Se connecter
Suara derit kursi kulit di ruangan itu terdengar seperti geraman di telinga Aruna. Di seberang meja, Keenan pria yang beberapa tahun lalu membuangnya seperti sampah kini menatapnya dengan tatapan sedingin es kutub.
"Jelaskan. Kenapa laporan penjualan Kontrasepsi Ultra Thin berantakan?”
Aruna mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan kekesalannya setiap kali Keenan memarahinya. "Berantakan? Saya sudah membandingkan dari lima produk kompetitor, Pak Keenan. Ini akal akalan bapak cari kesalahan saya, kan?"
Keenan berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang menjulang tinggi memancarkan bayangan yang mengintimidasi.
Ia melangkah perlahan mengitari meja, mendekat ke arah Aruna hingga aroma parfum sandalwood dan maskulinitas yang kuat menyerbu indra penciuman wanita itu.
"Memecatmu terlalu mudah, Aruna.." bisik Keenan tepat di samping telinga Aruna, membuat bulu kuduknya meremang.
“Mudah bagaimana, Pak? Saya bukan wanita yang bisa anda buang seperti dulu!” Aruna menatap tajam mata Keenan walaupun tubuhnya kini sedikit bergetar.
“Perbaiki laporanmu!” Keenan meraih map di atas meja lalu memberikannya pada Aruna dengan kesar. “Saya tunggu sebelum jam pulang!” Dengan santai Keenan kembali ke kursinya.
Sementara Aruna menatap punggung Keenan geram. Kalau bukan karena dia adalah bosnya, sepatu hak ini sudah sampai ke pipinya!
**
Perdebatan pagi itu kini berlanjut hingga ke ruang penyimpanan sampel produk baru. Saat Aruna berusaha mengambil kotak prototipe di rak paling atas, ia tidak tahu kalau Keenan berdiri tepat di belakangnya, mengawasi setiap geraknya dengan pandangan menghakimi sekaligus mengejek.
"Biar saya saja. Kamu terlalu pendek," ejek Keenan.
"Aku bisa sendiri! Minggir!" Aruna berjinjit, tangannya menggapai-gapai.
Tiba-tiba, kakinya tersangkut kabel pemanas ruangan yang menjuntai di lantai. Aruna kehilangan keseimbangan.
Secara refleks, ia menarik kemeja Keenan untuk bertahan. Tubuh mereka bertabrakan hebat. Keenan mencoba menyeimbangkan diri, tapi lantai yang licin karena sisa cairan pelumas dari botol yang bocor membuat mereka berdua jatuh tersungkur ke lantai.
Aruna mendarat tepat di atas tubuh kekar Keenan. Napasnya memburu, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah pria itu. Keheningan yang menyesakkan begitu terasa dalam ruangan itu.
Namun, rasa sakit akibat jatuh segera berganti dengan sesuatu yang janggal. Sesuatu yang Aruna rasakan di balik saku celana milik Keenan yang kini terhimpit oleh pahanya.
"Singkirkan tanganmu, Aruna," desis Keenan, wajahnya mendadak pucat. Bukan pucat karena marah, tapi sesuatu yang tampak seperti... Ketakutan.
Aruna, yang masih dalam mode kesal dan emosi, justru merasa ada yang aneh. "Apa ini? Bapak membawa senjata tajam ke kantor, Pak? Untuk melindungi diri dari apa?”
Tanpa berpikir panjang dan didorong rasa penasaran serta sisa amarahnya, Aruna meraba benda keras yang menonjol di saku celana Keenan. Ia mengira itu adalah ponsel atau mungkin alat perekam rahasia.
"Aruna, jangan—-"
SRAK!
Karena posisi mereka yang kikuk, kain saku celana Keenan yang tipis itu justru robek saat Aruna mencoba menarik benda tersebut.
Bukan ponsel.
Bukan senjata.
Sebuah benda silikon medis berbentuk aneh dengan ukiran-ukiran kecil yang sangat spesifik jatuh ke lantai. Aruna terpaku. Sebagai staf di perusahaan kontrasepsi terkemuka, ia tahu persis benda apa itu. Itu adalah alat bantu medis khusus untuk... Masalah fungsi pria yang sangat spesifik dan langka.
