LOGINEthan akhirnya mencoba menerima kenyataan yang ada.Tidak peduli seberapa banyak kekurangan yang dimiliki Elvan di masa lalu, Alsya tetap memilih pria itu. Elvan adalah suaminya. Pria yang telah melewati begitu banyak hal bersamanya. Pria yang kini menjadi satu-satunya lelaki yang ingin Alsya cintai hingga akhir hidupnya.Terlebih lagi, Alsya kini telah mengetahui perasaan Ethan. Saat Alsya secara tegas memperingatkan Ethan untuk mengubur perasaannya, Ethan benar-benar menyadari bahwa ia tidak memiliki pilihan lain.Alsya bahkan mengatakan sesuatu yang membuat hati Ethan terasa begitu sakit.Jika Ethan tetap mempertahankan perasaannya dan terus berharap pada sesuatu yang mustahil, maka Alsya tidak akan mau lagi bertemu dengannya.Bukan hanya untuk sementara. Namun, mungkin untuk selamanya.Dan bagi Ethan, membayangkan hidup tanpa bisa melihat Alsya sama sekali terasa jauh lebih menyakitkan daripada harus memendam cintanya seorang diri.Akhirnya, Ethan mengalah. Ia berjanji kepada Alsy
Dua bulan telah berlalu.Waktu seolah berjalan begitu cepat setelah semua badai yang pernah menerpa kehidupan Elvan dan Alsya. Luka-luka yang dahulu menghiasi tubuh mereka kini telah sembuh. Bukan hanya luka fisik, tetapi perlahan luka di dalam hati mereka pun ikut pulih.Kini, Elvan dan Alsya telah kembali menjalani kehidupan yang jauh lebih tenang.Jangan ditanya bagaimana kehidupan mereka saat ini.Tentu saja, sangat bahagia. Alsya telah menerima seluruh masa lalu Elvan. Ia tidak lagi memandang suaminya sebagai pria dengan kehidupan kelam yang pernah dipenuhi darah, kekuasaan, dan dunia gelap.Elvan adalah suaminya, Pria yang selalu melindunginya.Pria yang pernah mempertaruhkan segalanya demi dirinya.Dan yang terpenting, pria itu kini benar-benar berusaha meninggalkan kehidupan lamanya.Elvan tidak lagi menjalankan bisnis gelap yang dahulu membuat namanya ditakuti banyak orang. Ia memilih untuk memulai kehidupan baru dan mengelola showroom mobil mewah yang kini menjadi pekerjaann
Zans merasa lega bukan main ketika melihat Elvan akhirnya membuka mata. Setelah berhari-hari berada dalam kondisi kritis dan membuat semua orang diliputi kecemasan, kini pria yang selama ini dianggapnya begitu kuat itu akhirnya sadar.Tanpa membuang waktu, Zans segera berlari keluar dari ruang ICU untuk memanggil dokter Dann."Dann! Bos telah sadar!" teriak Zans begitu melihat dokter Dann berada tidak jauh dari ruangan.Dokter Dann yang sedang berbicara dengan seorang suster langsung menoleh. "Apa? Tuan Elvan sadar?"Zans mengangguk cepat. "Iya, Dann. Bos sudah membuka matanya."Dokter Dann segera masuk ke dalam ruang ICU, diikuti Zans dari belakang.Sementara itu, Alsya yang sejak tadi berada di sisi ranjang Elvan langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar suara sang suami.Matanya yang sembap seketika kembali dipenuhi air mata."Sa... sayang," ucap Alsya lirih.Air mata kebahagiaan jatuh membasahi pipinya. Semua rasa takut yang memenuhi hatinya seolah menghilang begitu saja keti
"Nona sudah bangun?" tanya Zans, berusaha menghindari pertanyaan Alsya."Jangan mengalihkan pertanyaanku, Zans. Jawab saja, apa maksud dari perkataanmu tadi?" tanya Alsya, masih penasaran. Ia jelas mendengar Zans menyebut kata bayiku, sementara di salah satu tangannya terdapat susu hamil siap minum.Di dalam kamar itu hanya ada Alsya dan Ana, sahabatnya yang memang sedang hamil.Ana yang duduk di pinggir ranjang perawatan Alsya langsung menatap tajam ke arah Zans. Tatapannya seolah memperingatkan pria itu agar tidak mengatakan sesuatu yang bisa membongkar rahasia mereka.Zans sempat melirik Ana, lalu kembali menatap Alsya."Maaf, Nona. Tadi saya salah bicara. Maksud saya bayi yang sedang sahabat Nona, Nona Ana, kandung."Alsya mengerutkan kening. "Sepertinya kalian sudah akrab.""Tentu saja tidak," sahut Ana cepat.Alsya mengalihkan pandangannya kepada sang sahabat."Tapi kenapa dia tahu kamu hamil?""Saya pernah mendengar Nona dan Tuan membicarakan kehamilan Nona Ana," jawab Zans den
