Compartilhar

Bab 4

Autor: bluaeya
last update Data de publicação: 2026-06-28 22:59:47

Beberapa menit kemudian, Evelyn melangkah keluar.

Gaun itu pas di tubuh Evelyn. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, membuat wajahnya anggun. Tanpa riasan pun, ia terlihat seperti bidadari yang turun dari lukisan.

Para asisten yang sudah terbiasa melihat gaun-gaun mahal saling bertukar pandang dengan mata membulat. Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar.

“Cantik sekali... seperti putri dari dongeng....”

“Gaun itu benar-benar cocok untuknya....”

“Seperti bukan orang yang sama....”

Namun Tante Wijaya justru mendengus sinis. “Cantik?” Ia tertawa kecil. “Gaun mahal memang bisa mengubah penampilan, tapi nggak bisa mengubah asal-usul. Ingat itu. Kamu boleh memakai sutra dan berlian, tapi darahmu tetaplah darah miskin.”

Evelyn mengepalkan kedua tangannya di balik rok gaun. Sebelum sempat menjawab, suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk.

“Cantik sekali.”

Semua orang menoleh serentak.

Seorang wanita berjalan masuk dengan senyum sempurna. Gaun merah menyala memeluk tubuh langsingnya. Rambut panjang bergelombang jatuh anggun di bahu. Lipstik merah membuat senyumnya semakin percaya diri.

Tatapannya langsung berhenti pada Bram yang berdiri di dekat jendela sejak tadi, dengan setelan jas abu-abu rapi, tangan di saku celana.

“Bram.”

Pria itu hanya mengangguk tipis.

Wanita itu tersenyum lebar. “Aku nggak mungkin melewatkan hari pentingmu, kan?” Ia melangkah mendekati Bram, memberikan ciuman di pipi.

Lalu tatapannya beralih kepada Evelyn. Senyumnya tetap manis tetapi matanya tidak tersenyum.

“Kamu pasti Evelyn.” Suaranya lembut, penuh madu.

Evelyn mengangguk singkat, tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Wanita itu mendekat. Aroma parfum mahal menyengat hidung Evelyn.

“Aku Sinta.” Ia mengulurkan tangan dengan gerakan anggun. Kuku-kukunya panjang dan berkilau dengan cat kuku merah yang sama dengan gaunnya.

Dengan ragu, Evelyn menyambut tangannya.

“Lumayan.” Sinta menggenggam tangannya sedikit lebih erat, matanya menyelidik wajah Evelyn dari dekat. “Kamu lebih cantik daripada yang kubayangkan. Dari cerita yang kudengar, aku pikir kamu akan terlihat seperti... yah, aku nggak tahu. Gadis miskin biasa.”

Sinta tersenyum tipis, lalu melepaskan genggamannya. “Aku mantan Bram.”

“Oh....”

Sinta terkekeh pelan. “Dia belum cerita?”

“Belum.”

“Wajar.” Tatapan Sinta melayang kepada Bram yang masih sibuk membaca pesan di ponselnya, benar-benar tidak peduli dengan percakapan mereka. “Aku dan Bram hampir menikah dua tahun lalu, tapi keadaan berubah.” Ia menghela napas dramatis.

Sinta kembali menatap Evelyn dengan senyum yang sama manisnya. “Jangan terlalu berharap, Evelyn. Kamu cuma pengganti sementara, kok.”

“Saya nggak pernah berharap jadi siapa pun.”

“Bagus.” Sinta mengangguk puas. “Posisi itu memang bukan milikmu.”

Darah Evelyn langsung mendidih. Matanya menatap Sinta dengan tajam. “Kalau memang masih ingin bersamanya, kenapa bicara ke saya? Kenapa nggak bicara langsung sama Bram?”

Senyum Sinta sedikit memudar. Matanya berkedip, seolah tidak menyangka Evelyn akan membalas. “Aku kasihan kamu akan patah hati nanti. Aku tahu Bram nggak bisa mencintai orang seperti kamu."

Evelyn tertawa sinis, tawa penuh amarah. “Tenang saja. Saya nggak punya hati untuk laki-laki yang memaksa perempuan menikah dengannya dengan ancaman.”

