MasukPintu otomatis ruang gawat darurat terbuka dan tertutup tanpa henti, membawa pasien baru, keluarga yang panik, serta suara roda brankar yang berpacu dengan waktu. Di tengah kesibukan itu, Leon masih memikirkan pria yang baru saja mereka tinggalkan di ruang dokter, tetapi laporan mengenai pasien kritis membuatnya menyingkirkan persoalan tersebut untuk sementara. Setelah kondisi pasien berhasil distabilkan, Leon keluar dari ruang tindakan dengan wajah lelah. Aurora sudah menunggunya di koridor sambil membawa dua berkas. "Pasien sudah stabil, tetapi harus dipindahkan ke ICU untuk observasi ketat," kata Aurora. Leon mengangguk. "Serahkan kepada tim ICU. Aku perlu bicara dengan keamanan." Aurora memperhatikan wajahnya. "Tentang apartemen?" "Ya." Mereka berjalan berdampingan menuju ruang keamanan. Dimas sudah menunggu dengan beberapa hasil pemeriksaan rekaman. "Keputusan sudah dibuat," kata Dimas begitu Leon datang. "Apartemen tidak aman untuk sementara." Leon langsung menjawab, "Au
Bunyi pintu ruang dokter tertutup perlahan setelah Florina pergi, tetapi suasana di dalam ruangan justru terasa semakin berat. Foto yang baru saja mereka temukan masih berada di tangan Leon, memperlihatkan dirinya dan Aurora ketika keluar dari apartemen pagi tadi. Tidak ada sudut yang salah, tidak ada bagian yang buram, bahkan waktu pengambilan foto terlihat jelas. Aurora menatap foto itu dengan wajah tegang. "Berarti orang itu sudah mengawasi apartemenmu sejak sebelum kita pulang." Leon mengangguk. "Kemungkinan besar." "Dan dia tahu apa yang terjadi malam itu." Leon membalik foto tersebut dan membaca kembali tulisan di belakangnya. Aku tahu siapa yang pertama kali membuka pintu untuk kalian. Aurora mengernyit. "Pintu?" "Ya." "Siapa yang bisa membuka pintu apartemenmu?" Leon tidak langsung menjawab. Ia mengambil ponselnya lalu membuka riwayat akses pintu elektronik apartemen. Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah. Aurora langsung mendekat. "Ada apa?" "Ini." Leon me
Monitor jantung kembali menjadi pusat perhatian begitu Leon memasuki ruang perawatan Keisya. Perawat yang berjaga langsung memberikan laporan mengenai perubahan kondisi pasien, sementara Aurora berdiri di samping Leon dengan wajah serius. Tidak ada waktu untuk memikirkan pesan misterius yang baru saja mereka terima, karena kondisi Keisya membutuhkan perhatian penuh."Tekanan darah turun sejak lima belas menit lalu, saturasi juga sempat menurun, tetapi sekarang mulai membaik," jelas perawat.Leon langsung memeriksa hasil monitor dan laporan laboratorium. "Berikan hasil pemeriksaan terakhir."Aurora menyerahkannya. "Ini."Leon membacanya cepat, kemudian mendekati tempat tidur Keisya. "Keisya, dengarkan saya. Saya akan melakukan beberapa pemeriksaan tambahan. Jangan memaksakan diri untuk bicara."Keisya mengangguk lemah.Manajernya yang berdiri di sudut ruangan tampak panik. "Dokter, ini berbahaya?""Kondisinya belum kembali stabil sepenuhnya, tetapi kita masih bisa menanganinya. Tolong
Lorong rumah sakit mulai sepi ketika Leon dan Aurora meninggalkan lantai enam. Setelah dua operasi panjang dalam satu hari, keduanya akhirnya mendapat kesempatan untuk bernapas tanpa suara monitor dan panggilan darurat yang terus mengejar. Aurora berjalan di samping Leon sambil memegang berkas terakhir yang harus diserahkan kepada bagian administrasi. "Besok aku harus menemui kepala perawat untuk membahas jadwal rotasi." Leon meliriknya. "Besok?" "Iya." "Jam berapa?" "Setelah visite." Leon mengangguk. "Aku antar." Aurora tersenyum. "Kamu tidak perlu selalu mengantarku." "Aku tahu." "Lalu kenapa?" "Karena aku mau." Jawaban itu membuat Aurora tertawa kecil. "Kamu sekarang makin sulit dibantah." "Karena dulu terlalu banyak hal yang tidak sempat kulakukan." Langkah Aurora melambat. Leon juga berhenti. Mata mereka bertemu. Tidak ada lagi kata-kata yang diperlukan. Namun ketika Aurora hendak melanjutkan langkah, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang. "Dokter L
