ログインBeberapa menit kemudian, Evelyn melangkah keluar.
Gaun itu pas di tubuh Evelyn. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, membuat wajahnya anggun. Tanpa riasan pun, ia terlihat seperti bidadari yang turun dari lukisan. Para asisten yang sudah terbiasa melihat gaun-gaun mahal saling bertukar pandang dengan mata membulat. Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar. “Cantik sekali... seperti putri dari dongeng....” “Gaun itu benar-benar cocok untuknya....” “Seperti bukan orang yang sama....” Namun Tante Wijaya justru mendengus sinis. “Cantik?” Ia tertawa kecil. “Gaun mahal memang bisa mengubah penampilan, tapi nggak bisa mengubah asal-usul. Ingat itu. Kamu boleh memakai sutra dan berlian, tapi darahmu tetaplah darah miskin.” Evelyn mengepalkan kedua tangannya di balik rok gaun. Sebelum sempat menjawab, suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk. “Cantik sekali.” Semua orang menoleh serentak. Seorang wanita berjalan masuk dengan senyum sempurna. Gaun merah menyala memeluk tubuh langsingnya. Rambut panjang bergelombang jatuh anggun di bahu. Lipstik merah membuat senyumnya semakin percaya diri. Tatapannya langsung berhenti pada Bram yang berdiri di dekat jendela sejak tadi, dengan setelan jas abu-abu rapi, tangan di saku celana. “Bram.” Pria itu hanya mengangguk tipis. Wanita itu tersenyum lebar. “Aku nggak mungkin melewatkan hari pentingmu, kan?” Ia melangkah mendekati Bram, memberikan ciuman di pipi. Lalu tatapannya beralih kepada Evelyn. Senyumnya tetap manis tetapi matanya tidak tersenyum. “Kamu pasti Evelyn.” Suaranya lembut, penuh madu. Evelyn mengangguk singkat, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Wanita itu mendekat. Aroma parfum mahal menyengat hidung Evelyn. “Aku Sinta.” Ia mengulurkan tangan dengan gerakan anggun. Kuku-kukunya panjang dan berkilau dengan cat kuku merah yang sama dengan gaunnya. Dengan ragu, Evelyn menyambut tangannya. “Lumayan.” Sinta menggenggam tangannya sedikit lebih erat, matanya menyelidik wajah Evelyn dari dekat. “Kamu lebih cantik daripada yang kubayangkan. Dari cerita yang kudengar, aku pikir kamu akan terlihat seperti... yah, aku nggak tahu. Gadis miskin biasa.” Sinta tersenyum tipis, lalu melepaskan genggamannya. “Aku mantan Bram.” “Oh....” Sinta terkekeh pelan. “Dia belum cerita?” “Belum.” “Wajar.” Tatapan Sinta melayang kepada Bram yang masih sibuk membaca pesan di ponselnya, benar-benar tidak peduli dengan percakapan mereka. “Aku dan Bram hampir menikah dua tahun lalu, tapi keadaan berubah.” Ia menghela napas dramatis. Sinta kembali menatap Evelyn dengan senyum yang sama manisnya. “Jangan terlalu berharap, Evelyn. Kamu cuma pengganti sementara, kok.” “Saya nggak pernah berharap jadi siapa pun.” “Bagus.” Sinta mengangguk puas. “Posisi itu memang bukan milikmu.” Darah Evelyn langsung mendidih. Matanya menatap Sinta dengan tajam. “Kalau memang masih ingin bersamanya, kenapa bicara ke saya? Kenapa nggak bicara langsung sama Bram?” Senyum Sinta sedikit memudar. Matanya berkedip, seolah tidak menyangka Evelyn akan membalas. “Aku kasihan kamu akan patah hati nanti. Aku tahu Bram nggak bisa mencintai orang seperti kamu." Evelyn tertawa sinis, tawa