Share

33. Rindu

Author: bluaeya
last update publish date: 2026-08-02 09:57:32

Mobil Bram melaju kencang menyusuri jalanan kota yang mulai ramai dengan aktivitas pagi hari. Evelyn duduk di kursi depan, matanya menyapu setiap sudut berharap menemukan adiknya di antara keramaian.

“Coba periksa taman dekat apartemen lamaku.” kata Evelyn, suaranya bergetar hebat.

“Taman mana? Aku nggak tahu ada taman di sekitar apartemen lama kalian.” tanya Bram, matanya fokus pada jalan di depannya.

“Di belakang kompleks, sekitar seratus meter dari gedung.”

<
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   33. Rindu

    Mobil Bram melaju kencang menyusuri jalanan kota yang mulai ramai dengan aktivitas pagi hari. Evelyn duduk di kursi depan, matanya menyapu setiap sudut berharap menemukan adiknya di antara keramaian.“Coba periksa taman dekat apartemen lamaku.” kata Evelyn, suaranya bergetar hebat.“Taman mana? Aku nggak tahu ada taman di sekitar apartemen lama kalian.” tanya Bram, matanya fokus pada jalan di depannya.“Di belakang kompleks, sekitar seratus meter dari gedung.”Bram membelokkan mobil ke arah yang ditunjukkan Evelyn tanpa bertanya lebih jauh.~~~Sesampainya di taman kecil, Evelyn langsung melompat keluar dari mobil sebelum Bram benar-benar berhenti. Kakinya hampir terkilir saat mendarat di trotoar, tapi ia tidak peduli. Ia berlari ke segala arah, matanya liar mencari, suaranya memanggil dengan penuh harap.“Rara! Rara, kamu di mana?”Beberapa pengunjung taman menoleh ke arah Evelyn dengan heran.Evelyn m

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   32. Keributan

    Beberapa tamu terdekat menajamkan telinga. Ada yang mengangkat alis, ada yang berbisik pelan, ada yang mencondongkan tubuh sedikit untuk mendengar lebih jelas. Evelyn menatap Sinta dengan tenang, tersenyum kecil.“Cuma kesalahpahaman kecil dari petugas keamanan, Sinta. Sudah diselesaikan dengan baik. Terima kasih sudah khawatir.” jawab Evelyn.“Oh, syukurlah.” Sinta tersenyum, kecewa karena jawaban Evelyn tidak memberikan celah untuk diperbesar. Matanya menyipit sedikit, mencari cara lain untuk menusuk. “Aku dengar dari pelayan kalau itu ada hubungannya dengan keluargamu, Evelyn. Seorang pria tua mabuk yang membawa beberapa orang kasar.”Darah Evelyn mendidih mendengar kata-kata itu. Sebelum Evelyn sempat menjawab, Bram tiba-tiba memotong tajam.“Pelayan mana yang bicara seperti itu?” tanya Bram, matanya menatap Sinta.Sinta terkejut, tidak menyangka Bram akan bereaksi secepat dan seagresif itu. “A-aku cuma dengar sekilas, Bram,

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   31. Urusan

    Ruangan menjadi sunyi setelah pintu tertutup. Hanya menyisakan Bram, Evelyn, dan ayah Evelyn yang masih terduduk lemas di kursi, kepalanya tertunduk.“Terima kasih, Tuan.” bisik ayah Evelyn akhirnya, suaranya serak dan pecah. Air mata mulai mengalir di wajahnya penuh penyesalan. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku janji ini yang terakhir—”“Diam.” potong Bram tajam. Ia mendekati ayah Evelyn, lalu membungkukkan badannya hingga sejajar dengan wajah pria tua itu. “Aku nggak melunasi utangmu karena aku peduli padamu. Aku melakukannya karena setiap kali kau muncul dengan masalah baru, itu mencoreng nama yang sekarang disandang anakmu. Evelyn adalah Nyonya Wijaya sekarang. Namanya terhubung dengan keluargaku dan aku nggak akan membiarkan siapa pun merusak reputasi itu.”Ayah Evelyn menunduk lebih dalam, bahunya bergetar pelan, tangisnya tertahan di tenggorokan.“Malam ini, kau akan diantar pulang oleh sopirku.” lanjut Bram. “Mulai besok, kau