Suara monitor operasi berdetak cepat di ruang bedah ketika Leon berdiri di sisi meja operasi. Lampu bedah menyorot bidang operasi, sementara seluruh tim bergerak mengikuti instruksi yang diberikan dengan suara tegas dan terukur. Aurora berada di sisi lain, fokus memperhatikan setiap alat yang dibutuhkan. Pasien kali ini bukan Keisya. Seorang pria berusia lima puluh tahun dengan penyumbatan pembuluh darah yang harus segera ditangani. "Tekanan turun," ujar dokter anestesi. Leon langsung menoleh. "Berapa?" "Delapan puluh per lima puluh dan terus turun." "Naikkan cairan. Pantau saturasinya." Aurora menyerahkan alat yang diminta. "Retraktor." Leon menerimanya tanpa mengalihkan pandangan. Namun beberapa menit kemudian seorang dokter residen mengambil instrumen yang salah dan hampir menyerahkannya kepada Leon. "Stop." Suara Leon langsung membuat seluruh ruangan diam. Residen itu membeku. "Maaf, Dok." "Ini bukan alat yang saya minta." "Maaf, saya..." "Kalau kamu tidak yakin,
Bunyi langkah kaki di koridor lantai enam terdengar semakin cepat ketika Leon keluar dari ruang pemeriksaan khusus. Wajahnya masih menyimpan keseriusan setelah mengetahui ada seseorang yang mencoba mengakses rekam medis Keisya Arunika, tetapi langkahnya berhenti ketika melihat Aurora berdiri di dekat jendela sambil memegang tablet pasien.Aurora mengangkat wajah ketika Leon mendekat. "Sudah ketemu siapa yang mencoba membuka data Keisya?""Belum, tapi sistem sudah dikunci. Tim IT sedang melacak perangkat yang digunakan."Aurora mengangguk, kemudian menyerahkan tablet kepadanya. "Aku sudah meminta bagian administrasi membatasi akses seluruh staf yang tidak berkaitan langsung dengan penanganan Keisya. Kalau ada yang mencoba lagi, sistem akan langsung memberi notifikasi."Leon menerima tablet itu, tetapi bukannya membaca isinya, ia justru memperhatikan Aurora beberapa detik lebih lama."Apa?" tanya Aurora ketika menyadari tatapan itu."Kamu.""Aku kenapa?""Kelihatan berbeda."Aurora meng
“B-bukan seperti itu,” gugup Aurora. Ia menarik napas sejenak, “Saya cuma merasa tidak perlu sampai diperiksa buka baju begini.” “Tentu saja perlu. Saya tidak tahu bagaimana dia mencelakaimu tadi,” sela Leon tajam. Ia mengangkat satu alisnya ketika melihat wajah Aurora memerah. “Jangan bilang ka
Suara Leon terdengar rendah. Namun cukup membuat tubuh Aurora yang gemetar semakin membeku.“Sa-saya…” Suaranya pecah dan terhenti begitu saja. Kebingungan merangkai kata akibat syok dan ketakutan yang masih melanda dirinya.Leon menatap lamat sosok di depannya.Seragam perawat gadis itu terlihat k
Aurora menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil ruang ganti perawat.Wajahnya terlihat pucat. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur.Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Wajah Leon yang mengerikan terus memen
Pria itu berdiri di sana dengan wajah datar. Tatapannya perlahan menyapu orang-orang di depannya. Memberikan ketegangan kepada mereka sehingga tidak ada yang berani untuk bereaksi.Viona yang tersadar duluan langsung tersenyum kaku.“Dokter Leon,” sapanya cepat, diikuti beberapa orang lain yang iku







