Share

Bab 3

Author: Fiska Aimma
last update publish date: 2026-08-21 09:37:57

Tunggu dulu! Aku nggak bisa langsung nge-judge dia. Matin pasti juga butuh bantuan. Aku bisa jadi solusi, tapi kalau aku menyerah, dia juga bakal kesulitan.

  "Via," suara Matin memecah kebingunganku.

  Aku menarik napas dalam, lalu dengan penuh keyakinan, aku jawab. "Kalau Mas mau sembuh, kenapa nggak coba sama aku? Aku bisa bantu, asal Mas janji nggak cerai setelah enam bulan."

  Matin berpikir sejenak, lalu tersenyum miring. "Oke, kita coba. Tapi, kalau saya tetap nggak sembuh dalam enam bulan, kita harus cerai dengan baik-baik."

  "Deal!" jawabku dengan tegas. "Tapi, ada syarat lagi. Mas kan tahu kan saya ini anak yang dibuang. Saya bukan adik Mas Deva sebenarnya. Sebelum enam bulan, tolong temukan orang tua saya, ya? Maka saya anggap perjanjian kita impas. Bagaimana?" tanyaku mencoba mencari celah keberuntungan. Meski dengan menikah dengan Matin saja sudah membuat batinku kegirangan.

  Ya iyalah, menikah sama crush gitu, loh! Siapa yang gak mau?

  Matin mengangguk sambil tersenyum. "Oke, saya janji. Dan soal gaji, saya juga bisa bayar lebih, jadi tenang aja."

  Aku hanya bisa menghela napas panjang. Ini bakal jadi perjalanan yang panjang, dan aku tahu, pernikahan ini nggak akan mudah. Apalagi setelah tahu kalau dia gak bisa bergairah dengan wanita.

  (***)

  Suara gemercik air di dalam kamar mandi mengiringi lamunanku yang masih mengudara. Rasanya kepalaku mau pecah kalau harus memikirkan semua ini secara logis. Bagaimana mungkin wanita sepertiku—yang dulunya hanya bisa memandang punggung Mas Matin dari kejauhan—sekarang sah menjadi istri sah pria itu? Pria yang sudah belasan tahun bertahta di dalam hatiku.

  ​Namun, di balik kebahagiaan yang membuncah ini, bayang-bayang masa lalu Mas Matin tetap menjadi misteri yang mengganjal. Konon, latar belakangnya tidak jauh berbeda dariku; kami sama-sama anak angkat. Ada sisi kelam dalam hidup pria itu yang sengaja ditutup rapat-rapat. Bekas-bekas luka lebam yang dulu sempat tak sengaja kulihat di tubuhnya semasa remaja, alasan kenapa pria kaya raya itu gemar berkelahi, hingga lingkaran pertemanannya yang keras—semuanya terasa begitu abu-abu. Mas Deva, kakakku, selalu bungkam setiap kali aku mencoba mencari tahu.

  ​Anehnya, alih-alih merasa takut, sisi misterius dan tangguh itu justru membuatku semakin terpesona. Mas Matin benar-benar laki seutuhnya—pria dominan yang jago taekwondo, lihai boxing, dan memancarkan aura bahaya yang begitu magnetis.

  ​Ck, mikirin apa sih, Via? Malah ngelamun di kamar mandi! batinku merutuki diri sendiri sambil melanjutkan membersihkan badan.

  ​Namun, sedetik kemudian, lamunanku buyar seketika saat aku merasakan sensasi geli merayap di pergelangan kakiku. Aku menunduk, dan... Ya Tuhan! Seekor kecoa terbang berukuran cukup besar bersiap merayap naik ke betis.

  ​"Waaaaaaa!"

  ​Tanpa pikir panjang, jeritan histeris meluncur deras dari bibirku. Lupa daratan, lupa status, aku langsung berlari terbirit-birit keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan sehelai handuk tipis seadanya di tubuhku.

