Mag-log inKeesokan paginya, Dante mengajak Mataya keluar mencari sarapan khas Wonosobo. Kali ini mereka memilih menggunakan motor agar bisa lebih leluasa berkeliling dan menikmati suasana pagi pegunungan.Mataya terlihat begitu senang. Dia duduk di belakang sambil memeluk pinggang Dante dengan erat. Udara pagi yang menusuk membuatnya beberapa kali meringkuk di balik punggung sang suami, tetapi senyum di wajahnya tak juga hilang.Sepanjang perjalanan, Mataya menikmati pemandangan jalanan Wonosobo yang masih diselimuti kabut tipis. Pepohonan hijau dan perbukitan yang terlihat dari kejauhan membuat perjalanan mencari sarapan terasa seperti petualangan kecil bagi mereka berdua.Meski beberapa kali menggigil karena kedinginan, Mataya tetap tidak ingin kembali ke cabin. Dia justru semakin erat memeluk Dante dan menikmati perjalanan pagi bersama sang suami.“Ada di depan sana, tempatnya, Sayang,” ujar Dante. Dia menepuk pelan tangan sang istri yang melingkar di pinggangnya. “Capek gak?”“Enggak. Aku s
Sore hari, setelah Mataya cukup beristirahat, Dante mengajaknya keluar dari cabin. Dia mengajak sang istri untuk menikmati udara pegunungan dengan berkeliling kebun sayur sekaligus memetik stroberi.Kini keduanya sudah berdiri di depan sebuah sepeda listrik yang akan mereka gunakan berkeliling area perkebunan.Mataya menatap sepeda itu dari atas sampai bawah. Kemudian pandangannya beralih pada perutnya sendiri yang sudah cukup besar, sebelum kembali menatap Dante dengan wajah ragu.“Kekecilan nggak sih, ini, Abang?” tanyanya. “Yakin kuat buat kita berdua?”Dante melirik perut istrinya, lalu terkekeh. “Kuat dong, Sayang. Sepeda listriknya besar ini mah”“Abang…”“Iya, Sayang.” Dante menahan tawa. “Tenang aja. Ini kuat buat kita berdua.”Mataya masih belum percaya. “Kalau nggak kuat gimana?”“Ya Abang dorong.”“Mending aku naik sendiri aja,” pintanya dengan wajah penuh harap. “Boleh, gak?”“Enggak boleh.”“Kenapa?”Mataya langsung memasang wajah kesal. “Alasannya?”Dante menunjuk jalan
Mataya berpikir seharusnya mereka segera menyudahi adegan panas dalam kolam renang agar tak ada orang yang melihatnya… meskipun itu private pool tapi bisa saja kan ada yang melihat kegiatan mereka. Namun, godaan dari rasa gairah membuat sang suami seakan tak peduli dan malah semakin menggila. Air bahkan bergelombang dan berbunyi selayanya ada tubuh yang sedang berenang disana. Padahal yang ada hanya dua tubuh yang bergerak dan sedang berusaha meraih gelombang cinta mereka hingga puncak kenikmatan. Bibir Dante kembali menyerang bibir Mataya setelah beberapa saat memberi waktu pada sang istri untuk meraup oksigen untuk mengisi paru-parunya. Sementara Mataya sendiri… berusaha keras tak mengeluarkan desahan agar sang suami tak semakin terbakar gairah.Kuku Bumil bahkan menguat di pundak Dante. Bukan ingin menyakiti, dia hanya butuh pelampiasan rasa yang sedang bergejolak di dalam tubuhnya. Jelas, Dante tak keberatan dengan hal itu, tak merasa sakit juga, malah senyumnya mengembang disel
Boyolali menjadi pilihan Mataya dan Dante untuk menghabiskan waktu babymoon mereka. Keduanya memilih sebuah villa resort yang berada di Kawasan Bukit Selo Asri, sebuah kawasan perbukitan yang sejuk dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota.Resort tersebut memiliki taman bunga yang dipenuhi warna-warni, kebun sayur, kebun stroberi yang bisa dikunjungi para tamu, hingga mini zoo yang membuat tempat itu terasa seperti perpaduan antara penginapan dan wisata alam.Pemandangan matahari terbit dan tenggelam dari kawasan resort juga begitu cantik. Pagi hari disambut kabut tipis dan cahaya matahari yang perlahan muncul di balik perbukitan, sementara sore harinya langit berubah keemasan sebelum matahari tenggelam.Untuk kenyamanan sang istri, Dante menyewa sebuah cabin yang dilengkapi private pool dan jacuzzi. Cabin itu juga memiliki balkon dengan pemandangan alam yang memanjakan mata.Bagi Dante, tempat itu terasa seperti pelarian kecil dari rutinitas. Tidak ada kesibukan rumah sakit, tidak ada
Dua hari setelah acara tujuh bulanan, kediaman Dante dan Mataya masih terasa hangat oleh kehadiran keluarga. Bu Aisha dan Pak Hasan masih tinggal di rumah anak dan menantunya sebelum kembali ke Klaten.Sore ini, Mataya sedang bersantai di ruang keluarga. Tubuhnya bersandar nyaman pada Bu Aisha, sementara sang ibu sesekali mengelus lembut kepalanya.Di sisi lain, Pak Hasan duduk di ujung sofa sambil memijat kaki Mataya yang belakangan ini sering bengkak. Kehamilan yang semakin besar membuat Mataya mudah lelah, terutama jika terlalu banyak berjalan.“Sudah, Pak. Jangan dipijat terlalu keras,” ujar Bu Aisha sambil tetap mengusap rambut putrinya.“Sebentar lagi, Bu. Biar agak enakan kakinya,” jawab Pak Hasan sembari terus memijat.Mataya tersenyum kecil. Rasanya seperti kembali menjadi anak kecil yang sedang dimanja oleh kedua orang tuanya.Akhir pekan nanti, Dante dan Mataya berencana pergi ke Wonosobo untuk babymoon. Karena rutenya searah dengan Klaten, mereka sekalian akan mengantar Bu
Menjelang sore, Mataya sudah selesai berganti pakaian. Dia mengenakan dress berwarna kuning yang membuat penampilannya terlihat cerah dan manis. Rambutnya dibuat curly, sementara bagian atasnya diikat ke belakang menggunakan jepit rambut yang warnanya senada dengan dress.Untuk urusan pakaian gender revel party, kali ini Mataya memilih sendiri dress yang akan dikenakannya. Belakangan ini, dia memang sedang menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan warna kuning. Mulai dari pakaian, aksesori, hingga barang-barang kecil yang menarik perhatiannya.Dan entah kenapa, warna kuning membuat suasana hatinya selalu terasa lebih ceria.Dante akhirnya masuk ke dalam rumah setelah selesai menyapa para tamu yang sudah berdatangan. Baru beberapa langkah, Bu Nindi langsung menghampirinya.“Mas, jemput Taya, ya. Dia sudah selesai bersiap di atas.”Dante mengangguk. “Iya, Mami.”Pria itu kemudian menaiki tangga menuju kamar. Penampilannya pun senada dengan sang istri. Dia mengenakan kemeja berwarn







