Share

Bab 152 Bau

Author: Nisa Hikaru
last update publish date: 2026-10-22 22:11:31

Makan siang ini masih terasa begitu nikmat di lidah Nabila, ia belum merasa mual, muntah, dan pilih-pilih makanan. Menu makan siang yang dibawakan oleh ibu mertuanya habis disantapnya.

Selesai makan siang, Nabila kembali ke instalasi kebidanan dan kandungan, sedangkan Fahmi praktik di rumah sakit lain. Siang ini juga, Fahmi ada operasi cito di rumah sakit tersebut.

Nabila kini sudah berada di ruang jaga bersama beberapa rekan kerjanya yang sedang bertug
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
wkwkwkwk hormon itu...Fahmi siap2 aja wkwkwkwk
goodnovel comment avatar
roha mimha
Dr Fahmi tolong jgn beri sebarang celah kpd pelakor yg secara halus boleh hancurin rumah tangga loh!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 153 Cemburu

    Mobil kesayangan milik Fahmi baru saja masuk ke area parkir di rumah sakit milik keluarganya. Sore ini ia pulang lebih awal dari biasanya, sehingga bisa menjemput sang istri dengan cepat. Biasanya Nabila menunggu suaminya di lobby, tapi kini lelaki itu yang berjalan menuju ruangan tersebut. Setibanya di lobby, belum nampak batang hidung wanitanya itu. Fahmi ingin melanjutkan langkahnya, namun terhenti saat ada yang memanggil dirinya. “Dokter Fahmi,” panggil seorang perempuan yang tidak begitu asing di telinga Fahmi sendiri. Fahmi menoleh ke sumber suara. “Ya?” Perempuan yang memanggil Fahmi ialah dr. Agni—salah satu dokter jantung yang bertugas di rumah sakit ini. Dengan mempercepat langkah, dr. Agni langsung mendekat ke arah Fahmi. “Dok, maaf mengganggu, ada yang mau saya tanyakan,” ucap dr. Agni sopan. “Iya, silakan, mau tanya apa, Dok?” tanya Fahmi sama-sama sopan. Nampak wajah dr. Agni seperti malu-malu, namu

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 152 Bau

    Makan siang ini masih terasa begitu nikmat di lidah Nabila, ia belum merasa mual, muntah, dan pilih-pilih makanan. Menu makan siang yang dibawakan oleh ibu mertuanya habis disantapnya. Selesai makan siang, Nabila kembali ke instalasi kebidanan dan kandungan, sedangkan Fahmi praktik di rumah sakit lain. Siang ini juga, Fahmi ada operasi cito di rumah sakit tersebut. Nabila kini sudah berada di ruang jaga bersama beberapa rekan kerjanya yang sedang bertugas. Ia duduk di tempat biasa yang ia tempati. Sembari mengerjakan pekerjaannya di laptop, hidung Nabila tak sengaja menangkap sesuatu yang mengganggu penciumannya. Ia mengendus, lalu membuang aroma tersebut berulang kali, hingga menggosok hidungnya. Lama kelamaan aroma tersebut terus mengganggunya, sulit sekali menyingkirkannya. Dengan telapak tangan kirinya, Nabila menutupi bagian hidung, berharap dapat mengurangi aroma yang terus menari-nari di sekitar penciumannya. 

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 151 Untuk Menantu Kesayangan

    Respon keluarga Fahmi bersukacita dengan kabar kehamilan Nabila. Ini menjadikan Nabila semakin berbahagia, apalagi anak yang dikandungnya menjadi cucu pertama di keluarga sang suami. Setelah memberi kabar pada keluarga suaminya, Nabila mengirimkan pesan pada sang ibunda soal kehamilannya. Namun, entah kenapa pesan yang sudah dikirimnya sejak semalam, hingga berganti siang ini tak kunjung mendapat respon. “Mama ke mana sih?” gerutu Nabila. Ia sedih dan gusar dengan mamanya yang tak merespon pesannya. Ia pun mencoba melakukan panggilan suara, namun tak tersambung. “Kenapa, Sayang?” tanya Fahmi. Ia melihat sang istri yang nampak murung sembari duduk di depan laptop. Nabila menoleh pada suaminya, kondisi ruang poli hanya mereka berdua, Isti yang hari ini membantu Nabila di poli kebidanan dan kandungan sudah kembali ke instalasi. “Nomor Mama nggak aktif, Mas. Semalem aku kirim pesan, ngabarin soal kehamilan, tapi nggak dibales-bales. Ditelepon juga