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   30. Syarat

    “Aku tahu ayahku lebih baik daripada siapa pun, Bram. Kalau dia sudah mabuk dan panik, cuma aku yang bisa membuatnya mendengar.” Mata Evelyn menatap suaminya dengan penuh permohonan.Bram menatap Evelyn tajam, rahangnya mengeras. Akhirnya ia menghela napas panjang, mengalah. “Jangan bicara banyak. Biarkan aku yang bicara dengan mereka. Kamu boleh mendekat kalau aku mengizinkan.”Evelyn mengangguk tegas. “Aku cuma ingin memastikan Papa nggak membuat masalah lebih besar.”Mereka berjalan cepat meninggalkan aula utama. Di balik pintu gerbang, suara teriakan terdengar.Evelyn bisa melihat ayahnya berdiri sempoyongan dikelilingi tiga pria berbadan besar.“Aku cuma mau ketemu anakku! Buka gerbang ini!” teriak Ayah Evelyn, suaranya serak.Salah satu pria memegangi lengan Ayah Evelyn, sementara dua lainnya menatap mansion dengan tatapan menghitung banyak uang yang bisa mereka peras malam ini.“Papa!” Evelyn berlari kecil mendeka

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   29. Masalah

    Di meja utama, Ibu Wijaya sudah duduk dengan anggun. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya yang merah dan matanya puas saat melihat kartu nama Sinta di sebelah kursi Bram.Bram menarik kursi di sebelahnya sendiri, menggeser kartu nama bertuliskan Sinta ke posisi lain ujung meja, menggantinya dengan kartu nama Evelyn yang ia ambil dari saku jasnya.Wajah Ibu Wijaya menegang, rahangnya mengeras, tapi ia tidak bisa protes di depan tamu-tamu yang sedang memperhatikan.“Duduklah.” kata Bram pada Evelyn, menarik kursi di sebelahnya.Evelyn duduk, jantungnya berdegup kencang melihat betapa mudahnya Bram mengabaikan rencana ibunya di depan umum.Ia merasakan kemenangan, tapi ia tidak membiarkan dirinya tersenyum lebar. Ia duduk anggun, mengangguk pada tamu di sekitarnya, dan mengambil gelas air di depannya.Sinta yang baru tiba di meja utama langsung membeku melihat susunan meja berubah. Matanya membulat berubah menjadi kemarahan. Ia

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   28. Berlian

    Di dalam ruang kerja, Bram berdiri di depan mejanya, sebuah kotak beludru hitam tergeletak di meja. Kotak itu berlogo toko perhiasan ternama.“Apa ini?” tanya Evelyn, menatap kotak itu curiga.“Buka.” perintah Bram singkat, tangannya di saku celana.Evelyn membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, sebuah kalung berlian dengan liontin bulan sabit di tengahnya.“Untuk gala. Kamu nggak bisa memakai perhiasan pinjaman lagi seperti saat pernikahan. Kamu istriku, dan harus memakai yang milikmu. Ini milikmu, Evelyn.” kata BramEvelyn menatap kalung itu, lalu menatap Bram dengan bingung. “Ini pasti sangat mahal, Bram. Aku nggak—”“Aku nggak ingin mendengar penolakan.” potong Bram, melangkah mendekat. “Ini bukan hadiah, ini investasi. Penampilanmu di gala nanti akan mencerminkan keluarga ini. Kalung pinjaman terlihat murahan kalau ada yang tahu, dan aku nggak mau ada yang bergosip bahwa Nyonya Besar Wijaya nggak punya perhiasan sendiri.”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status