ANMELDENSemburat merah merona di pipi Nabila. Ia memalingkan wajahnya dari Fahmi yang tetap tenang dan kalem setelah mengatakan hal romantis tersebut. Kata-katanya singkat, namun sukses membuat Nabila tersipu malu dan berdebar-debar.
Untuk mengkondisikan hatinya yang berbunga-bunga dan berdebar, Nabila terus menyedot minumannya. Ia tak dapat menikmati matchagato seperti biasanya. Rasa minuman tersebut perpaduan antara manis es krim vanila dan pahit wangi dari teh hijau, rasanya yang unik, nLift mulai bergerak, tangan Nabila bergelayut pada lengan Fahmi. Lelaki yang lebih tua 10 tahun darinya itu merasa sangat bahagia. Pada lengannya itu, dapat memberikan kenyamanan pada sang istri. Kemudian, beriringan dengan lift yang terus bergerak turun, terdengar ada suara yang mendayu di telinga. Suara yang syahdu menyentuh relung hati. Suara itu mengalun pelan, namun masih dapat ia dengar. “Mas Fahmi, ana uhibbuka fillah…” begitulah kalimat yang terucap. Kalimat yang terdengar mengalun menyentuh jiwa. Kalimat yang ditunggu-tunggunya. Fahmi menoleh pada sang istri. Mata mereka bertemu saling beradu pandang. Sebuah senyum hangat terbit di wajahnya. “Boleh dengar lagi?” tanyanya dengan nada yang sangat lembut, namun tersisip permohonan. Nabila merasa tersipu. Ia sebetulnya ingin berkata diam-diam saja, namun ternyata suaranya justru terdengar oleh telinga sang suami. Seharusnya, ia tadi mengatakannya dalam hati saja. Bibir Nabila be
Rumah baru. Dua kata itu terus terngiang di telinga Nabila. Sebelumnya ia tak pernah membayangkan akan secepat itu pindah rumah. Ia hanya mengira, dirinya dan suami akan terus tinggal sementara di rumah sang mertua. Suaminya pun belum pernah membahas soal rumah baru tersebut. Jujur saja, Nabila kaget, sekaligus senang mendengar dua kata tersebut. Namun, seperti terlalu tiba-tiba. Apakah ini memang direncanakan menjadi sebuah kejutan? Ah, entahlah. Di kepala Nabila sekarang tengah membayangkan bagaimana rupa bangunan tersebut. Nabila penasaran sekali, seperti apa rumah baru tersebut. Apakah di dalam komplek perumahan cluster seperti rumah mertuanya atau di perkampungan biasa. Yang jelas, pasti keluarga suaminya memilihkan tempat yang terbaik versi mereka. Hari sudah beranjak siang, Farida—mama Nabila—sudah sadarkan diri. Wanita paruh baya itu nampak masih belum stabil. Matanya yang sayu melihat ke sekeliling ruang rawat inap, dan juga ia menemukan tiga s
Setelah izin dengan sang istri, Fahmi lanjut melangkah menuju tempat di mana dokter IGD sedang berjaga. Di balik meja yang cukup tinggi itu, dokter jaga yang masih muda usianya kurang lebih tak jauh beda dengan Nabila, sedang duduk mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Kehadiran Fahmi yang berjalan hampir mendekati meja tersebut, langsung menyadarkan dokter tersebut. Ia langsung berdiri saat Fahmi sudah di depan meja. Fahmi tersenyum sopan pada dokter jaga tersebut. Ia teringat dengan dirinya dulu yang juga pernah bertugas di IGD bersama Rafli. Usianya juga tak jauh beda. Bekerja di IGD memberinya banyak pengalaman yang beragam dan berkesan. “Dokter Fahmi,” sapa dokter jaga itu dengan ramah dan sopan. Fahmi tersenyum ramah dan sopan juga. “Bagaimana keadaan Ibu Mertua saya, Dok?” “Pasien mengalami pingsan, karena tekanan darah yang rendah, Dok. Tekanan darahnya di bawah 90/60. Sudah kami tangani dengan memberi infus dan oksigen. Berd
"Sayang, sabar ya, insya Allah nanti akan ada hal yang lebih baik buat kita…” kalimat yang tak panjang, namun juga tak pendek. Kata-kata di dalamnya terasa begitu menenangkan terdengar di telinga. Begitu juga dengan suara Fahmi yang mengalun indah di indra pendengaran Nabila. Segenap rasa lega menyeruak dadanya, Nabila ingin menangis. Perempuan itu bersedih, takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada wanita yang telah melahirkannya itu. Namun, di sisi lain ia harus banyak bersyukur, kehadiran Fahmi di hidupnya memberikan dukungan dan semangat. Kabar soal sang ibunda yang tiba-tiba tak sadarkan diri, karena tekanan darah yang rendah, di saat ia dan suami akan berangkat bulan madu. Sedikit lagi langkah kaki Nabila dan Fahmi akan memasuki kabin pesawat, lalu mereka akan duduk manis menunggu burung besi itu lepas landas meninggalkan bandara terbang menuju tujuan semua penumpang, yaitu Lombok. Fahmi tersenyum hangat, ia memang merasa ada sedikit kekecewa
"Diberitahukan kepada seluruh penumpang Garud* Indonesia dengan nomor penerbangan GEA430 tujuan Lombok, dipersilakan naik ke pesawat udara melalui pintu nomor lima…” suara seorang perempuan mengumumkan pemberitahuan kepada seluruh penumpang maskapai yang dipilih Fahmi dan Nabila, untuk segera naik ke pesawat. Bulan madu semakin dekat dan sangat tercium. Aroma-aroma keromantisan dan kemesraan sudah sampai dalam bayangan keduanya. Fahmi mengajak sang istri untuk segera memasuki pesawat, ia menggandeng tangan belahan jiwanya itu. Dengan perasaan yang bahagia, Nabila menyambut tangan sang suami. Di tengah perasaan dan pikirannya seperti ada sesuatu yang mengganjal, rencana bulan madu tetap berjalan. Baru beberapa langkah keduanya berjalan meninggalkan boarding lounge VIP—tempat mereka menunggu jadwal keberangkatan pesawat—namun, sebuah getaran ponsel Nabila membuat langkah keduanya tertahan. Nabila segera mengecek ada apa dengan benda pipih canggi
Mobil milik keluarga Fahmi sudah berjalan meninggalkan garasi, kini kendaraan roda empat itu sedang berada di jalanan menuju bandara. Jaraka antara rumah ke bandara kurang lebih 30 menit. Jalanan nampak agak lengang, karena jam macet sudah terlewati. Sepanjang perjalanan, perut Nabila masih terasa mulas, ia mencoba untuk rileks agar sakitnya berkurang, namun tetap saja terasa. Isi kepala dan hatinya yang terasa mengganjal juga masih terus mengusiknya. Entah pikiran apa yang membuatnya hingga seperti ini. ‘Duh, kenapa ya? Jangan sampai terjadi yang nggak-nggak deh,’ ucap Nabila dalam hati. Ia pun mencoba membuang pandangan ke jalanan agar pikirannya terurai, namun tetap saja terasa mengganjal. Kemudian, selintas ia teringat dengan sang ibunda. Semalam sebelum tidur ia sudah menghubungi mamanya, kabarnya baik-baik saja. Nabila merasa lega mendengar hal itu. Mobil terus melaju, tidak sampai setengah perjalanan lagi akan tiba di bandara. Jalanan l
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







