Mag-log in"Di mana harga dirimu sebagai seorang ahli?" Salah satu roh ganas dari era surgawi yang kekuatannya sangat mengerikan, berteriak dengan penuh ketidakrelaan."Dasar sekumpulan sampah kotor dari zaman kuno, para pecundang yang bersembunyi dalam bayang-bayang, kalian bahkan nggak mengenal Utusan Suci. Kalian nggak pantas mempertanyakan alasannya.""Kalian hanya perlu memahami satu hal. Kalau Utusan Suci ingin kalian mati, kalian nggaak akan bisa hidup. Itu saja sudah cukup!" Naga purba berkepala tiga mencibir. Dia sama sekali tidak menganggap para roh ganas itu sebagai lawan.Puff! Puff! Puff! Petir-petir hitam ditembakkan berturut-turut. Roh-roh ganas dari era surgawi kembali berguguran satu demi satu. Bahkan mereka benar-benar lenyap tanpa menyisakan apa pun. Sama sekali tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk tetap hidup."Jadi ... ternyata karena itulah mereka bisa tetap hidup. Konyol sekali. Aku malah masih berpikir untuk balas dendam. Benar-benar konyol ...." Pada saat ini, Sodam me
Sodam dan lebih dari 20 makhluk dari era surgawi merasa sulit menerima kenyataan ini. Kepala mereka bahkan terasa berdengung.Bahkan Selvi juga menunjukkan ekspresi tidak percaya dan sempat mengira dirinya sedang berhalusinasi.Tekanan mengerikan yang benar-benar berasal dari tingkat pengguncang langit bahkan telah memengaruhi hukum alam dunia ini.Namun, saat ini sosok itu justru memberi hormat kepada Tirta dengan khidmat.Meskipun melihatnya dengan mata kepala sendiri, sampai saat ini pun Selvi masih merasa seperti sedang mendengar cerita yang tidak masuk akal.Sebab, saat berada di wilayah terlarang Laut Utara waktu itu, hanya Priya, Irena, Yumika, dan Lavanya yang sempat bertemu dengan naga ini. Kalau Selvi juga berada di sana, dia tentu tidak akan merasa begitu terkejut.....Kembali ke kejadian sebelumnya ....Ketika Tirta memanfaatkan Pedang Penumpas Dewa untuk melancarkan serangan yang mampu menghancurkan langit dan bumi, hingga menghantam Sodam dan yang lainnya jauh ke dasar l
"Itu nggak mungkin .... Kamu harus melangkahi mayatku lebih dulu." Selvi memaksakan diri untuk bertahan. Dia mengeluarkan beberapa batang tanaman spiritual berusia puluhan ribu tahun. Tanpa sempat memurnikannya, dia langsung mengunyahnya. Tatapannya sama sekali tidak goyah."Bocah ini sudah pasti akan mati. Memangnya dia layak membuatmu mempertaruhkan nyawa? Kamu sudah berkultivasi selama ribuan tahun. Masa kamu rela mati di saat seperti ini? Kamu nggak ingin menjadi abadi lagi?" Wajah Sodam semakin terdistorsi. Dia meraung dengan rasa iri yang luar biasa."Nggak ada gunanya banyak bicara. Aku masih punya kekuatan untuk bertarung. Kalau berani, maju saja!" Selvi melirik Tirta yang masih pingsan di belakangnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, lalu dia berkata dengan tatapan tenang."Argh! Kalau begitu, mati saja! Mari kita mati bersama!" Sodam benar-benar menjadi gila. Jiwanya telah dilahap hingga hampir tidak menyisakan kewarasan. Yang tersisa hanyalah obsesi terakhi
Bum! Tekanan energi iblis yang mengerikan membubung hingga menembus langit.Sebelum para roh ganas lainnya sempat menyerang, jiwa Sodam yang sudah berada di ambang kehancuran membuat tubuhnya terhuyung ke sana kemari tanpa pola yang jelas, lalu menerjang ke arah Selvi.Meskipun kendali atas tubuhnya sudah bukan lagi berada di tangannya sendiri, kekuatan yang mampu dia keluarkan saat ini justru jauh lebih mengerikan. Dia bertarung dengan niat untuk mati bersama lawannya!Dung! Selvi dengan tepat mengunci jalur serangan Sodam dan menutup jalan dengan sebuah pukulan.Sodam mengubah gerakannya di saat terakhir. Seperti naga ilahi yang mengibaskan ekornya, dia menendang kepala Selvi.Meskipun hanya pertarungan paling sederhana dengan tangan dan kaki, kekuatan yang terkandung di dalam setiap gerakan itu sungguh sulit dibayangkan.Satu serangan saja sudah cukup untuk menembus gunung besar dan menghancurkan sebuah bintang kecil. Kekuatan dahsyat saling beradu.Selvi bersama Tirta dan Priya yan