Aruna menatap benda itu, lalu menatap wajah Keenan yang kini memerah padam hingga ke telinga. Sang CEO yang dingin, perfeksionis, dan selalu tampak perkasa di depan publik, ternyata menyembunyikan rahasia medis yang bisa menghancurkan reputasi 'kejantanannya' dalam sekejap.
"Jadi..." Aruna berbisik, suaranya bergetar antara syok dan kesadaran akan kartu as yang baru saja jatuh ke tangannya. "Ini alasan bapak selalu menolak kencan dengan para model itu, Pak Keenan?"
Rahang Keenan mengeras. Matanya berkilat tajam, namun kali ini ada permohonan yang tersirat di sana. "Satu kata keluar dari mulutmu, Aruna... Aku pastikan hidupmu berakhir."
Aruna perlahan berdiri, merapikan roknya, lalu tersenyum tipis, senyum pertama yang ia berikan pada Keenan sejak mereka bertemu kembali.
Keenan masih terbaring di lantai, napasnya memburu dengan mata yang terus tertuju pada benda silikon yang kini tergeletak malang di antara mereka. Aruna bisa merasakan adrenalin yang berbeda mengalir di nadinya bukan lagi amarah murni, melainkan sensasi kemenangan yang begitu tidak terduga.
"Ambilkan benda itu," perintah Keenan, suaranya parau, berusaha mengembalikan otoritasnya meski ia masih dalam posisi telentang yang sangat tidak menguntungkan.
Aruna tidak bergerak. Ia justru berjongkok perlahan, meraih benda itu dengan ujung jarinya, lalu memutar-mutarnya di depan cahaya lampu neon yang berkedip.
"Alat bantu sirkulasi pembuluh darah untuk kasus disfungsi tertentu... Wow. Aku ingat membaca jurnalnya bulan lalu, Pak Keenan. Ini teknologi terbaru untuk mereka yang punya masalah 'bangun' karena faktor psikologis atau saraf, kan?"
Tangan Aruna sibuk merapikan syal sutra untuk menutupi jejak kissmark di lehernya, sesekali ia melihat ke arah cermin kecil diatas meja. Aruna berusaha mengatur nafasnya, memastikan tidak ada sisa-sisa gairah yang tertinggal di wajahnya. ‘Sudah lama tidak bertemu, Keenan semakin ganas..’ batinnya. ”Aruna?” Panggilan itu membuat Aruna sedikit terlonjak. Ia menoleh dan menemukan Nando berdiri di samping mejanya dengan beberapa berkas di tangannya. Asisten CEO itu menatapnya dengan dahi berkerut. ”Astaga, Pak Nando. Kamu muncul tiba-tiba seperti penampakan. Ada apa?” Aruna berusaha tersenyum senormal mungkin. ”Wajahmu terlihat sangat merah. Kamu yakin luka di tanganmu tadi sudah diobati dokter Andra dengan benar? Atau... Suhu ruangan di lantai ini sedang naik?” Nando bertanya dengan tatapan menyelidik, tapi tetap terdengar ramah karena senyumnya selalu mengembang di bibirnya. Aruna tertawa kaku, tangannya refleks meraba pipinya yang memang terasa panas. “Tangan ku sudah
Aruna menatap mata Keenan tanpa rasa bersalah. “Anda yang terlalu mudah terpancing, Pak Keenan. Apa benar hanya karena saya pergi dulu, Anda sampai harus membawa alat bantu itu di saku Anda? Apa saya sehebat itu sampai merusak fungsi tubuh Anda?” bisik Aruna, sebuah senyum terukir di sudut bibirnya.. Wajah Keenan mengeras. Ia menarik syal yang melilit leher Aruna dengan satu hentakan kasar, memperhatikan tanda merah yang ia buat tadi. ”Jangan pernah bertanya tentang kemampuanku kalau kamu tidak siap untuk menerima konsekuensinya, Aruna,” kata Keenan. Ia menekan tubuh Aruna lebih rapat, membiarkan Aruna merasakan ‘aset’ miliknya yang kembali dalam keadaan tegang sempurna di balik celana kainnya. “Kamu bisa merasakannya? Apa ini terasa seperti pria yang rusak fungsi tubuhnya?” ”Kalau begitu, jelaskan padaku... Kenapa benda itu ada padamu?” Aruna menuntut, suaranya mulai bergetar karena emosi dan juga rasa penasaran. “Kenapa kamu membawa alat untuk penderita disfungsi pria kal
