LOGINMobil kesayangan milik Fahmi baru saja masuk ke area parkir di rumah sakit milik keluarganya. Sore ini ia pulang lebih awal dari biasanya, sehingga bisa menjemput sang istri dengan cepat. Biasanya Nabila menunggu suaminya di lobby, tapi kini lelaki itu yang berjalan menuju ruangan tersebut.
Setibanya di lobby, belum nampak batang hidung wanitanya itu. Fahmi ingin melanjutkan langkahnya, namun terhenti saat ada yang memanggil dirinya.“Dokter Fahmi,” panggil seorang perempuMobil kesayangan milik Fahmi baru saja masuk ke area parkir di rumah sakit milik keluarganya. Sore ini ia pulang lebih awal dari biasanya, sehingga bisa menjemput sang istri dengan cepat. Biasanya Nabila menunggu suaminya di lobby, tapi kini lelaki itu yang berjalan menuju ruangan tersebut. Setibanya di lobby, belum nampak batang hidung wanitanya itu. Fahmi ingin melanjutkan langkahnya, namun terhenti saat ada yang memanggil dirinya. “Dokter Fahmi,” panggil seorang perempuan yang tidak begitu asing di telinga Fahmi sendiri. Fahmi menoleh ke sumber suara. “Ya?” Perempuan yang memanggil Fahmi ialah dr. Agni—salah satu dokter jantung yang bertugas di rumah sakit ini. Dengan mempercepat langkah, dr. Agni langsung mendekat ke arah Fahmi. “Dok, maaf mengganggu, ada yang mau saya tanyakan,” ucap dr. Agni sopan. “Iya, silakan, mau tanya apa, Dok?” tanya Fahmi sama-sama sopan. Nampak wajah dr. Agni seperti malu-malu, namu
Makan siang ini masih terasa begitu nikmat di lidah Nabila, ia belum merasa mual, muntah, dan pilih-pilih makanan. Menu makan siang yang dibawakan oleh ibu mertuanya habis disantapnya. Selesai makan siang, Nabila kembali ke instalasi kebidanan dan kandungan, sedangkan Fahmi praktik di rumah sakit lain. Siang ini juga, Fahmi ada operasi cito di rumah sakit tersebut. Nabila kini sudah berada di ruang jaga bersama beberapa rekan kerjanya yang sedang bertugas. Ia duduk di tempat biasa yang ia tempati. Sembari mengerjakan pekerjaannya di laptop, hidung Nabila tak sengaja menangkap sesuatu yang mengganggu penciumannya. Ia mengendus, lalu membuang aroma tersebut berulang kali, hingga menggosok hidungnya. Lama kelamaan aroma tersebut terus mengganggunya, sulit sekali menyingkirkannya. Dengan telapak tangan kirinya, Nabila menutupi bagian hidung, berharap dapat mengurangi aroma yang terus menari-nari di sekitar penciumannya.
Respon keluarga Fahmi bersukacita dengan kabar kehamilan Nabila. Ini menjadikan Nabila semakin berbahagia, apalagi anak yang dikandungnya menjadi cucu pertama di keluarga sang suami. Setelah memberi kabar pada keluarga suaminya, Nabila mengirimkan pesan pada sang ibunda soal kehamilannya. Namun, entah kenapa pesan yang sudah dikirimnya sejak semalam, hingga berganti siang ini tak kunjung mendapat respon. “Mama ke mana sih?” gerutu Nabila. Ia sedih dan gusar dengan mamanya yang tak merespon pesannya. Ia pun mencoba melakukan panggilan suara, namun tak tersambung. “Kenapa, Sayang?” tanya Fahmi. Ia melihat sang istri yang nampak murung sembari duduk di depan laptop. Nabila menoleh pada suaminya, kondisi ruang poli hanya mereka berdua, Isti yang hari ini membantu Nabila di poli kebidanan dan kandungan sudah kembali ke instalasi. “Nomor Mama nggak aktif, Mas. Semalem aku kirim pesan, ngabarin soal kehamilan, tapi nggak dibales-bales. Ditelepon juga
[Assalamu’alaikum, semuanya, alhamdulillah istri saya tercinta sedang mengandung anak kami. Ayah dan Mamah bakalan jadi kakek nenek nih…] Begitulah isi pesan yang dikirimkan Fahmi ke grup keluarganya. Tak perlu menunggu lama, pesan itu langsung mendapat respon dari kedua orang tua dan adik-adiknya. Balasan dari mereka berisikan rasa syukur dan bahagia. Bagi Annisa dan Salma, mereka berdua senang sekali akan memiliki keponakan dan akan dipanggil dengan sebutan ‘tante atau bibi’. Setelah berbalas pesan di grup keluarga, ponsel Fahmi berdering, ada panggilan suara yang masuk dari sang ibunda. Langsung saja Fahmi menerima panggilan tersebut. “Assalamu’alaikum, Mah…” ucap Fahmi. Ia mengeraskan suara panggilannya. “Wa’alaikumussalam, mana nih anak mantu Mamah yang cantik?” langsung saja Halimah menanyai keberadaan Nabila. Nabila tertawa kecil. “Hadir, Mah…” jawabnya. “Wah, Mamah sekarang nggak nanyain Abang dulu, ya,” sela Fahmi
Dengan hati-hati, Fahmi membantu istrinya untuk berbaring di ranjang periksa. Ia membuka pakaian yang menutup bagian perut Nabila, menampilkan perut yang masih rata dan langsing. Sejenak Fahmi memandang ke arah bagian tubuh istrinya itu, ia membayangkan, perut itu akan membesar nantinya. Nabila yang berbaring memperhatikan sang suami, wajah lelakinya itu nampak serius sekali. Kemudian, Fahmi mengambil gel, lalu mengoleskannya pada perut Nabila. Ia tak pernah melakukan hal ini, karena ini adalah pekerjaan asistennya. Namun, untuk kali ini, terkhusus sang istri, ia melakukan semuanya. Tangan Fahmi memegang transduser, alat tersebut menempel pada perut Nabila. Jantung Fahmi berdebar-debar melakukan pemeriksaan ini, ia sangat berharap janin yang bersemi di rahim sang istri berkembang dengan sehat. Dari layar USG yang menghadap ke arah Fahmi, menampilkan janin berukuran 2 - 6 mm. Janin itu melengkung berbentuk seperti huruf C. Tangan Fahmi lam
Sebuah amplop putih diberikan kepada Fahmi. Ia menerima benda tersebut dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Apa yang sebenarnya berada di balik amplop tersebut. Jemari Fahmi membuka, lalu merogoh ke dalam amplop. Ia menemukan sebuah alat yang tidak asing, namun rasanya mendebarkan sekali. Dikeluarkannya alat tes kehamilan yang menampilkan dua buah garis. Dua garis yang amat sangat bermakna bagi setiap pasangan yang tengah menantikan kehadiran buah hati. Mata Fahmi berbinar-binar saat mendapati apa yang ada di hadapannya. “Alhamdulillah…” ucap Fahmi penuh rasa syukur dan haru. Ia langsung membawa istrinya ke dalam dekapan, lalu menghujani wanitanya dengan ciuman di wajah. Fahmi menatap Nabila dengan penuh cinta. Sungguh sebuah pagi yang dinaungi sukacita. Dua bulan pernikahan, mereka diberi amanah yang bersemi di rahim sang istri. Fahmi sendiri memang ingin sekali segera memiliki keturunan, namun tak menyangka secepat ini. “Kita mau jadi or
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter







