เข้าสู่ระบบ
Aurora Lilian tidak pernah menyangka jika mantan pacarnya selama 3 tahun di universitas itu, kini menjadi kepala dokter bedah sekaligus atasannya di rumah sakit tempatnya bekerja.
“Aku dengar, Dr. Leon Rosmarin dulu bekerja di cabang rumah sakit yang ada di luar negeri dan dia sangat terkenal di sana.” “Ya, ya! Katanya rate keberhasilan operasi beliau hampir mencapai sempurna. Para pasien selalu mengandalkannya.” “Tidak heran kalau sekarang dia diangkat menjadi direktur di rumah sakit pusat ini menggantikan ayahnya.” Bisik-bisik gerombolan perawat di sebelahnya membuat Aurora menahan napas. Di depan mereka, berdiri sosok pria kini tengah dikenalkan oleh sang direktur sendiri. Leon Rosmarin. Nama itu tidak asing bagi Aurora. Bagaimana tidak? Mereka adalah mantan kekasih. Sebelum itu, Leon adalah seniornya di kampus. Mereka juga tinggal di area yang sama sebagai tetangga, sebelum Aurora pindah rumah setelah putus dengan Leon. Itu kenangan masa lalu yang sudah ia lupakan. Berharap tidak akan bertemu lagi dengan pria itu untuk selamanya. Tapi, sekarang Leon justru ada di depan matanya. Menjadi kepala dokter bedah sekaligus atasannya. Setelah bertahun-tahun berpisah, mereka bertemu kembali di satu tempat. Takdir ini benar-benar lucu. Aurora berjengit pelan ketika tatapan Leon tiba-tiba berhenti padanya, entah hanya perasaannya atau bukan. Tatapan pria itu begitu tajam, masih sama dengan di ingatan Aurora sebelum mereka putus dulu. Aurora menundukkan kepala. Menghindari tatapan itu dan meremas-remas celana seragamnya resah. Tidak lama kemudian setelah perkenalan singkat itu selesai, dan direktur membubarkan para perawat dan dokter untuk kembali bekerja. Aurora segera melangkah cepat ke arah yang berlawanan di lorong. Ia masuk ke ruangan perawat, ingin segera bersembunyi di sana sebelum jam kerjanya dimulai. Tapi, Florina Bilboba, kepala perawat, tiba-tiba menahannya. “Aurora, kamu masuk tim Dokter Leon sekarang, asisten instrumen operasi.” Aurora menghentikan langkahnya dan menoleh kaget ke Florina. “O-operasi?” gagap Aurora, “Mendadak sekali, Bu?” Florina berdecak. Dia memang bukan kepala perawat yang ramah. Aurora selalu menemukannya dengan wajah mengerut. Dan tiap seperti itu, ia selalu ketakutan. “Jangan banyak protes! Cepat sana pergi ke ruangan operasi sebelum kena tegur!” “B-baik, Bu!” Aurora segera meninggalkan Florina. Sebelum makin jauh, ia sempat mendengar Florina berdecak tajam, “Sudah beberapa bulan jadi perawat, masih saja kaget dengan operasi dadakan. Heran!” Setelah berganti baju dengan scrub, Aurora segera menuju lorong ruang operasi. Ia menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Ia berdiri di depan bak scrub, mencuci tangannya agar steril sebelum masuk ke area operasi. Bertepatan dengan itu, Leon tiba-tiba datang. Aurora terlonjak kaget melihat pria itu melewati dirinya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dari tatapan tajam pria itu dan fokus mencuci tangan. Sialnya, pria itu justru ikut mencuci tangan di sebelahnya. Aurora seketika tidak fokus. Ia mengulang-ulang pergerakan tangannya tanpa sengaja karena terlalu gugup. “Tanganmu tidak tercuci dengan benar. Bagaimana bisa steril kalau seperti itu?” tegur Leon tajam tiba-tiba, mengejutkan Aurora. “Ma-maaf, Dokter!” Leon berdecak. Itu decakan yang terdengar familiar, tiap Leon merasa Aurora menyusahkan baginya. Aurora masih sangat mengingatnya sehingga dia semakin menundukkan kepalanya. Menahan sesak di dadanya. “Apa tidak ada yang ingin kamu katakan?” “Y-ya?” Aurora sontak menoleh ke Leon dan ia segera menyesalinya karena sekarang terperangkap dengan tatapan tajam Leon. Wajah pria itu masih sama rupawannya seperti dulu. Tapi, badannya sepertinya semakin kekar. Aurora bisa melihat otot lengannya mengintip karena Leon menggunakan scrub lengan