LOGINShindy berjalan masuk ke dalam aula utama. Saat melihat Suryana dan yang lainnya ternyata juga berada di sana dengan ekspresi yang terlihat cukup tenang, dia tidak bisa menahan diri dan tersenyum sinis. Dia merasa seolah-olah mereka sedang mengejeknya karena bencana sudah di depan mata, tetapi dia masih belum menyadarinya.Namun, saat menghadapi Afifah, Shindy langsung berkata dengan ekspresi penuh kasih dan khawatir, "Kepala Istana, aku mau lapor murid yang diterima Tetua Suryana ini sebenarnya adalah pengkhianat dari Sekte Formasi Surgawi. Saat aku pergi ke Rawa Besar untuk mencari muridku, aku lihat sendiri orang-orang dari Aula Penegak Hukum Sekte Formasi Surgawi minta orang itu dari Tetua Suryana.""Saat itu, aku juga sudah langsung menasihatinya agar jangan sampai hubungan dari dua sekte tanah suci besar ini rusak hanya karena seorang pengkhianat. Tapi, aku nggak menyangka Tetua Suryana bukan hanya nggak mendengarkan, dia malah menatap orang-orang dari Sekte Formasi Surgawi denga
Pembunuh wanita itu langsung memelotot dengan marah.Namun, begitu pembunuh wanita itu selesai berbicara, Tirta tanpa basa-basi langsung membungkam mulutnya sampai rahangnya hampir terlepas. "Celaka .... Ternyata tempat ini bukan bumi, kali ini benar-benar gawat ...."Pada saat yang bersamaan, Yumika juga sudah sadar dan mendengar seluruh percakapan keduanya dengan jelas."Tirta ini sebenarnya pakai cara apa sampai bisa membawaku ke tempat asing seperti ini? Apa aku masih bisa kembali ke Istana Samara? Saat ini, apa Yudha si binatang itu sudah menyebarkan aibku? Aku benar-benar kehilangan kesucianku padanya. Kalau tahu akan jadi begini, lebih baik dulu aku nggak terima tugas ini dari Guru," gumam Yumika yang pikirannya benar-benar kacau.Namun, setelah menyadari Yumika sudah bangun, Tirta malah langsung menggendong pembunuh wanita itu dan berjalan mendekat. Dia berniat mempererat hubungan sekaligus menambah rasa cinta mereka. "Kak Yumika, jangan takut. Mulai sekarang, aku yang akan mel
Buzz!Dalam sekejap, ribuan pedang tajam muncul begitu saja di sekitar Tirta dan langsung menenggelamkannya.Wanita itu sama sekali tidak banyak basa-basi. Begitu sadar, dia langsung ingin mengambil nyawa Tirta."Berhenti! Kamu tahu nggak, kamu sudah lama mati karena keracunan kalau nggak ada aku. Tapi, begitu sadar, kamu malah mau balas budi dengan membunuhku. Benar-benar nggak punya hati nurani," kata Tirta.Namun, setelah pertarungan sengit selama sebulan penuh, jiwa wanita itu sudah menunjukkan tanda-tanda hampir runtuh. Dengan kekuatannya yang sekarang, dia bahkan tidak bisa mengeluarkan 20% atau 30% dari kekuatan aslinya. Oleh karena itu, Tirta bisa menghindari semua serangan itu dengan santai dan berbicara dengan nada penuh keadilan."Huh, memangnya kenapa kalau begitu? Kamu sudah lakukan hal yang seharusnya nggak kamu lakukan, aku harus membunuhmu. Paling-paling aku akan tinggalkan mayatmu dengan utuh. Aku ini pembunuh berdarah dingin, bisa buat sampai seperti itu saja sudah te
Arshala berbicara dengan penuh rasa bersalah."Kamu nggak perlu mengkhawatirkan itu. Walau langit runtuh pun masih ada gurumu ini yang menahannya. Kalau aku nggak mampu menahan, masih ada Kepala Istana. Lagi pula, melindungimu bukan keputusanku, ini permintaan langsung dari Kepala Istana. Tapi, hanya kamu saja yang tahu, jangan sembarangan membicarakannya," kata Suryana."Ternyata begitu," kata Arshala yang akhirnya mengerti. Namun, setelah hidup selama tiga ribu tahun lebih dan melihat Suryana sangat menghargai Tirta, dia bisa memahami inti masalahnya dengan mudah. Jika pihak lain bersedia melindunginya, itu juga pasti karena Tirta."Bagus sekali, Tetua Suryana.""Bagus sekali, Istana Samara. Kalian kira Sekte Formasi Surgawi mudah ditindas?""Sesama tiga tanah suci besar, tapi kalian sama sekali nggak menghargai kami. Ini benar-benar keterlaluan.""Ayo, kita kembali sekarang juga dan lapor pada Tetua Agung. Biar mereka sendiri yang bawa orang untuk turun tangan."Sikap Suryana membua