  ​Pintu kamar terbuka dengan kasar, memperlihatkan Mas Matin yang langsung tersentak dari duduknya akibat suara teriakan tersebut. Pria itu bangkit berdiri dengan refleks cepat seorang petarung, matanya menatap tajam penuh siaga.

  ​"Via, kenapa? Kenapa?" kejar Mas Matin dengan nada panik, menghampiriku yang langsung mencengkeram lengan kekarnya erat-erat.

  ​"Itu... di dalam ada kecoa, Mas! Gede banget!" teriakku setengah menangis, napasku memburu di dada bidang pria itu.

  ​Mas Matin mengerjap beberapa detik, mencoba mencerna situasi sebelum helaan napas lega sekaligus geli terdengar dari bibirnya. "Oh iya. Tenang, kecoanya sama saya mau diurusin."

  ​Mas Matin melangkah santai hendak menuju kamar mandi, tetapi sebelum langkahnya melewati diriku, tatapan pria itu mendadak turun, menyusuri penampilanku dari ujung kepala hingga kaki yang basah kuyup dengan lilitan handuk yang nyaris melorot.

  ​Mas Matin berdehem pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang khas. "Tapi sebelum itu...." ucapnya dengan suara serak yang sukses membuat bulu kudukku merinding, "...kayaknya kamu dulu deh yang mesti diberesin."

Hah? Diberesin? Apa maksudnya?

  ​Seketika itu juga, otakku seperti tersadar dari sambaran petir. Mataku melebar sempurna saat aku menunduk dan menyadari betapa minimnya kain yang membalut tubuhku di hadapan lelaki yang selama ini paling kuinginkan di dunia.

  ​Wajahku seketika berubah merah padam menyerupai kepiting rebus. Sial! Kenapa otakku bisa konslet separah itu hanya karena seekor kecoa terbang?

  ​"Huwaa maaf, M-Mas..." cicitku terbata-bata, refleks menarik ujung handuk yang terancam melorot, sementara tanganku yang lain sibuk menutupi dada.

  ​Mas Matin terkekeh rendah—suara bariton khas yang selalu sukses membuat perutku mendadak dipenuhi ribuan kupu-kupu liar. Pria itu melipat kedua tangannya di dada bidangnya, menikmati pemandangan di depanku dengan tatapan yang sulit diartikan.

  ​Di balik sorot mata tenang itu, siapa sangka ada badai kecil yang mulai bergolak? Mengingat kondisinya yang selama ini disebut-sebut bermasalah dan sulit bergairah pada wanita, kemunculanku dalam balutan handuk basah tipis justru menciptakan efek kejut yang luar biasa pada sarafnya.

  ​"Mau terus-terusan berdiri di situ sambil pamer handuk basah, hm?" bisik Mas Matin dengan nada menggoda, melangkah maju satu langkah pelan.

  ​Jantungku seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Ya ampun, ini beneran suami sendiri atau ujian iman tingkat dewa?!

  ​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 7

    Di luar lobi hotel mewah milik keluarganya, Novia hanya bisa pasrah setengah mati saat tangan dingin Matin tiba-tiba menarik pergelangannya untuk check-out secara terburu-buru. Kejadian di meja makan saat sarapan tadi pagi masih berputar hebat di kepalanya—bagaimana tidak, Bunda Nisya dengan tanpa dosanya mendadak menodong mereka berdua untuk langsung berangkat bulan madu malam ini juga, sementara Matin langsung ngeles mati-matian dengan alasan setumpuk pekerjaan di kantor.​"M-Mas Matin, pelan-pelan..." cicit Novia gugup, berusaha menyeimbangi langkah lebar suaminya yang juga berstatus sebagai bos tempatnya bekerja.​Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat. Bukan cuma karena insiden subuh tadi yang membuat mukanya nyaris merah padam karena malu, tapi juga karena status baru mereka yang masih terasa begitu asing. Apalagi, Novia adalah sekretaris yang sejak dulu diam-diam sudah lama menyimpan rasa pada pria kaku di depannya itu. Berada dekat dengan Matin sebagai seorang istri, a