Senyum Sinta benar-benar menghilang.

~~~

Fitting selesai menjelang sore.

Saat para perias mulai membereskan peralatan dan desainer melipat gaun dengan hati-hati, Tante Wijaya kembali membuka suara dari kursi empuk tempatnya duduk selama berjam-jam.

“Kamu tahu?” Ia berdiri dan melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Evelyn yang sedang melepas anting-anting berlian pinjaman. “Sinta jauh lebih pantas menjadi menantuku daripada kamu. Berpendidikan, terhormat, anaknya keluarga kaya raya. Keluarga Wijaya dan Keluarga Santoso sudah saling kenal sejak generasi.”

Tatapannya turun ke sepatu sederhana milik Evelyn yang tergeser di bawah kursi. “Lalu lihat kamu. Semua yang kamu pakai hari ini bahkan bukan milikmu. Gaun itu milik keluarga Wijaya, anting itu pinjaman, sepatumu sendiri sudah usang. Apa yang bisa kamu banggakan?”

Perias-perias dan asisten hanya bisa saling melirik dengan ekspresi canggung.

Perlahan, tanpa menoleh, Evelyn berkata, “Kalau memang saya begitu memalukan, kenapa keluarga ini tetap memaksa saya menikah sama Bram? Kenapa nggak memilih Sinta saja kalau dia sempurna?”

Wajah Tante Wijaya langsung menegang. Matanya membelalak dengan kemarahan yang nyaris meledak. “Kurang ajar! Berani-beraninya kamu bicara seperti itu padaku!”

Wanita itu mengangkat tangan, telapak terbuka, hendak menampar Evelyn keras-keras.

Namun sebelum tamparan itu mendarat, Bram tiba-tiba muncul di antara mereka. Tangan pria itu menangkap pergelangan tangan ibunya dengan gerakan cepat dan tenang. “Cukup.”

Suara pria itu tetap datar, tapi ada otot yang menegang di rahangnya. “Besok pernikahan, jangan buat keributan.”

Tante Wijaya menarik tangannya dengan kesal, melepaskan diri dari genggaman putranya. “Kamu selalu membelanya! Sejak gadis ini datang, kamu selalu memilih dia!”

“Aku menjaga nama keluarga.” Jawaban Bram terdengar datar. “Bukan membela siapa pun.”

~~~

Malam turun perlahan. Seluruh penghuni rumah mulai beristirahat. Para pelayan sudah kembali ke kamar masing-masing di sayap belakang. Lampu-lampu koridor diredupkan.

Evelyn duduk sendirian di dekat jendela kamar tamunya, menatap bulan sabit di langit malam. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan gelisah.

Besok malam ia resmi menjadi istri Bram.

Nggak, ia nggak bisa membiarkan itu terjadi.

Tatapannya ke halaman belakang mansion. Dari lantai dua, ia melihat pagar samping tidak tinggi. Di dekatnya ada pohon besar dengan ranting-ranting cukup kuat untuk menahan berat badannya.

Kalau memanjat keluar melalui jendela kamar mandi di sebelah, lalu merayap di atas atap garasi, lalu turun ke pohon itu, ia masih punya kesempatan kabur.

Jantungnya berdegup cepat, keringat dingin membasahi telapak tangannya.

“Ini satu-satunya peluang.” bisiknya pada diri sendiri. “Besok sudah terlambat.”

Ia melepas sandal kamarnya. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia membuka jendela kamar mandi.

Dengan hati-hati, Evelyn mengangkat satu kaki ke luar jendela, lalu kaki satunya lagi, tangannya meraih tepian dinding, mencari pegangan di antara batu-batu.

Sedikit lagi ia bisa turun ke balkon kecil di bawahnya, lalu melompat ke atap garasi. Evelyn menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya.

“Rara, tunggu Kakak. Kakak akan cari cara lain. Kakak akan lari dan mencari uang sendiri. Kakak janji.”

Ia menggeser tubuhnya perlahan, mencari pijakan di dinding yang licin karena embun malam.

“Mau ke mana malam-malam begini, Nyonya?”