Pedang Penumpas Dewa sudah tak lagi berada di tangan Tirta.Kekuatan serangannya langsung berkurang drastis. Selain itu, esensi darah di seluruh tubuhnya juga hampir terkuras habis. Sosoknya menjadi terlihat sangat tua, bahkan tubuhnya tampak kurus.Hanya rambut dan alisnya yang masih berwarna hitam. Dia terlihat seperti seorang "orang tua muda" dan sudah tidak mampu lagi mempertahankan jurus dahsyat itu."Mereka masih hidup .... Nggak, aku harus terus lanjut. Aku harus bertahan."Tubuh Tirta terhuyung-huyung. Dengan gemetar, dia mengeluarkan sebatang tanaman spiritual berusia puluhan ribu tahun dari Cincin Penyimpanan. Dia tidak sempat memurnikannya dan langsung memasukkannya ke mulut untuk dikunyah.Energi spiritual yang bergelora menyebar dan langsung mengobati tubuh Tirta yang terluka. Namun, esensi darah yang telah Tirta habiskan sudah terlalu banyak. Sebatang tanaman spiritual berusia puluhan ribu tahun sama sekali tidak memberikan efek apa pun.Tidak ada pilihan lain. Dia hanya
Bum! Suara dahsyat itu seolah membuat seluruh dunia membisu. Yang terlihat dengan mata telanjang hanyalah sebilah energi pedang raksasa yang menyerupai pilar pemusnah dunia, membentang hingga ratusan ribu kilometer.Bagaikan bintang dari luar langit, suara itu membawa kekuatan dahsyat yang mampu menghancurkan langit dan bumi serta menyapu seluruh penjuru.Dalam sekejap, energi pedang itu turun di atas permukaan laut yang membentang luas sejauh mata memandang.Krek! Krek! Udara kosong yang tak berujung itu hancur berkeping-keping, rapuh seperti lapisan es tipis.Jika dilihat dari bawah, sosok Tirta pada saat ini bahkan tampak seperti titik hitam yang sangat kecil."Ini jurus pedang terkuat milik Bakrie .... Bocah itu ternyata telah mencuri ilmu jurus ini!" Hati Selvi terguncang hebat. Menghadapi serangan yang begitu dahsyat, bahkan dia pun merasa tak berdaya untuk melawan."Sial ... jurus pedang macam apa ini? Kekuatannya sudah sebanding dengan teknik terlarang dari era surgawi!"Sesaat
Melihat situasi ini, Nabila, Tina, dan lainnya berseru kaget, "Yasmin, hati-hati!"Mereka berkeringat saking takutnya. Mulut anjing hitam yang besar itu seperti hendak menelan lengan Yasmin. Anjing hitam meraung.Namun, Yasmin sama sekali tidak panik. Dia mengitari anjing hitam setengah putaran deng
Tirta meninggalkan Desa Persik pada pukul 1 siang. Dia pergi ke labirin obat untuk melihat pertumbuhan bahan obat-obatan. Untung saja, Nia mengikuti gambar yang diberikan Tirta dengan menggabungkan cara penanaman bibit bahan obat di buku kuno pengobatan.Jika bukan karena Tirta memahami keistimewaan
Di atas tempat tidur yang empuk dan luas, Melati berbaring sendirian, memegang ponselnya. Dia gelisah, terus membolak-balikkan tubuhnya, tidak bisa tidur sama sekali.“Andai aku tahu Tirta akan pergi begitu lama, aku pasti ikut dengannya. Aku nggak akan seperti sekarang, hanya bisa diam-diam menonto
Tirta sering memandangi pemandangan gunung dari kamar Bella. Dia memutuskan untuk memancing Kurnia ke daerah pegunungan yang belum dikembangkan. Tirta akan melawannya di tempat itu.Tirta berseru, "Kurnia, aku ini orang yang kamu cari! Kalau kamu ingin tahu rahasiaku, ikut aku!"Tirta segera berpesa