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 6

    Setelah ritual cuci muka dan menetralisir rasa malu tingkat akut, Via keluar kamar menuju ruang makan privat di lantai dasar hotel mewah milik keluarga Matin. Di sana, seorang wanita paruh baya berpenampilan super elegan telah menanti. ​Bunda Nisya. ​Begitu melihat Via, mata wanita itu langsung berbinar. Tanpa aba-aba, ia bangkit dan merentangkan tangan, memeluk Via erat-erat dengan hangat. ​"Ya ampun, ini pasti Novia ya? Maaf ya, kemarin Bunda gak sempat ngecek kamu dan kondisi kamu habis pesta. Soalnya Bunda juga kecapean karena shock... emm, apa namanya, kejadian yang sebelumnya itu loh. Yang si Melissa, ya kan?" Bunda Nisya tersenyum lebar. "Tapi intinya, sekarang Bunda jadi ngerti kenapa Matin sampai milih kamu buat jadi pengganti si Melissa. Kamu emang manis dan baik banget, Nak." ​Via yang tadinya ciut langsung melunak. Ia tersenyum canggung sambil berucap lirih, "Eh, iya, Bun... aku Novia. Gak apa-apa kok, Bun, Via ngerti, pasti kaget banget tahu-tahu kejadian kemarin m

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 5

    Kamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan. Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 4

    Kamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan. Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 3

    Tunggu dulu! Aku nggak bisa langsung nge-judge dia. Matin pasti juga butuh bantuan. Aku bisa jadi solusi, tapi kalau aku menyerah, dia juga bakal kesulitan. "Via," suara Matin memecah kebingunganku. Aku menarik napas dalam, lalu dengan penuh keyakinan, aku jawab. "Kalau Mas mau sembuh, kenapa nggak coba sama aku? Aku bisa bantu, asal Mas janji nggak cerai setelah enam bulan." Matin berpikir sejenak, lalu tersenyum miring. "Oke, kita coba. Tapi, kalau saya tetap nggak sembuh dalam enam bulan, kita harus cerai dengan baik-baik." "Deal!" jawabku dengan tegas. "Tapi, ada syarat lagi. Mas kan tahu kan saya ini anak yang dibuang. Saya bukan adik Mas Deva sebenarnya. Sebelum enam bulan, tolong temukan orang tua saya, ya? Maka saya anggap perjanjian kita impas. Bagaimana?" tanyaku mencoba mencari celah keberuntungan. Meski dengan menikah dengan Matin saja sudah membuat batinku kegirangan. Ya iyalah, menikah sama crush gitu, loh! Siapa yang gak mau? Matin mengangguk sambil tersenyu

  • Dinikahi Mantan Gengster   Bab 2

    "Ha... hah? Sa-saya?" suaraku melengking. Rasanya pertanyaan Matin benar-benar bikin aku jantungan. Bagaimana bisa dia menunjukku di tengah kekecauan ini? Ya iya sih, aku senang tapi ... kan? "Ya, kamu? Ya itu juga kalau kamu mau," lanjut Matin, masih menatapku. Tak ada rasa dan kesan yang berarti dari nadanya tapi sialnya bikin bulu kudukku meremang. "Sa-saya? Saya gak mungkin Mas. Jangan jadikan saya cadangan, saya merasa gak pantas," kataku menolak ragu karena terlalu syok si pria yang kuidamkan itu menunjukku. Rasanya jadi pengantin pengganti gak ada dalam kamus seorang fans sejati sepertiku. Aku ingin dicintai karena dia memilihku. Aku berdiri, tergagap, mencari pintu keluar, tapi kakak iparku Sarah sudah berdiri di belakangku dengan tatapan penuh ancaman. "Dek kamu serius? Dek, Mbak tahu kamu suka sama dia. Kalau kamu nolak, kamu gak bakal dapat lagi idolamu loh, Dek." Lah, dia tahu kalau aku suka Matin? Kok bisa? "Iya Via, kamu mau, kan? Mas yakin Matin baik buat ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status