalagi berani menggoda suami orang.Namun, kemenanganku atas Helen menguap begitu saja, tergantikan oleh sensasi luar biasa yang kini memonopoli seluruh sarafku.Tangan Mas Matin masih menangkup sisi wajahku. Ibu jarinya yang sedikit kasar—jejak masa lalunya yang keras—tanpa sadar mengusap lembut tulang pipiku sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali, perlahan, seolah ada keengganan di sana.Aku menelan ludah, tubuhku kaku tak bisa digerakkan. Suhu pendingin kabin pesawat yang sedari tadi menusuk tulang mendadak tak terasa lagi, kalah telak oleh hawa panas yang menjalar cepat dari leher hingga ke kedua telingaku."Dia tidak bohong, Via memang
Bulan madu dengan crush. Mungkin itulah judul perjalananku kali ini. Sesudah pertemuan singkat kami dengan Pak Ando dan Bu Rini di rumah sederhana tadi, entah mengapa Mas Matin tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Lelaki itu seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri, merenungkan banyak hal—terutama setelah bayang-bayang masa lalunya sebagai seorang mantan gangster kembali berkelebat di kepalanya.Tak terasa setengah jam sudah pesawat kami mengudara, membelah langit pagi yang tampak kelabu dan tidak bersahabat. Hujan lebat mengguyur badan pesawat, membuat suasana di kabin terasa semakin sendu, semendung wajah Mas Matin yang duduk persis di sampingku. Sejak pertemuan tadi, ia hanya melemparkan pandang ke arah jendela yang tak menampilkan pemandangan indah apa pun.Aku melirik pergelangan tangan, mendapati sisa penerbangan yang masih cukup panjang. Rasanya amat menyiksa jika harus terjebak dalam keheningan canggung seperti ini. Mau mengajak bicara duluan pun rasanya agak ciut, seba