Mendengar perkataan Shindy, Suryana dan orang-orang dari Aula Penegak Hukum Sekte Formasi Surgawi langsung merasa kesal."Nenek tua, coba saja kalau kamu berani. Mau melukai muridku? Kamu punya kekuatan dan hak itu?" bentak Suryana langsung dengan marah. Sebelum Shindy sempat bergerak, dia sudah langsung melindungi Arshala dan Nova di belakangnya.Boom!Saat Suryana melepaskan aura kuat seorang ahli tingkat semi pencapaian agung dalam radius ribuan mil, seluruh makhluk hidup langsung terdiam ketakutan. Permukaan danau yang tadinya beriak pelan dan rerumputan yang bergoyang karena tertiup angin, semuanya tiba-tiba membeku seperti lukisan."Nenek, mohon kemurahan hatimu.""Wanita ini sudah mengkhianati Sekte Formasi Surgawi, dia tentu saja akan terima hukuman dari sekte kami sendiri. Mohon Nenek berbaik hati. Kalau nggak, kami akan sulit menjelaskannya setelah kembali nanti."Saat perwakilan dari Sekte Formasi Surgawi terus mundur, yang lainnya ikut membujuk. Namun, nada bicara mereka sa
Ekspresi Suryana terlihat agak santai. "Eh ...."Namun, Arshala tahu itu adalah bahasa dari Negara Darsia. Jika bukan karena dia pernah melihat bahasa itu di Desa Persik dan sempat memahami sebagian darinya, dia juga tidak akan bisa mengenalinya. Oleh karena itu, banyak kultivator di tempat itu yang tiba mampu membacanya padahal mereka sudah melihat barisan tulisan itu."Kak Arshala, kamu tahu sesuatu? Suamiku pergi ke mana?" tanya Nova sambil buru-buru maju.Tatapan Shindy terus terpaku pada tulisan itu, seolah-olah menyadari sesuatu.Oleh karena itu, Arshala yang melihat itu langsung menggelengkan kepala dan berkata, "Ini bukan tempat yang bagus untuk berbicara. Setelah kembali nanti, kita baru bicara.""Baik, kita bicarakan lagi setelah pulang," balas Suryana dan Nova sambil menganggukkan kepala secara bersamaan.Shindy baru saja ingin maju dan menggunakan Yumika sebagai alasan untuk bertanya lebih jauh.Namun pada saat itu, orang-orang dari Sekte Formasi Surgawi tiba-tiba mengepung
"Kita mau coba juga?" tanya Luvia. Dia mencoba melepaskan diri dari pelukan Tirta, tetapi sekarang tubuhnya lemas. Luvia tidak mempunyai tenaga untuk mendorong Tirta seakan-akan sudah kehilangan kultivasinya.Tirta lanjut memperdaya Luvia, "Iya. Menurut pemahamanku, kita harus mempraktikkan semuanya
"Agatha, Susanti, kalian ikut aku temani Kak Nabila malam ini. Dua hari ini, kita sudah dipuaskan Tirta. Tapi, Bella malah ditinggal sendiri," ujar Nabila. Dia berniat mencelakai Bella malam ini.Mendengar ucapan Nabila, Agatha dan Susanti memandanginya dengan tatapan curiga. Agatha menanggapi, "Tun
Ular berkepala delapan terus memandangi gambaran di depannya seperti pemangsa yang mengamati situasi dengan sabar. Dia bersembunyi dan menunggu kesempatan yang cocok untuk bertindak.Ular berkepala delapan sudah merencanakan semuanya dengan matang. Namun, dia tidak tahu jiwa Genta sudah pulih hingga
Namun, Tirta tidak lupa menjelaskan Mantra Pedang Teratai serta mengajarkan Susanti dan lainnya menghadapi kesulitan dalam kultivasi.Hanya saja, setelah mandi dan kembali ke kamar, Tirta tidak menangis histeris. Dia malah buru-buru menarik para kekasihnya naik ke tempat tidur.Ayu adalah orang pert