Evelyn membeku.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   8. Ponsel Pelayan

    Menjelang siang, suasana rumah mulai ramai kembali. Sebuah mobil sport putih memasuki halaman mansion. Pelayan segera membukakan pintu. Dari mobil, Sinta turun anggun. Ia membawa map hitam tebal di tangannya. Di sisi lainnya, ia menggenggam tas tangan bermerek. “Bram ada?” tanya Sinta pada pelayan yang menyambutnya. “Di ruang kerja, Nona.” Sinta mengangguk lalu masuk rumah itu. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat Evelyn sedang menyiram tanaman di dekat jendela besar. Evelyn mengenakan gaun dan apron hijau, tangannya memegang gembor kecil. “Halo.” sapa Sinta dengan suara lembut. Evelyn hanya mengangguk singkat. Ia tidak memiliki energi untuk berbasa-basi. “Aku datang mengantar dokumen perusahaan, nggak usah tegang.” kata Sinta dengan senyum. Evelyn mengangkat alis. “Benarkah?” Sinta tersenyum lebih lebar. “Iya, aku cuma teman lama Bram.” Ia melangkah mendekat, lalu Sinta berbisik pelan. “Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan nyaman tinggal di rumah ini.” Evelyn menatapn

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   7. Resmi

    Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   7. Resmi

    Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   Bab 6

    “Saya... bersedia.”Suaranya lirih. Kedua tangannya gemetar di balik buket bunga putih yang ia genggam erat. Bibirnya bergetar, tetapi ia memaksakan diri tetap tegar.Di hadapannya, Bram berdiri dengan setelan jas hitam. Ekspresinya sedingin batu.Penghulu menoleh kepada Bram. “Apakah Saudara Bram Wijaya bersedia menerima Evelyn Widyadana sebagai istri Saudara?”Bram menghela napas pendek. “Saya bersedia.”Penghulu mengangguk. “Mulai hari ini, Saudara berdua resmi menjadi suami istri. Semoga pernikahan ini diberkahi dan dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.”Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Lampu kamera berkilatan dari berbagai arah. Para tamu tersenyum dan mengangkat gelas mereka.Saat cincin disematkan ke jari manisnya, Evelyn hanya mampu menunduk.~~~ Resepsi berlangsung sangat mewah. Evelyn berdiri di dekat meja utama dengan gaun pengantin putih.“Selamat ya, Nyonya Besar.”Suara Ibu Wijaya terdengar di sampingnya. Evelyn menoleh dan melihat wanita paruh baya itu mendekat denga

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   Bab 5

    Tangannya langsung kehilangan tenaga. Otot-ototnya ketakutan. Perlahan, ia menoleh.Bram berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Jas hitamnya masih rapi. Tatapannya dingin menusuk seolah ia sudah tahu rencana Evelyn.“Evelyn.” Suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menangkap calon istrinya melarikan diri. “Turun.”Evelyn menggeleng cepat, matanya liar mencari jalan keluar. “Nggak.”“Turun.”“Aku nggak akan menikah sama kamu!” Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. “Aku lebih baik mati daripada menjadi istri orang seperti kamu!”Bram menghela napas pelan, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala. “Jangan mempersulit keadaan, Evelyn. Turun dari sana sebelum kamu terluka.”“Yang mempersulit hidupku itu kamu!” Dengan nekat, Evelyn mencoba melompat ke sisi luar pagar. Kaki-kakinya mendorong dinding dengan sekuat tenaga.Namun baru beberapa langkah, sepatu kets murah yang dipakainya tergelincir. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.“

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   Bab 4

    Beberapa menit kemudian, Evelyn melangkah keluar.Gaun itu pas di tubuh Evelyn. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, membuat wajahnya anggun. Tanpa riasan pun, ia terlihat seperti bidadari yang turun dari lukisan.Para asisten yang sudah terbiasa melihat gaun-gaun mahal saling bertukar pandang dengan mata membulat. Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar.“Cantik sekali... seperti putri dari dongeng....”“Gaun itu benar-benar cocok untuknya....”“Seperti bukan orang yang sama....”Namun Tante Wijaya justru mendengus sinis. “Cantik?” Ia tertawa kecil. “Gaun mahal memang bisa mengubah penampilan, tapi nggak bisa mengubah asal-usul. Ingat itu. Kamu boleh memakai sutra dan berlian, tapi darahmu tetaplah darah miskin.”Evelyn mengepalkan kedua tangannya di balik rok gaun. Sebelum sempat menjawab, suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk.“Cantik sekali.”Semua orang menoleh serentak.Seorang wanita berjalan masuk dengan senyum sempurna. Gaun merah menyala memeluk tubuh lang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status