penuh amarah. “Tenang saja. Saya nggak punya hati untuk laki-laki yang memaksa perempuan menikah dengannya dengan ancaman.” Senyum Sinta benar-benar menghilang. ~~~ Fitting selesai menjelang sore. Saat para perias mulai membereskan peralatan dan desainer melipat gaun dengan hati-hati, Tante Wijaya kembali membuka suara dari kursi empuk tempatnya duduk selama berjam-jam. “Kamu tahu?” Ia berdiri dan melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Evelyn yang sedang melepas anting-anting berlian pinjaman. “Sinta jauh lebih pantas menjadi menantuku daripada kamu. Berpendidikan, terhormat, anaknya keluarga kaya raya. Keluarga Wijaya dan Keluarga Santoso sudah saling kenal sejak generasi.” Tatapannya turun ke sepatu sederhana milik Evelyn yang tergeser di bawah kursi. “Lalu lihat kamu. Semua yang kamu pakai hari ini bahkan bukan milikmu. Gaun itu milik keluarga Wijaya, anting itu pinjaman, sepatumu sendiri sudah usang. Apa yang bisa kamu banggakan?” Perias-perias dan asisten hanya bisa saling melirik dengan ekspresi canggung. Perlahan, tanpa menoleh, Evelyn berkata, “Kalau memang saya begitu memalukan, kenapa keluarga ini tetap memaksa saya menikah sama Bram? Kenapa nggak memilih Sinta saja kalau dia sempurna?” Wajah Tante Wijaya langsung menegang. Matanya membelalak dengan kemarahan yang nyaris meledak. “Kurang ajar! Berani-beraninya kamu bicara seperti itu padaku!” Wanita itu mengangkat tangan, telapak terbuka, hendak menampar Evelyn keras-keras. Namun sebelum tamparan itu mendarat, Bram tiba-tiba muncul di antara mereka. Tangan pria itu menangkap pergelangan tangan ibunya dengan gerakan cepat dan tenang. “Cukup.” Suara pria itu tetap datar, tapi ada otot yang menegang di rahangnya. “Besok pernikahan, jangan buat keributan.” Tante Wijaya menarik tangannya dengan kesal, melepaskan diri dari genggaman putranya. “Kamu selalu membelanya! Sejak gadis ini datang, kamu selalu memilih dia!” “Aku menjaga nama keluarga.” Jawaban Bram terdengar datar. “Bukan membela siapa pun.” ~~~ Malam turun perlahan. Seluruh penghuni rumah mulai beristirahat. Para pelayan sudah kembali ke kamar masing-masing di sayap belakang. Lampu-lampu koridor diredupkan. Evelyn duduk sendirian di dekat jendela kamar tamunya, menatap bulan sabit di langit malam. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan gelisah. Besok malam ia resmi menjadi istri Bram. Nggak, ia nggak bisa membiarkan itu terjadi. Tatapannya ke halaman belakang mansion. Dari lantai dua, ia melihat pagar samping tidak tinggi. Di dekatnya ada pohon besar dengan ranting-ranting cukup kuat untuk menahan berat badannya. Kalau memanjat keluar melalui jendela kamar mandi di sebelah, lalu merayap di atas atap garasi, lalu turun ke pohon itu, ia masih punya kesempatan kabur. Jantungnya berdegup cepat, keringat dingin membasahi telapak tangannya. “Ini satu-satunya peluang.” bisiknya pada diri sendiri. “Besok sudah terlambat.” Ia melepas sandal kamarnya. