LOGIN“Pada akhirnya, aku juga yang kalah. Aku yang harus patah hati, Rafli ninggalin aku tanpa kejelasan, bahkan menikah dengan perempuan lain. Setelah selesai PPDS, aku sempat mengharapkan kamu, tapi aku tahu diri. Aku nggak pantas buat kamu,” ucap Marsha lagi dalam tangisnya. Setelah mendengar ucapan Marsha barusan, akhirnya mata Fahmi memilih untuk melihat ke arah perempuan itu. Benar, apa yang diucapkannya barusan. Marsha harus menanggung semuanya sendirian, karena ulahnya sendiri. Rafli meninggalkannya, memilih perempuan lain, dan Fahmi yang memutuskan komunikasi dengannya. “Maafkan aku, Fahmi. Tolong…” desis Marsha lirih dan tercekat. Suara dan tatapannya penuh dengan harapan. Fahmi menatap Marsha yang tengah terisak. Terdengar nada suara dan isak tangisnya yang tersirat akan penyesalan. Ia mengembuskan napas perlahan, ingatannya kembali mengelana pada masa-masa dahulu. Betapa hebatnya Marsha bersandiwara bersama Rafli di depan teman-teman satu lingkar
Selesai makan siang, Nabila keluar dari ruang poli, ia hendak menuju toilet. Langkahnya terasa ringan, tak ada keraguan atau kekhawatiran dalam setiap gerakannya. Kini, langkah itu sudah tiba di ruangan yang kemarin baru saja memberinya sebuah pengalaman yang cukup gila. Nabila teringat dengan kejadian kemarin yang cukup membuatnya takut, namun akhirnya memberanikan diri untuk melawan. Kaki kirinya masuk terlebih dahulu ke dalam toilet, di dalam sana ada rekan tenaga kesehatan lainnya yang sedang merapikan scrub dan hijabnya, ada juga yang sedang mencuci tangan. Sebuah senyum ramah Nabila berikan pada dua rekan tersebut, lalu ia masuk ke dalam salah satu bilik untuk menuntaskan panggilan alam yang sudah terasa sejak Fahmi bercerita soal Marsha. Dari awal masuk ke bilik toilet, hingga selesai, ia keluar mencuci tangan dan merapikan hijab di kaca wastafel, semuanya aman terkendali tak ada yang mengerjainya lagi. Setelah selesai urusan di toilet, Nabila be
Kedua tangan Marsha bergetar memegang erat undangan tersebut. Air matanya mengalir tanpa permisi melewati kedua pipi mulusnya. Fahmi menatapnya dengan bingung dan heran, apa yang sebenarnya terjadi dengan temannya ini. “Dia mau nikah?” tanya Marsha lirih dalam isak tangisnya. “Kamu kenapa? Kamu sedih dengan pernikahan Rafli?” tanya Fahmi betul-betul tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Marsha. Marsha menoleh pada Fahmi, ia masih terisak. Tangisannya amat sedih, seperti seseorang yang sedang patah hati. “Sesakit ini ternyata,” ucapnya lirih dan tercekat. Mendengar ucapan Marsha semakin membuat Fahmi tidak mengerti. Kenapa Marsha berkata demikian, kenapa pula juga ia malah bersedih atas pernikahan teman akrab mereka berdua. “Ada apa sih sebenarnya?” tanya Fahmi penasaran, bahkan ia sampai mengerutkan dahi. Marsha menghapus air matanya yang mengalir di wajah cantik itu. Netranya nampak memerah akibat menangis.
Pertemanan di lingkaran antara Fahmi, Marsha, dan Rafli tetap berjalan, namun beberapa dari mereka sering tidak muncul saat melakukan pertemuan. Begitu juga dengan Rafli yang kian sibuk akan pekerjaan dan soal asmaranya. Marsha sudah tahu, bahwa Rafli selingkuh darinya. Namun, teman-teman selingkarannya belum ada yang tahu soal ia dan Rafli yang juga berpacaran. Hubungan mereka berdua memang dilakukan secara diam-diam. Setahun sudah berlalu, Rafli menggantung hubungannya dengan Marsha. Padahal ia berjanji akan menikahi Marsha di tahun ini, namun itu hanya omong kosong belaka, bahkan ia seperti menghilang dari hadapan kekasihnya itu. Sebuah kabar pun datang, bahwa Rafli lolos sebagai PNS dan ditempatkan di kota lain, ia juga masih berpacaran dengan Kania. Hubungannya dengan Marsha masih menggantung. Marsha sendiri sudah lelah tak lagi mencari-cari Rafli untuk meminta kejelasan hubungan mereka. Hingga tiga tahun berlalu, Fahmi sudah menjadi
Marsha mendengus sebal melihat respon Rafli yang nampak bergidik ngeri, saat ia mengingatkan janji yang pernah laki-laki itu berikan padanya. Bukan sebuah janji biasa, namun janji untuk menikahinya di tahun depan. “Jangan marah gitu dong, Sayang…” ucap Rafli dengan nada memelas yang dibuat-buat. Marsha hanya meliriknya sekilas, lalu puk! Ia menepuk dashboard mobil, hingga membuat kekasihnya itu terkejut. “Ayo, jalan, anterin pulang. Nanti malem aku mau dinas,” ucap Marsha masih ketus seperti tadi. “Siap, Tuan Putri…” balas Rafli dengan nada seperti seorang prajurit. Marsha tertawa kecil. Inilah yang membuatnya jatuh hati pada Rafli. Bukan hanya candaannya saja yang lucu, menatap wajahnya pun sudah mengundang tawa bagi Marsha. Rafli menginjak pedal gas mobilnya, lalu mengarahkan kemudi keluar dari area parkir cafe. Bersama mobilnya, Rafli akan mengantar Marsha pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan Rafli menyalakan musik, ia mulai bernya
"Terima kasih atas perasaan kamu untukku, tapi…” Marsha menggantung kalimatnya. Ia sedikit menunduk, lalu kembali menatap lawan bicaranya. “Maaf, aku nggak bisa sama kamu. Aku harus selesaikan PPDS dulu, dan aku nggak bisa berjanji suatu saat bisa sama kamu. Aku nggak mau menaruh harapan dalam waktu yang selama itu. I’m so sorry…” ucapnya lirih. Mau itu manis atau pahit sekali pun, Fahmi harus mendengar jawaban dari Marsha. Ia mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum tipis menanggapi jawaban Marsha yang menurutnya cukup masuk akal. Bukan alasan yang terlalu dikarang-karang. Ia juga tahu, bahwa Marsha diberi tuntutan dari orang tuanya untuk segera melanjutkan PPDS. Mungkin dengan menikah akan mengganggu proses pendidikannya. “Terima kasih atas jawabannya. Aku harap kita tetap berteman seperti biasa setelah ini. Dan, semoga PPDSnya lancar berjalan sesuai harapan,” ucap Fahmi dengan tenang. Ia menerima hasil jawaban Marsha atas pernyataannya. Ia sama sekali tidak me
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i







