Share

BAB 8

“Ella, apa maksud semua ini? Apa aku nggak salah lihat? Kau yang merencanakan ini? Kenapa?” tanyaku dengan terbata-bata.

Aku sungguh tak menyangka, kalau Ella, wanita yang kuanggap teman, ternyata adalah orang yang menjadi dalang penyekapanku dan anak-anakku. Aku bahkan tak pernah terpikir kalau dia yang mengatur penculikan ini.

Dialah yang kemarin mencarikan dan menawarkan mobil travel untuk membawaku pulang ke rumah orang tuaku. Kupikir dia tak ada hubungannya dengan semua ini. Namun ternyata perempuan yang membayar Redy adalah Ella.

Ella bukanlah orang yang kukenal baik. Dia hanyalah pelanggan yang kadang datang berbelanja di minimarket yang setiap hari ku jaga. Dan beberapa waktu sebelum aku kabur dari rumah, aku sempat akrab dengannya karena dia sering menemaniku mengobrol di meja kasir. Aku juga sering curhat tentang masalah rumah tanggaku padanya.

Jadi aku sekarang benar-benar sangat terkejut mengetahui kenyataan kalau ternyata dia adalah musuh dalam selimut.

“Redy, bisa kau jelaskan padaku kenapa perempuan ini bisa ada di luar?!” Ella berkata dengan nada dingin namun kentara kalau ia sedang sangat tak suka.

Redy tampak salah tingkah. Sepertinya ia bingung harus menjawab apa. Sempat kulihat ia tadi menatapku dengan pandangan marah. Namun aku tak peduli. Aku butuh jawaban.

“Jawab Redy! Kenapa kau biarkan dia keluar?!”

“Kau yang harusnya menjawab pertanyaanku Ella! Apa maksud semua ini? Kenapa kau tega melakukan ini? Apa salahku padamu? Apa kau punya dendam, hingga membuatmu sanggup melakukan hal sekeji ini? Gara-gara perbuatanmu, Andra meninggal.” Aku mulai menangis dan menitikkan air mata.

“Anakmu mati itu bukan salahku! Kau salahkanlah pemabuk ini.”

“Tapi kau yang membayar dan memberi perintah padanya untuk menyekap kami. Kenapa kau bisa tak punya hati seperti ini Ella?” kataku geram.

“Kau mau tahu kenapa? Nggak ada alasan khusus. Aku hanya tak menyukaimu!” jawabnya, membuatku terperangah. Alasan macam apa itu?

“Apa maksudmu tak suka? Aku tak pernah menganggu hidupmu. Apa ini karena Mas Edar?”

Ella tampak agak terkejut. Namun tak lama ia tersenyum menyeringai.

“Jadi kau sudah tahu? Baguslah. Aku tak perlu repot untuk menjelaskan.”

“Ternyata benar. Sejauh mana?” tanyaku.

“Maksudmu?”

“Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Mas Edar?”

“Cukup jauh, hingga kau tak akan bisa lagi mendapatkannya kembali.”

Aku tertawa kecil. “Aku tak pernah berniat untuk kembali pada Mas Edar. Aku lari dari rumah adalah agar aku bisa bebas selamanya dari hidup yang membosankan. Seharusnya kau bilang saja padaku kalau kau begitu menginginkannya. Aku akan memberikan Mas Edar padamu dengan senang hati. Tak perlu kau melakukan hal sejauh ini.”

“Jangan sombong kau, Laras. Memangnya kau pikir dia mencintaimu? Dia bahkan tak peduli saat kau lari dari rumah. Alasan kenapa aku mudah mendapatkannya itu, karena dalam hatinya udah nggak ada kamu. Begitu kau menghilang, dia bahkan langsung mau saat kuajak jalan-jalan,” kata Ella dengan tawa yang menyebalkan.

“Kalau gitu kau lepaskan kami. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Sekarang biarkan aku bebas dan memulai hidup baru bersama anak-anakku.” Pintaku.

“Kau pikir bisa membodohiku? Setelah kau keluar dari sini, kau pasti akan lapor polisi atau berusaha untuk masuk kembali ke dalam hidup Edar. Lagi pula, aku udah bilang kan, kalau aku tak suka padamu. Dan sangat menyenangkan melihatmu terkurung di sini dan disiksa.”

“Apa semuanya adalah rencanamu? Sejak awal, apa foto-foto itu yang mengirimkannya adalah kau, Ella?”

