Masuk"Ayo, Bi Ayu, Bi Elisa," ujar Tirta sambil tersenyum. Dia sangat antusias. Tirta berjalan ke rumah sebelah bersama Ayu dan Elisa.Di dalam rumah itu, Shazana, Orion, serta orang tua Ayu dan Elisa duduk di kursi utama. Sementara itu, status Gaurav, Saba, dan Yahsva memang tidak biasa. Namun, mereka tidak merebut posisi Shazana dan lainnya.Gaurav, Saba, dan Yahsva hanya duduk di kursi samping. Mereka menunggu dengan ekspresi senang. Selain mereka, Heidi yang berstatus guru Elisa juga duduk di kursi samping.Setelah memberi hormat kepada Shazana dan Orion, Tirta melepaskan tangan Ayu dan Elisa. Kemudian, dia maju dan berlutut untuk memberi hormat kepada orang tua istrinya.Tirta berkata, "Ayah Mertua, Ibu Mertua, terima kasih kalian sudah mengizinkanku menikahi putri kalian. Mohon terima hormatku!"Ibunya Ayu dan Elisa segera memapah Tirta sembari membalas, "Menantuku, cepat berdiri. Aku dan ayah mertuamu sangat tenang menyerahkan kedua putri kami padamu."Ayahnya Ayu dan Elisa juga sang
Tirta merasa sangat senang saat menggenggam tangan mereka yang lembut. Dia berseru, "Kedua pengantinku, ikut aku!"Sebelum mereka keluar dari pintu, banyak orang sudah menantikan mereka. Para kekasih Tirta yang lain mengikuti di belakang. Setelah Tirta yang menggandeng Ayu dengan tangan kirinya dan menggandeng Elisa dengan tangan kanannya keluar, para wanita Negara Raigorou yang awalnya duduk di kursi langsung berdiri dan bersorak gembira."Wah, pengantin wanitanya cantik sekali!""Penyelamat kita benar-benar beruntung! Cuma wanita sesempurna ini yang sepadan dengannya!""Astaga, awalnya aku ingin menjadi pengiring pengantin! Tapi, setelah dipikir-pikir, itu mustahil! Jangankan dibandingkan dengan pengantin wanita, aku bahkan kalah cantik dari pengiring pengantin. Aku benar-benar nggak ada apa-apanya.""Cih, pengiring pengantin itu juga calon pengantin. Mana mungkin kamu bisa dibandingkan dengan mereka?""Tuan Tirta, selamat atas pernikahanmu! Semoga pernikahan kalian langgeng dan cepa
Tirta yang tersadar langsung duduk tegak. Akhirnya, dia menunggu sampai langit sepenuhnya terang.Tap! Tap! Tap! Yasmin mengenakan gaun putih dan mahkota yang terbuat dari bunga segar. Dia berlari ke lantai bawah dengan ekspresi gembira.Yasmin berseru dengan manis, "Kakak Guru, dua pengantin wanita akan segera turun! Siap-siap jemput mereka!""Oke!" sahut Tirta. Ekspresinya tampak senang.Tirta sibuk merapikan penampilannya. Dia takut ada yang tidak sempurna.Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara tawa. Susanti, Agatha, Nabila, Irene, Naura, dan Aiko yang turun dari tangga terlebih dahulu mengenakan gaun pengiring pengantin. Mereka semua yang tampak gembira sangat menarik.Penampilan mereka terlihat menawan dan elegan. Mereka sangat cantik, tetapi tidak menonjol sampai-sampai merebut perhatian kedua pengantin wanita.Agatha berkata, "Lihat, Tirta yang berdiri di depan pintu sama sekali nggak bergerak seperti patung."Susanti menimpali, "Mungkin dia gugup."Nabila berkomentar,
Sekarang belum pukul 6 pagi. Matahari baru terbit.Langit di sebelah timur mulai terang dan dikelilingi cahaya jingga. Cahaya matahari menembus lapisan awan dan menyinari Desa Persik. Pemandangan indah ini terlihat seperti lukisan.Selain sekelompok wanita Negara Raigorou yang sibuk di kebun buah bersama Lavanya kemarin pagi, wanita yang lebih muda mendapatkan tugas khusus. Mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk menggelar karpet di seluruh Desa Persik sampai vila.Lampion merah digantung di depan pintu vila. Hiasan merah ditempel di pintu dan jendela vila, begitu pula di vila-vila yang baru dibangun.Bahkan pohon besar di seluruh Desa Persik diikat dengan kain merah. Kain itu bergerak tertiup angin.Seketika suasana di Desa Persik sangat meriah. Di bawah pancaran cahaya matahari, desa yang dipenuhi hiasan merah itu terlihat makin asri.Cahaya matahari makin terang. Para wanita Negara Raigorou yang sudah mahir berbahasa Darsia berjalan ke vila bagian tengah sambil berbincang."Wah,