pendek. “Sudah lama kita tidak bertemu, dan kamu sama sekali tidak menyapa saya.” Leon tersenyum tipis, membuat Aurora seketika tidak nyaman. Ia bisa merasakan tubuhnya mulai bergetar pelan. “Tampaknya, kamu mudah sekali melupakan seseorang yang tidak berarti apa-apa bagimu, bahkan setelah 3 tahun berhubungan.” Aurora membeku, tidak tahu harus berkata apa. Pada akhirnya, dia memilih untuk menundukkan kepala. Menatap lantai yang menampilkan wajah gelisahnya. Leon mendengus tipis, membuat Aurora mengkerut ketakutan. Pria itu lalu berbalik badan. “Segera masuk ruang operasi,” titahnya tajam. “Baik, Dokter.” Leon segera meninggalkannya, masuk ke ruang operasi. Tubuh Aurora seketika melemas.Pesawat yang membawa Leon dan Aurora akhirnya mendarat setelah perjalanan bulan madu mereka selesai.Begitu keluar dari bandara, Aurora menarik napas panjang. Ada rasa berat meninggalkan tempat yang beberapa hari terakhir menjadi saksi kehidupan baru mereka, tetapi ada pula perasaan tenang karena mereka akan kembali ke rumah.Leon berjalan di sampingnya sambil membawa koper.“Kamu kenapa diam?” tanyanya.Aurora menoleh. “Aku sedang berpikir.”“Berpikir apa?”“Bulan madu kita ternyata tidak berjalan sesuai rencana.”Leon mengangkat alis. “Kamu menyebut hampir ada anak tenggelam sebagai bagian dari bulan madu?”“Aku tidak bilang begitu.” Aurora tertawa kecil. “Maksudku, kita pergi untuk beristirahat, tapi malah tetap bekerja.”Leon mengambil tas dari tangan istrinya. “Aku sudah bilang, profesi kita tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan.”“Aku tahu.”“Dan kamu juga tidak bisa melihat orang membutuhkan pertolongan lalu pura-pura tidak tahu.”Aurora tersenyum. “Kamu juga begitu.”Leon
Suara ombak menjadi alarm pertama yang membangunkan Aurora pagi itu.Bukan suara monitor pasien, bukan dering telepon dari ruang perawat, dan bukan pula suara langkah terburu-buru di koridor rumah sakit.Hanya deburan air laut yang datang berulang kali, menyentuh garis pantai lalu kembali menyeret pasir.Aurora membuka mata perlahan.Ia sempat lupa berada di mana sampai pandangannya menangkap jendela besar dengan pemandangan laut di balik tirai tipis. Perempuan itu tersenyum sendiri. Liburan yang mereka rencanakan akhirnya benar-benar terjadi, bahkan tanpa gangguan pekerjaan.Hampir.Karena ketika ia menoleh ke samping, tempat Leon seharusnya berada sudah kosong.Aurora langsung duduk.“Sayangku?”Tidak ada jawaban.Ia turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Di balkon, Leon sedang berdiri sambil membawa dua cangkir kopi. Begitu mendengar langkah kaki istrinya, laki-laki itu menoleh.“Kamu bangun.”Aurora menyandarkan tubuh di pintu balkon. “Aku kira kamu kabur.”Leon mengangkat sala
Ciuman Aurora memang sudah menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan Leon.Namun setelah mereka resmi menjadi suami istri, Leon menyadari ada hal lain yang ternyata jauh lebih membuatnya kecanduan.Bukan sekadar wajah cantik Aurora.Bukan pula senyumnya yang selalu berhasil meruntuhkan ketegasan seorang dokter galak.Tubuh perempuan itu.Bukan dalam arti yang kasar, melainkan sebagai sesuatu yang begitu dekat, begitu akrab, dan kini sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan yang ingin Leon jaga.Pagi itu Aurora baru selesai mandi ketika keluar dari kamar dengan rambut masih sedikit basah. Ia mengenakan pakaian sederhana, lalu berjalan menuju meja makan tanpa menyadari bahwa sejak beberapa detik lalu Leon sudah memperhatikannya.“Kenapa lihat-lihat begitu?” tanya Aurora sambil menarik kursi.Leon masih diam.Aurora mengangkat alis. “Sayangku?”“Hmm.”“Jangan bilang kamu sedang memeriksa pasien.”Leon akhirnya tersenyum tipis. “Pasienku sedang sehat.”“Aku bukan pasienmu.”“Benar. Kamu istri
