เข้าสู่ระบบThomas menjawab singkat, seolah-olah itu sudah cukup untuk menjelaskan segalanya.Kemudian ia menoleh kepada Alicia, Rayan, Devan, dan Rebecca."Kalian tolong ikut dengan perawat ini mengantarkan adik kalian ke ruang perawatan bayi."Thomas menunjuk boks kecil itu."Tapi setelah itu, kalian tetap harus kembali ke sini. Papi masih ingin bersama Mami kalian. Setelah operasi, Mami akan menjalani observasi, dan Papi tidak ingin meninggalkannya."Alicia langsung mengangguk cepat."Baik, Papi."Rayan juga mengangguk."Tenang saja. Biar kami yang mengantarkan adik."Thomas menatap mereka satu per satu."Jangan terlalu lama di sana."Alicia mengerutkan kening."Papi, kami hanya ingin melihat ruangan perawatannya.""Aku tahu.""Dan melihat adik tidur.""Aku juga tahu.""Kalau begitu, kenapa Papi masih mengingatkan?"Thomas tersenyum."Karena kalian semua terlalu bersemangat."Devan langsung menunjuk Alicia dan Rebecca."Itu benar."Alicia dan Rebecca kembali menggelengkan kepala."Kami hanya i
Sementara itu, Thomas akhirnya keluar dari ruang operasi.Wajahnya masih mengenakan masker, tetapi sorot matanya jauh lebih lega. Ketika melihat keluarga yang berkumpul di dekat boks bayi, ia langsung menghampiri mereka."Bagaimana?" tanya Rayan.Thomas mengangguk."Sofia masih berada di dalam. Operasinya sudah selesai, tetapi setelah ini dia akan menjalani observasi."Alicia segera mendekati ayahnya."Papi, Mami baik-baik saja, kan?"Thomas tersenyum."Baik, Sayang. Dokter bilang semuanya berjalan lancar."Alicia mengembuskan napas lega."Alhamdulillah."Rebecca ikut tersenyum."Syukurlah."Thomas kemudian mengalihkan pandangan kepada boks bayi.Seketika, wajahnya berubah lembut.Ia melangkah mendekat.Bayi mungil itu sedang terbaring dengan mata terpejam. Kedua tangannya bergerak-gerak kecil di bawah selimut.Thomas menunduk dan tersenyum."Hai, Jagoan..."Suaranya begitu lembut, jauh berbeda dari suara tegasnya ketika berada di ruang rapat."Papi sudah di sini."Bayi itu menggerakk
Pintu otomatis ruang operasi perlahan bergeser terbuka.Seorang perawat keluar sambil mendorong sebuah boks bayi transparan beroda. Di dalamnya, terbaring seorang bayi laki-laki mungil yang baru saja melihat dunia untuk pertama kalinya.Tubuhnya dibungkus selimut putih bersih. Sebuah topi kecil menutupi kepalanya, menyisakan wajah mungil dengan pipi kemerahan dan bibir merah yang sesekali bergerak-gerak.Tangisan yang tadi terdengar nyaring kini telah mereda menjadi rengekan kecil.Alicia yang berdiri paling dekat dengan pintu langsung membelalakkan mata."Itu adik bayi?"Perawat tersebut tersenyum."Iya, dokter Alicia. Ini putra Nyonya Sofia."Alicia spontan melangkah mendekat."Ya ampun..."Kedua tangannya terangkat menutupi mulut."Adikku! Bagaimana dengan kondisi mami?""Nyonya Sofia sangat baik."Rayan yang berdiri di samping Rebecca juga segera mendekati boks tersebut. Devan dan Rebecca tidak mau ketinggalan.Dalam sekejap, keempat orang itu mengelilingi boks bayi.Mereka semua
Pintu ruangan operasi tertutup rapat.Sofia menarik napas panjang.Thomas menggenggam tangannya."Sebentar lagi kita bertemu dengan putra kita."Sofia tersenyum."Iya."Thomas menunduk dan mengecup keningnya."Semangat.""Kamu juga."Thomas mengernyit."Aku?"Sofia tertawa kecil."Iya. Kamu yang dari tadi paling pucat."Semua orang tertawa.Bahkan salah seorang perawat ikut tersenyum melihat pasangan itu..Dan untuk beberapa saat, dunia di luar terasa sunyi.Di dalam ruang operasi, suasananya jauh berbeda.Semua tenaga medis bergerak dengan tenang dan profesional.Sofia telah dipersiapkan untuk menjalani operasi. Sementara Thomas duduk setia di sisi kepala istrinya.Pria itu sama sekali tidak berani melihat ke arah tirai pembatas.Matanya hanya tertuju pada wajah Sofia.Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia merasa seluruh tubuhnya ikut bergetar.Sofia justru tampak lebih tenang."Kenapa wajahmu seperti itu?"Thomas mencoba tersenyum."Aku baik-baik saja.""Kamu pucat.""Aku mem
Suasana di lorong VIP menuju ruang operasi hari itu terasa begitu hangat, menegangkan, sekaligus menggemaskan.Sofia telah berbaring nyaman di atas ranjang dorong dengan perutnya yang sudah membuncit besar. Setelah menunggu begitu lama, akhirnya hari yang dinanti-nantikan tiba.Hari ini, ia akan menyambut kehadiran putra kecilnya melalui operasi caesar.Di sekelilingnya, garda terdepan keluarga Dominic bukan hanya para pria tegap yang biasanya mengenakan setelan jas.Kali ini, barisan paling depan justru didominasi para wanita berbadan dua.Rebecca yang usia kehamilannya telah memasuki tujuh bulan tampak terus mengelus perut besarnya. Sementara Alicia, yang baru memasuki bulan keempat kehamilannya, justru terlihat paling lincah dan bersemangat.Tak jauh dari sana, Rayan, Devan, dan tentu saja Thomas berdiri mendampingi Sofia.Namun, dari ketiganya, Thomas-lah yang tampak paling sulit menyembunyikan kegelisahannya.Alicia menggenggam lembut jemari ibu kandungnya."Mami, bagaimana? Mami
Usia kandungan Alicia kini resmi memasuki bulan keempat. Pagi yang cerah ini menjadi pagi paling membahagiakan dan ajaib dalam hidup Devan.Saat membuka mata, Devan tidak mendapati dirinya ditendang turun dari tempat tidur atau disambut jeritan histeris. Justru sebaliknya—Alicia sudah terbangun lebih dulu, bersandar manis di dadanya, melingkarkan kedua lengan halus itu di leher Devan, lalu berbisik lembut, "Aku kangen kamu..."Mata Devan seketika berkaca-kaca menatap wajah cantik istrinya. "K-kamu... tidak memarahiku? Kamu tidak mual? Tidak benci melihat mukaku lagi?"Alicia menggelengkan kepala pelan dengan wajah polosnya. "Sebenarnya dari kemarin-kemarin aku rindu sekali, Devan... Tapi tiap kali kamu dekat, perutku mendadak mual dan mau muntah, jadi aku terpaksa mengusirmu."Rasa bersalah dan iba mendadak menggeledak di dada Devan. Pria itu langsung merengkuh tubuh Alicia ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Jemari besarnya bergerak lembut, mengusa







