تسجيل الدخول"Diberitahukan kepada seluruh penumpang Garud* Indonesia dengan nomor penerbangan GEA430 tujuan Lombok, dipersilakan naik ke pesawat udara melalui pintu nomor lima…” suara seorang perempuan mengumumkan pemberitahuan kepada seluruh penumpang maskapai yang dipilih Fahmi dan Nabila, untuk segera naik ke pesawat.
Bulan madu semakin dekat dan sangat tercium. Aroma-aroma keromantisan dan kemesraan sudah sampai dalam bayangan keduanya.Fahmi mengajak sang istri untuk segera memas"Diberitahukan kepada seluruh penumpang Garud* Indonesia dengan nomor penerbangan GEA430 tujuan Lombok, dipersilakan naik ke pesawat udara melalui pintu nomor lima…” suara seorang perempuan mengumumkan pemberitahuan kepada seluruh penumpang maskapai yang dipilih Fahmi dan Nabila, untuk segera naik ke pesawat. Bulan madu semakin dekat dan sangat tercium. Aroma-aroma keromantisan dan kemesraan sudah sampai dalam bayangan keduanya. Fahmi mengajak sang istri untuk segera memasuki pesawat, ia menggandeng tangan belahan jiwanya itu. Dengan perasaan yang bahagia, Nabila menyambut tangan sang suami. Di tengah perasaan dan pikirannya seperti ada sesuatu yang mengganjal, rencana bulan madu tetap berjalan. Baru beberapa langkah keduanya berjalan meninggalkan boarding lounge VIP—tempat mereka menunggu jadwal keberangkatan pesawat—namun, sebuah getaran ponsel Nabila membuat langkah keduanya tertahan. Nabila segera mengecek ada apa dengan benda pipih canggi
Mobil milik keluarga Fahmi sudah berjalan meninggalkan garasi, kini kendaraan roda empat itu sedang berada di jalanan menuju bandara. Jaraka antara rumah ke bandara kurang lebih 30 menit. Jalanan nampak agak lengang, karena jam macet sudah terlewati. Sepanjang perjalanan, perut Nabila masih terasa mulas, ia mencoba untuk rileks agar sakitnya berkurang, namun tetap saja terasa. Isi kepala dan hatinya yang terasa mengganjal juga masih terus mengusiknya. Entah pikiran apa yang membuatnya hingga seperti ini. ‘Duh, kenapa ya? Jangan sampai terjadi yang nggak-nggak deh,’ ucap Nabila dalam hati. Ia pun mencoba membuang pandangan ke jalanan agar pikirannya terurai, namun tetap saja terasa mengganjal. Kemudian, selintas ia teringat dengan sang ibunda. Semalam sebelum tidur ia sudah menghubungi mamanya, kabarnya baik-baik saja. Nabila merasa lega mendengar hal itu. Mobil terus melaju, tidak sampai setengah perjalanan lagi akan tiba di bandara. Jalanan l
Kucuran air yang mengalir dari shower, mengusir rasa kantuk Nabila. Tubuhnya seketika terasa segar dan bersih. Sisa-sisa bangun tidur sedari tadi sudah menghilang. Wajah dan penampilannya yang cukup urakan, sudah berganti berseri-seri, rambutnya dicepol ke atas menyisakan anak-anak rambut di bawahnya.Selesai sudah sesi membersihkan diri pagi ini, handuk melilit tubuhnya hingga di atas lutut. Tangan Nabila memegang handle pintu, membuka benda tersebut, dan ia melangkah keluar. Selangkah Nabila keluar dari kamar mandi, tubuhnya langsung dibopong oleh sang suami. Perempuan itu kini sudah berada dalam gendongan lelakinya. Fahmi masih memasang senyum nakal seperti tadi. Hidungnya mencium aroma sabun yang segar dan wangi, semakin membuatnya gemas pada sang istri. Nabila cukup kaget, tiba-tiba dirinya langsung digendong oleh sang suami saat baru saja melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi. “Kenapa nih, kok aku digendong?” tanyanya heran, namun tak
Pikiran-pikiran yang memenuhi kepala Nabila, kini sudah tersingkir. Sentuhan-sentuhan yang diberikan sang suami berhasil menimbulkan rasa nyaman, hingga terbitlah rasa kantuk dan membuat netranya terpejam. Fahmi membuka matanya, sosok cantik kekasih hatinya sudah terlelap tidur. Ia tersenyum hangat memandangi wajah tenang yang sudah hanyut dalam dunia mimpi. Kini, gilirannya mengistirahatkan tubuh, menyiapkan esok hari untuk sebuah perjalanan yang jauh. Pagi sudah tiba menggantikan malam, suara murattal dari masjid sudah mengalun memecah kesunyian fajar. Fahmi sudah bangun dari tidurnya, ia mengelus-elus pipi sang istri yang masih terlelap. Nabila menggeliat. “Sayang, bangun…” ucap Fahmi lembut membangunkan belahan jiwanya. Perempuan itu menggeliat lagi, tali terusan yang bertengger di bahunya terlepas, membuat Fahmi sedikit kaget dan… tergoda. Fahmi memgembuskan napasnya pelan, menahan seonggok gejolak yang berada dalam dirinya.
Cukup satu koper berukuran sedang memuat pakaian dan barang-barang pasangan pengantin baru ini. Fahmi dan Nabila akan berbulan madu menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pakaian-pakaian dan barang-barang lain disusun serapi mungkin memanfaatkan ruang pada koper. Dengan cekatan Fahmi menyusun semua barang-barang tersebut, sedangkan sang istri hanya menontonnya saja. Perempuannya itu hanya diperkenankan untuk bersantai saja. “Mas, aku bantu, ya,” ucap Nabila. Fahmi menoleh pada sang istri dengan senyum manis, lalu menggeleng. “Sayang, duduk aja, bentar lagi selesai kok,” balasnya dengan lembut. Nabila tak menjawab, ia hanya mendengus pelan. Fahmi betul-betul memanjakan dirinya, bahkan air minum pun ia yang mengambilkan untuk sang istri. Selesai. Semua barang-barang milik keduanya sudah masuk ke dalam koper dengan susunan yang rapi.Fahmi menoleh pada sang istri yang tengah duduk sambil mengayun-ayun
Gerakan tubuh Nabila yang berlari-lari kecil membuat rok terusannya berkibar dan mekar. Rambut hitam legam sedadanya turut bergoyang. Tawa kecil nan ceria bersemi di wajah cantiknya. Lari-lari kecilnya terus bergerak mengelilingi kamar, ia sengaja belum berhenti, membiarkan sang suami sampai berhasil mendapatkan dirinya. Dengan tawa-tawa kecil, senyum bahagia, Fahmi terus mengejar sang istri. Ia memang tak mempercepat larinya, karena ingin menikmati momen ini. Momen yang mungkin bagi orang lain akan terasa seperti anak kecil, tapi bagi Fahmi ini adalah sebuah kebahagiaan. Tingkah sang istri yang manja sungguh membuatnya semakin jatuh cinta dan menginginkan perempuannya itu. Nabila terus berlari-lari kecil, namun ia malah memelankan gerakannya, dengan cekatan Fahmi langsung menggendongnya. Nabila langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh sang suami. Ia tersenyum mesra menatap pria yang berhasil membawanya ke dalam relung dada bidang
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