Cuti Leon akhirnya benar-benar dimulai.Tidak ada jas dokter, tidak ada stetoskop yang menggantung di leher, tidak ada suara langkah tergesa menuju ruang operasi, bahkan tidak ada wajah galak yang membuat para dokter muda otomatis merapikan posisi berdiri ketika berpapasan dengannya.Hari itu Leon hanya seorang suami yang sedang membawa koper.Aurora berdiri di depan pintu sambil memperhatikannya dengan senyum kecil. “Sayangku, kamu yakin kita nggak salah bawa koper? Kita cuma pergi beberapa hari.”Leon menatap dua koper di belakangnya, lalu menatap Aurora. “Aku dokter, bukan peramal. Aku nggak tahu apa yang nanti kamu butuhkan.”Aurora terkekeh. “Berarti salahku kalau ternyata setengah isi koper ini nggak terpakai?”“Bukan.”“Lalu?”“Berarti aku yang terlalu sayang sama istriku.”Senyum Aurora langsung berubah lembut.Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat dadanya hangat.Selama berbulan-bulan mereka melewati terlalu banyak hal. Perpisahan selama tiga tahun, ancaman, konspiras
Pintu ruang keamanan tertutup setelah staf administrasi yang membantu Rowan diamankan. Leon berdiri bersama Dimas dan Irish, sementara Aurora menunggu beberapa langkah dari mereka."Jadi benar Rowan?" tanya Dimas.Pria itu mengangguk gugup. "Saya hanya mengikuti perintahnya. Dia meminta saya mengambil data dari ruang server dan menghapus beberapa rekaman.""Untuk apa?" tanya Leon."Dia ingin mencari cara supaya bukti sebelumnya hilang. Katanya masih ada rekaman yang bisa membuktikan keterlibatannya."Leon mengembuskan napas."Di mana Rowan sekarang?""Di apartemennya."Dimas langsung mengambil ponsel."Kita laporkan kepada pihak berwenang."Leon mengangguk. "Dan jangan ada yang menyentuh server sebelum tim pemeriksa datang."Tidak lama kemudian, penyelidikan dilakukan secara menyeluruh. Rekaman keamanan, akses sistem, percakapan Rowan dengan Aster, transaksi uang, serta kesaksian staf administrasi saling menguatkan.Aster akhirnya memberikan seluruh bukti yang selama ini disimpannya.
Alarm darurat mendadak berbunyi di lantai tiga.Suara itu berbeda dari panggilan biasa. Panjang, berulang, dan membuat beberapa perawat langsung berlari menuju ruang tindakan."Pasien kritis!""Tekanan turun!""Dokter dipanggil!"Leon yang baru keluar dari ruang pemeriksaan langsung berbalik."Ada apa?"Seorang perawat menghampirinya dengan napas memburu."Dok, pasien korban erupsi yang baru dipindahkan dari ICU tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran. Saturasinya turun drastis."Leon langsung bergerak."Dimas, ikut saya. Irish, panggil tim anestesi.""Siap."Aurora yang berada di meja perawat ikut berdiri."Leon!"Leon menoleh."Jangan ikut.""Aku bisa membantu.""Di ruang tindakan, iya. Tapi kondisi tubuhmu belum sepenuhnya pulih.""Aku sudah—""Ora."Satu panggilan itu cukup membuat Aurora terdiam.Nada Leon bukan sedang marah.Ia sedang takut."Aku tidak melarangmu karena menganggapmu tidak mampu. Aku hanya tidak mau kamu memaksakan diri."Aurora menggenggam ujung seragamnya."Bai
Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat k
Aurora menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil ruang ganti perawat.Wajahnya terlihat pucat. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur.Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Wajah Leon yang mengerikan terus memen
Pria itu berdiri di sana dengan wajah datar. Tatapannya perlahan menyapu orang-orang di depannya. Memberikan ketegangan kepada mereka sehingga tidak ada yang berani untuk bereaksi.Viona yang tersadar duluan langsung tersenyum kaku.“Dokter Leon,” sapanya cepat, diikuti beberapa orang lain yang iku
Aurora Lilian berdiri kaku di pintu masuk ballroom. Tangannya mencengkeram ujung kemejanya dengan gugup. Ia masih merasa tidak percaya dirinya benar-benar datang ke pesta ini.Apalagi… Ia datang bersama dokter Leon Rosmarin.Aurora melirik sekilas ke sampingnya.Leon berjalan dengan langkah tenang.