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 150 Mengabari Keluarga

    [Assalamu’alaikum, semuanya, alhamdulillah istri saya tercinta sedang mengandung anak kami. Ayah dan Mamah bakalan jadi kakek nenek nih…] Begitulah isi pesan yang dikirimkan Fahmi ke grup keluarganya. Tak perlu menunggu lama, pesan itu langsung mendapat respon dari kedua orang tua dan adik-adiknya. Balasan dari mereka berisikan rasa syukur dan bahagia. Bagi Annisa dan Salma, mereka berdua senang sekali akan memiliki keponakan dan akan dipanggil dengan sebutan ‘tante atau bibi’. Setelah berbalas pesan di grup keluarga, ponsel Fahmi berdering, ada panggilan suara yang masuk dari sang ibunda. Langsung saja Fahmi menerima panggilan tersebut. “Assalamu’alaikum, Mah…” ucap Fahmi. Ia mengeraskan suara panggilannya. “Wa’alaikumussalam, mana nih anak mantu Mamah yang cantik?” langsung saja Halimah menanyai keberadaan Nabila. Nabila tertawa kecil. “Hadir, Mah…” jawabnya. “Wah, Mamah sekarang nggak nanyain Abang dulu, ya,” sela Fahmi

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 149 Suara Kehidupan

    Dengan hati-hati, Fahmi membantu istrinya untuk berbaring di ranjang periksa. Ia membuka pakaian yang menutup bagian perut Nabila, menampilkan perut yang masih rata dan langsing. Sejenak Fahmi memandang ke arah bagian tubuh istrinya itu, ia membayangkan, perut itu akan membesar nantinya. Nabila yang berbaring memperhatikan sang suami, wajah lelakinya itu nampak serius sekali. Kemudian, Fahmi mengambil gel, lalu mengoleskannya pada perut Nabila. Ia tak pernah melakukan hal ini, karena ini adalah pekerjaan asistennya. Namun, untuk kali ini, terkhusus sang istri, ia melakukan semuanya. Tangan Fahmi memegang transduser, alat tersebut menempel pada perut Nabila. Jantung Fahmi berdebar-debar melakukan pemeriksaan ini, ia sangat berharap janin yang bersemi di rahim sang istri berkembang dengan sehat. Dari layar USG yang menghadap ke arah Fahmi, menampilkan janin berukuran 2 - 6 mm. Janin itu melengkung berbentuk seperti huruf C. Tangan Fahmi lam

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 148 Kabar Bahagia

    Sebuah amplop putih diberikan kepada Fahmi. Ia menerima benda tersebut dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Apa yang sebenarnya berada di balik amplop tersebut. Jemari Fahmi membuka, lalu merogoh ke dalam amplop. Ia menemukan sebuah alat yang tidak asing, namun rasanya mendebarkan sekali. Dikeluarkannya alat tes kehamilan yang menampilkan dua buah garis. Dua garis yang amat sangat bermakna bagi setiap pasangan yang tengah menantikan kehadiran buah hati. Mata Fahmi berbinar-binar saat mendapati apa yang ada di hadapannya. “Alhamdulillah…” ucap Fahmi penuh rasa syukur dan haru. Ia langsung membawa istrinya ke dalam dekapan, lalu menghujani wanitanya dengan ciuman di wajah. Fahmi menatap Nabila dengan penuh cinta. Sungguh sebuah pagi yang dinaungi sukacita. Dua bulan pernikahan, mereka diberi amanah yang bersemi di rahim sang istri. Fahmi sendiri memang ingin sekali segera memiliki keturunan, namun tak menyangka secepat ini. “Kita mau jadi or

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 8 Bukan Hari yang Tenang

    Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 7 Melawan Takut

    Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 6 Tolong

    Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 5 Insiden

    Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status