Ana duduk seorang diri di sebuah rumah makan yang berada tidak jauh dari rumah sakit dimana Alsya di rawat.Ana tersenyum saat pelayan mengantar makanan yang ia pesan. "Terima kasih mbak." ujar Ana, lalu menatap piring nasi goreng yang ada dihadapannya.Entah mengapa malam ini Ana ingin makan nasi goreng. Padahal ia paling malas jika makan nasi goreng.Baru juga Ana ingin menyantap nasi goreng, tiba-tiba pelayan lain datang dan menaruh beberapa menu lain diatas mejanya. Ada sup daging, ayam mentega, ikan asam manis dan masih ada beberapa menu lainnya.Ana menatap pada pelayan yang masih berdiri di sisi mejanya. "Mbak, aku tidak memesan ini. Mbak salah meja," kata Ana."Tidak Mbak, saya tidak salah meja." Ujar pelayan itu."Tapi aku tidak memesan ini semuanya.""Aku yang memesan." Dari arah samping, suara Zans terdengar, membuat Ana langsung menatap pria itu.Zans menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Ana. "Makanlah, bayiku butuh nutrisi. Bukan hanya di beri makan nasi tidak jelas s
Malam memang sudah larut ketika Ana akhirnya tiba di ruang perawatan Alsya.Begitu membuka pintu, Ana mendapati sahabatnya itu sudah tertidur pulas di atas ranjang perawatannya. Wajah Alsya terlihat tenang dalam tidurnya meskipun masih tampak pucat. Selang infus terpasang di tangannya, sementara suara alat monitor terdengar pelan memenuhi ruangan.Ana berhenti sejenak di ambang pintu. Ia sebenarnya ingin berbicara dengan Alsya, bahkan ingin memastikan sendiri bagaimana keadaan sahabatnya itu. Namun, melihat Alsya yang sudah terlelap, Ana mengurungkan niatnya membangunkan sang sahabat."Tidurlah, Sya," bisiknya pelan.Ana kemudian berjalan menuju sofa yang berada tidak jauh dari ranjang. Ia meletakkan tasnya, lalu duduk bersandar. Malam ini ia memutuskan untuk menginap.Memastikan setidaknya, Alsya tidak sendirian.Hanya ada seorang suster yang berjaga di dalam ruangan, sementara Elvan sendiri entah bagaimana keadaannya. Ana tahu banyak hal sedang terjadi pada keluarga kecil sahabatnya
"Ka... kamu." ucap Alsya terbata. Tatapannya terus menatap pada pria yang ada di hadapannya.Namun, respon pria di hadapannya dingin sangat dingin, seperti tidak ada kehangatan di sorot matanya."Kenapa..." Alsya tidak jadi meneruskan ucapannya, tubuhnya yang tidak lagi memiliki tenaga karena peru
Sakit dan dingin.Itu yang Alsya rasakan, ketika membuka kedua matanya dengan perlahan.Entah sudah berapa lama Alsya pingsan, ia tidak tahu. Yang pasti sekarang seluruh tubuhnya terasa sakit, seperti semua tulang yang ada di tubuhnya remuk.Saat kesadarannya telah kembali sepenuhnya. Alsya menging
Sementara itu, Alsya terus berjalan. Sesekali berlari. Ia tidak tahu kapan bibinya akan mengetahui pelariannya, jadi ia harus pergi sejauh mungkin dalam waktu singkat. Jika tertangkap, semuanya akan berakhir. Tiba-tiba, dari kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki dan teriakan. "Jangan sampai l
"Besok kamu menikah."Alsya yang masih berdiri di sisi meja makan setelah baru saja menyajikan menu sarapan dibuat terkejut dengan ucapan bibinya. Kata-kata itu jelas ditujukan untuknya, meski sang bibi tidak sedang menatap Alsya.“Menikah, Bi? Tapi–”“Aku tidak terima penolakan,” tukas Bibi Widia