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah dengan menghancurkan satu sama lain sampai tidak ada lagi yang tersisa selain kita.” “Kamu egois Pak Keenan! Kamu yang mengabaikan ku.. Tapi kenapa kamu juga yang ingin menyiksaku?!” lirih Aruna, ia menatap Keenan tajam “Kamu yang meninggalkan aku, Aruna! Jangan membalikkan fakta! Atau bibirmu sekarang sudah terlalu pandai bicara.. Biar aku menghukummu!” Keenan kembali mencium Aruna, kali ini dengan kelembutan yang menyakitkan. Sebuah ciuman yang membawa pesan kerinduan sekaligus janji akan penderitaan yang manis. Aruna yang awalnya menolak, tanpa sadar membalasnya, menenggelamkan dirinya dalam gairah yang menyesakkan. Tiba-tiba, telepon di
Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Keenan keluar bersama beberapa manajer pria dan sekretarisnya. Suasana seketika hening. Aura dingin Keenan langsung membekukan keceriaan di pantry. Mata Keenan yang tajam langsung memperhatikan seisi ruangan, dan berhenti tepat pada sosok Aruna. Keenan menyadari apa yang dilakukan Aruna dalam sekejap. Wanita itu tidak menutupi tandanya. Aruna justru sedang memamerkan ‘hasil karyanya’ sebagai senjata untuk memicu kekacauan. "Semuanya kembali bekerja," suara Keenan rendah namun menggelegar. Para staf membubarkan diri dengan cepat, namun bisik-bisik sudah mulai terdengar samar. Keenan melangkah mendekati Aruna yang juga kembali kemejanya, sementara manajer lainnya terus berjalan menuju ruang rapat. "Ke ruanganku. Sekarang," desis Keenan saat ia melewati meja Aruna. "Maaf, Pak Keenan, saya sedang menyelesaikan revisi yang Bapak minta. Bukankah Bapak bilang harus selesai sebelum jam pulang?" jawab Aruna tanpa menatapnya, jarinya dengan lincah
Tangan Keenan meraba saku blazer Aruna, tempat benda itu disimpan. Aruna mencoba menghalanginya, namun Keenan mengunci kedua tangan Aruna di atas kepala dengan satu tangan besarnya. "Kamu kalah, Aruna," bisik Keenan, suaranya kini lebih lembut namun tetap dominan. Ia mengambil kembali alat medisnya dari saku Aruna. "Tapi aku belum selesai membuat perhitungan denganmu." Keenan tidak melepaskan Aruna. Ia justru memeluk wanita itu erat-erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Aruna, menghirup aroma vanila yang selalu menghantuinya setiap malam. Ada keheningan dramatis yang menyelimuti mereka, sebuah momen di mana kebencian beberapa tahun lalu seakan luruh karena kontak fisik yang begitu intim. "Kenapa kamu kembali, Aruna?" tanya Keenan pelan, ada nada emosional yang terselip di balik suara CEO yang dingin. "Kenapa kamu harus muncul lagi dan mengacaukan hidupku?" Aruna terdiam, merasakan detak jantung Keenan yang berpacu di dadanya. "Saya butuh pekerjaan, Pak Keenan. Hanya i
Langkah kaki Aruna terdengar seirama dengan detak jantungnya. Ia masuk ke ruangan CEO, dan detik itu juga suara kunci elektrik berbunyi.KLIK!Keenan berdiri membelakanginya di depan jendela kaca besar. Suasana begitu mencekam."Kamu terlambat dua menit, Aruna Zevania Louisa," suara Keenan memecah kesunyian, lebih dingin dari hembusan AC di ruangan itu."Saya sedang mengobati luka saya, Pak Keenan." balas Aruna sambil meletakkan map laporan di meja dengan suara keras.Keenan berbalik dengan cepat. Langkahnya lebar seperti predator. Sebelum Aruna sempat menghindar, Keenan sudah berada di hadapannya, mencengkeram kedua sisi meja dan mengurung Aruna di antaranya."Kamu pikir saya tidak tahu?" desis Keenan. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Aruna. "Saya lihat bagaimana dia menyentuhmu. “"Itu karena dia dokter—dan dia sopan! tidak kasar seperti bapak!" sahut Aruna dengan nada tegas."Sopan?" Keenan tertawa gelap. Ia meraih pinggang Aruna, menariknya kuat hingga tubuh mere