“Iya. Semua adalah rekayasaku. Tak kusangka kau mudah sekali dibodohi dan terpancing emosi.”

“Cukup Ella…!” aku menjambak rambut Ella secepat kilat. Hatiku sakit sekali mendengar perkataannya.

Redy membantu Ella dan melepaskan tanganku yang berada di rambut perempuan jahat itu dengan kasar.

“Kurung perempuan ini Redy! Jangan biarkan ia keluar lagi dari kamar. Jangan beri dia makan!” teriaknya.

“Lepaskan aku Ella! Biarkan aku pergi dari sini. Aku tak akan menganggu hidupmu. Aku hanya ingin hidup tenang bersama anak-anakku.”

Namun Ella tak mendengarku. Sementara Redy terus menarik badanku hingga akhirnya aku dimasukkan kembali ke kamar, tanpa membawa apa-apa. Tanpa makanan maupun barang yang sudah kupilih dari dalam tasku tadi.

Aku memekik keras, membuang semua rasa kesal dalam hati. Perasaan sakit saat mendengar bahwa Mas Edar tak peduli sama sekali saat aku pergi dari rumah, membuatku ingin pergi ke tempatnya sekarang berada dan menusuknya berkali-kali dengan pisau.

***

“Maafkan Mama ya, Rul. Mama lagi-lagi lupa membawa makanan ke sini. Mama nyesal karena benar-benar tak bisa menahan emosi.” Kataku pada Nurul. Baru saja ia mengeluhkan perutnya yang lapar.

“Nggak apa Ma. Mau diapain lagi. Kita makan biskuit dulu,” katanya sambil membuka bungkusan biskuit.

“Mama… Gendong.” Melina mengembangkan tangan, meminta aku mengangkat badannya. Aku pun langsung menggendongnya, meski badanku luar biasa lelah.

“Ma, jadi apa kita malam ini nggak makan nasi? Atau kayak kemarin, waktu Om itu nyuruh Mama bawa semua makanan ke sini?” tanya Nurul lagi. Kulihat sepertinya ia menelan ludah. Kasihan, mungkin dia sudah sangat lapar dan sejak tadi berharap aku akan membawakan nasi lagi untuknya.

“Mama nggak tahu, Rul. Tapi semoga aja Om itu ngasi kita makan nasi lagi ya hari ini,” hiburku.

“Memangnya tadi ada apa sih Ma? Kok Mama dipaksa masuk ke kamar sama Om? Terus Mama marah-marah.”

Aku tak tahu mau bagaimana menjawabnya. Walau kujelaskan pun tak mungkin Nurul akan mengerti betapa rumitnya permasalahan ini.

Tiba-tiba pintu dibuka. Redy muncul dengan wajah cemberut.

“Heh, kenapa tadi kau keluar sih? Aku kan udah bilang, tunggu aja di dalam. Kau udah buat Ella marah besar padaku. Aku jadi nggak dikasi uang lagi untuk sementara, karena udah berani membiarkanmu keluar dari kamar.”

Aku diam. Aku juga sadar kalau aku salah. Seharusnya aku tadi menahan diri agar tak terjadi keributan. Lebih baik bagiku kalau aku menyusun rencana kabur dan balas dendam dengan cermat dan rapi.

“Maaf Bang. Saya nggak tahu kalau bakal begini kejadiannya,” kataku menyesal.

“Ya gimana? Aku juga susah sih. Orang dia mintanya untuk ngurung kamu lagi, dan jangan dikasi makan.”

“Bang, tolong Bang. Jangan lakukan itu lagi. Kasihani anak-anakku. Mereka udah cukup senang sejak bisa makan dengan nasi.”

“Aku nggak berani ambil resiko, kalau sampai ketahuan Ella sekali lagi, bisa habis aku.”

“Tapi Bang…”

“Udah, sementara jangan banyak protes. Anggap ini hukuman karena kau berani melanggar apa yang ku larang. Sekarang pergilah ke dapur, kau boleh ambil makanan untuk malam ini. Dan aku tak akan memberi lagi kecuali nantinya aku udah berubah pikiran.”

Aku merasa kakiku lemas. Baru saja aku merasa bisa menarik perhatian dan membuatnya menjadi baik padaku. Namun kini aku harus kembali memulainya dari nol.

“Oh iya, aku disuruh Ella untuk melakukan sesuatu padamu dan anak-anakmu, usai ia menikah dengan suamimu nanti.”

“Apa yang ia suruh lakukan Bang?” tanyaku.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status