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia membuka jendela kamar mandi. Dengan hati-hati, Evelyn mengangkat satu kaki ke luar jendela, lalu kaki satunya lagi, tangannya meraih tepian dinding, mencari pegangan di antara batu-batu. Sedikit lagi ia bisa turun ke balkon kecil di bawahnya, lalu melompat ke atap garasi. Evelyn menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya. “Rara, tunggu Kakak. Kakak akan cari cara lain. Kakak akan lari dan mencari uang sendiri. Kakak janji.” Ia menggeser tubuhnya perlahan, mencari pijakan di dinding yang licin karena embun malam. “Mau ke mana malam-malam begini, Nyonya?” Evelyn membeku.“Mulai minggu depan, seluruh tamu keluarga yang ingin bertemu Evelyn harus dijadwalkan lebih dulu. Di luar jam kerjanya.” Bram menatap ibunya. “Jika ada tamu yang datang mendadak dan bukan urusan darurat, maka merekalah yang harus menyesuaikan. Evelyn tidak bisa terus-menerus ditarik ke dua arah.”Ibu Wijaya langsung menyela, suaranya naik satu oktaf. “Kalau tamunya mendadak? Kalau ada tamu penting yang datang tanpa pemberitahuan?”“Kalau mendadak dan tidak darurat, Bu, berarti mereka yang menyesuaikan. Kita bisa meminta mereka datang di lain waktu, atau kita bisa menjadwalkan pertemuan di tempat yang lebih netral.”Evelyn berdiri diam beberapa saat, lalu ketika Bram berjalan menuju ruang kerjanya, ia pun mengejarnya.“Bram.”Pria itu menoleh.“Kau tidak perlu membuat aturan baru.” Evelyn menggenggam tangannya sendiri, mencari kata-kata yang tepat. “Aku bisa mengatur jadwalku sendiri. Aku tidak ingin kau berselisih dengan Ibu hanya karena aku.”Bram menatapnya beberapa detik, lalu men
Keesokan paginya pukul sembilan tepat, mobil Bram berhenti di depan pintu masuk utama.Evelyn menarik napas dalam-dalam, merapikan blazer yang ia kenakan dan melangkah keluar. Bram mengikuti di sampingnya.Di lobi, Pak Surya dan Clarissa sudah menunggu. Clarissa berdiri di samping ayahnya, ia membawa map yang sudah direvisi.Pak Surya maju lebih dulu, tangannya terulur untuk menjabat Bram. “Terima kasih sudah memajukan jadwal, Bram.”Bram menjabat tangannya. “Silakan, Pak Surya.” Mereka masuk ke ruangan.Ruangan itu lebih kecil dari ruang rapat utama, hanya cukup untuk meja bundar dengan enam kursi di sekelilingnya. Clarissa langsung membagikan proposal yang telah direvisi kepada semua orang di meja dengan salinan tambahan untuk Maya. Evelyn membuka halaman pertama, membaca setiap baris, memeriksa setiap angka, membandingkan revisi dengan proposal awal. Evelyn membalik halaman terakhir, lalu menutup map itu dan meletakkannya di atas meja. Ia menatap Clarissa dengan mata yang tulu
Malam tiba.Seluruh penghuni utama berkumpul di ruang keluarga, duduk di sofa-sofa, menunggu apa yang akan disampaikan Ibu Wijaya.Ibu Wijaya duduk di kursi tunggal. Di hadapannya, sebuah map terbuka sudah ia siapkan sebelumnya.Bram duduk di sebelah Evelyn di sofa utama. Kevin memilih duduk di sofa panjang bersama Rara.Ibu Wijaya membuka map itu. “Aku tidak akan berbicara lama. Rumah ini semakin ramai, tamu keluar masuk tanpa jadwal yang jelas, kegiatan bertambah, dan karena itu mulai hari ini ada beberapa aturan baru yang harus dipatuhi penghuni mansion.”Kevin mengembuskan napas pelan.Ibu Wijaya membaca poin pertama. “Setiap tamu yang datang ke mansion wajib melalui persetujuanku terlebih dahulu, tidak ada tamu yang boleh masuk ke ruang tamu utama tanpa seizinku.”Bram menyela dengan suara datar tapi tegas. “Tidak.”Ibu Wijaya menoleh, alisnya terangkat karena terkejut dengan interupsi putranya. “Apa maksudmu, Bram?”“Kalau tamu datang untuk urusan pekerjaan Evelyn, mereka tetap