Tentu saja lima tetua agung ini mendengar ucapan Tirta, tetapi mereka tidak menganggapnya serius. Bagaimanapun, mereka hanya menganggap Tirta sebagai pecundang yang sedikit kuat.Jika bukan karena kultivator tingkat pengguncang langit itu, mereka bahkan tidak perlu bertindak. Mereka bisa melenyapkan tubuh dan jiwa Tirta dengan tatapan.Tetua agung Sekte Timira berkomentar, "Mungkin wanita itu menggunakan teknik rahasia untuk bersembunyi. Kita tunggu beberapa waktu lagi dengan sabar. Bagaimanapun, jejak pembunuhan yang dilakukan wanita itu cuma ada di sini. Mungkin sebentar lagi dia akan muncul."Tetua agung Sekte Zeru menghela napas, lalu menanggapi, "Benar. Sekarang cuma ini satu-satunya cara. Kalau di dunia awani juga ada kultivator tingkat pengguncang langit, kita juga nggak perlu takut saat bertindak."Namun, hal itu tidak mungkin terjadi. Alasannya karena tokoh paling hebat di dunia awani hanya mencapai tingkat pembentukan dewa, tingkat pemurnian dewa, dan tingkat penebas dewa.Me
Begitu Lavanya berpikiran seperti ini, Tirta juga baru menyelesaikan tahap akhir pembangunan rumah.Whoosh! Whoosh! Whoosh! Tiba-tiba, muncul energi kuat yang bergejolak hebat. Lima sosok datang dari berbagai arah dengan kecepatan tinggi.Jika bukan karena berhenti di udara, lima pria tua yang sedang melayang itu sulit terlihat. Tekanan mengerikan dari udara bak air laut luas yang bisa menghantam orang-orang di bawah kapan saja.Lavanya merasakan tekanan itu terlebih dahulu. Dia bergumam dengan ekspresi terkejut, "Gejolak energi mereka sama denganku. Mereka itu kultivator tingkat pemurnian dewa. Sepertinya mereka datang untuk membalas dendam ...."Namun, Lavanya sama sekali tidak panik. Sebagai sesama kultivator tingkat pemurnian dewa, dia bisa selamat dari serangan lima orang itu dengan tekniknya.Jika hanya tiga kultivator tingkat pemurnian dewa yang datang, Lavanya bisa bertarung mati-matian dengan mereka. Mungkin dia bisa melenyapkan mereka bertiga sekaligus.Biarpun tingkat kultiv
Mauri yang merasa tidak rela berujar, "Besok jam 10 pagi, aku akan membawa anggota inti Black Gloves ke ibu kota provinsi. Kalau kamu ada waktu, datang ke kantor polisi untuk antar aku. Kalau ada kesempatan, kita baru berkumpul lagi."Tirta mengangguk dan menimpali, "Tenang saja, Pak Mauri. Jarak dar
Sandra sontak memaki, "Dasar bajingan! Kamu nggak ada bedanya dengan binatang buas! Jangan kira kamu bisa bertindak semena-mena karena Keluarga Sutejo berkuasa! Kalau kamu berani menyentuh Aiko, Pak Tirta nggak bakal mengampunimu!""Pak Tirta? Siapa itu? Suruh dia keluar! Aku bisa saja membunuhnya de
Kemudian, Arum berkata, "Ehem. Bi Ayu, Kak Melati, aku pergi mandi dulu. Terus, aku mau tidur.""Oke.""Kamu tidur sama Bu Susanti dulu ya. Setelah vila siap, kami buatkan kamar besar untukmu."Setelah menanggapi ucapan Arum, Ayu dan Melati pun masuk ke kamar untuk beristirahat.Setelah berdiskusi sejen
"Dik, Ini bahaya sekali. Sebaiknya kita pergi saja." Rauf dan Dhio adalah pelaku yang melukai harimau besar itu. Kini, mereka ketakutan hingga bercucuran keringat dingin saat melihat keganasan harimau. Apalagi, mereka tidak punya senjata sekarang."Kalian menjauh sedikit. Biar aku saja yang maju." Ti