Di mansion, sore itu Kak Sari sedang membantu Rara menyiram tanaman di taman belakang.Dari balkon lantai dua, Ibu Wijaya memperhatikan mereka dalam diam. Tangannya menggenggam erat pagar balkon.Tatapannya beralih ke halaman depan mansion yang kini lebih sering dipenuhi mobil-mobil tamu dan semua itu datang untuk menemui Evelyn.Ia menyadari, perlahan Evelyn mulai memiliki tempat di keluarga Wijaya. Semakin banyak orang yang datang ke mansion bukan lagi untuk menemui Bram, melainkan untuk bertemu Nyonya Evelyn Wijaya.Kemudian, ia berbalik memasuki kamarnya. Ia menarik napas panjang dan menekan bel kecil di atas meja.Bel itu berbunyi, tak lama setelah itu langkah kaki Pak Budi terdengar mendekati pintu. Ia mengetuk pelan sebelum masuk dengan sikap hormat. “Anda memanggil saya, Nyonya?”Ibu Wijaya menunjuk kursi di hadapannya. “Duduk.”Pak Budi tetap berdiri dengan tegak, tangannya di belakang punggung. “Saya lebih nyaman berdiri, Nyonya. Terima kasih.”Ibu Wijaya tidak mempermasalah
Sesampainya di mansion, suasana sore yang tenang langsung menyambut mereka. Pak Budi yang sudah menunggu di pintu membukakan pintu.“Selamat sore, Tuan. Nyonya.”“Rara di mana?” tanya Evelyn, sudah tidak sabar untuk melihat adiknya.“Sedang belajar membaca bersama Kak Sari di ruang belajar kecil, Nyonya.”Evelyn langsung menuju ruang belajar di ujung koridor. Di sana, ia menemukan Rara duduk di meja kecil dengan buku terbuka di hadapannya. Kak Sari duduk di sampingnya, sesekali membetulkan posisi buku.Rara menoleh dan senyumnya langsung melebar. “Kak Evelyn!” Ia langsung berlari meninggalkan bukunya, memeluk kakaknya dengan erat. “Lihat, aku sudah bisa membaca satu halaman sendiri!”Evelyn tersenyum bangga, membalas pelukan adiknya. “Hebat sekali, Ra.”Kevin yang duduk di sofa di sudut ruangan, ikut bertepuk tangan. “Nah, sebentar lagi kamu bisa baca buku cerita sendiri.”Rara menggeleng cepat, matanya membulat. “Nggak mau, maunya tetap dibacain Kak Kevin.”Kevin tertawa, mengacak ra
Evelyn menatap Bram sekilas, mencari konfirmasi. Bram tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menyesap kopinya dengan tenang.Evelyn kembali memandang Sinta. “Saya tidak mengatakan ditolak, Nona Sinta. Saya mengatakan bahwa proposal ini perlu direvisi.”Sinta menyilangkan tangan, senyumnya berubah menjadi seringai tipis. “Direvisi? Kau cukup berani memberi masukan. Biasanya orang butuh waktu untuk membangun keberanian sebelum mengkritik proposalku.”Evelyn tersenyum tipis. “Saya hanya menjalankan tanggung jawab saya, Nona Sinta.”Sinta mengembuskan napas pelan, ia mengambil kembali proposal itu. “Baiklah.”Ia berdiri, lalu memandang Bram. “Aku tidak menyangka sekarang semua keputusan harus melewati istrimu, Bram.”Bram mengangguk tipis. “Sampai bertemu lagi, Sinta. Semoga revisi proposalnya berjalan lancar.”Sinta menatap Evelyn sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah keluar.Evelyn menatap pintu yang baru saja tertutup. “Apa aku tadi terlalu keras?”Bram menggeleng, meletakkan cangkir ko







